
Chiyoda Market
Maulana, Yuki dan Nyonya Hasegawa menghabiskan waktu bertiga mengunjungi sebuah pasar di daerah Chiyoda timur, lumayan jauh dari posisi rumah mereka saat ini.
Waktu makan siang, mereka memilih sebuah toko ramen untuk menyantap makan siang mereka. Maulana sebenarnya menghindari beberapa jenis ramen yang tidak bisa dia konsumsi, tetapi dia memilih tidak memesan makanan ketika sampai di restoran ramen.
Nyonya Hasegawa menyadari hal itu dan memesan satu makanan tanpa adanya bahan yang tidak bisa dikonsumsi Maulana, Yuki juga membantu memilihkan.
"Maulana, kamu punya alergi?" tanya Yuki
"Hemm? Bukan alergi, tapi tidak boleh mengkonsumsinya. Bagian minyak hewani, kandungan alkohol dan sejenisnya." jawab Maulana
"Oh baiklah kalau gitu..." Nyonya Hasegawa membaca isi menu, Yuki menunjuk satu menu makanan.
"Hmm baiklah, Nasi dengan salmon yang dilumuri saus keju dan beberapa sayuran steril." ujar Yuki
"Minumannya adalah..." sebelum memilih minuman, Nyonya Hasegawa tertahan jawaban Maulana "Air putih saja."
Menu pilihan mereka bertiga.
Nyonya Hasegawa : Ramen kaldu Babi + Soda Float
Yuki : Unagi Rice bowl + Ice Float
Maulana : Salmon Cheese rice bowl + Mineral water
Sambil menunggu makanan datang, nyonya Hasegawa banyak bertanya soal Yuki kepada Maulana.
"Jadi... sudah berapa lama kalian saling mengenal dan akhirnya jadian?" Nyonya Hasegawa langsung pada titik persoalan
"Jadian?" Maulana sekali lagi menatap Yuki
"Mama, jangan langsung tanya kesana dong." ucap Yuki
"Loh, kenapa? Kan mama cuman tanya aja." ujar nyonya Hasegawa
"Kami bertemu 6x sebelum Yuki masuk ke Sakura Gakuen, dan selalu ketika Yuki mendapatkan kesulitan." Maulana akhirnya angkat bicara
"Kesulitan? Kesulitan seperti apa?" tanya nyonya Hasegawa
"Dia selalu hampir dirampok, bahkan pernah hampir sampai ke arah sana... Aku tidak bisa menjelaskannya, maaf." Maulana berhenti bicara
"Ah, begitu.. Hmm jadi pria yang waktu itu kamu ceritain, Maulana ya?" nyonya Hasegawa langsung berbincang dengan Yuki
"Iya ma." Yuki menatap Maulana
"Ngomong - ngomong, bagaimana sekolahmu? Katanya ada anak baru ya? Dia idol?" Nyonya Hasegawa akhirnya fokus bicara dengan Yuki, tapi pertanyaan itu membuat Maulana terkejut
"Eh? Hmmm, iya dia seorang idol. Aku lumayan dekat dengannya, tapi jarang bicara juga." jawab Yuki dengan perasaan takut
Nyonya Hasegawa, Yuki dan Maulana melanjutkan pembicaraan sampai makanan datang, sementara itu Taro mendapat kabar kalau ada seorang wanita yang sedang hamil muda terjebak di rumah tua.
Taro mendekati sebuah rumah tua setelah mendengar kabar ada perempuan yang sedang hamil muda terjebak di dalamnya, dia mengajak beberapa temannnya untuk membantunya.
Di antara Maulana, Taguchi, Rio dan Haraguchi, hanya Taguchi saja yang bisa datang. Maulana saat ini tengah bersama Yuki, sedangkan Rio dan Haraguchi masih berada di sekolah untuk tugas tambahan.
Taguchi berjalan melewati beberapa ruko sebelum akhirnya bertemu Taro.
