
30 Juli 2013
Maulana pulang bersama Yuki setelah datang dari festival kembang api, setelah sampai Maulana langsung pamit.
"Terima kasih sudah mengantarku, jangan pergi kemana - mana lagi setelah ini. Orang tuamu pasti menunggu di rumah, pak Hide juga jangan terlalu lelah ya." ucap Maulana
"Sama - sama Maulana." ucap pak Hideki
"Aku akan menunggu jawaban darimu, selamat malam Maulana." Yuki melambaikan tangan lalu menutup kaca mobil
Ketika mobil Yuki menjauh, Silvia mengejutkan Maulana.
"DUAAR!"
"Eh? Kakak!" Maulana cukup terkejut
"Hehehe." Silvia lalu melihat mobil Yuki yang sudah jauh "Hemm pasti kamu diantar Yuki lagi ya? Cieee..."
"Apa sih, dia kan cuman nganter doang gak yang aneh - aneh." Maulana dan Silvia masuk ke dalam rumah.
Pak Gunawan dan ibu Nami sudah menunggu di dalam, Maulana mendapatkan sambutan.
"Selamat datang." ucap pak Gunawan
"Aku pulang." ucap Maulana
Bu Nami memeluk Maulana
"Bagaimana hari ini?"
"Baik." Maulana melihat ke arah meja makan yang penuh makanan
"Kenapa sayang?" tanya bu Nami
"Tadi habis ada tamu ya? Kenapa banyak sekali masak?" tanya Maulana
"Kebetulan tadi Ryoko datang kesini, pas kamu udah di Sumida." jawab pak Gunawan
"Ryoko? Ada apa dengannya?" Maulana segera meraih ponsel untuk mengirim pesan kepada Ryoko
"Kamu tidak perlu mengirim pesan padanya, tadi Ryoko menitipkan surat untukmu." ucap Silvia
"Surat? Kenapa dia menitipkan surat?" tanya Maulana semakin penasaran
"Suratnya sudah kakak taruh di meja belajar kamu, sudah sana naik. Kamu harus istirahat, biar kakak nanti bantu beresin meja makan." ujar Silvia
Maulana segera naik ke lantai 2, dan segera menuju kamar. Dia mendapati sepucuk surat yang dikatakan Silvia, lalu membuka isi amplop untuk melihat isi surat.
"*Hai, apa kabar Maulana-senpai? Aku harap kau baik - baik saja, karena jika tidak baik maka kamu sedang sakit. hehehe...
Aku hanya ingin pamit, aku sudah tidak punya tempat di Tokyo. Selain itu, aku juga sudah tidak punya tempat di hati Yoshida. Dan aku hanya ingin memberitahu, kalau kau ingin bertemu denganku silahkan datang ke Yokohama. Aku akan tinggal selamanya, bahkan sampai aku menikah. Maaf jika selama ini aku punya salah denganmu, aku adalah manusia biasa yang bisa berbuat salah juga kan? Hehehe, sampai jumpa ya Maulana-senpai. Tapi aku punya pesan untukmu...
jika ada seseorang yang sangat mengharapkan kehadiranmu, tolong jangan melepaskan dia dengan alasan apapun. Karena melepaskannya mudah, mendapatkannya sulit. Aku harap kamu tidak menyianyiakan kesempatan untuk menjaga seseorang yang sangat amat mencintaimu, apalagi demi seseorang yang tidak mencintaimu. Cobalah sedikit memaafkannya, meskipun kesalahannya begitu besar.
Hanya itu pesan dariku, sampai jumpa di Yokohama.
Salam cinta,
^^^^^^Sashihara Ryoko*^^^^^^
Inilah pesan Ryoko untuk Maulana sang sahabat, Maulana hanya tertegun lesuh membaca pesan terakhir dari Ryoko.
"Aku berjanji, jika ada waktu aku akan menemuimu sejauh apapun." ucap Maulana
*Beberapa saat kemudian
Suara ponsel Maulana, ada notifikasi pesan dari seseorang.
"Maulana-senpai, aku ingin bertemu denganmu besok setelah aku pulang dari kuil. Aku tidak menerima kata tidak, dan aku harap kamu datang sendirian tanpa Misaki atau siapapun. Bye!" kanza.ki@au.co.jp
Pesan dari Mizuki
"Kenapa anak ini? Lalu menyuruhku sendiri menemuinya, aku harap ini info penting. Kalo tidak, aku akan hapus dia dari daftar temanku." ucap Maulana
Maulana langsung memeluk bantal lalu tidur, sementara Mizuki sepertinya tidak menunggu jawaban Maulana.
*Keesokan hari
"Aku hanya berharap, Miyamura tidak memintaku menjadi apa yang dia inginkan seperti dulu. Meskipun itu kesalahanku, tapi aku tidak mampu menanggungnya sendiri." Misaki kemudian membunyikan lonceng kuil
Taro dari kejauhan sedang sibuk menghubungi Sofie untuk menemuinya di rumah Taro, tapi Sofie nampak tidak bisa menjawab sekarang.
