
8 Hari setelah kematian Hose dan Mark
Beberapa orang dari anggota keluarga serta rekan satu sekolah datang untuk memberikan bunga di tempat tewasnya dua siswa Hoshizora yaitu Hose dan Mark, anehnya adalah ada seseorang yang sering datang ke tempat ini bukan untuk memberikan bunga melainkan mencari atau mengambil beberapa serpihan barang yang berada di sekitar tempat itu.
Pria misterius itu datang sudah sejak pencarian barang bukti oleh polisi, beberapa kali ketahuan mengambil beberapa barang yang mungkin saja dicari pihak polisi.
"Aku rasa ini sudah cukup untuk sekarang, besok aku akan mencari yang belum ditemukan." ucap Pria itu sambil membawa barang yang berhasil dia dapat hari ini
Keesokan Hari
Pria itu kembali ke hutan untuk mengambil sisa barang bukti, sayangnya aksinya ketahuan Yoshida yang merupakan sahabat dari dua siswa Hoshizora.
"Siapapun kau, jangan mendekati tempat ini bila ingin merusak." ucap Yoshida
Pria itu menunjukkan dirinya...
"Hei Yoshida!" itu Ryusei
"Ternyata kau, Ryusei?" Yoshida terkejut
"Kenapa kau mengendap seperti itu? Seperti ada sesuatu yang kau sembunyikan ya?" Yoshida sangat merasa bingung dengan apa yang Ryusei lakukan
"Tidak ada, aku hanya mencari bunga saja untukku bawa pulang. Hehehe" ucap Ryusei sambil tersenyum
"Untuk apa? Untuk ibu mu yang tua bangka itu?" Yoshida sedikit meledek
"Hehe bukan, untuk kucingku." raut wajah Ryusei berubah setelah mendengar perkataan Yoshida yang menyakitkan
"Oh untuk kucing... Kalau begitu sebaiknya kau cepat pergi dari sini!" Yoshida berputar arah dan berjalan menjauh
"Dasar sombong, untung kakakmu itu pandai." Ryusei segera mengambil sisa bukti untuk dibawa pulang
Pukul 15.30
Yoshida telah selesai meneliti sekitarnya dan dia tidak menemukan hal yang mencurigakan, disamping itu dia juga sedikit mencurigai apa yang Ryusei lakukan hari ini.
Sesaat setelah selesai berdoa untuk Hose dan Mark, penjaga hutan itu mendekati Yoshida.
"Maaf tuan, bukankah sudah terlalu sore untuk berkunjung? Dan aku akan segera menutup area ini, karena takutnya ada orang iseng." ucap penjaga hutan
"Orang iseng? Iseng gimana?" Yoshida bingung
"Orang yang tadi itu, dia datang berkali - kali bukan untuk berdoa ataupun menaruh bunga. Dia sering jalan tanpa arah dan mengambil beberapa batu, daun atau semacamnya di sekitar lokasi mayat." Pernyataan penjaga hutan membuat Yoshida curiga dan resah
"Ryusei? Apa orang tadi sering datang kesini sendirian?" Yoshida penasaran
"Dia biasa sendirian, tapi terkadang bersama dua orang lagi." penjaga hutan itu mencoba untuk mengingat wajah yang datang
"Dua orang? Siapa mereka dan mau apa? Baiklah pak terima kasih untuk infonya." Yoshida segera bangkit lalu berjalan menuju mobil
Hoshizora
Keesokan hari saat istirahat, Yoshuke mendekati Gen untuk membahas masalah barang bukti.
"Ryusei masih kesulitan untuk mengambil semua barang, bagaimana menurutmu?" Yoshuke khawatir
"Tidak banyak barang bukti, lagipula hampir semuanya tidak mencurigakan bukan?" Gen sangat santai
"Kau sangat santai sekali ya..." Yoshuke kesal
"Kau lupa siapa pembunuhnya? Bukan aku kan?" Gen menyindir
"Sial! Jangan kau ungkit masalah itu, aku berusaha agar bukti ini ada pada orang lain dan membuatnya menjadi pelaku." Yoshuke memutar otak
"Jika kau ingin membayar orang untuk menjadi pelaku palsu, aku rasa Haruki bisa membantu kita." Gen melikir ke arah Haruki yang duduk sendirian
*Bel berbunyi
Yoshuke, Gen dan Haruki berjalan menuju kelas sebelum akhirnya bertemu Ryusei, Ryusei mendekati Yoshuke dan membisikkan sesuatu.
