My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
9. Hari Pernikahan



SAHHHH...


ALHAMDULILLAH


Mendengar seruan itu, tanpa sadar air mataku berjatuhan. Rasanya sedih sekali, aku benar benar sudah lepas dari orang tuaku.


Padahal aku sudah mempersiapkan diri selama sebulan ini, tapi rasanya aku masih belum siap sama sekali. Aku belum ingin pisah dari Mama, aku masih mau melihat mereka.


"Jangan nangis, nanti make-up kamu rusak sayang." Mama yang ada di sampingku dengan gercep mengambil tisue dan mengahapus air mataku "Jangan nangis, Nak!"


Melarangku menangis, tapi matanya berkaca kaca dan sudah memerah.


"Ma,"


"Hm?"


"Aku sayang tau sama, Mama." ucapku, tapi wanita itu terkekeh dan malah memelukku.


"Mama lebih sayang sama adek, adek itu besar di Mama. Maaf kalau kami para orang tua egois."


Aku menggelengkan kepala, baru akan berkata Tante Tatiana sudah masuk dengan heboh. Dia meminta Mama agar membawaku keluar, katanya sudah waktunya.


Dengan di tuntun Mama dan Tante Tatiana, aku berjalan keluar kamar dari lantai dua. Rasanya kakiku sangat berat, aku hanya bisa menundukkan kepalaku tidak ingin menatap ke depan.


"Sayang angkat kepalamu!" Mama menyentuh daguku, dia membantu menegakkan tubuhku.


Dari sini aku bisa melihat semua orang, melihat ke orang yang baru saja menjadikanku istrinya. Lihat dia! Dia sama sekali tidak menoleh ke arahku, dia malah terus menunduk


Sudah terlambat untuk menyesal, Voldemort!


Dia baru menoleh ke arahku setelah aku di dudukkan di sampingnya, ingin rasanya aku berhenti melihatku dengan ekspresi datarnya. Tapi tunggu...


Kenapa mata Mas Arka merah? Dia tidak menangis diam diam kan? Tapi kalau iya, kenapa? Apa dia mengingat pacarnya?


Aku terkejut saat Mama menyikutku pelan, Mama memolototiku saat aku melihatnya. Kenapa?


"Cium tangan!" bisik Mama


Ah, bagaimana bisa aku lupa, pantas saja Mama melotot.


Aku dengan cepat meraih tangan Mas Arka yang sudah dia ulurkan, mencium punggung tangannya yang.... Hangat?


Tangan Mas Arka itu besar, dibandingkan tanganku itu besar!


Saat aku melepas tangannya, mas Arka tiba tiba mendekat menyentuh puncak tanganku dengan tangan kanannya. Dia sepertinya akan mendoakanku, aku sering melihat ini di tv.


Setelah dia selesai, aku merasa lega. Tapi siapa sangka dia akan menyentuh kedua pipiku dengan tangannya, spontan aku mundur dong.


Mas Arka mencium keningku, rasanya itu... hangat juga? Lalu bagaimana kalau itu di bibir, seperti di drama?


Akhhh.... Apa yang kamu pikirkan otak mesum?


Setelah mas Arka menjauhkan dirinya, barulah rasanya ingin aku bersembunyi. Malu....


Jujur saja, aku dan Mas Arka bahkan tidak pernah bersentuhan. Satu satunya aku ingat dia menyentuhku, saat malam dia ke rumah dan mengantarku ke fotocopy, dia menghindarkan ku dari motor.


Dan tadi dia mencium keningku? Tentu saja rasanya aneh dan dagdigdug, untung aku tidak punya riwayat sakit jantung, kalau tidak bisa pingsan aku tadi.


Setelah berdo'a bersama, cialiah berasa mau makan saja, hehehe bercanda! Setalah penghulu memimpin doa dan berdoa untuk pernikahan kami, giliran pegawai KUA yang mendekat dan memberi kami surat dan buku nikah untuk ditanda tangani.


***


"Akhh... Laparr!" Aku merengek begitu masuk kamarku, sejak pagi tadi aku sama sekali tidak makan hanya minum, Aku super gugup!


Aku menghempaskan tubuhku di kursi di mana aku berhias tadi, mas Arka duduk di atas kasurku.


Kami di minta masuk untuk istirahat sekaligus bersiap lagi, karena nanti malam adalah resepsi. Tadi karena hanya akad, jadi hanya orang dekat saja yang datang.


