
Arka dan Ajuandra berjalan bersama di belakang rekannya, mereka berjalan menuju pemukiman anggota keluarga. Sebagai anggota yang baik, mereka akan membantu kepindahan keluarga kapten mereka.
Semua bangunan di sana mirip semua, tidak ada yang luas juga tidak ada yang kecil. Bahkan semua warnanya sama, yang membedakan nomor rumah saja.
Mereka berhenti di depan rumah nomor 96, rumah yang akan di tempati sang kapten. Sebenarnya banyak yang ingin tinggal di sana, tapi banyak persyaratan yang harus di miliki, salah satunya harus berkeluarga.
Dia masih di bawah umur!
Setelah salah satu dari mereka meminta izin, mereka langsung menuju ke mobil yang membawa barang. Tapi karena luka Arka, dia hanya mengangkat barang yang ringan saja.
Dia hendak mengambil tas yang bergambar kuda dengan rambut warna warni, tapi tangan kecil lebih dulu mengambilnya. Saat Arka mengangkat kepalanya, pandangan yang dia lihat adalah anak cewek dengan muka cemberut.
Arka mengangkat sebelah alisnya, tapi gadis itu mendengus dan membalikkan badannya tidak peduli, Ajuandra yang ada di samping Arka langsung terbahak. Dia hendak memukul pundak Arka, tapi dia hentikan karena teringat lukanya yang parah.
"Baru kali ini ada cewek yang ngacuhin lo!" Ajuandra memegang perutnya karena geli, Arka melihatnya sebentar dan mengambil barang lain untuk dia bawa masuk ke rumah.
Mereka meletakkan tas tas itu di samping sofa, Arka kembali melirik anak cewek yang masih saja cemberut. Dia menghela nafas panjang karena teringat surat wasiat sang kakek, tidakkah kakeknya sadar kalau orang yang mau di jodohkan dengannya itu masih anak anak.
Arka menghentika langkahnya saat berjalan keluar rumah, sesosok tangan mungil menarik ujung seragamnya. Saat menunduk dia mendapati mata hitam anak itu, dia mengkerutkan keningnya bingung.
"Kakak, bantuin Rrrana sembunyi dong!" ucapnya yang kesusahan mengeja huruf R. "Rrrana tidak suka ibu tirri!"
Arka diam karena tidak tahu harus apa, dia tidak mau menuruti anak kecil yang menyebut dirinya Raana itu. Tak lama sosok kapten mereka muncul, Arka dan rekannya langsung memberi hormat.
Sang kapten melangkah mendekati Arka, melepaskan tangan putrinya dari sudut pakaiannya. Arka hanya berdiri tegap saat sang kapten menatapnya, tapi sang kapten tidak mengatakan apa apa dan melangkah masuk dengan gadis itu di pelukannya.
"Berapa umur anak kapten?" Ajuandra yang baru meletakkan meja bertanya.
"Delapan"
"Kok lo tau?" Ajuandra menyipitkan matanya ke arah Arka, tapi seperti biasa Arka hanya diam dan tidak berniat membuka mulutnya. "Ngak asik banget temenan sama lo, sunyi."
Arka tidak mengatakan apa apa lagi, dia menghampiri kaptennya untuk pamit pergi lebih dulu. Dia menatap langit yang terlihat mendung, lukanya tidak cocok dengan air.
Hahhh... Haruskah dia keluar dari pekerjaannya sekarang? Tapi di usianya yang sekarang, dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia juga tidak berniat kembali ke sekolah formal, sangat sulit untuk berbaur dengan remaja yang hudup normal.
"kakak!"
Dia menoleh ke asal suara, gadis kecil yang bernama Raana itu mengendap endap ke arahnya. Sepertinya dia melarikan diri sang Ayah, dia tersenyum lebar memperlihatkan gigi depannya yang tanggal.
"Ini!" dia mengulurkan tangannya memperlihatkan permen di tangannya "Ambil saja!"
Arka mengkerutkan keningnya, Raana celingak celinguk seperti memperhatikan sekitarnya. Setelah merasa aman, dia maju dan meraih kepalan tangan Arka memberikan permennya.
"Kata Ayah Rrrana tidak bisa makan perrmen, jadi umpetin ya!"
Arka menatap permen di tangannya lalu ke Raana, dia tidak tahu haruskah bekerja sama dengan istri masa depannya itu. Mereka berdua kaget saat sebuah tangan mencomotnya, Juan si pelaku hanya bisa menyengir.
"Kamu!" Raana menghentakkan kakinya.
