
Tokyo Bay
Tempat ini adalah salah satu jalur menuju pulau yang berada di prefektur Tokyo, beberapa tempat menjadi ramai saat liburan musim panas.
Kebetulan sekali rencana Misaki dan Yuki kembali berjalan disini, setelah mereka gagal pergi ke Saitama karena kurang sehat. Hanya Rio yang bisa bergabung dengan mereka, Taro dan Miyamura kembali tidak bisa ikut karena masih kurang sehat.
Sementara Maulana berada di Chiyoda, menunggu kepulangan kedua orangtuanya dan sang kakak Ayumi Silviani.
*Kediaman Gunawan
Maulana membaca buku yang dia pinjam dari perpustakaan sekolah, beberapa diantaranya berisi kegiatan budaya dan sosial. Maulana juga gemar membaca komik, karya Junko Ichino adalah yang paling sering dia baca.
"Sepi juga tidak ada teman - teman, aku bingung kenapa aku sangat kelelahan setelah pulang dari Yokohama." Maulana bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju ruang tengah
Di ruang tengah, Maulana sedang menunggu kedatangan kedua orangtuanya dan Ayumi yang kini sudah dalam perjalanan pulang.
*Taxi
Silvia memarahi sang ayah akibat kesalahan sang ayah sendiri.
"Tuh kan, ayah jadi gini. Lagian udah ibu bilang jangan makan itu." ucap Silvia
"Ya kan ayah sakit stroke ringan, bukan diabetes apalagi kolestrol kak. Masa gak boleh makan tempura π€ sama minum teh π΅" ucap pak Gunawan
"Kamu harus nurut! Aku dan Maulana tidak segan memarahimu lagi kalau masih nakal!" ibu Nami dengan isyaratnya
"Iya.. aku paham." pak Gunawan menunduk
*Sesampainya di rumah
Maulana menyambut kedatangan mereka, membawakan beberapa barang juga dari Yokohama.
"Kami pulang!" seru pak Gunawan, ibu Nami dan kakak Silvia
"Selamat datang." ucap Maulana
"Kau merindukan kami Maulana?" tanya Silvia
"Aku harus bicara pada penanak nasi, kulkas, bantal, dan TV saat kalian tidak ada di rumah." jawab Maulana
Ibu Nami langsung memeluk tubuh Maulana.
"Ibu Kangen." ucap bu Nami
"Kita tidak bertemu hanya sehari, bu..." ucap Maulana yang saat ini berada dalam dekapan
"Ada - ada saja." ucap pak Gunawan
"Memangnya tidak ada temanmu yang datang?" tanya Silvia
"Kemarin ada Misaki, Rio dan Mizuki." jawab Maulana
"Mizuki? Maksudmu Mizuki Kanzaki si gadis aneh itu?" Silvia terkejut
"Biasa saja, tidak perlu kaget begitu." ucap Maulana
Maulana dan Silvia membereskan barang yang mereka bawa dari Yokohama, sementara pak Gunawan dan ibu Nami harus langsung istirahat karena kelelahan yang hebat.
"Ayah dan ibu istirahat saja, biar aku sama Maulana yang membereskan semuanya." ucap Silvia
"Yang benar ya beres - beresnya, awas kalo berantakan!" ucap pak Gunawan
"Iya..." ucap Silvia
*Tokyo Bay
Misaki, Yuki dan Rio menghabiskan waktu bersama di Tokyo Bay, kali ini mereka tanpa kehadiran Miyamura, Taro dan Taguchi. Taguchi masih menghabiskan waktu bersama Ishihara, sementara Miyamura memang sedang sakit. Taro sendiri menghabiskan waktu sendirian di rumah, terkadang Sofie Kitagawa mengunjunginya.
"Sayang sekali kita hanya bertiga lagi, sulit sekali menarik Maulana kesini." ucap Rio
"Aku yakin dia sudah sangat lelah, lagipula dia sudah berjanji akan datang besok ke festival kembang api Sumidagawa kan?" Misaki yakin Maulana akan datang
"Kalian datang ke rumah Maulana, kenapa tidak mengajakku?" Yuki nampak marah
"Maaf Yuki, aku tidak bermaksud mendahuluimu." Misaki minta maaf
"Aku tadinya ingin mengajak Mizuki temanku, tapi tidak sopan bukan kalo mengajak orang asing?" ucap Rio
"Mizuki? Temanmu yang kemarin itu ya?" tanya Misaki
"Mizuki? Seorang perempuan?" Yuki terkejut
"Ah iya, dia juniorku dulu waktu SMP. Kebetulan dia dekat dengan Maulana, dan dia sekarang berada di Tokyo." jawab Rio
"Tenang Yuki, mereka hanya sahabat saja. Mizuki juga terlihat biasa saja kok, kamu jangan merasa minder gitu ya." Misaki menenangkan Yuki
Mood berubah, Yuki nampak kesal sekarang. Tapi karena sesuatu hal, moodnya kembali bagus.
"Oh iya Hasegawa, besok kira - kira dress code nya apa? Aku tidak punya baju berwarna aneh." pesan dari Maulana
"Maulana mengirim pesan?" Yuki tersenyum
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Misaki
"Eh tidak ada, aku habis dapat pesan bergambar lucu. Makanya aku senyum." Yuki merahasiakan pesan Maulana untuknya sendiri
"Mungkin saja pesan dari Miyamura, kalau dia sudah baikkan." ujar Rio
Yuki lebih memilih membalas pesan Maulana.
