
Tibalah hari di yang aku tunggu tunggu, hari dimana aku akan meninggalkan bangku perkuliahan yang kutempuh empat tahun lamanya. Aku menatap diriku yang di balut kebaya berwarna merah dan sarung jarik, memperlihatkan tubuhku yang ramping.
Sebenarnya saat fitting kebaya kemarin. Mas Arka protes dengan tampilan kebayanya. Utamanya bagian bahu yang memperlihatkan kulit, terlebih kebayanua yang pas badan sekali.
Ya kali Mas, aku wisudaan tanpa kebaya. Padahal dia kan dosen di sana juga.
Oh iya, hari ini Mas Arka terlihat lebih kece. Dia memakai kemeja batik yang hampir senada dengan kebaya yang aku kenakan, dipadukan dengan celana bahan hitam dan sepatu mengkilatnya.
Jadi pengen mengurung dia di rumah hari ini.
Eh jangan ding, kalau dia tidak datang dia tidak akan melihat aku wisuda. Aku juga tidak bisa pamer pasangan ke teman temanku, kan sayang.
"Mas!" aku berjalan ke arahnya yang sedang memasukkan berkas entah apa di tasnya. "Gimana?"
Aku berputar di depannya, memperlihatkan detail pakaian yang aku pakai. "Cantik kan?"
Mas Arka hanya melihatku sebentar kemudian kembali ke aktifitasnya lagi, ceh tidak asik. Aku tertawa diam diam saat menyadari sesuatu, sepertinya masih sedikit kesal masalah kebaya yang aku pilih ini.
Susah emang kalau punya suami Om-om!
"Cantik ngak?" aku menarik narik ujung kemejanya, takut kusut nyetrikanya repot.
"Hm" hanya itu jawabannya.
Aku memeluk lengannya, tapi tidak berani mendusel duselkan wajahku, takut make-upnya rusak. FYI suamiku sudah tidak kaku kaku amat sekarang padaku, semenjak kami ekhem... Dia sudah mulai sedikit banyak bicara alias bicara panjang, yah untuk ukuran Mas Arka itu sudah bisa dibilang banyak bicara.
Dia tau aku tidak akan berhenti sebelum mendapat jawaban saat bertanya, jadi sebisa mungkin dia menjawab iya atau bergumam sebagai tanggapannya. Hehehe.... Mas Arka juga sudah berani mengatakan apa yang tidak dia sukainya, perubahan besar bukan.
"Cantik ngak?" tanyaku lagi
Entah kenapa beberapa hari belakangan ini, aku merasa senang membuat Mas Arka kesal. Ya sebelumnya juga sama, tapi kali ini lebih sering.
"Maaasss~"
Dia menutup tas kerjanya dan melihat ke arahku, aku hanya bisa menyengir kuda. Menaik turunkan alisku ke arah wajahnya yang lempeng, tapi tak lama dia tertawa juga.
aw... Lucunya mas ku ini! Hehehe...
"Iya, cantik!" nah gitu dong dari tadi.
Aku mengendus pakaian Mas Arka, menyipitkan mataku kearahnya. "Mas pakai parfum aku?" penciumanku belakangan ini bertambah dua kali lipat. Aku kembali mengendus pakaian "Ihh... Beneran punya Raana!"
"Punya kamu punya aku!" ucapnya
"Bukannya sebaliknya?" aku mengekori Mas Arka yang berjalan keluar kamar, "Yang bener tuh punya suami ya punya istri, punya istri yang milik Istr-"
Aku menghentikan ucapanku saat ada material lembut menyentuh bibirku, MAS ARKA MENCIUMKU!
Orang ini makin berani saja ya?
"MA-"
Sekali lagi bibir Mas Arka menyentuh bibirku, aku melihat wajahnya yang masih saja datar. Aku ingin protes tapi telunjuknya lebih dulu dia tempelkan di bibirku, bibirnya melengkung tipis.
"Ambil tasmu, kita berangkat!" ucapnya dan berjalan lebih dulu,YA ALLAH! SUAMI SIAPA SIH INI? Ingin kutukar dengan bakso semangkok.
Eh jangan deh, sungguh kerugian yang sangat besar jika aku melakukannya. Mas Arka selain ganteng dia juga tajir, terlebih dimana aku bisa ketemu laki laki yang selalu bisa membuatku senam jantung tiap hari?
Aku buru buru berbalik ke kamar, mengambil semua barang yang akan aku bawa ke kampus.
"Mas tungguin!!" aku berlari keluar kamar menyusulnya, sayang sekali aku tidak bisa berlari seperti biasa karena sepatu dan kain yang aku pakai.
*****
"Eh?"
