
Aku mengambil jepitan rambut dan menjepit rambutku, aku merasa terganggu karena rambut yang terus menjuntai jatuh saat sedang beraktifitas.
"Mbak, ini aku potongin memang ya!" ucapku pada orang yang bantu memasak di rumah mertuaku, aku menunjuk daging.
"Iya non, Maaf merepotkan."
"Apa sih mbak, tidak merepotkan kok."
Aku yang tidak tau mau melakukan apa memilih membantu memasak di dapur, kasihan juga karena mereka hanya berdua sedangkan ada banyak orang di rumah. Awalnya mereka juga menolak dibantu, tapi emang karena aku anaknya keras kepala jadi mereka akhirnya setuju.
Aku tidak pernah tidak mengakui kekuranganku kok.
"Dagingnya di potong potong kecil, Non. Ibu soalnya mau buat coto."
"Oke."
Seperti yang pernah aku katakan, karena Mama sudah merecokiku terus untuk ke dapur, aku sudah tidak kagok lagi dengan pisau dapur. Aku juga bisa dengan cepat bisa mengikuti instruksi orang lain, karena di rumah selalu di perintah Mama untuk melakukan ini dan itu.
Intinya, Mama sudah mempersiapkan diriku menghadapi medan pertempuran. Hahaha... Padahal yang tentara itu Papi, tapi yang kuat memerintah adalah Mama.
Kalau dalam game, Mama adalah bos musuh yang pertahanannya sulit di tembus.
"Loh Den!"
aku menoleh dan lagi lagi yang muncul adalah Arga, dia menuangkan air ke dalam gelas. Dia sepertinya baru dari luar, karena sejak pagi dia sudah tidak kelihatan.
"Kakak ipar," aku bergidik geli mendengarnya "Orang yang sama Tante Nunu itu siapa?"
"Hm... Temannya tante Nunu, katanya dulu kalian tetangga." jawabku yang kembali fokus ke daging di tanganku "Lo ngak ingat?"
"Ngak!" dia meletakkan gelasnya di wastafel "Lo lupa kalau jarak gue sama kak Arka itu jauh, mungkin saat gue masih bayi."
Ah iya sih, aku dan Arga saja masih tuaan aku setahun.
"Terus yang muda itu?"
"Hm? Mbak Nila?" dia mengedikkan bahunya "Anaknya tante Mira, kenapa? Lo naksir ya?"
Dia mendelik tidak terima, "Gue sukanya yang seumuran atau ngak cewek yang umurnya setahun sampai lima tahun di bawah umur gue."
Aku melihatnya dan mencibir "Pedo!"
"Memang suami lo bukan?"
Dia menyeringai saat melihatku diam, aku tidak bisa membantah karena jarak umurku dan Mas Arka sangat jauh sekali memang. Ughh... Adik ipar sia*an! Tidak mau banget kalah setiap kali aku ngomong.
"Gue laporin lo sama Mas Arka."
"Dihhh cepu!"
Aku menjulurkan lidah ke arahnya "Kenapa? Iri ya? Ngak ada tempat buat nyepu."
Dia memutar bola mata jengah, haha.. ingin rasanya ku lempar dia dengan pisau yang sedang aku pegang.
"Gue punya Ibu mertua lo buat nyepu!"
Sue!
Aku membawa daging yang sudah aku potong potong kecil, mendorong Arga yang masih berdiri di depan wastafel yang akan aku gunakan. Setelah mencucinya aku menaburi merica bubuk dan garam lebih dulu serta meneteskan jeruk nipis untuk menghilangkan baunya, aku akan mendiamkannya selama beberapa menit sebelum membilasnya lagi.
"Ngak apa apa Non, biar saya saja."
"Mbak liatin ikannya saja, ntar mereka ngobrol ngak bakal matang tuh jadinya." candaku kemudian mengambil alih ulekan. Aku menoleh ke belakang, melihat Arga yang membuka tudung saji "Masih di sini lo? Ngak keluar?"
"Ngak, gue introvert!"
