
Aku dan Laura berdiri di ruangan kosong kosan yang akan di tempati Laura, yang bikin gue tidak paham, kenapa Mas Arka juga Adrian malah ikut.
Mereka berdua sekarang malah sibuk sendir, entah membahas apa.
"Gimana? Lo suka?" tanyaku saat Laura hanya diam menatap ruang kosong itu, tidak kosong banget karena ada satu lemari satu kasur ukuran single. "Kalau lo ngak suka, kita cari yang lain."
Laura menggelengkan kepalanya "Ngak, disini saja. Yang penting gue keluar dari rumah itu."
"Nyokap lo sudah tau?" Adrian bertanya saat mendekat ke arah kami, meski masih merasa dongkol Laura tetap menjawabnya
Sebaik itu sahabat gue.
"Iya, tidak masalah."
Aku dan Adrian saling memandang sebelum menghela nafas bersamaan, kami tahu kalau dia seperti ini Laura tidak bisa di tinggal sendirian.
"Yaudah, lo lihat lihat dulu deh. Gue mau ngomong sama nih anak dugong." Adrian mendelik ke arahku, aku tidak mengatakan apa apa dan menariknya "Apasih Na, jangan tarik tarik! Pak Arka ngelihatin noh." ucapnya dengan nada pelan.
"Ck, bawel lo, gue cuman ngomong sebentar." Aku menoleh ke arah Pak Arka, benar kata Adrian, dia melihat ke arah kami. "Pak, titip Laura sebentar."
"Lo pikir gue barang, dititipin!" gerutu Laura.
Aku tidak mengatakan apa apa lagi masih menarik tangan Adrian yang sudah misuh misuh, kami berhenti saat sudah berada jauh dari kamar kosan Laura.
Adrian melepaskan tanganku, "Lo mau ngomong apa? Ck... Suami lo ngeri tau ngak!"
Kenapa malah bahas Mas Arka, "Lupakan Mas Arka, fokus ke Laura dulu." aku berjongkok, capek juga seret seretan sama Adrian.
"Lo mau bahas apa?" Dia berdiri di samping gue sambil memasukkan tangan ke saku "Gue juga ngak bisa bantuin, tau sendiri dia benci banget sama gue."
Aku tahu itu "Siapa suruh lo jadi bajing," dia mendecak "Gue khawatir kalau dia sendirian, Lau lau itu gampang depresi."
"Ya sudah, lo sementara tinggal sama dia saja." aku mendelik menatap Adrian yang memasang tampang biasa saja.
"Eh kunyuk! Lo gak perlu ngasih tau itu, kalau gue belum nikah, gua gak bakal minta pendapat lo." lama lama gondok juga bicara sama Adrian.
"Ya masa gue sih, Na. Bisa bisa dia makin benci sama gue, oneng lo!" aku menampar kakinya, enak banget ngatain orang. "Ya terus gimana?"
Aku cemberut merapatkan bibirku, aku juga bingung makanya minta pendapatnya, tapi dia sama sekali tidak membantu.
"Lo serius gak sih suka sama Laura."
"Serius lah, kalau tidak sudah dari kemarin lo denger berita gue punya cewek."
Iya juga sih, Adrian kan populer di kampus. Semua orang pasti ingin tahu kesehariannya, siapa saja yang dekat sama dia, kalau dia pacaran pasti sudah menyebar beritanya.
"Ya terus ini gimana?"
"Ya mana gue tau!"
Aku berdecak kesal, percuma saja membiarkan dia ikut, dia sama sekali gak berguna. Eh Enggak deh, dia berguna buat angkat angkat barang berat.
"Tempat ini aman, tidak usah khawatir."
Suara Pak Arka membuatku menoleh ke belakang, dosen muda yang tidak lain suamiku itu berdiri cukup dengan kami. Aku dan Adrian kembali saling melihat kemudian menatap Pak Arka lagi, SEJAK KAPAN DIA DI SITU?
Aku langsung berdiri, berjalan ke arahnya sambil melihat ke kosan Laura. "Kok Mas ninggalin Laura sendirian?"
Mas Arka mengatupkan bibirnya tidak menjawab, gue lupa, dia kan Olaf versi beku.
"Na, gue ke tempat Lau-lau dulu." aku menoleh dan mengangguk
"Jangan berantem lo berdua, awas saja kalau Lau-lau nangis karena lo."
Adrian melihatku dan berkata dengan nada kesal "Iya, bawel banget lo, kayak mak tirinya cinderella."
Aku baru akan membalasnya dia sudah lari duluan "Huh, heran kenapa juga gue mau temenan dengan manusia jenis begitu?"