"Jadi, ada apa Taro?"
"Ah, Taguchi! Aku mendapat kabar angin kalau ada perempuan yang sedang hamil terjebak di rumah tua, aku minta bantuanmu untuk membebaskan perempuan itu bersamaku. Aku yakin, perempuan itu Sofie." Taro memperhatikan sekitar
"Polisi sebentar lagi datang, sebaiknya kita serahkan saja pada mereka. Lagipula belum tentu juga itu Sofie, lagipula kita tidak punya kewajiban membebaskan wanita yang tak kita kenal." ucapan Taguchi ada benarnya juga
"Pokoknya aku mau kedalam, dan kau harus ikut denganku!" Taro menarik tangan Taguchi dan membawanya ke dalam rumah tua.
"Kenapa....!" Taguchi tidak bisa melawannya
Dari lantai dasar hingga lantai dua, Taguchi dan Taro menyusuri setiap ruangan. Kebetulan, setiap lantai memiliki 6 ruangan yang dimana semuanya terkunci dan gelap.
Taro mencoba membuka setiap pintu dengan tenaganya, sedangkan Taguchi menggunakan pikirannya. Beberapa kali Taro hanya menemukan ruangan kosong, begitupun juga Taguchi.
"Ini sulit sekali Taro! Setiap ruangan selalu kosong, yang tersisa saja aku melihat bangkai tikus dan anjing." ujar Taguchi yang sudah mulai lelah
"Dimana ya dia, apa mungkin sudah meninggal? Ah tidak! Aku harus terus mencarinya, sekalipun aku dalam bahaya." Taro kembali menyusuri setiap ruangan
Sampai pada sisa satu ruangan yang belum mereka telusuri, yaitu ruang tidur di lantai paling atas. Taro dan Taguchi melihat pintu terbuka, lampu ruangan itu kebetulan menyala.
"Apa mungkin disana?" Taguchi mendekat
"Aku yakin." Taro berjalan lebih dahulu
Membuka pintu, alangkah terkejutnya Taro dan Taguchi. Mereka tidak hanya menemukan seorang perempuan yang terikat di bangku, tapi juga jasad seorang pria yang terbaring tepat di depan kursi dimana wanita itu diikat.
Taro mendekati perempuan itu lalu melihat wajahnya, sementara Taguchi memeriksa jasad yang terbaring.
Perempuan itu terbangun lalu menatap Taro dengan sangat dalam.
"Taro... to...long.." Sofie bersimbah darah di bagian tangan dan kakinya
"Kamu kenapa?" Taro memeluk erat perempuan itu
"Yoshida! Yoshida!" ucap Sofie
"Ada apa dengannya?" Taro panik
"Dia yang mengikatku disini." Sofie menangis
"Kamu tenang ya, akan aku balas perbuatannya." Taro berusaha menenangkan Sofie
Sementara Taguchi memperhatikan dengan seksama wajah jasad yang terbaring, wajah ini seperti sangat ia kenal.
"Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya?" Taguchi meraih ponsel, lalu memotret wajah jasad tersebut dan mengirimnya ke Maulana, Mizuki dan Rio.
"Ada apa, Taguchi?" tanya Taro
"Tidak apa, bagaimana dengan gadis itu?" Taguchi kemudian memperhatikan Sofie
"Dia mengalami pendarahan, ini tidak bagus. Sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit, aku mengkhawatirkan bayinya." Taro kemudian menggendong Sofie di punggungnya
"Aku juga akan membawa jasad ini ke rumah sakit, agar pihak rumah sakit juga bisa mengautopsinya." Taguchi menunggu jawaban dari pesan yang dia kirim, sekaligus mengangkat jasad.
Beberapa saat kemudian
Taguchi menerima pesan dari Maulana, Mizuki dan Rio.
