My Pretty "Boy" Girl?

My Pretty "Boy" Girl?
S2E11 Tentang Maulana & Rencana jahat



SMP Sumida, 2012


Anak kelas 3 SMP Sumida Tokyo terkenal sangat ganas bukan hanya di kelas tapi juga di luar kelas, biasanya para senior gemar mengganggu kegiatan siswa kelas 1 dan 2.


Beberapa siswa banyak sekali menghindari urusan dengan siswa kelas 3, tak terkecuali Maulana yang saat itu terkenal lemah di kelasnya. Beberapa teman sekelasnya memilih menjauhinya karena dianggap lemah, dan yang lain memanfaatkan kelemahannya sebagai alat untuk membuat lelucon.


"Aku datang sebagai pahlawan! Bukan pengecut!" ucap Maulana yang kala itu menjadi bahan lelucon


"Anak kelas 2 sepertimu tidak pantas bicara begitu, kau pikir dirimu hebat apa?" ujar salah satu jagoan senior


Sebenarnya dalam benak Maulana ada sesuatu yang mau ia lepaskan sejak dulu, tapi dia tidak mau melakukannya di depan banyak orang apalagi seniornya.


"Jika aku menggunakan ilmu yang ibu ajari, maka yang terjadi malah akan menimbulkan keributan. Tapi jika aku hanya diam saja, aku akan terus seperti ini." tutur batin Maulana yang saat ini memiliki beberapa Luka memar di wajahnya


"Seberapa jauh kamu bisa melawanku!" seorang senior langsung mencoba berkelahi dengan Maulana yang sudah tak berdaya


"HENTIKAN!" suara terdengar dari jauh


"Siapa itu?" Maulana melihat sekitar, lalu berhenti dan terpaku kepada seorang gadis


"Kau pikir apa yang kau lakukan? Beraninya hanya pada adik kelas saja, pengecut!" suara itu adalah milik Mizuki Kanzaki


"Gadis kecil sepertimu tidak usahlah ikut campur!" senior yang lain mencoba menahan Mizuki


"Kau! Maulana Gunawan kan?" Mizuki memanggil Maulana


"Iya." jawab Maulana


"Bukankah kau jago Karate 🥋?" pertanyaan Mizuki membuat beberapa senior tertawa, namun Maulana merubah pandangan matanya


"Sepertinya ini adalah saatnya aku mengeluarkan kekuatanku, jikapun terjadi sesuatu yaitu adalah semua senior akan memilih menjauh dariku." ucap Maulana dalam hatinya


Maulana melepas genggaman seniornya, dan langsung mengeluarkan beberapa pukulan karate yang dia tau. 2 dari 5 senior yang menahannya langsung terkapar, senior yang lain malah berkelahi dengan Mizuki.


"Akan sangat mudah bagiku melawan 3 orang, Maulana-senpai biarkan aku bereskan sisanya. Setelah ini, kamu harus menemuiku di depan gerbang sekolah." Mizuki langsung menghajar 3 seniornya


Selama berada di luar sekolah, sepertinya keduanya merasa aman saja bila harus berkelahi meskipun pasti keduanya merasa takut akan orang tua yang mengetahui ini.


Untuk Mizuki, ini kali pertamanya dia merasa bebas menghajar orang tanpa ampun. Untuk Maulana? Dia merasa lega bisa melawan ketidakadilan meskipun pada akhirnya dia akan kena amarah sang ibu.


*Beberapa saat kemudian


Selesai menghajar 5 senior, Maulana dan Mizuki bertemu di depan gerbang sekolah.


"Kenapa mendadak kamu mengajakku kesini? Ngomong - ngomong kamu siapa? Dan darimana kamu mengetahui namaku?" tanya Maulana


"Tak perlu banyak bertanya, semua pertanyaanmu akan terjawab nanti. Namaku Mizuki Kanzaki, kelas 1B." Mizuki menyodorkan tangan hendak meminta jabatan tangan dari Maulana, Maulana pun menyodorkan tangan.


"Baiklah, aku akan pulang sekarang." Saat Maulana hendak berjalan, Mizuki menahannya. "Aku akan mengantarmu, kamu tak perlu berjalan."


Mobil yang menjemput Mizuki berjalan mendekat, Mizuki mengajak Maulana masuk.


"Kenapa kamu mengajakku masuk, aku orang asing." ucap Maulana


"Kau itu seniorku..." Mizuki mengambil ponsel


"Baiklah Kanzaki-san, jadi apa rencanamu selanjutnya? Kau tau kan apa yang akan kita hadapi besok?" tanya Maulana khawatir


"Ibumu tidak akan tau soal ini, bahkan ayahmu juga tidak akan tau. Selama kau bersamaku, kau akan baik - baik saja." Mizuki mengatakannya dengan santai


"Kenapa kau bisa sesantai ini hah?" pertanyaan Maulana tak terjawab sampai dia berada di rumahnya.


*Kediaman Gunawan 内田


Maulana sempat mengajak Mizuki untuk datang ke rumahnya, namun Mizuki lebih memilih untuk langsung pulang dan pamit.


"Kau tidak mau mampir dulu? Aku akan memperkenalkanmu pada orang tuaku." ucap Maulana


"Tidak terima kasih, aku datang kesini hanya mengantarmu saja. Suatu saat nanti, aku akan datang ke rumah ini. Bukan sebagai teman.... " Mobil yang menjemput Mizuki akhirnya berjalan meninggalkan Maulana


"Gadis aneh itu, ada sesuatu tentangnya?" Maulana bertanya dalam hatinya


Maulana dan Mizuki semakin dekat saat Maulana memasuki kelas 3, setelah kejadian dimasa lalu semuanya berubah. Disinilah Maulana dan Rio bertemu sejak SMP, Rio adalah murid pindahan saat kelas 3 dari sekolah di Osaka.


