
*Yokohama
*Kediaman Uchida
Maulana menikmati musim panas selama di Yokohama bersama keluarga besar Uchida, dia menemui kakeknya untuk yang kesekian kalinya untuk mempererat hubungan keluarga.
Pak Gunawan dan kakek Uchida bercanda sejak tadi, kemudian Maulana membantu ibunya dan nenek Uchida memasak.
"Musim panas ini, Ayumi tidak ikut lagi ya ke Yokohama. Nenek kangen sama dia, tapi ya mau bagaimana lagi." ucap nenek Minami Uchida
"Kakak biasanya memang liburan di Bandung nek, lagian keluarga ayah disana lebih butuh kakak." ucap Maulana agak kesal
"Gak apa - apa sayang, nenek seneng kok kamu datang. Kakek kamu aja selalu nanyain kamu kalo udah pulang dari sini, kakak kamu juga kan sibuk disana." nenek Minami memahami kondisi keduanya, baik Maulana maupun Silvia
"Iya nek." Maulana kemudian menatap ibunya
"Gak apa - apa, nenek juga sayang sama kamu." ucap bu Nami dengan menggunakan bahasa isyarat
*Ruang tengah
Pak Gunawan dan kakek Uchida membahas masalah kesehatan pak Gunawan, juga sedikit membahas Maulana dan Silvia
"Jadi Gunawan, bagaimana kondisi kamu selama setahun belakangan ini?" tanya kakek Uchida
"Ya begini aja pah, masih sering sakit juga. Padahal, saya pengen banget kerja lagi di pabrik." jawab pak Gunawan
"Jangan dipaksain, nanti yang ada kondisi kamu makin menurun. Lalu, dimana Ayumi? Kenapa hanya Maulana yang ikut? Apa dia masih sering ke Indonesia?" kakek memperhatikan
"Iya, dia masih sibuk sama kuliahnya juga. Kalo Maulana memang tidak punya rencana dengan temannya, makanya dia memilih ikut ke Yokohama." jawab pak Gunawan
"Semakin besar semakin banyak teman, aku senang melihat Maulana tumbuh jadi pemberani. Mengingatkan aku saat remaja, orang yang awalnya penakut menjadi pemberani." kakek senang melihat Maulana tumbuh lebih dari yang sebelumnya
"Hanya saja dia sering sekali terlibat dengan anak nakal di sekolah, katanya dia mau membasmi orang jahat. Saya khawatir pah, takutnya dia diserang sama orang jahat." pak Gunawan mendengar apa yang Misaki dan Yuki katakan saat berkunjung ke rumahnya
"Ya itu resiko, aku harap dia tidak ikut terlalu jauh juga dengan orang jahat. Aku hanya berharap dia bisa menahan amarahnya, lagipula dia masih muda."
Perbincangan keduanya terhenti oleh kedatangan nenek Minami, bu Nami dan Maulana yang membawa makanan untuk makan malam.
"Waktunya makan malam." ucap Maulana
"Baiklah saatnya makan." ujar pak Gunawan
Semuanya menikmati makan malam dengan nasi Kari dan udang goreng, Maulana sempat terhenti sejenak saat melihat ayahnya meraih udang goreng.
"Ayah!" teriak Maulana yang mengejutkan semuanya
"Kenapa kamu nahan tangan ayah?" pak Gunawan terkejut
"Ayah pasti lupa kan? Jangan makan seafood 🍢 dulu, nanti kambuh lagi sakitnya." ucap Maulana
"Kamu ini bikin kaget aja sih, sesekali boleh dong...?" pak Gunawan mengedipkan mata kanan
"Gak boleh." mata Maulana melotot, pak Gunawan melirik ke arah sang istri
"Gak boleh." ibu Nami menyilangkan kedua tangannya
"Dengerin kata anak sama istri kamu, jangan memancing penyakit." ucap nenek Minami
"Iya.. maaf." semuanya pun kembali menyantap makanan
*Pukul 21.45
Pak Gunawan dan ibu Nami sudah tidur sejak tadi, namun Kakek dan Nenek Uchida belum bisa tidur. Maulana sendiri juga belum tidur karena sibuk mencatat kegiatan selama berada di Yokohama, dia juga sibuk membalas pesan Misaki dan Yuki.
"Aku tidak akan ikut semua kegiatan mereka, kecuali Sumidagawa itu. Yuki tidak membalas pesan terakhirku, jadi aku hanya akan bicara dengan Misaki." Maulana sempat membalas pesan terakhir Misaki sebelum akhirnya mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Kakek Uchida menemani Maulana malam ini, keduanya entah kenapa sulit tidur. Nenek Minami sibuk membersihkan cucian piring, setelahnya segera menuju tempat tidur.
