
*Taman Musashi
Kebetulan sekali Misaki datang ke rumah Maulana sendirian dan membawa beberapa kue yang dia beli di sebuah toko dekat rumah, Misaki datang sebagai seorang tamu dan tidak mau ikut campur lagi urusan Taro.
"Aku benar - benar minta maaf atas apa yang Taro lakukan kemarin, aku tidak menyangka dia bisa sejauh itu." Misaki membungkuk
"Bukan salahmu Misaki, jadi tak perlu minta maaf ya." ucap Maulana
"Aku pikir dia memilih untuk diam daripada meladenimu, aku sungguh minta maaf." Misaki mendekati Maulana
"Ngomong - ngomong kenapa kamu datang ke rumahku? Selain itu kamu juga sendirian dan tidak mengajak siapapun." tanya Maulana
"Iya, aku datang hanya ingin menemuimu saja. Sulit bila aku menemuimu disaat ada Taro, suasananya jadi buruk." Misaki melipat tangannya
"Begitu ternyata, terima kasih sudah datang. Aku menghargai pemberianmu, aku harap kamu tidak bosan sering datang kesini." ucap Maulana tersenyum
"Tadinya aku mau mengajak Yuki, tapi dia tidak menjawab pesan dariku. Apa ada masalah dengannya? Akhir - akhir ini juga aku sulit bertemu dengannya, meskipun kami biasa saling menghubungi." Misaki terfikir sosok Yuki
"Mungkin Hasegawa punya urusan yang sangat penting, jadi tidak bisa membalas pesan." Maulana juga memperhatikan handphone Misaki
"Hemm yasudah aku tidak bisa berlama disini, takutnya mengganggu. Ngomong - ngomong apa rencanamu pada liburan musim panas nanti?" Misaki kembali memandangi Maulana
"Hemm mungkin ikut ibuku ke rumah orang tuanya, katanya ibu mau menemui kakek Uchida yang tinggal di Yokohama. Itu pun cuma seminggu, jadi aku tidak punya rencana lagi." jawab Maulana
"Yap kalo gitu nanti aku ajak kamu jalan - jalan setelah ini, sampai jumpa." Misaki bangkit lalu berjalan menuju pintu
"Eh buru - buru sekali?" Maulana juga bangkit untuk mengejar Misaki
Misaki sudah memakai sepatu hendak berjalan keluar, Maulana tak sempat mengejarnya.
"Sampai jumpa!" teriak Misaki dari luar rumah Maulana
"Hadueh dia sama seperti kakaknya kalo kabur, dasar Furuhashi bersaudara." Maulana kemudian menutup pintu
*Taman
Misaki terhenti karena suatu hal yang tidak pernah lihat sebelumnya, sang kakak Taro sedang bersama seorang perempuan muda tengah hamil. Mereka begitu akrab sekali, ini pertama kalinya Misaki melihat Taro dekat dengan seorang perempuan dan mereka sangat akrab sekali.
"Kakak? Dan siapa perempuan itu?" Misaki mencoba mendekat
*Taro asyik bercanda
"Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan, tapi itu sungguh diluar dugaanku." Taro sedikit tertawa
"Ya, anehnya lelaki itu datang dengan membawa kotak kosong dan dia tak tau." Perempuan itu juga tertawa
"Dia pikir dia membawa apa? Hahaha." Taro dan perempuan itu saling melempar tawa sampai tak sadar Misaki sudah berada di depan mereka berdua
"Sedang apa kau disini?" tanya Misaki
"Misaki? Kau yang sedang apa disini?" Taro terlihat marah
"Oh ini pasti Misaki ya? Adik Taro-kun? Halo, aku Sofie sahabatnya Taro." perempuan itu hendak menjulurkan tangan hendak bersalaman
gambaran Sofie Kitagawa
"Sofie? Aku tak pernah mendengar tentangmu." Misaki menolak bersalaman
"Misaki!" Taro bangkit
"Aku hanya bertanya, kenapa kau marah?" Misaki nampak marah sekarang
Keadaan semakin kacau saat Misaki, Taro dan Sofie saling bertatap muka, entah kenapa Misaki merasa kalau Taro seperti menyimpan rahasia lain yang tidak diketahui olehnya.
*Yoshida
Yoshida masih dalam masa duka setelah kepergian Hose dan Mark, dia beberapa kali mengunjungi rumah orang tua Hose dan Mark.
"Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini, siapapun pelakunya dia harus menghadapi masalah." Yoshida tampak marah
*Pulang
Yoshida memutuskan untuk pulang ke rumah saat malam menuju dini hari, seseorang dari arah berlawanan mendekatinya.
