My Pretty "Boy" Girl?

My Pretty "Boy" Girl?
S3E6 Hilangnya bukti (part 2)



*Restaurant halal


Yuki ternyata membawa Maulana ke restauran langganan Maulana di sekitaran Chiyoda Selatan, dan tempat makan ini menyajikan makanan halal.


"Ini?" Maulana terkejut


"Kita makan disini ya?" Yuki mengajak Maulana masuk


"Tunggu! Tunggu! Tunggu! Kau mengajakku kesini, ada apa?" tanya Maulana


"Nanti saja di dalam kita bahasnya, kita pesan makan dulu ya." Yuki menggandeng tangan Maulana


"~Irrasyamase~" ucap dua koki yang melayani pelanggan


"Eh? Maulana-kun?" salah satu koki mengenali Maulana


"Selamat sore, Michiko-san! Kawada-san!" ucap Maulana


"Loh? Kali ini kamu tidak sendirian rupanya?" tanya Michiko


"Nona ini yang kemarin memesan satu meja untuk dua orang, namanya Nona Hasegawa Yuki." ujar Kawada


"Kamu sering datang kesini?" tanya Yuki kepada Maulana


"Aku biasa makan disini, aku sering datang kesini kalau ada uang jajan lebih dari ayah." ujar Maulana


"Bagus! Kalo gitu, kasih tau aku makanan yang paling laku di restoran ini ya." ujar Yuki


"Sebaiknya kalian duduk dulu, nanti biar aku yang mencatat pesanan kalian ya." ujar Kawada


"Mendadak kau yang mendatangi kami?" Maulana terkejut


"Khusus untuk Maulana dan pacarnya, hari ini aku akan menjadi pelayan kalian." ucap Kawada sambil mempersiapkan menu


Maulana dan Yuki berjalan ke meja yang dipesan Yuki kemarin sore, Kawada kemudian datang membawa buku menu dan catatan.


"Baiklah Maulana-kun! Mau pesan apa?" tanya Kawada


"Aku seperti biasa ya, nasi tempura 🍤 dan air putih" jawab Maulana


"Baiklah, kalau Nona Hasegawa?" beralih ke Yuki


"Aku pesan yang Maulana pesan, tapi aku mau minum matcha 🍵" jawab Yuki


"Baiklah, pesanan akan segera ku antar segera. Harap menunggu ya." Kawada menemui Michiko untuk menyiapkan makanan dan minuman


Maulana kembali menatap Yuki


"Jadi... apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"


"Sambil menunggu makanan, baiklah akan ku jelaskan sesuatu." ujar Yuki


"Sebaiknya langsung pada persoalan." ucap singkat Maulana


"Aku mau bertanya soal Hikari padamu, kamu pasti kenal dia kan?" Pertanyaan yang Maulana benci pun muncul


"Kenapa? Kenapa kamu membahas soal dia? Apa yang kamu ingin tau soal dia?" Maulana berbalik tanya


"Tak apa, aku hanya ingin tau satu hal. Bagaimana bisa, seorang Maulana Uchida atau Gunawan ini bisa beprutar di pikiran seorang Hikari Sakamoto yang merupakan seorang idol?" Yuki tersenyum setelah bertanya


"Jika jawabanku adalah berita buruk, apakah kamu mau mendengarnya? Bahkan, jika itu menyakiti perasaanmu." Maulana memikirkan kata yang tepat untuk menjawab


"Akanku pastikan jawaban kamu itu hanya akan menjadi angin lalu bagiku, bukan menusuk dan meretakkan hatiku." Yuki mengedipkan mata


"Dia... dia..." Maulana justru takut menjelaskannya


"Dia???" Yuki mengikuti cara bicara Maulana


"Dia mantan pacarku saat SMP, dia pindah ke Mie setelah aku memutuskan hubungan dengannya. Bagaimana menurutmu, Hasegawa-san?"


Jawaban yang singkat dari Maulana ternyata mampu membuat Yuki terkejut, Yuki pun mengambil nafas panjang.


Kawada datang membawa pesanan Maulana dan Yuki.


"Ini dia... silahkan.."


"Un, terima kasih." ucap Yuki, Maulana hanya tersenyum kepada Kawada


Suasananya langsung berubah hening, baik Maulana dan Yuki sama sekali tidak bicara dan langsung menyantap makanan.


Kawada dan Michiko hanya memperhatikan Maulana dan Yuki dari jauh, namun mereka menyadari ada sesuatu.


"Mereka tidak saling menatap, malah langsung makan." ujar Kawada


"Iya, suasananya langsung berubah ya. Apa ada sesuatu soal makanannya?" Michiko pun penasaran


"Kenapa jadi bahas makanan sih, kan baru datang." Kawada kesal dengan pernyataan Michiko


Suasana yang hening menyelimuti Maulana dan Yuki di restoran, nampaknya ini akan berlangsung sampai mereka pulang.