"Emm Maulana." panggil kakek Uchida
"Iya kakek." sahut Maulana
"Temanku sibuk dengan urusan mereka, lagipula aku terbiasa begini. Sendirian di kamar, sibuk sama tugas." jawab Maulana
"Kamu sudah punya pacar?" pertanyaan kakek Uchida membuat Maulana terkejut
"Pacar? Aku gak punya kakek, lagian ya aku kan sekolah di SMA khusus lelaki Hoshizora yang isinya semuanya laki - laki. Akan sangat sulit bertemu perempuan, meskipun sekolah sebelah adalah sekolah khusus perempuan." Maulana menjelaskan detail sekali
"Oh begitu, kakek jadi teringat saat ibumu seusiamu." kakek Uchida mengingat kembali seorang Nami Uchida berusia 15 tahun
"Ibu kenapa?" Maulana penasaran
"Ibumu punya pacar yang tampan sekali, bahkan ibumu hampir dinikahinya karena lelaki itu sangat amat mencintai ibumu." jawaban kakek Uchida membuat Maulana terkejut
"Nikah? Segitunya kah? Lucu juga sih, tapi apa yang terjadi setelahnya?" Maulana sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya
"Pria itu meninggalkan ibumu, keluarganya tidak setuju putra mereka menikah dengan gadis tuna rungu. Aku sakit hati, kalaupun ibumu bertemu pria itu lagi aku tak akan mau dia menjadi menantuku." kakek Uchida mulai kesal
"Bagaimana cara ibu ketemu ayah? Kata ayah, mereka bertemu saat SMA." Maulana ingat kalau sang Ayah pernah bercerita soal pertemuan keduanya
"Ayahmu bertemu dengan ibumu saat SMA, tapi mereka menjalin hubungan saat kerja. Mereka bertemu saat kelas tiga, ayahmu melamar ibumu saat hari kelulusan. Aku agak ragu menerima lamaran ayahmu karena mereka belum punya pekerjaan dan belum punya penghasilan sendiri, nanti saat setelah menikah mereka malah sulit dalam ekonomi. Sampai, saat usia 30 ayahmu dan ibumu baru memiliki pekerjaan. Saat itulah, aku menerima lamaran ayahmu kepada ibumu." ingatan kakek Uchida benar - benar kuat seperti anak muda
"Jadi mereka menikah di usia 30? Itu wajar di Jepang ku rasa." ucap Maulana
"Iya." singkat kakek
"Tapi kek, kenapa ya kakak tidak pernah mau datang kesini? Padahal selama ini kakak gak pernah ikut ke Yokohama, kakak juga kan bagian dari keturunan keluarga Uchida." pertanyaan Maulana ini hanya bisa dijawab oleh Kakek Uchida dan Silvia sendiri, tapi kakek memilih bungkam "Aku tidak bisa menjawabnya, yang jelas kakek tidak mau memaksa kakakmu datang kesini. Sudah malam, waktunya tidur." Kakek Uchida bangkit dan menuju kamar.
"Akan ku tanyakan kepada kakak nanti, aku harap dia menjawabnya." Maulana tetap di ruang tengah sampai dia terlelap
*Kediaman Tanaka
Misaki menemui Taguchi dan Rio di rumah keluarga Tanaka, Misaki membahas apa yang dia temukan selama sebulan ini.
"Aku datang kesini dan mengumpulkan kalian untuk membahas rencana jahat Yoshuke dkk, aku menemukan sesuatu yang akan membuat kakakku bisa dijadikan tersangka pembunuhan." ucap Misaki
"Maksudmu mereka mencoba menjebak Taro lagi dengan cara lain?" tanya Rio
"Aku rasa dengan cara licik yang tak terduga, ya dengan saksi palsu tentunya." ujar Taguchi
"Kamu benar Yamada-san, mereka diam - diam menyiapkan saksi palsu. Dan aku rasa aku mengenal siapa saksi palsu itu, aku curiga pada seseorang yang aku temui kemarin." Misaki mengarahkan pikirannya kepada Kenta
"Kira - kira siapa ya? Orang ini harus kita jegal sebelum memberikan kesaksian." ucap Rio
"Hanya saja ada satu masalah, orang ini benar - benar butuh sesuatu yang penting baginya." ucap Misaki
"Uang? Itu biasa..." ucap Taguchi
"Bukan uang, melainkan organ tubuh." jawaban Misaki membuat Rio dan Taguchi terkejut
"Organ tubuh? Maksudmu dia orang yang bebas memperdagangkan organ tubuh?" Taguchi salah tangkap
"Tidak, organ tubuh ini nantinya akan diberikan kepada saksi palsu untuk kekasihnya..." Misaki tanpa sadar meneteskan air matanya dan menyebut kata "Miyu" secara samar
"Benarkah? Sampai seperti itu, dia lelaki yang bodoh." ucap Taguchi
"Demi sang kekasih, aku rasa dia terlalu bodoh untuk mengambil resiko ini. Jika yang terjadi bertolak belakang, maka pria ini akan tewas." ujar Rio
"Aku khawatir, jika saksi palsu itu bergerak nanti. Aku rasa kita harus bergerak sebelum persidangan, agar semua bisa diselamatkan." Misaki bangkit dari sofa
"Iya kau benar, tapi bagaimana caranya? Kau kan tau pasukan kita hanya sedikit, kau, aku (Taguchi), Rio, Maulana, dan si pria aneh Miyamura." ujar Taguchi
"Aku rasa aku mengenal seseorang.." Rio mengingat seseorang yang dia kenal di masa lalu
"Benarkah? Apakah dia punya pasukan?" tanya Misaki
"Dia punya anak buah ku rasa, dan dia baru saja berada di Tokyo untuk mengunjungi sahabatku." Pernyataan Rio membuat Taguchi dan Misaki penasaran lebih dari ini
Siapakah sosok orang ini? Dan apakah dia bisa membantu Misaki dkk memberantas kejahatan Yoshuke dan rekannya?