
SMA HOSHIZORA
Saat jam pulang sekolah, Misaki segera menjauh dari Hoshizora untuk menemui Miyu di rumah sakit. Tidak ada waktu bagi Misaki untuk bertanya soal pernyataan Maulana sebelumnya, karena Maulana sendiri yang ingin menjauh.
"Hm! Taksi!" teriak Misaki dan Taksi berhenti tepat di depannya
Maulana melihat dari jauh dan hanya bisa meratapi kepergian Misaki, Taguchi dan Rio menemaninya.
"Jadi Maulana, apa yang kau ingin bicarakan dengan kami?" tanya Rio
"Iya, sepertinya serius." ujar Taguchi
Maulana mengajak Rio dan Taguchi ke taman, dia menghindari Yoshuke dan Yoshida yang baru saja keluar dari sekolah. Yuki dan Miyamura bertemu di depan gerbang, mereka hendak mendekati Maulana namun sulit.
Taman
Maulana, Taguchi dan Rio duduk di bangku taman dekat sekolah, ini mungkin akan menjadi pembicaraan serius.
"Jadi... apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Taguchi
"To the point saja, Maulana!" ucap Rio
"Baiklah... hemmm... aku rasa sebaiknya kita sampai disini saja." ucap Maulana
"Hah? Apaan?" Taguchi bingung
"Kalian sebaiknya mengikuti rencana Mizuki selanjutnya, Misaki juga akan menjalankan misi dengan Taro. Aku akan menjalankan rencanaku sendiri, jangan sampai Misaki dan Mizuki tau soal ini." ucap Maulana
"Rencana masing - masing?" tanya Rio
"Memangnya kenapa?" tanya Taguchi
"Barang bukti yang ditemukan Misaki, hilang." ucap Maulana
"Apa?!" Rio dan Taguchi terkejut
"Misaki dan Taro sekarang sedang mencarinya, Mizuki juga sudah tau soal ini." Maulana memalingkan pandangan ke arah sekitar untuk menghindari Misaki
"Kok bisa?" tanya Rio
"Lagian sih Misaki main buang aja, dia seolah menganggap itu gak penting." Taguchi agak kesal dengan apa yang sudah terjadi
"Sudahlah.. sekarang aku ingin kita fokus sama misi kita sendiri, lupakan soal masalah bukti yang hilang." ucap Maulana
"Jadi misi apa yang akan kau jalankan? Tanpa Mizuki dan Misaki juga, memangnya kau mau apa tanpa bantuan mereka? Ada - ada saja." ujar Taguchi
"Aku bisa saja melakukan misi sendiri, tapi aku minta bantuan kalian untuk merahasiakannya dari Misaki dan Taro." Maulana masih melihat sekeliling
"Kenapa harus dirahasiakan sih?" Maulana menatap Rio "Jangan banyak tanya! Pokoknya kalian harus merahasiakan ini."
Rio dan Taguchi hanya bisa menerima keputusan Maulana untuk mengerjakan misi sendirian, dan berjanji untuk tidak memberitahukan kepada Misaki, Taro dan Mizuki.
"Selama ini tidak melibatkan Misaki ataupun Taro, tidak akan ada bahayanya bagi mereka." Maulana meyakinkan diri dan bersiap menjalankan misinya
Pukul 16.30
Selesai memberikan Taguchi dan Rio pengertian, Maulana berjalan ke arah sebuah toko makanan untuk membeli beberapa makanan yang bisa dimakan selama perjalanan pulang.
Suara tapak kaki kecil agak terdengar dari kejauhan, Maulana melihat sekeliling tapi tidak nampak ada yang mengikutinya. Daerah selatan Chiyoda ini memang sepi saat jam 12 siang sampai 6 sore, karena pekerja kantoran biasanya keluar antara jam 7 sampai 12 malam.
"Entah kenapa aku merasa diikuti..." tutur bantin Maulana
Maulana memilih mempercepat langkahnya meninggalkan toko makanan, saat di persimpangan jalan dia menabrak seorang wanita paruh baya.
"Au! Maaf, aku tidak sengaja." Maulana membantu membereskan barang yang terjatuh
"Tidak apa." ucap wanita itu
Saat berdiri, Maulana mengenali wanita tua itu.