Misaki segera berjalan mendekati Taro, dari kejauhan dia sudah melihat Miyamura bersama Tsumugi menunggu.
"Kenapa denganmu?" tanya Misaki kepada Taro
"Sofie belum membalas pesanku, aku menyuruhnya untuk datang ke rumah." jawab Taro yang sekarang galau
"Kau tidak mau mencoba menjemputnya? Keburu siang loh! Lagian ini masih libur, jadi kamu bebas kemanapun kan?" Misaki mencoba memaksa sang kakak
"Menjemputnya? Aku tidak yakin, aku akan menunggunya di rumah." Taro masih ragu
"Dasar penakut! Yasudah kalo gitu, Miyamura sudah menungguku di depan. Aku akan pulang sebelum malam, dan aku tidak mau melihatmu bermesraan dengan Sofie di rumah." Misaki berjalan meninggalkan Taro
"Huh dasar! Bisanya hanya mengaturku saja, awas kalo papa mama pulang." Taro juga segera berjalan menuju tempat parkiran taxi 🚖
Misaki langsung berlari ke arah Tsumugi dan memeluknya, sementara Miyamura menyambutnya dengan tangan lebar yang sayangnya tidak disambut Misaki.
"Kak Misaki!" ucap Tsumugi
"Aku kangen sama kamu Tsumugi-chan!!!" Misaki sangat senang
"Mama udah masak makanan kesukaan kak Misaki, ayo ikut aku pulang!" ucap Tsumugi menarik tangan Misaki
"Ayo!" Misaki mengikuti jejak Tsumugi, Miyamura pun mengikuti mereka berdua
*Pertemuan rahasia
Maulana akhirnya berjalan menuju tempat pertemuannya dengan Mizuki, Mizuki memilih sebuah taman kecil untuk berbincang dengan Maulana dengan dijaga beberapa anak buahnya.
Maulana mendekati tempat pertemuan, dan dia melihat beberapa orang mengelilingi Mizuki.
"Selamat pagi semuanya!" ucap Maulana
"Selamat pagi senior!" semua anak buah Mizuki menjawabnya
"Senior? Ada - ada saja." Maulana kemudian duduk di bangku
"Aku mau langsung saja ya, ada berita baik ada berita buruk. Jadi... kau mau dengar yang mana dulu?" ucap Mizuki
"Akan lebih baik jika aku mendengar berita baik dulu, karena dengan begitu aku bisa berfikir untuk langkah berikutnya." Maulana menjawabnya dengan elegan
"Baiklah, kabar baiknya adalah semua anak buahku setuju untuk bergabung dengan misi kita." Mizuki juga menjawabnya dengan elegan
"Kabar buruknya?" tanya Maulana
"Kabar buruknya, saksi palsu yang kalian jelaskan waktu itu. Ada kaitannya dengan Misaki, temanmu itu." jawaban Mizuki cukup membuat Maulana terkejut
"Misaki? Hubungannya apa dengan Misaki?" Maulana berdiri
Mizuki juga bangkit dari kursi juga.
"Aku ingin kamu memberikan foto orang ini kepada Misaki, lalu tanyakan padanya siapa mereka."
Maulana memperhatikan dengan seksama dua orang yang ada di foto yang diberikan Mizuki.
"Kedua orang ini siapa? Aku bingung kenapa kau memiliki foto ini, apa ada orang suruhanmu yang lain?"
"Rahasia, pokoknya kau harus tanyakan siapa mereka kepada Misaki. Tapi sebelum itu, kau harus merahasiakan dari mana kau mendapatkan foto ini." Mizuki mengedipkan satu mata
"Dasar payah, bagaimana aku bisa berbohong di depan Misaki. Lagipula, pertanyaan "dari mana kamu memiliki foto ini?" itu tidak mungkin aku jawab. Jangan membuat kepalaku pusing, kau selalu pintar membuatku pusing." Maulana agak kesal
"Pokoknya aku sudah pikirkan bagaimana cara kamu menjawab pertanyaan Misaki, tanpa kamu mencari alasan khusus." Mizuki kemudian mendekati Maulana lalu membisikkan ide dan jawabannya.
Maulana terpaksa mengikuti ide Mizuki walaupun itu sangat berbahaya, Mizuki juga sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik meskipun nanti akan ada masalah lain mengenai Misaki.
"Aku akan menemuimu lagi setelah kau mendapatkan jawaban dari Misaki, sekarang saatnya menikmati sisa liburan musim panas. Ayo semuanya, kita pulang!" anak buah Mizuki pun bangkit lalu mengikuti langkah Mizuki menjauh dari Maulana
"Aku harap reaksi Misaki sesuai dengan prediksi Mizuki, atau Misaki akan memusuhiku layaknya Taro." Maulana segera berjalan menuju arah pulang
Maulana segera menghubungi Misaki untuk kejelasan foto yang diberikan Mizuki, apapun itu Maulana harus segera mengambil tindakan.