Dan nanti malam adalah puncaknya, padahal aku ingin tidur saja karena semalam kurang tidur. Aku melirik Mas Arka, dia seperti tidak ada beban dan malah berbaring di kasurku, enak sekali dia!


Tapi sepertinya bukan hanya aku yang tidak bisa tidur semalam, melihat Mas Arka yang terlelap dia sepertinya juga sama denganku.


Aku bergegas dari tempatku, mumpung olaf versi beku itu bangun, aku akan melepaskan pakaian yang cukup ketat di badanku ini. Sangat tidak nyaman untuk di pakai, dadaku sesak.


Setelah berganti baju pakaian biasa, aku melipat baju tadi dan menyimpan di atas meja belajarku, biar bisa langsung di cuci besok. Aku tidak langsung menghapus make-upku, nanti masih harus di dandani juga, hitung hitung MUAnya tidak akan terlalu kerepotan nanti


Baik kan aku? Silahkan puji aku!


Karena sangat lapar, aku menelfon Rianti yang ada di luar membawakan aku makan. Kenapa Rianti? Karena kalau Laura atau Tania, mereka pasti akan heboh dan berisik. Tidak lama Rianti datang dengan dua piring.


"Kok dua, dek?" tanyaku, dia tidak berfikir aku akan menghabiskan ini semua kan? Ya aku akui, porsi makanku memang banyak tapi tidak sampai dua piring juga kan?


Rianti menyodorkannya "Kata Tante Arindi, satunya untuk Mas Arka."


"Mama?"Rianti menganggukkan kepalanya, aku menerima kedua piring itu "Ya sudah deh, terimah kasih ya dek."


***


Seperti yang sudah aku prediksi kan, tamu benar benar banyak sekali. Hampir semua dosen datang termaksud bu Jessica yang matanya sembab, terus rekan Papi di militer juga datang.


Akhh... Aku capek berdiri sambil tersenyum, Tuhan ini kapan selesainya.


"Ya ampun, Raana sekarang sudah besar saja, sudah menikah." Aku hanya bisa senyum ke arah salah satu istri rekan Papi. "Padahal baru kemarin lihat kamu berlumuran lumpur karena guling gulingan berkelahi dengan Rendy!"


oh tidak AIB ku!


"Haa... Padahal kamu seumuran Randy, anak itu bahkan belum bisa pisah dengan bola." Aku hanya bisa terkekeh bodoh sebagai tanggapan.


Kalau tidak di jodohkan mana mau aku menikah dulu, aku masih ngefangirlin Tom Felton.


"Capek!" Aku mengeluh, bodoh amat kalau di perhatikan banyak orang.


Aku capek berdiri, kakiku juga rasanya mati rasa karenat terlalu lama berdiri. Pipiku juga rasanya kram karena kebanyakan senyum, padahal aku juga malas untuk senyum.


"Sebentar lagi," bisik Mas Arka, aku meliriknya kesal.


Apanya yang sebentar lagi? Tamu masih sangat banyak, kenapa mereka tidak mau pulang saja sih? Aku mau tidur, capek!


"Mas mah enak, ngak pakak high heels." gerutuku.


Dia menunduk ke arah kakiku yang tertutup gaun, apa dia tidak percaya?


Aku terkejut saat dia membungkuk, "Mas mau apa?" Aku menatapnya dengan pandangan waspada.


Dia hanya melihatku sekilas tanpa mengatakan apa apa, dia melanjutkan apa yang ingin dia lakukan. Aku spontan memundurkan kakiku Mas Arka menyingkap gaunku sedikit, melepaskan heels yang kupakai.


"Mas?" Dia tidak mengubrisnya, dia melepasnya dan menyembunyikannya di belakang gaunku yang lebar.


Kami kembali berdiri saat rombongan dosen menghampiri, aku kembali tersenyum meski kedua pipiku sudah sangat kram.


"Selamat pak!" Aku melirik bu Jessica yang mengulurkan tangannya ke Mas Arka, aku sedikit merasa bersalah padanya sungguh.


Meski pak Arka mengatakan kalau dia dan Bu Jessica tidak ada hubungan apa apa, aku tetap tidak enak hati. Satu kampus sangat mengharapkan dan berfikir kalau mereka bersama, tapi aku malah muncul di tengah tengah.


"Terima kasih." Dasar Manusia Es!


Mas Arka berbicara dengan dosen lain, aku hanya diam karena bukan circleku dan tidak paham yang meraka bahas. Rasanya ingin duduk, tapi itu tidak sopan terlebih mereka adalah dosen dosenku juga rekan Mas Arka.


Hah... Betapa baik hatinya diriku!