
Arka memainkan sebungkus permen di tangannya, matanya menatap lurus ke depan, ke arah gadis yang tengah mengobrol dengan dua temannya. Satu temannya tengah cemberut sedangkan yang lain tampak biasa saja.
Lima belas tahun berlalu begitu saja, Arka yang merasa tidak cocok lagi dengan militer karena cederanya memilih keluar. Seperti rencana awal, dia keluar di usia dua puluh tahun dan melanjutkan studinya di bangku kuliah. Dia memilih pekerjaan yang sangat bertolak belakang dari apa yang dia lakukan sebelumnya, ya setidaknya dia masih mengabdi terhadap bangsa sebagai tenaga pelajar.
Dia bisa melihat kalau gadis itu takut padanya, saat mata mereka bertemu gadis itu memalingkan wajahnya berlahan. Arka sangat yakin dengan feelinhnya, gadis itu pasti tidak mengingatnya.
Ya wajar, mereka hanya sekali bertatap wajah dan itu saat mereka masih kecil.
Dia menunduk menatap kertas di tangannya, kertas pengajuan bimbingan skripsi yang di tujukan padanya. Raana Saveena Aldebaran—itu nama yang tertera di sana, Arka menghela nafas dan menyetujuinya. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, dia juga menerima mahasiswa lainnya yang menurutnya tidak terlalu merepotkan.
"Pak Arka!"
Dia mengalihkan pandangannya dari kertas, Jessica—salah satu rekannya di kantor menghampiri ke arahnya. Dia menyodorkan undangan, mau tidak mau dia menerimanya.
"Besok ulang tahunku, saya harap Pak Arka bisa datang."
Arka menatap undangan di tangannya, meski terkesan kekanakan tapi Arka tahu banyak yang menantikan momen ini. Terlebih bagi orang dewasa, perayaan seperti ini sebenarnya tidak penting tapi di saat seperti inilah koneksi bisa ditemukan.
"Pak Arka bisa datang kan?" dia mengangkat pandangannya menatap gadis di depannya, gadis yang tampak tersipu ke arahnya.
Arka bukan laki laki bodoh dan polos, dia tahu gadis di depannya menyukainya. Maka dari itu sebisa mungkin dia mengacuhkannya, menghindarinya sebaik mungkin.
"Diusahakan." ucap Arka pelan, kemudian dia kembali melihat ke tempat Raana tadi, sayangnya gadis semampai itu sudah tidak ada di sana.
Setelah apa yang dia cari tidak di sana, dia memberi isyarat pada Bu Jessica untuk dia pamit lebih dulu. Hari ini jadwalnya penhh, banyak kelas yang akan diajarinya, salah satunya kelas Raana.
Dia menghela nafas panjang, sebenarnya dia sudah memberi tahu orang tuanya perihal surat dari kakeknya. Mereka tidak bisa mengatakan apa apa lagi, yang mereka bisa lakukan hanya setuju saja asal gadis dalam surat itu sudah cukup umur untuk saat ini.
Mereka akan segera mencari tempat gadis itu, Arka sangat yakin dengan apa yang dia pikirkan saat ini. Tapi apa kah Raana akan setuju dengan perjodohan ini? Dari apa yang dia lihat, Raana bukanlah gadis yang muda dibujuk.
Dia menuju ruangannya mengambil peralatan mengajar, setelahnya dia menuju ruang kelas yang mana ia akan mengajar. Kebetulan hari ini dia akan mengajar di ruangan Raana, dia menghela nafas panjang.
Begitu masuk dia melihat ruangan langsung sunyi, dia melihat sekeliling dan mendapati Raana bercanda dengan temannya yang perempuan. Dia berdehem sebentar dan mengalihkan pandangannya ke buku di depannya, sebaiknya dia mengajar saja tanpa harus memikirkan banyak hal.
***
"Pak!" Arka tidak mengangkat pandangannya dari suara keluhan gadis di depannya, dia baru saja menolak judul skripsinya.
