
H-7 hari menuju persidangan
Maulana dan Misaki nampak saling menjaga jarak sejak beberapa hari ini, tak ada tegur sapa di sekolah maupun ketika di luar sekolah.
Misaki sibuk dengan urusannya sendiri dan Taro, sedangkan Maulana sibuk mengatur rencana serangan kepada Yoshuke.
"Hari persidangan semakin dekat, akan lebih baik kalau bergerak cepat sebelum ketahuan yang lain." ucap Maulana kepada Mizuki melalui telepon
"Kau yakin ingin melakukan ini sendirian? Kenapa kamu tidak memberitahu Misaki soal misimu saja? Kasihan dia..." ujar Mizuki
"Jangan khawatir, semuanya berjalan lancar bagiku. Ngomong - ngomong, bagaimana dengan rencanamu mencari pendonor?" Maulana mencoba mengingatkan Mizuki soal pendonor untuk Miyu
"Pendonornya sudah menemui Miyu, hanya saja sekarang pergerakan Kenta dan Yoshuke semakin cepat dan membuatku kesulitan." Mizuki mengenalkan kepada Maulana, seseorang yang akan mendonorkan organ tubuhnya.
"Apapun itu, jangan sampai ketahuan siapapun apalagi Gen." ucap Maulana
Taman dekat sekolah
Misaki berjalan menuju toilet umum untuk kembali mengganti pakaiannya, dia langsung pulang setelah jam pelajaran selesai karena tidak ada pembicaraan dengan Maulana dan Yuki.
Misaki memilih untuk duduk di ayunan yang menghadap ke selatan jalan dari sekolah, menaruh tas di ayunan sebelahnya kemudian berayun. Merasakan hembusan lembut angin yang bertiup ke arah Misaki, membuat rambutnya yang sedikit lebih panjang itu berhembus ke atas.
"Bosan!" Misaki menunduk "Aku tidak tau harus mulai darimana, Taro juga nampak tidak peduli pada persidangan itu. Aku berusaha membelanya, tapi dia sangat santai sekali."
Misaki mengingat kembali apa yang Mizuki katakan terakhir kali sebelum berpisah dengannya di restoran.
"Sebenarnya Maulana-senpai bukanlah orang yang mudah menyerah seperti ini, ini pasti terjadi karena satu alasan khusus. Entah apapun itu, pasti sangat berat untuknya. Aku harap, kamu memahami kondisi dan menerima keputusannya ya. Ini.. juga demi kebaikan kalian."
Misaki berusaha tegar demi membantu Taro menyelesaikan masalah, meskipun harus sendirian. Dirinya sekarang menghadapi kenyataan, kalau dia harus berjuang sendiri atau berdua dengan Taro.
H-6
Misaki berjalan melewati beberapa orang di depannya menuju rumah, suatu ketika dia melihat Maulana yang sedang duduk di ayunan sendirian.
Ada rasa ingin menemaninya sekali ini saja, tapi dia harus melawannya karena permintaan Maulana itu sendiri. Maulana sempat melirik ke arah Misaki yang berjalan melewatinya, ada rasa bersalah di hatinya karena merubah sikap kepada Misaki.
*Ponsel berbunyi
"Moshimoshi!"
"*Maulana! Sebaiknya kita berangkat sekarang, aku khawatir polisi akan tiba dalam kurun waktu yang cepat. Jangan lupa bawa sarung tangan dan masker agar tidak ketahuan siapapun, aku sudah menyiapkan penyamaran untuk Daniel juga." ujar Mizuki
"iya, kita ketemuan di pusat kota ya*."
Maulana menutup ponsel lalu bergegas mencari taksi 🚕, menemui Mizuki yang juga berjalan menuju pusat kota Chiyoda.
Jalan pulang
Misaki berjalan menuju toko roti untuk membeli sebagian kue untuk dibawa pulang, secara tak sengaja dia bertemu Yuki yang berjalan bersama Miyamura.
"Loh? Misaki?" ucap Yuki
"Oh, kalian berdua rupanya." ucap Misaki
"Kamu udah pulang sekolah?" tanya Miyamura, Misaki lebih fokus pada Yuki
"Iya ngomong - ngomong kenapa kamu ada disini?" tanya Misaki
"Aku mau membeli kue untuk papa sama mama, kamu sendiri?" ucap Yuki
"Aku membeli kue untukku dan Taro." jawab Misaki dengan nada datar
"Pulang bareng yuk!" Yuki mengajak Misaki pulang bersamanya
"Gak perlu, aku mau pulang sendiri aja. Sampai jumpa."