"Bebas, lagipula yang lain juga belum tentu punya baju berwarna aneh kan? Tapi, aku akan menggunakan Yukata berwarna hitam π"
"Sepertinya itu pesan dari Maulana, iya kan?" Rio berbisik ke Misaki
"Aku tidak mau tau, kita fokus saja pada rencana kita hari ini." jawab Misaki
Maulana membalas...
"Baiklah, aku mungkin akan menggunakan baju polo biasa."
"Loh?" Misaki terkejut
"Eh.. maaf, aku habis membalas pesan temanku." ujar Yuki
"Aku rasa itu pesan Maulana." ujar Rio
"Enggak kok, udah gak usah dibahas. Kita cari semangka sekarang, lalu kita bermain." Yuki segera menjauh untuk mencari semangka
"Aku sudah hafal dengan ekspresi wajah Yuki yang seperti itu, ayo Rio." Misaki dan Rio berjalan mengejar Yuki
Permainan memukul semangka πππ
Giliran pertama adalah Misaki.
Misaki menutup mata dengan kain, lalu memegang sebuah kayu besar untuk memukul semangka.
"Jika ini berhasil, maka kau pemenangnya!" ucap Rio
"Siapapun yang menang, dia berhak mendapatkan hadiah." ucap Yuki
Misaki bersiap...
"Baiklah! HIIIIIYYAAAAAAA!" Misaki berjalan maju lalu mengarahkan pukulannya ke bawah
"Waktumu hanya 1 menit Misaki!" teriak Rio
"Berisik! HIYYYAAAA!" Pukulan Misaki hanya mengenai pasir di sekitar
*Sampai waktu habis
Misaki total mencoba memukul sebanyak 10x, hasilnya semua hanya mengenai pasir.
"Kenapa tidak ada yang mengarahkanku?" Misaki kesal
"Hehehe π." Rio meledek
"Sekarang giliranku." Yuki segera mengambil Kayu dan menutup matanya dengan kain
"Aku Bantu dengan kainnya." ucap Misaki
Giliran kedua adalah Yuki
"Siap!" Yuki langsung berjalan maju secara perlahan
"Kiri!" teriak Rio
"Kanan!" teriak Misaki
Rio dan Misaki saling berteriak, mengarahkan Yuki semaunya mereka.
*Waktu habis
Yuki sempat mengenai bagian kanan semangka, sayangnya itu tidak hancur.
"Hampir sekali!" ucap Yuki
"Hahaha, sekarang giliranku!" Rio hendak berdiri
"Eh tunggu!" ucap Misaki
"Kenapa lagi?" Rio kesal
"Kalo kamu, waktunya hanya 30 detik saja." ucap Yuki tertawa
"Kalo begitu, hadiahnya aku minta ditraktir kalian ya!" ucap Rio
"Apa?" Misaki kaget
"Baiklah, tapi kalo gagal..." Yuki tertawa kecil
"Kau harus membujuk Maulana untuk menerima cinta Yuki!" ucapan Misaki cukup membuat Rio tertekan
"Curang!" Rio membuka lagi ikatan kain di wajahnya
"Ayo cepat! Apa kamu tidak mau ku traktir?" goda Yuki
"Tidak hanya Maulana! Bahkan akan aku buat Misaki pacaran dengan Miyamura jika aku kalah!" Rio kembali menutup mata dengan kain
"Apa? Kenapa aku dibawa - bawa?!" Misaki terkejut
"HIYYAAAAA!" dengan cepat Rio memukul ke bawah
"Cepat sekali reaksinya?" Yuki terkejut
*DUAAARRRR!!!
Semangka itu berhasil dihancurkan, Rio menjadi pemenang di game ini.
"Dia lebih hebat dari yang aku kira, untung saja dia menang." tutur batin Misaki
"Yossshhhaaa! Aku menang!" Rio segera menulis di pasir sebelah semangka yang hancur "η°δΈγͺγ§γεγ£γ!"
"Huufft padahal aku berharap dia kalah tadi." ucap Yuki
"Baiklah! Sekarang kita beli makanan!" Rio segera menarik lengan Yuki dan Misaki untuk membawa mereka ke toko makanan
Misaki tertahan oleh bunyi ponselnya, pesan dari Miyamura.
"Halo, Misaki! Aku harap kamu mau datang untuk makan malam setelah kita pergi ke kuil lusa nanti, papa dan mama kangen sama kamu."
"Mendadak sekali, tapi..." Misaki terdiam melihat pesan yang dikirim Miyamura
Rio dan Yuki juga tertahan.
"Sepertinya kalian mendapatkan pesan dari pria yang kalian suka ya." ujar Rio
"Aku yakin itu pesan yang penting." ucap Yuki
Misaki kini dilema besar dengan apa yang Miyamura katakan, entah apa keputusannya nanti akan merubah masa depan hubungannya dengan Miyamura. Bagi Yuki, besok adalah kesempatan untuk menyatakan cintanya kembali dengan dukungan suasana tentunya.