Aku kaget begitu tiba di kampus Mama sudah ada di sana, bukan hanya Mama tapi Papi dan mertuaku juga Mami dan Ayah juga datang. Ya ini hari kelulusanku, jadi wajar saja kan mereka hadir.
Aku menyalami mereka satu persatu, berbicara singkat sebelum Mas Arka yang selaku dosen kampus memintaku berkumpul dengan teman temanku, meminta para orang tua ke ruangan yang sudah disiapkan.
"Raana!"
Begitu masuk aku melihat Adrian, dia melambai ke arahku dan menepuk kursi di sampingnya. Bagus! Aku tidak perlu mencari cari kursi lagi.
"Lama banget lo!"
Aku mencibir "Kayak ngak tahu wanita saja lo, but thanks udah nyiapin kursi."
"Itu gunanya sahabatkan?" Aku melihatnya curiga "Ya elah Na, curigaan mulu lo sama gue!"
"Muka lo tampang kriminal, patut dicurigai." Aku melihat dia mengatupkan bibirnya kesal, aku mendorong mukanya pelan "Ambekan banget lo, Lau lau bisa ilfeel sama lo."
"Ngak ngambek gue."
Aku tertawa pelan, dia memang selalu begini kalau nama Laura di bawa bawa. Bicara soal sahabatku satu itu, Laura memutuskan lulus tahun depan, padahal akan lebih bagus kalau kita bertiga lulusnya barengan.
*
Setelah semua rangkaian acara, akhirnya kami semua bisa keluar dari ruangan itu menemui orang orang terdekat kami. Aku keluar tentunya berbarengan dengan Adrian, dia menangis kalian tahu hahahaha.... Ya aku juga sih.
"Cengeng lo!" aku menepuk nepuk punggungnya, dia melirikku tajam ah kesal. "Tapi ini pertama kali gue liat lo nangis."
"Putus dari Laura juga gue nangis." gumamnya yang masih bisa aku dengar, baru akan bertanya pekikan memanggilku terdengar.
"TUTIIIIIII....."
Laura berlari ke arah kami dengan dua bucket di tangannya, di belakangnya ada dua adikku. Rianti dan Reno berjalan dengan bucket di tangan mereka masing masing, manis ngak sih adik adikku ini?
"Selamat tutiii..." kami berpelukan setelah dia menyerahkan salah satu bucketnya padaku, setelah saling berpelukan, Laura menyodorkan begitu saja bucket ke Adrian dan berkata dengan nada ketus "Selamat."
Aku melirik Adrian yang menerimanya, dia menjawab dengan nada yang sama ketusnya, tapi matanya berbinar menatap bucket Pokky yang sama dengan milikku. Dasar!
Aku melangkah mendekati kedua adikku, mereka berdua hanya diam melihat dua orang yang berdebat itu. Menyadari aku menghampiri mereka, Rianti yang lebih dulu memelukku di susul oleh Reno.
"Selamat kak!" ucap mereka, aku mengangguk dan kembali memeluk mereka.
Meski tidak mempunyai adik dari pihak Papi, setidaknya dua adik dari pihak Mami sangat menyayangiku pun sebaliknya.
"Kamu bolos kuliah? Reno kamu bolos sekolah?" tanyaku pada mereka berdua.
"Masuk siang," jawab Rianti, dia menatapku dari atas ke bawah "Mudah mudahan aku tahun depan bisa wisuda juga."
"Aamiin!"
"Ya jangan barengan dong!" Laura menarik lenganku, sepertinya dia sudah selesai dengan Adrian "Tuti kan bingung datangin wisuda siapa."
"Dih... Lo yang ngapain harus tunggu sampai tahun depan" aku meliriknya, Laura menyengir "Apa?"
"Gue gabut, Ti. Mending kuliah biar gue bisa ada pikiran juga."
"Gabut lo aneh!" Adrian mendorong pelan kepala Laura, jadilah mereka kembali berdebat.
Aku memutar bola mata jengah "Yang lainnya mana dek?" tanyaku.
Aku belum bertemu para orang tua setelah tadi bertemu di dalam, mereka keluar lebih dulu tadi. Adapun Mas Arka, dia bersama dosen yang lain entah ngapain.
"Kakak sakit?" tanya Reno meneliti wajahku, aku menggelengkan kepalaku "Muka kakak pucat."
"Bener loh, Ti. Lo ngak sakit kan?" Laura menangkup wajahku.
Aku yang merasa tidak sakit terus menggelengkan kepalaku, sejak pagi tadi aku tidak merasakan apa apa selain antusias. Memang sih kemarin aku sempat masuk angin, tapi membaik saat siangnya.
"Make up kali, luntur pas di dalem soalnya panas banget."