"Salam kenal." ucap seluruh siswa di kelas


Sejak saat itu, Rio sering membantu Maulana dalam hal apapun. Entah itu pelajaran sekolah ataupun mengatasi siswa nakal, Mizuki merasa senang dengan kehadiran Rio.


"Di masa depan, aku mohon kamu jaga Maulana baik - baik ya." ucap Mizuki


"Memangnya ada apa denganmu?" tanya Rio penasaran


"Ada beberapa hal yang tidak perlu orang lain tau." Mizuki terus memandangi Maulana yang sejak tadi terdiam berdiri di rooftop sekolah


Sebulan sebelum hari kelulusan, Maulana tidak mendapati Mizuki datang ke sekolah. Gadis ini menghilang bak ditelan bumi, yang mengejutkan adalah pesan yang dibawa Rio untuk Maulana.


"Kau ternyata, ngomong - ngomong dimana Kanzaki-san?" tanya Maulana


"Ada pesan dari Mizuki, ini.." Rio memberikan surat


"*Mizuki Kanzaki


Salam untukmu, orang yang baru saja aku kenal. Sebelumnya aku minta maaf atas segala kesalahanku, semua yang kita lewati bersama adalah ujian menuju masa depan.


Sayangnya ini akan menjadi pesan terakhirku sebelum berpisah, aku harus berjalan terus ke depan dan melupakan masa lalu.


Akan ada baiknya semua hal yang kita lalui hanya menjadi kenangan bukan*?


*Aku berharap, dimasa depan seseorang bisa menggantikan posisiku sebagai pelindung bagimu.


Sampai jumpa lagi."


^^^*Mizuki Kanzaki*^^^


Maulana hanya terdiam membaca surat dari Mizuki, dia tidak menyangka orang yang sudah membuatnya berubah harus pergi meninggalkannya.


"Aku berjanji Rio, suatu saat nanti aku akan membalas kebaikannya. Meskipun itu hanya sedikit, tapi akan dia kenang selamanya." Maulana terlihat tegar menghadapinya


"Aku bangga padamu sobat, suatu saat nanti kita akan bertemu orang lain yang sama hebatnya dengan Mizuki."


...- Kenangan SMP -...


*Kediaman Sawada 沢田


Ryusei dan Yoshuke sedang berada di rumah keluarga Sawada, membahas apa yang harus mereka lakukan terhadap Taro dan Kenta.


"Jadi untuk misi puncak? Haruki ingin Taro dalam genggamannya juga? Kenapa mendadak sekali." Ryusei sedikit kesal


"Ini cara agar kita mendapatkan uang lebih dari Haruki, dan mendapatkan beasiswa di Universitas terkenal di Jepang bukan? Jadi kita harus membuat Taro bertekuk lutut, dan Kenta akan bisa melakukan itu." Yoshuke meyakinkan Ryusei


"Oh ya, soal pendonor organ tubuh itu aku sudah dapatkan. Dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, soal kekasihnya itu..." Ryusei kemudian teringat janji pria yang akan mendonorkan organ tubuhnya "Kekasihku pasti akan mengejarmu, untuk itu aku sudah membayar orang untuk menahannya." ucap Pria yang akan mendonorkan organ tubuhnya


"Jadi kekasihnya itu mencoba melawan apa yang akan dia lakukan, aku dengar kekasihnya adalah seorang detektif." ucap Ryusei


"Pria ini.. Aku kira hanya omong kosong belaka, maksudku yang akan mendonorkan jantungnya.." ucapan Yoshuke terpotong Ryusei "Kenta? Maksudmu setelah misi selesai, Kenta akan kita bunuh seperti Hose dan Mark? Jangan bodoh Yoshuke!"


"Kau sadar tidak, suatu saat nanti kejahatan kita akan terbongkar bila kita tidak menyingkirkan saksi palsu itu." Yoshuke


"Kau terlalu memaksakan diri, sekarang kita fokus lagi dengan tujuan mendapatkan apa yang Haruki mau." Ryusei kembali mencoba fokus dengan tujuannya


"Jadi Kenta akan membawa beberapa barang bukti yang sudah disodorkan kepadanya, lalu bukti yang lain sedang berjalan menuju rumah Taro. Sisanya akan diurus oleh Gen, tapi kita kemungkinan akan kehilangan Yoshida untuk sementara waktu ini." Yoshuke merasa kalau Yoshida juga sedang fokus mencari tau siapa pelaku pembunuhan


"Jadi dia masih fokus dengan Hose dan Mark hah? Aku rasa ada yang harus membangunkannya dari tidur, sebelum seseorang melakukan hal buruk padanya." Ryusei memperingatkan Yoshuke


"Aku yakin Yoshida akan segera sadar pada waktunya, ngomong - ngomong aku berusaha untuk menyadarkan Taro akan apa yang harus dia lakukan sebelum sidang itu." Yoshuke tersenyum


"Maksudmu pada gadis yang hamil itu? Aku terkejut kau masih memikirkannya." Ryusei tertawa


"Semenjak putus dengannya, entah kenapa aku malah memikirkannya. Otak ini payah...!" Yoshuke tertahan


"Mungkin ini adalah ikatan ayah dan anaknya." Ryusei menggoda Yoshuke


"Diamlah! Rencanaku akan berjalan lancar, selama orang bernama Maulana itu tidak ikut campur!"


Baik Ryusei dan Yoshuke, mereka sama - sama menghindari konflik dengan Maulana agar semua berjalan sesuai rencana.