"*Pria? Aku tidak mengenalnya, lagipula luka di wajahnya sudah merusak." kanza.ki@au.co.jp Mizuki
"Aku lupa siapa dia, tapi sepertinya kita pernah bertemu dengannya beberapa waktu lalu" Rio*
Maulana memberikan jawaban mengejutkan.
"Jika tidak salah, dia adalah Salah satu anggota polisi yang menyusuri lokasi pembunuhan Hose dan Mark."
Taro dan Taguchi segera menghubungi rumah sakit terdekat, Taguchi juga menghubungi kantor polisi untuk segera memberikan informasi.
Maulana kembali mengirim pesan.
"Sebaiknya kita menjauhi kasus penculikan Sofie untuk sementara waktu, kita fokus pada barang bukti temuan. Soal polisi itu, aku khawatir ada kaitannya dengan Yoshuke."
Ketika ambulance 🚑 sampai dan polisi datang, Taro membawa Sofie masuk ambulance. Taguchi juga membawa jasad itu dibantu seorang polisi yang datang ke dalam ambulance, Taguchi kemudian menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Maulana yang tertahan oleh Yuki, belum bisa bergabung dengan Taguchi saat ini. Sementara Mizuki dan Rio juga sibuk dengan urusan mereka sendiri, Misaki juga tidak mungkin bergabung karena dia baru pulang sekolah.
Keesokan harinya
SMA HOSHIZORA
Misaki datang lebih pagi dari biasanya, menghindari Maulana yang biasa datang diwaktu yang sama dengannya. Saat naik tangga, Misaki memperhatikan gerak gerik aneh Yoshuke, Ryusei, Gen dan Haruki.
"Apa yang mereka rencanakan lagi ya? Sejak menghindari Maulana, aku jadi sulit mendapatkan informasi apapun." Misaki memilih berjalan melewati mereka berempat
Misaki menyusuri jalan ke ruang kelas, dan bertemulah dia dengan Maulana yang sudah duduk di kursinya.
"Dia sudah berada di kelas." tutur batin Misaki
Maulana sempat memalingkan wajah ke arah Misaki, dia kemudian mendekati Misaki yang ia kira adalah Taro.
"Taro!" ucap Maulana
Misaki terdiam membisu, antara marah dan malu bercampur. Suasananya berubah tegang, sampai datangnya Taguchi dan Rio.
"Ah Taro? Kau sudah di sekolah? Bagaimana dengan Sofie?" tanya Rio
"Sofie?" Misaki bingung
"Iya Sofie, bukankah kau berniat menemaninya di rumah sakit semalam? Kenapa kau sekarang datang ke sekolah?" Taguchi lebih bingung
"Kakak tidak bicara soal Sofie, jadi dia sudah menemukan Sofie. Tapi kenapa tidak mengatakannya kepadaku semalam?" batin Misaki sangat tertekan
Maulana kemudian menghindari Misaki lalu kembali ke bangkunya, Taguchi dan Rio membahas gerak aneh Yoshuke dan kawan - kawan.
"Pagi ini, sepertinya Yoshuke sangat sibuk ya." ucap Rio
"Aku dengar, mereka menemukan dua saksi lagi. Kemungkinan mereka akan dibawa Yoshuke ke pengadilan, semoga mereka bukanlah tersangkanya." ujar Taguchi
Yoshida berjalan melewati Yoshuke dan para anggota gangster sekolah Hoshizora, dia tidak menghiraukan teguran Yoshuke.
"Soal saksi palsu itu, aku rasa Yoshuke benar - benar membawa Kenta dalam masalah besar. Entah apa yang harus aku katakan kepada Miyu soal ini...?" Misaki sangat amat tertekan dengan ini, apalagi ini juga menyangkut seorang Kenta yang merupakan kekasih sahabatnya
Entah bagaimana, Yoshuke dan kawan kawannya akan membuat ini semakin sulit. Tetapi untuk Maulana, ini akan menjadi ajang balas dendam atas apa yang Yoshuke, Haruki, Gen dan Ryusei lakukan terhadap Taro