*Kediaman Furuhashi


Rio dan Taguchi nampaknya menjalankan misi mata - mata mereka yang diperintahkan Maulana dan Mizuki, Misaki dan Taro menyambut mereka dengan makanan.


"Selamat datang Rio, Taguchi!" ujar Taro


"Iya, kami datang hanya ingin bermain denganmu Taro!" ucap Rio


"Aku akan siapkan minumannya, kalian ngobrol saja dengan kakakku." Misaki berjalan ke arah dapur


"Jadi...?" Taro menatap keduanya


"Sepulang sekolah tadi, sebenarnya aku mau bertanya soal bukti yang ditemukan Misaki!" ujar Taguchi


"Aku yakin barang itu masih disini, jadi kami bermaksud membawanya." ucap Rio


Taro melihat Misaki yang masih sibuk di dapur, entah apa yang akan dia pikirkan.


"Barang itu dibuang Misaki kemarin, jadi aku tidak bisa berbuat banyak saat Misaki di rumah."


"Bagaimana ini?" Rio menatap Taguchi


"Begini saja, kalian buat sibuk Misaki. Aku akan pura - pura ke toilet dan mencarinya di sekitaran mesin cuci." ujar Taguchi


"Setelahnya, aku akan mengabari Maulana dan Mizuki." ucap Rio


"Ehem!!" ucap Misaki


"Eh.. Misaki.. hehehe" ujar Rio


Misaki membawakan teh untuk Taguchi dan Rio, lalu untuk Taro tentu saja sirup melon.


"Ahhh Misaki! Aku izin mau ke toilet, boleh?" tanya Taguchi


"Oh tentu, kamu tau kan dimana toiletnya?" Misaki nampak lemah


"Iya." Taguchi beranjak dari kursi lalu ke toilet


Rio memperhatikan gerak - gerik Misaki yang aneh, Misaki nampak sangat tidak sehat.


"Misaki, kamu kenapa? Kok terlihat lemas begitu? Padahal Taro yang hari ini olahraga berat."


Misaki menyadari itu, lalu mencari jawaban.


"Ahh iya, aku habis mencuci baju, mencuci piring, membersihkan rumah juga. Makanya, aku capek."


*Toilet


Taguchi mencoba mencari di sekitaran toilet dan tempat sampah dekat mesin cuci, namun belum menemukan apapun disana.


"Bagaimana ini? Aku belum menemukan apapun sejauh ini, akan sangat lambat pergerakan kami bila terus seperti ini." Taguchi mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Maulana


"Aku tidak bisa menemukan apapun disini, apa mungkin sudah terbuang dengan sampah Misaki? Apa langkah selanjutnya?"


Maulana yang sudah selesai makan bersama Yuki langsung merogoh saku dan melihat pesan masuk.


"Hmm? Pesan dari siapa, Maulana?" tanya Yuki


"Hem? Oh, pesan dari Taguchi." jawab Maulana


Yuki kembali fokus dengan makanannya, Maulana membaca dan membalas pesan Taguchi.


"Apakah sudah ke semua tempat? Cobalah berusaha!"


Taguchi terdiam dan berfikir untuk langkah selanjutnya.


"Apa mungkin aku harus menginap?" sesaat, muncul pesan di ponsel Taguchi


"Taguchi, bisakah malam ini kamu mengantarkanku ke bandara? Aku dan Mama akan berangkat ke Taiwan malam ini, untuk pertemuan keluarga."


Pesan dari saudarinya, Yamada Yui


"Apa? Bagaimana ini...?" Taguchi berputar otak sementara obrolan Rio dan Taro terhenti


Di ruang tengah, Taro dan Rio tidak lagi mampu bicara karena mereka kehabisan topik pembicaraan bersama Misaki.


"Eh? Sebentar ya..." Rio menatap layar ponsel, ada pesan masuk dari ayahnya


"Rio apakah kamu sudah jalan pulang? Ayah ingin minta antarkan ke pusat kota, kita harus menemui tantemu hari ini yang baru saja melahirkan anak pertamanya."


Rio memutar otak sambil melihat sekitar, dia dan Taguchi terpaksa pulang karena urusan mereka masing - masing.


"Ada apa Rio?" tanya Taro


Taguchi berjalan keluar dari Toilet dan segera mengajak Rio pulang.