Misaki kemudian berjalan melewati Yuki dan Miyamura, Miyamura menahan Misaki dengan tangannya.
"Ada apa denganmu Misaki? Kenapa selalu menghindariku?" sekali lagi, Misaki menghindari Miyamura dan berjalan keluar.
"Ada apa dengannya?" tanya Yuki
"Entah..." ujar Miyamura
Miyamura bergegas keluar toko dan mencari Misaki yang berjalan sendirian, setiap sudut dia lewati tapi Misaki berjalan sangat cepat sekali.
"Kemana ya dia?" Miyamura berfikir untuk datang ke rumah Misaki
Malamnya...
Yoshida bersama dua temannya menelusuri TKP pembunuhan Hose dan Mark, dia mencoba mencari lagi barang yang bisa dijadikan bukti dalam persidangan nanti.
"Kau terus datang ke tempat ini, apa kau tidak trauma?" tanya seorang gadis
"Tidak, tidak ada yang bisa menghentikanku melakukan penelusuran bukti pembunuhan Hose dan Mark. Sekalipun trauma akan tempat ini, dimana mereka meregang nyawa." Yoshida berhenti pada suatu titik dimana ada seseorang mengambil sebuah benda berbentuk kalung.
"Ada seseorang?" gadis yang bersama Yoshida kemudian berjalan mendekati orang itu
Pelarian orang misterius itu tertahan oleh sosok pria bernama Nguyen Thuan.
"Mau lari kemana kau hah?" ujar Nguyen
Nguyen adalah kenalan Yoshida dari sosial media asing, asal negaranya adalah Vietnam.
Nguyen dan pria itu kemudian berkelahi, sebelum akhirnya ada bantuan untuk pria misterius itu. Nguyen kemudian terhempas karena pukulan keras di kepalanya, sementara pria misterius dan temannya berhasil kabur.
"Nguyen! Kau tidak apa - apa?" tanya Kim Sung-Min, teman Yoshida yang lainnya
*gambaran Kim Sung-Min
"Aku tidak apa - apa, kita harus mengejar pria itu sekarang." Nguyen mencoba bangkit namun kembali terkapar
"Kita lanjutkan pencarian besok saja, kita obati dulu lukamu." Yoshida dan Kim membawa Nguyen menjauh dari hutan menuju klinik terdekat.
Keesokan hari
Maulana dan Misaki masih berjauhan, tidak ada kata yang keluar saat mereka bertemu sekalipun itu kerja kelompok.
Saat pulang sekolah, Maulana yang menghindari Misaki dan Hikari malah bertemu Yuki. Yuki kemudian meraih tangan Maulana dan membawanya ke mobil, Maulana hendak melawan namun kemudian dia melihat sosok wanita paruh baya yang berada di dalam mobil.
"Siapa dia?" tanya Maulana dalam hati
"Silahkan masuk." ucap wanita itu kepada Maulana
"Nanti aku kenalkan, sekarang masuk dulu." Yuki mendorong Maulana masuk ke mobil dan membawanya ke suatu tempat.
"Ada apa ini?" tanya Maulana
"Aku pengen ngajak kamu jalan - jalan, kamu gak usah takut gitu deh." jawab Yuki dengan santai
"Kalo mau ngajak jalan, kenapa gak bilang dulu sih sebelumnya? Lagian kita cuman pergi berdua." Maulana nampak kesal
"Berdua apanya? Aku ngajak mama juga kok." ujar Yuki
"Terus mana mama kamu?" tanya Maulana
"Yang nyetirin kita sekarang." lagi lagi Yuki menjawabnya dengan santai
"Eh? Maaf nyonya Hasegawa, saya lancang." Maulana terkejut
"Enggak kok, lagian kamu baru pertama kali ketemu saya kan? Saya agak penasaran sama pacarnya Yuki, makanya saya jemput dia sekolah hari ini." ujar nyonya Hasegawa
"Pacar?" Maulana kemudian menatap Yuki
"Mama kira kita pacaran, maafin aku ya." Yuki tersenyum kecil
"Jadi.. sudah berapa lama kalian jadian? Kok kamu gak ngasih tau mama sih, Yuki?" nyonya Hasegawa benar - benar membuat Maulana semakin malu, Yuki juga malu untuk mengatakan yang sejujurnya
Intinya, Yuki berhasil membalas apa yang Hikari lakukan sebelumnya kepada Maulana, dia tentu tidak mau pujaan hatinya jatuh kepada masa lalunya lagi.