"Ngak ah, bukan make up, Ti. Emang muka lo kayak lain gitu" ucap Laura, Adrian juga meneliti wajahku.
"Bener Na, lo kenapa makin cakep?"
"Buaya!" aku dan Laura berseru bersamaan
"Tau ah, aku mau cari orang tua gue." aku merangkul tangan kedua adikku, dia pasti tau dimana mereka.
Di tengah jalan aku tidak sengaja berpapasan dengan para dosen, termaksud suamiku juga. Aku sebagai mahasiswa menyapa dengan sopan pada mereka, mereka balas menyapa bahkan menahanku sebentar.
Aku menutup mulutku sambil tersenyum, sebenarnya aku menahan sesuatu yang bergejolak di perutku. Bau parfum yang di gunakan para dosen sangat menyengat, utamanya dosen wanita dan itu lumayan membuat mual.
Aku mendongak saat Mas Arka melingkarkan tangannya di pinggangku, dia juga menunduk ke arahku.
"Kenapa?" tanyanya
Aku menggelengkan kepalaku, tidak mungkin aku menjawab kalau aku mual hanya gara gara bau parfum. Dia tidak langsung mengalihkan pandangannya dan masih menatapku, aku tersenyum memperlihatkan padanya kalau aku baik baik saja.
Tidak lama aku pamit pada mereka, aku mengatakan ingin mencari orang tuaku dulu. Mas Arka aku biarkan dia berbincang dengan mereka, tapi dia menolak dan pamit bersama ku.
Aku menghentikan langkahku, entah kenapa kepalaku rasanya berkunang kunang, penglihatanku juga tiba tiba menghitam.
"...Na?!"
****
Aku membuka mataku, bau disinfektan sangat jelas tercium. Gejolak perutku tiba tiba menggila, membuatku terburu buru bangun ingin menuju kamar mandi.
Mungkin karena terburu buru aku tidak sengaka mengait kaki ku sendiri, aku hanya bisa menutup mata ku pasrah untuk jatuh ke lantai.
Eh? Kok ngak jatuh?
Berlahan aku membuka mata ku, Mas Arka orang yang pertama aku lihat. Mualku yang tadi juga tiba tiba menghilang, oh inika yang di sebut the power of kaget? Aku merasakan tangan Mas Arka yang melingkar di pinggangku, rupanya aku tidak ditangkap.
Satu benjolan terhindarkan.
"Hati hati," dia membantu ku berdiri dengan benar. "Kamu mau ke mana?"
"Kamar mandi, tapi ngak jadi deh." aku melihat sekelilingku, menyadari kalau aku ada di kamar rumah sakit. "Kenapa aku disini?".
Aku melingkarkan tanganku di pundaknya karena dia tiba tiba mengakatku, dia mendudukkan ku kembali di ranjang dengan sangat hati hati. Sepertinya ada yang aneh dengan Mas ku ini, kayak menjaga vas mahal dan takut pecah.
Tumben.
"Kamu tadi pingsan, makanya aku bawa ke sini." Mas Arka menjawab pertanyaanku yang tadi.
"Pingsan? Kok bisa."
"Itu karena kam-"
"RAANA!"
Gerombolan orang tua berombongan masuk, aku dan Mas Arka langsung melihat ke arah mereka.
Mereka mendekatiku, menanyaiku banyak hal. Mulai dari apa aku terluka? Bagian mana yang sakit? apa aku sempat sarapan? Dan bahkan menanyakan apa yang ingin aku makan, mertuaku bahkan memaharahi Mas Arka yang tidak becus mengurusku.
"Raana kok bisa pingsan?" tanya Mama.
Ah! Aku lupa kalau tadi aku menanyakan itu pada Mas Arka. Spontan aku langsung melihat ke arah Mas Arka, mungkin karena melihatku yang menatap Mas Arka, mereka semua juga menatap Mas Arka menunggu jawaban.
Mas Arka langsung mendekatiku, menggenggam tanganku sebelum menatap para orang tua. Apa ini? Perasaanku tiba tiba gugup, aku tidak mengidap penyakit parahkan?
"Mas?" aku memanggilnya pelan, menyadarkannya dari lamunannya yang menatapku.
"Raana hamil"
oh Hamil, aku kira juga ada hal yang be-EHH! HAMIL?
Aku melihat Mas Arka yang juga menatapku, aku tidak tahu harus berekspresi apa.
Hamil?
"Alhamdulillah!" seruan di sampingku membuatku sadar.
Tangan Mas Arka masih menggenggam ku erat, aku Hamil? Anak mas Arka dan Aku?
-----
END
HAHAHAHA... DAH END YA KAWAN KAWAN!
SEE U NEXT TIME>>>>>>>>>>>