Arka hanya mengambil buku lain dan mulai membacanya, dia bukannya tidak ingin menatap gadia itu, hanya saja... Dia tidak ingin terlihat seperti pria bajing*n yang sembarang menatap gadis. Anggap saja dia pengecut, tapi meski sudah berada di usia tiga puluh tahun, Arka sama sekali tidak ada pengalaman dengan perempuan.
Dia selalu menganggap ada Raana untuknya, ya... Setidaknya sejak dia menerima wasiat dari kakeknya.
Dia tahu gadis ini memiliki banyak keluhan terhadapnya, tapi ini lebih baik daripada nilai dia nanti kurang bagus. Meski ingin sekali membantunya membuat skripsi, Arka tetap harus profesional sebagai dosen kepada mahasiswanya bukan?
"Ganti!" ucapnya saat Raana terus memintanya agar mengACC judul skripsinya.
Arka akhirnya menatap gadis itu, dia adalah orang yang teguh terhadap prinsipnya. Raana mengatupkan bibirnya melihat itu, Arka segera memberinya isyarat meninggalkan ruangannya.
Begitu Raana meninggalkan ruangannya, Arka langsung bersandar di sofanya memijat keningnya. Dia langsung berdiri, mengambil jasnya dan tas kerjanya.
Hari ini dia ada janji pertemuan.
"Arka!"
Jessica berjalan cepat ke arahnya dengan tas kecil di tangannya, dia berhenti di depan Arka dengan senyuman. "Kamu akan pulang?"
"Ya."
"Apa aku bisa minta tolong, aku tidak membawa kendaraan hari ini." dia melirik Arka "Bisakah mengantarku pulang?"
"Aku membawa sepeda." ucap Arka, setelahnya dia pamit ke parkiran untuk mengambil sepedanya.
Jarak kosan dan kampus tidaklah jauh, jadi tidak perlu mencemarkan udara dengan jarak seperti itu. Bahkan rencananya dia hanya ingin berjalan kaki, tapi waktu yang di tempuh jauh lebih lama nantinya.
Langkahnya terhenti saat melihat dua mahasiswa bimbingannya di parkiran, Raana terlihat meminta temannya yang cowok mengeluarkan motornya, dia ingin mendekat tapi mengurungkan niatnya, dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka.
Ping
Arka menunduk saat sebuah pesan masuk ke ponselnya, itu pesan dari adiknya.
Arga : Kami sekarang di rumah calonnya kakak!
Dia mengkerutkan keningnya, haruskah secepat ini? Tapi mungkin itu wajar bagi orang tuanya, mengingat usia Arka yang memang seharusnya sudah menikah. Tapi Raana terlalu muda untuknya.
Dia kembali mengangkat pandangannya, Raana dan Adrian meninggalkan parkiran dengan motor masing masing, tapi mereka perginya berbarengan.
Usia Raana memang wajar memiliki pacar, adapun perjodohan itu hanya di ketahui beberapa orang, Raana pun tidak mengetahui hal ini. Jadi bagaimana kalau Raana benar benar punya pacar? Haruskah dia melanjutkan perjodohan ini?
Arka menghela nafas panjang, tangannya dengan cepat membalas pesan adiknya mengatakan kalau dia akan segera kesana.
Dia dengan cepat kembali ke kosan, seharian di kampus membuatnya kurang nyaman jadi harus membersihkan dirinya dulu. Setelahnya barulah dia mengambil kunci mobilnya, Arga sudah mengiriminya banyak pesan, menanyakan dia ada dimana, kapan dia akan datang?
Membuka pintu mobil, Arka melempar hapenya ke jok samping begitu saja. Menyalakan mobilnya dan pergi begitu saja, dia tidak mengubris telfon yang masuk ke ponselnya karena tahu pelakunya adalah adiknya yang berisik itu.
Dia menghentikan mobilnya di depan toko kue, dia pertama kali bertamu di rumah orang yang pernah menjadi kaptennya itu. Sangat tidak sopan kalau dia datang dengan tangan kosong, dia masih tahu soal sopan dan santun saat bertamu.
"Untuk pacarnya, Mas?" penjaga toko menghampirinya "Untuk suprise?".
Dia menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu selera orang sana jadi asal menunjuk saja.