Tidak ada yang menyangka, gadis dengan tampang lembut itu akan menendang kaki Ajuandra. Mata gadis itu terlihat sangat tajam menatapnya, Arka menoleh ke samping menahan tawa, terlihat jelas kalau gadis kecil itu sangat keras kepala.
"PAPI!!" Raana memutar badannya dan berlari masuk
Melihat itu Ajuandra melihat Arka dengan tampang panik, Arka tidak mengatakan apa apa dan berlalu begitu saja.
"Hei, temanmu dalam masalah! Simpati sedikit kenapa?".
"Kamu yang mulai."
Dia melihat temannya yang menggaruk kepalanya yang tiba tiba gatal, Arka hanya menatapnya datar begitu saja. Dia tidak habis fikir, Ajuandra yang pertama kali dia kenal adalah anak kecil pemarah yang tidak kenal ampun, tapi lihat sekarang!
Ajuandra adalah anak yatim piatu yang dibawa langsung oleh pimpinan militer ke kamp, anak kecil yang di temukan di tempat kumuh tempat para gangster. Siapa yang bisa percaya, anak empat tahun tapi berhasil menghabisi nyawa pria dewasa yang ukurannya berkali kali lipat lebih besar darinya.
Saat pertama kali masuk pun, dia butuh waktu yang cukup lama untuk perawatan dan interaksi. Papi Raana adalah orang yang di percayakan merawatnya, bahkan melatih emosi anak itu agar stabil.
Yang Arka tahu, latar belakang Ajuandra lumayan berantakan. Anak dari wanita tidak waras, Ayahnya tidak di ketahui siapa karena ibunya korban pelecehan seksu*l. Karena kesehatan yang kurang baik, saat lahir ibunya meninggal dan dia di rawat oleh tetangga, kemudian di jual di pasar gelap sampai entah kenapa dia bisa berada di komplotan penjahat.
Hidupnya sangat gelap di masa lalu, karena itu tidak banyak yang tahu tentangnya, petinggi juga menghapus jejak masa kecilnya.
"Apa?" Ajuandra bertanya karena merasa di perhatikan oleh Arka. "Bagaimana kalau aku dihukum kapten? Aku baru saja mengganggu anaknya!"
"Jangan libatkan aku." Arka melangkah kali ini tidak menoleh ke Ajuandra yang misuh misuh di belakang.
Dia menunduk menatap permen permen di tangannya, demi kesehatan gigi ibunya sangat ketat soal permen padanya. Karena penasaran dia membuka salah satu plastik permen, kemudian memakan isinya.
"Ehnm" Dia mengkerutkan keningnya dan menutup mulutnya tanpa sadar "Terlalu manis."
Dia memasukkan sisa permen ke dalam sakunya, kalau bertemu dengan Raana lagi dia akan mengembalikan permen itu. Ya dia juga akan meminta maaf, dia memakan satu permennya.
Tapi siapa yang menyangka kalau itu pertemuan pertama mereka juga yang terakhir, Arka menjalan kan berbagai macam misi, kemudian memutuskan keluar dari militer saat usia dua puluhan.
Sebenarnya dia melihat Raana beberapa kali setelah pertemuan pertama mereka, tapi hanya dia yang melihat karena anak itu sibuk bermain dengan anak seusianya. Setelahnya dia tidak peduli lagi, tapi meski demikian saat melihat sekumpulan anak anak, matanya tanpa sadar akan mencari keberadaan Raana yang seperti bos di pemukiman itu.
Perbedaan usianya dengan Raana membuatnya sedikit ragu, haruskah dia melanjutkan wasiat kakeknya yang mempertaruhkan nyawa untuknya? Dia membuka surat di tangannya, dia benar benar bingung.
Brak
Pintu kamar terbuka memperlihatkan Ajuandra yang masuk, dia memberi isyarat padanya untuk keluar.
"Ayo kita sparing!" ajaknya, Arka mengkerutkan keningnya karena cukup sadar untuk tidak melakukan itu. "Kapten yang nyuruh!"
Tidakkah kaptennya keterlaluan? Semenjak dia memberitahu isi surat wasiat kakeknya, sang kapten selalu memberinya latihan yang cukup berat padanya.
"Lo buat salah apa sih sama Kapten? Kayaknya dia lihat lo kayak musuh."
Arka diam dan mengulum bibirnya menahan diri untuk mengeluarkan kalimat umpatan, memang sang kapten seolah memandangnya sebagai pelaku pencurian. Padahal pernikahan masih sangat lama, tapi si kapten sudah memasang bendera perang padanya.