"Eh? Nyonya Sakamoto?" Maulana terkejut, orang yang ia tabrak adalah ibu dari Hikari
"Eh? Maulana? Apa kabar sayang?" wanita itu memeluk Maulana
"Aku.. aku baik, bagaimana dengan ibu?" Maulana nampak senang
"Aku baik juga, sudah lama sekali ya kita tak bertemu. Semenjak Hikari pindah ke Mie, yang artinya aku harus ikut dengannya." nyonya Sakamoto tertawa kecil
Seorang gadis muncul di hadapan Maulana, gadis ini muncul dari belakang nyonya Sakamoto.
"Loh? Maulana-kun?" ujar Hikari
"Hikari?" Maulana nampak biasa saja
"Udah selesai sayang jajannya?" tanya nyonya Sakamoto kepada Hikari
"Sudah, ini." Hikari menunjukkan barang belanjaannya
"Ngomong - ngomong, kamu lagi sibuk gak Maulana?" tanya Hikari
"Apa? Hmmm, tidak. Aku mau pulang, tadi habis ketemu temen." jawab Maulana
"Kalo gitu.." Hikari mendekati Maulana lalu menggandeng tangan Maulana
"Eh?" Maulana terkejut
"Ikut ke rumah yuk! Udah lama loh kamu gak ke rumah aku, mau ya..." ucap Hikari
"Iya, udah lama banget kamu gak ke rumah kami. Berkunjunglah sebentar, sambil kita mengingat masa lalu." ucap nyonya Sakamoto
"Hmm gimana ya.." Maulana menggaruk rambutnya
Hikari membisikkan sesuatu "Aku belum bilang ke mama, kalau kita sudah putus. Meskipun, kamu belum bilang putus tapi kamu putus secara sepihak."
"Dia seperti mengancamku." tutur batin Maulana
"Mau ya, sayangku." nyonya Sakamoto mengajak
"Baiklah.. tapi aku harus menghubungi ibu dulu, aku takut ibu menungguku di rumah sendirian sampai malam." Maulana meraih ponsel lalu menelfon ibu Nami
"Moshimoshi, kediaman Uchida." yang mengangkat adalah pak Gunawan
"Kamu nyuruh ibu kamu angkat telepon? Ada - ada aja." ujar pak Gunawan
"Eh maaf ya, kirain ayah belum pulang. Aku mau izin pulang telat, mau ke rumah temenku*."
Pak Gunawan menjawab "Iya" dengan santai, Maulana bingung.
"Santai banget sih jawabnya, pasti ada maunya nih.."
"Kamu gak mau liat ayah seneng berduaan sama ibu ya? Kamu kalo nginep juga gak apa - apa, sekali - sekali kamu nginep di rumah temanmu."
Sekali lagi, pak Gunawan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Lagian ya yah, aku dateng ke rumah temen cewek. Aku gak mau ah nginep, lagian aku udah gak bareng Taguchi sama Rio dari tadi." *ujar Maulana
"Yaudah, kamu boleh pulang tapi jangan sore*."
Pak Gunawan menutup teleponnya dan membuat Maulana terdiam.
"Jangan pulang sore? Apaan sih ayah!" Maulana kesal
"Gimana, Maulana?" tanya Hikari
"Iya, aku bakal ikut kamu." jawab Maulana
"Yasudah, kalo gitu mama mau keluarin mobil dari parkiran dulu. Kalian berdua, tunggu disini ya." nyonya Sakamoto berjalan mendekati parkiran
Dari kejauhan, ternyata Yuki dan Miyamura mengikuti Maulana dari sekolah. Mereka beberapa kali hampir ketahuan Maulana, tapi Miyamura tau apa yang harus dilakukan.