Aku langsung mencibir, mana ada introvert yang suka ikut organisasi ini dan itu. Aku juga mendengar dari Ibu mertuaku kalau anak bungsunya itu sering turun langsung ke lapangan, menjadi relawan ini dan itu. Dia sangat suka bersosialisasi, sangat beda dengan Mas Arka yang sangat suka ketenangan.
Lalu di mana letak introvertnya?
"Ini belum ada yang jadi ya? Gue lapar banget." ucap Arga sambil mendudukkan dirinya di kursi "Kakak ipar buruan napa sih?"
"Masa sendiri sini," aku memindahkan bumbu yang kuulek ke piring "Banyak noh mie instan di warung depan. Mbak, ini langsung di masukin ke air mendidihnya?"
Mbak Marni menoleh dan mengangguk "Iya, Non."
Aku mendekati kompor dengan piring bumbu di tanganku, memasukkannya ke dalam air rebus. Sebenarnya ini pertama kali aku memasak menu ini, karena itu aku banyak bertanya.
"Kak, lo sendiri ngapain disini bukannya di luar." Arga berjalan mendekat mengambil ikan yang sudah di goreng "Ada perempuan muda di luar, ngak takut suaminya di ambil!"
Mendengar itu aku langsung mendelik ke arahnya, dia tidak tahu apa salah satu aku memilih masuk dapur itu karena Mbak Nila. Karena tante Nunu terus membahas masa kecil Mas Arka dan Mbak Nila di depannku membuatku lumayan kesal, seperti di sengaja banget, meski Mas Arka diam seperti biasanya tidak bereaksi apa apa, tapi tetap saja bikin jengkel.
"Ngak usah dibahas!" aku mengambil kacang goreng untuk di blender, padahal tadi aku sudah sedikit lupa. "Lo keluar main sana, merusak pemandangan."
"Keluar main, lo pikir gue bocah apa? Gue lapar!"
"Ya Makan!" ucapku
"Kalian terlihat sangat akrab." Aku dan Arga menoleh bersamaan, Mbak Nila masuk dengan piring kotor di tangannya.
Tapi bukan itu yang menggangguku, aku sama sekali tidak mengerti maksud nada bicaranya. Dia mengatakan aku dan Arga dekat dengan nada yang bisa membuat orang salah paham, apa dia bermaksud untuk itu.
Tidak tidak, aku tidak bisa terus berperasangka buruk terhadap orang lain. Kalau Mama tahu aku selalu punya pikiran buruk tentang orang lain, Mama akan mendudukkanku baik baik dan menceramahiku lima jam.
"Tidak pernah lihat ya?" Aku terkejut dengan nada dingin Arga, berlahan aku menoleh padanya. Arga menopang dagunya terlihat sangat jelas dia terganggu "Ku pikir kamu tidak cukup akrab untuk menilai keakraban aku dan kakak iparku."
akhh... Anak ini!
"Aku tidak bermak-"
"Tapi apa yang aku tangkap, kamu ingin
membuat yang mendengar salah paham" ya tuhan blak blakan anak ini.
"Sungguh aku tidak, maaf kalau kamu tersinggung" aku mengangkat sebelah alisnku, apa maksud tersinggung?
"Tersinggung?" Arga berdiri dan terkekeh kecil "Tidak tidak, jangan ambil hati." dia bersedekap "Tapi kalau ada gosip di luar tentangku dan kakak iparku, hehehe... Aku tau siapa yang akan aku cari lebih dulu."
Aku bergidik melihat senyum Arga, terlihat ramah tapi penuh ancaman. Dia kayak villain villain di drama kriminal yang aku nonton, hiks... Kasian banget mertuaku, punya dua anak laki laki tapi tidak ada yang normal.
Mbak Nila meletakkan piring di wastafel, tersenyum sebentar dan berajalan keluar. Mungkin dia merinding dengan ucapan Arga, sedangkan aku bukan orang yang ditujukan ucapan Arga saja merinding.
"Mantap!" aku mengacungkan jempol ke adik iparku itu, hahaha... Dia blak blakan sekali dan itu keren.
"Lapar gue..."
cih, aku membuang muka darinya, bodoh amat dia mau kelaparan. Dia punya tangan dan kaki, dia bukan bayi lagi yang harus di suapi.