"Iya? Kau mengenalku?" Yoshida nampak bingung
"Aku hanya ingin memberikan beberapa dokumen untuk kau lihat." pria itu memberikan amplop berwarna hitam dan di dalamnya terdapat beberapa foto serta CD Rekaman suara
"Apa ini? Yoshuke? Haruki? Ryusei?" Yoshida terkejut melihat foto dimana Yoshuke sedang bersama Hose dan Mark di hari kematian
Tanpa aba - aba, pria berjaket hitam itu sudah menghilang sejak tadi. Yoshida tidak sadar akan hal itu dan memilih melanjutkan perjalanan pulang, Yoshida terus melihat foto secara berurutan sesuai kejadian.
"Kenapa Yoshuke? Kenapa Yoshuke bersama Hose dan Mark? Dan tanggal ini?" Yoshida melihat tanggal dimana foto itu diambil, dan persis tanggal yang sama dengan hari kematian dua sahabatnya
Yoshida berlari menuju rumahnya, di tengah jalan dia bertemu seorang gadis dan mereka bertabrakan.
"Au! Hei dimana matamu?" Yoshida marah
"Kau tidak perlu marah seperti itu Yoshida!" gadis itu adalah Ryoko Sashihara
*gambaran Ryoko Sashihara
"Kau? Kenapa kau ada disini?" Yoshida membereskan foto yang berjatuhan
"Tidak perlu seperti itu, ngomong - ngomong kenapa kau malam begini keluar? Jarang sekali melihatmu di jalan malam begini." ucap Ryoko
"Bukan urusanmu!" Yoshida bangkit lalu menjauh dari Ryoko
"Melakukan hal yang sama lagi, kabur..." Ryoko kecewa
Yoshida sudah sampai di rumah, dia mendapati mobil Haruki terparkir di depan rumah. Sosok lelaki yang sebenarnya dia benci berada di dalam bersama dua orang lainnya, Ryusei dan Gen yang terlihat santai bersama Yoshuke.
"Kau sudah pulang, mama nanyain tuh. Masuk!" ujar Yoshuke
"Sebelum masuk, ada yang ingin aku tanyakan soal berkas ini." Yoshida menunjukkan amplop cokelat berisi foto dan rekaman audio
Yoshuke mengambil berkas itu dan melihat foto, Haruki dan Ryusei nampak sedikit panik dengan hal itu. Gen yang terlihat santai kemudian mendekati Yoshida, Yoshida nampak menolak kehadiran Gen.
"Kau bisa diam Gen? kau juga aku anggap sebagai tersangka." Yoshida membungkam Gen
"Kau bisa mendapatkan jawabannya besok, sebaiknya kamu menemui mama sekarang." Yoshuke marah
"Awas kalian!" Yoshida menatap mata Ryusei dan Haruki
"Ada apa dengan anak ini?" Ryusei menutupi rasa khawatirnya yang kini datang kembali
Saat Yoshida masuk untuk menemui sang mama, Yoshuke mengajak Gen, Haruki dan Ryusei pergi keluar.
*Luar rumah
Yoshuke dan Gen memikirkan rencana terbaik agar Yoshida tidak ikut campur terlalu dalam, sementara Haruki dan Ryusei mempersiapkan saksi palsu untuk persidangan nanti.
"Kalau begitu, sudah saatnya Kenta beraksi. Baik Yoshuke, aku dan Haruki pamit duluan. Sampai jumpa di sekolah besok, Yoshuke, Gen." Ryusei berjalan menuju motornya dan Haruki menuju mobilnya
"Bagaimana membuat Yoshida melupakan soal Hose dan Mark hah?" Gen kini khawatir
"Bagaimana kalau kita ganti dengan satu anggota gang Maulana?" Yoshuke kembali mengeluarkan niat jahatnya
"Maksudmu apa?" Gen bingung
"Nyawa Hose dan Mark, kita ganti dengan satu diantara Maulana, Taguchi, Tanaka, ataupun Taro." Yoshuke tersenyum
"Kau yakin bisa melakukannya? Kenapa harus satu saja?" tanya Gen
"Kau lupa, kita punya Kenta. Setelah persidangan selesai dengan kemenangan kita, Kenta tidak akan punya kesempatan untuk menemui kekasihnya itu." Yoshuke kini tertawa
"Licik sekali, tapi aku setuju. Lagipula, sulit menemukan orang yang akan mendonorkan jantungnya untuk orang lain bukan?" Gen tersenyum
Rencana jahat Yoshuke sepertinya satu demi satu terbongkar, namun Yoshida juga masih terguncang dengan apa yang terjadi sebelumnya.
Kini baik Yoshuke maupun Yoshida sama - sama menunggu hasil persidangan, bagi Yoshida ini akan menjadi pertama kalinya dia akan membalas dendam terhadap apa yang terjadi pada sahabatnya. Bagi Yoshuke, hasil pengadilan juga akan mempengaruhi jalan kisahnya sebagai bos gangster sekolah Hoshizora.
Apakah hasil pengadilan akan berpihak pada Yoshida yang mencari kebenaran, atau berpihak pada kejahatan Yoshuke, Gen, Haruki dan Ryusei?