"Maaf, sepertinya aku harus pulang karena urusan mendadak." Taguchi mengajak Rio bangkit dari kursi


"Iya, aku juga terpaksa pulang cepat sekarang. Maaf ya, aku terpaksa pulang." ujar Rio


"Oh baiklah kalau begitu, hati - hati ya di jalan." ucap Misaki


"Kalau begitu kami permisi, sampai besok ya Taro!" Rio dan Taguchi segera berjalan ke pintu keluar dan pergi menjauh dari kediaman Furuhashi


Taguchi membalas pesan Maulana


"Maaf, tapi misi hari ini sepertinya gagal. Aku harus mengantar ibu dan adikku pergi, Rio juga ada urusan keluarga. Jadi bisakah kita teruskan nanti?"


*Restoran


Maulana dan Yuki selesai makan dan memanggil Kawada untuk meminta tagihan makanan, mereka memutuskan untuk membayar masing - masing.


"Kawada-san! Mohon tagihannya." ucap Maulana


"Sepertinya akan sulit bila aku yang pergi kesana, apalagi sebentar lagi mau malam." tutur batin Maulana


Kawada datang membawa tagihan.


Nasi+Tempura 🍤 (2) ¥1.200


Air putih *Gratis


Teh Hijau Matcha 🍵 ¥300


"Jadi semuanya ¥1.500" ujar Kawada


Yuki menahan Maulana untuk tidak mengeluarkan uang.


"Aku yang traktir" ujar Yuki yang mengeluarkan uang sejumlah tagihan


"Loh? Bukan Maulana yang akan membayar semuanya?" goda Kawada


"Aku akan mengantarmu pulang, aku tunggu diluar ya. Aku yakin, kamu masih ada perlu disini." Yuki bangkit dari kursi dan berjalan keluar "Oh iya, terima kasih untuk makanannya."


"Iya, sama - sama Nona Hasegawa." ucap Kawada


Maulana bangkit dan langsung pamit kepada Kawada.


"Aku harus langsung pulang, jadi terima kasih untuk makanannya."


"Eh kenapa begitu?" Kawada terkejut


"Aku permisi, sampai nanti ya semuanya." Maulana membungkuk kemudian mengejar Yuki


Kawada dan Michiko terheran dengan apa yang terjadi pada Maulana dan Yuki, nampaknya obrolan tadi mengubah suasana hati keduanya.


Di luar, Yuki dan Maulana langsung masuk ke mobil dan membicarakan semuanya dalam mobil dalam perjalanan pulang.


"Yuki, kenapa kamu terdiam setelah mendengar penjelasan mengenai Hikari?" tanya Maulana


"Hemm? Tidak apa, aku hanya terkejut mendengar jawaban darimu." ujar Yuki dengan menunduk


"Sudah ku katakan kan? Kalau ini bisa saja mengguncang hatimu dan menjadi berita buruk, tapi kamu memaksa minta jawaban." ujar Maulana


"Kamu tidak perlu merasa bersalah begitu, ini bukan salahmu." Yuki menatap Maulana dengan senyuman, tapi ada air mata yang membasahi pipi


Maulana berusaha membersihkan air mata di pipi Yuki, sebelum akhirnya Yuki menepis tangan Maulana dengan lembut.


*Pukul 21.40


Misaki terlihat mengeluarkan sampah yang dia kumpulkan sejak kemarin, dia sering mengeluarkan sampah di malam hari agar tidak repot mengeluarkannya di pagi hari besok.


"Jika bukan karena Taro yang malas itu, aku sudah berada di kasur sekarang." Misaki segera masuk ke rumah setelah membuang sampah


"Hufft sudah jam segini! Setelah cuci tangan, aku langsung tidur saja." Misaki segera naik ke lantai 2


Pintu terkunci dan Taro tidak bisa keluar dengan mudah, dia hanya memperhatikan dari jendela untuk melihat dimana Misaki menaruh sampah.


"Aku akan mengingatnya!" saat hendak menutup kain jendela, dia melihat seseorang mendekati tumpukan sampah Misaki lalu mengambil sesuatu didalamnya


"Hei??" Taro lupa kalau dia harus diam dan tidak menarik perhatian Misaki, Taro teriak tanpa mengeluarkan suara.


Orang itu langsung pergi dengan membawa barang yang tidak diketahui, Taro hanya bisa melihatnya lari dan segera menghubungi Maulana.


*Persimpangan jalan


Pria misterius ini membawa gagang pisau temuan Misaki, dia mencoba mengambil gagang itu dengan sarung tangan agar sidik jari tidak tertinggal.


Meraih ponsel dalam saku, lalu menghubungi seseorang lainnya.


"Aku sudah mendapatkan buktinya, sekarang saatnya kita bertemu."


Pria ini pergi menuju sebuah cafe untuk bertemu rekannya.


"Langkah kedua sudah berhasil, bagaimana menurutmu? Yoshida?" suara yang keluar dari mulut seorang gadis


"Kita akan segera mendapatkan jawabannya, siapa pembunuh Hose dan Mark. Terima kasih atas bantuanmu, Kim!" ujar Yoshida


"Semuanya... akan terbongkar!"