"Sepertinya dia masuk mobil itu." ucap Miyamura
"Aku sepertinya pernah melihat mobil itu, tapi dimana ya..." Yuki teringat sesuatu
"Lihat dimana?" tanya Miyamura
"Eh? Itu mobil jemputan Hikari, nyonya Sakamoto...?" mata Yuki membesar
"Maksudmu si gadis kelinci?" pertanyaan Miyamura tau soal itu
"Ohhh, jadi kamu pun tau soal itu." Yuki menatap Miyamura penuh tanya
"Eh..? Aku hanya mengikuti apa yang Taro dan Taguchi katakan, kamu tak perlu curiga." Miyamura menghindari pertanyaan Yuki
Yuki teringat jawaban Maulana atas pertanyaannya waktu itu.
"Mantan pacarku dulu saat SMP."
"Oh ya Yuki, kamu tidak curiga kenapa Maulana bisa mengenal Hikari?" tanya Miyamura
"Mungkin mereka pernah bertemu di masa lalu, makanya mereka sudah saling mengenal bahkan dekat." Yuki menjawabnya dengan agak emosi
"Kamu tak perlu marah begitu..." Miyamura tertegun
Maulana dan Hikari berada di mobil, bertiga juga dengan nyonya Sakamoto Mio. Yuki dan Miyamura menatap jauh di belakang, tanpa bisa berbuat apa - apa.
Sementara itu....
Misaki pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk, dia sulit menerima apa yang Maulana lakukan sekarang. Menghindari pertemuan dengan Maulana agak sulit, apalagi karena dia sedang menjalankan peran sebagai Taro di Hoshizora.
"Mendekati Miyamura? Apa aku harus akting di depan Maulana, mendekati Miyamura seolah kami sahabat lama? Ide yang bodoh, Misaki!" Misaki mengajak rambutnya sendiri
Suara langkah kaki dari lantai atas terdengar, Misaki memandangi siapa yang turun dari tangga. Taro dan seorang gadis yang dia kenal, Sofie.
"Sofie?" Misaki terkejut
"Oh, kamu sudah pulang Misaki." ujar Sofie
"Aku akan mengantar Sofie pulang, kamu tunggu di rumah saja." Taro mengantar Sofie ke pintu depan lalu memesan taksi
"Jangan pulang terlalu malam! Ada yang ingin aku bicarakan nanti." ucap Misaki
"Iya!" terdengar suara Taro dari luar
Misaki kembali teringat dengan apa yang terjadi di rumah sakit.
*Rumah Sakit Ueno"
Miyu dalam pengawasan dokter, Kenta nampak sibuk dengan ponsel dan dari raut wajahnya pun tidak ada kekhawatiran.
"Heh Kenta! Kamu kok bisa ya tenang begini, sedangkan Miyu sedang dalam masa kritis." ucap Misaki
"Alah... kamu diam saja Misaki! Aku kerja juga demi Miyu, jadi gak ada salahnya kan kalo aku sibuk sama ponsel?" ujar Kenta
"Aku yakin dia sedang menghubungi seseorang." tutur batin Misaki
Seseorang datang dengan membawa tas hitam, mendekati Misaki dan Kenta.
"Yoshida?" tanya batin Misaki
"Kenta! Aku datang membawa sejumlah uang untukmu." ucap Yoshida, tidak menghiraukan kehadiran Misaki
"Uang apa? Aku sudah katakan aku tidak butuh uang kan?" Kenta nampak kesal
Dokter yang memeriksa Miyu akhirnya keluar.
"Oh dokter, bagaimana keadaan teman saya?" Misaki mendekati dokter
"Saudari Miyu baik - baik saja, dia sekarang sedang istirahat jadi tolong jangan sampai terganggu dengan suara apapun ya. Saya permisi dulu, masih harus memeriksa pasien lain." Dokter itu pun berjalan melewati Misaki
"Misaki, sebaiknya kamu pergi ke dalam dan memeriksa Miyu." ucap Kenta
Misaki tak menghiraukan ucapan Kenta dan berjalan menuju ruang inap, lalu Yoshida sempat menahannya.
"Sebaiknya, kamu jangan ikut campur soal masalah ini! Atau kamu akan mendapatkan masalah." Yoshida berbisik
Ingatan ini membuat Misaki merasa semakin tertekan, apa yang Yoshida dan Kenta sembunyikan dan apa yang Maulana lakukan semakin memojokkan dirinya. Membuat berpikir...
"Apa aku harus menyerah?"