"Apa? Untuk apa Yoshida ada di hutan?" Yoshuke marah
"Tentu saja untuk menabur bunga dan berdoa, dasar bodoh!" jawab Ryusei kesal
"Hadueh kau ini.." ujar Gen
"Persetan dengannya, aku rasa akan semakin sulit bila Yoshida terus datang." Yoshuke akhirnya mengatur agar Yoshida sibuk dengan yang lain
Sepulang sekolah
Yoshuke mengajak Yoshida berjalan pulang dan tidak pergi ke manapun, sementara Gen dan Ryusei segera mendekati Haruki dan menyusun rencana selanjutnya lagi.
"Mulai besok, jangan datang untuk berdoa lagi. Kau dilarang mendekati TKP pembunuhan, apapun alasannya." Yoshuke tegas
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku hah?" jawab Yoshida kesal
"Mengecewakan sekali sikapmu itu..." Yoshuke sudah tak peduli
Gen, Haruki dan Ryusei
Haruki membawa orang yang bersedia untuk dijadikan saksi palsu, alasan yang tepat untuk menerimanya adalah wajah pria ini yang mirip dengan pelaku aslinya.
"Mengesankan, kau dapat dia dari mana?" tanya Gen
"Tak perlu tau, pokoknya pria ini siap menjadi saksi palsu." jawab Haruki meyakinkan
"Kalian jangan khawatir soal bukti, aku sudah mendapatkan sepersekian bukti pembunuhan." ucap Ryusei meyakinkan Gen dan Haruki
"Bagus, apa kau sudah siap? Yamazaki Kenta?" tanya Haruki menghadap pria bernama Yamazaki Kenta itu
"Aku siap kapanpun kalian perintah, asal kau membalas permintaanku soal kekasihku." jawab Kenta
"Kau tenang saja, Miyu akan mendapatkan apa yang dia butuhkan. Jika kau gagal, jangan harap kekasihmu mendapatkan pendonor organ tubuhnya itu." Haruki sedikit mengancam, namun Kenta hanya bisa menerimanya saja
*Keesokan pagi
Di sekolah, Haruki dan Gen menemui Yoshuke dan menyatakan bahwa mereka sudah menemukan orang yang cocok menjadi saksi palsu.
"Bagaimana dengan hasil penemuanmu itu?" tanya Yoshuke
"Cepat sekali... Lalu Yoshida?" ujar Haruki
"Cukup mudah bagiku mengaturnya, tidak akan berani dia melawanku. Hahahaha" Yoshuke tertawa receh
*Seseorang mendengarkan apa yang mereka ceritakan
"Jadi mereka mencoba membawa saksi palsu agar bisa memenjarakan Taro hah? Awas kalian!" itu suara Rio yang akhirnya setelah ini menghubungi Maulana
*Berdering
"Bicara!" ucap Maulana
"Aku menemukan jalan mengusut pembunuhan Hose dan Mark, ternyata Haruki, Gen, Ryusei dan Yoshuke membawa saksi palsu agar membawa Taro masuk penjara." Rio sedikit menjelaskan apa yang dia dapatkan dari hasil *Menguping
"Jadi ini permainan Yoshuke lagi? Apa mungkin pelakunya adalah..." Maulana memotong pembicaraan karena ada sosok Ryusei yang melewatinya
Ryusei dan Maulana saling menatap satu sama lain, mata Ryusei penuh kekejaman sedangkan mata Maulana penuh kebencian.
Kemudian Maulana melanjutkan pembicaraan
"Bagaimana jika pelakunya ada di antara mereka? Maksudku Yoshuke."
"Bisa jadi, tapi aku dan Taguchi mencoba mencari bukti lain. Sampai nanti, Maulana." Rio menutup teleponnya
"Aku yakin kalau pelakunya ada di antara Yoshuke, Gen, Haruki ataupun Ryusei. Sebelum itu, akan lebih baik jika aku datang ke rumah Taro untuk membahas ini." Maulana bersiap untuk pelajaran selanjutnya di kelas sambil berfikir bagaimana cara menyampaikan informasi ini .