Aku kembali melihat pak Arka, betapa terkejutnya saat Mas Arka terus melihat ke arahku.
"Kenapa, Mas?"
"______"
Ya Allah, begini banget sih nasibku.
Dia hanya mengangguk, ya Allah Kalau saja memukul suami bukan dosa, sudah kupukul kepalanya dengan ulekan cabe di kosan.
Aku mendekatinya dan menatapnya lekat, dia sedikit mundur "Aman ngak?"
"hn"
"Aman ngak?" aku kembali bertanya, aku tidak akan berhenti sebelum dia menjawab dengan benar.
Dia mendorong pelan tubuhku ke belakang "Iya."
Aku tersenyum puas, kalau begitu kan enak. Aku kembali ke posisiku semula, menatap Mas Arka dari samping itu menyenangkan, puas melihat wajah tampannya
Aku menggelengkan kepalaku, apa sih yang aku pikirkan.
"Mas," dia menoleh ke arahku "Tolong kasih tahu pemilik kosnya, Ayah tiri Lau-lau jangan diizinkan masuk kalau dia tidak datang dengan Mama Laura."
"Hn."
Aku mengangguk puas, jarak dari sini ke kampus juga sangat dekat dan jalanan lumayan ramai, Laura tidak perlu terlalu cemas.
Aku menegakkan berdiriku, mengajak Mas Arka kembali karena takut kucing dan tikus itu bertengkar lagi. Bersyukurnya saat masuk di sana mereka duduk berhadapan tanpa cakar cakaran.
"Dari mana lo?" tanya Laura dengan nada sensi, aku menyengir kuda.
Aku merangkul lengan Mas Arka, bisa kurasakan dia mengang, ckckck... Benar benar kayak anak perawan.
"Elah, Lau. Lo kayak ngak paham saja."
Laura mendengus ke arahku, dia menghela nafas panjang. Aku melepaskan rangkulanku dari Mas Arka, mendekati mereka dan mendorong punggung Adrian.
"Apa sih Na? Lo kayak ada dendam banget sama gue" Adrian mendelik
"Emang, gue memang ada dendam sama lo." dia tidak berfikir aku lupa sama yang dia lakuin ke Laura kan "Sana gih, turunin barang Laura dari mobil lo."
Selain jadi tukang angkat barang, tujuan lain Adrian di ajak tidak lain tidak bukan untuk memanfaatkan fasilitasnya, baik kan kita berdua?
Sebenarnya sejak dia cerita bagaimanaLmasih berdebat terus dengan Laura. Sebenarnya kami sudah berusaha menyuruhnya menjauh kalau di kampus, tapi emang sifat batunya kumat jadi dia tidak mendengar sama sekali.
Jadinya kami jadi sering pusat perhatian, di tambah statusku yang menjadi istri Mas Arka juga tidak bisa di terima oleh beberapa kelompok membuatku kurang nyaman karena sering mendapat cibiran saat melewati mereka.
"Gue sendirian nih?" tanya Adrian sambil berdiri bersiap pergi, aku mengangguk "Kamp*et lo, Na!"
Aku hanya tertawa membiarkannya keluar, sebenarnya aku juga mau meminta Mas Arka, tapi aku belum berani
Matanya nyeremin!
"Lah, Mas mau apa?" aku bertanya karena melihatnya berjalan sambil menggulung lengan kemejanya.
Dia tidak bicara tapi memberi tanda kalau dia akan membantu Adrian.
Aku duduk di samping Laura, mengangkat sebelah kakiku.
"Apa?" aku menoleh saat Laura menyikutku pelan, dia mengedikkan dagunya keluar. "Kenapa sih?"
"Di rumah pak Arka jarang ngomong juga ya?"
"Beuhhh... Bukan lagi," aku ganti duduk bersila, posisi paling nyaman untuk bergosip "Lo tau kan, gue anaknya ngak bisa diam? Gue udah ngomong sampai ke korea, jawabannya cuman, hm hm doang."
Untung aku sudah di training sama sifat Papi, kalau tidak bisa kagok.
Laura langsung tertawa, aku tersenyum kecil karena akhirnya dia bisa tertawa. Beberapa hari ini soalnya dia kayak stress banget, kasihan juga lihatnya.
"Enak banget lo berdua tawa tawa," kami menoleh ke pintu, Adrian masuk dengan dua kardus "Sana ambil barang di mobil."
"Ngak ikhlas banget lo," seru Laura, Adrian mengatupkan mulutnya.
"Ngak gitu Lau, elah disalah pahami mulu gue."
Hahahaha.... Aku hanya bisa tergelak mendengar gerutuannya, Laura juga tidak peduli dan malah bersandar di lenganku.
Ini mereka kapan akurnya ya?