My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
31. MALU!



Aku bisa mendengar hujan dengan jelas di luar, waktu juga sudah siang tapi rasanya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Aku masih berusaha mencerna apa yang tadi terjadi, aku dan Mas Arka....


Ugh... apa di sekitar sini tidak ada lubang? Aku ingin menyembunyikan diriku sedalam mungkin. Maluuu...


Aku melirik Mas Arka, padahal tadi dia yang melarangku tidur tapi sekarang dia yang tidur nyenyak sambil tengkurap. Melihat goresan di punggungnya, goresan panjang yang memang ada di sana dan... dan goresan kecil yang baru terbentuk.


Aku menarik selimut menutupi seluruh tubuhku, aku ingin menghilang saat ini. Tapi sepertinya dibandingkan dengan rasa malu ku... perutku jauh lebih penting.


Aku perlahan membuka selimut yang menutupi wajahku yang pastinya sudah merah, dan seperti biasa kelakuan orang ini bikin kaget. Matanya sudah terbuka melihat ke arahku, spontan aku kembali menutupi wajahku dengan selimut, aku belum siap berhadapan langsung.


Masih malu...


"M..mas... lapar." cicitku


"Apa?" tanyanya padahal aku yakin dia mendengarnya, geplak juga nih pak tua.


Aku cemberut kembali membuka selimut sebatas mata saja, dia memperlihatkan senyumnya yang terlihat geli.


"Apa?" dia mengulang pertanyaannya.


"Lapar.."


"Hah?" aku benar benar ingin melemparinya, dia pasti mengerjaiku


"AKU LAPAR!"


Dia terkekeh terlihat puas sekali, tak lama dia bangun dan memakai bajunya. Kali ini aku tidak menutup mata, jarang jarang lihat roti sobek di depan mataku secara langsung. Biasanya cuman milik artis yang kebetulan muncul di tv, milik Mas Arka tidak jauh beda dengan mereka bahkan terlihat lebih bagus.


Dia melempar kain di wajahku, cih mengganggu saja pemandangan orang. Saat aku membuka kain itu dari wajahku, Mas Arka sudah memakai pakaiannya dia sudah turun dari ranjang.


Cepat banget!


"Makan apa?"


"Apa saja, yang ngeganjel perut."


"Oke."


Eh? Dia bicara normal?


Dia membuka laci mengambil kunci mobil, apa dia akan pergi membelinya sendiri? Tapikan hujan di luar!


Begitu dia keluar dari kamar, aku kembali menutup wajahku yang memerah. Menendang selimutku sendiri, apapun yang penting rasa malu ini cepat hilang.


Akhh... Pinggangku!


Semuanya salahku, kalau saja aku tidak bersih keras menanyakan apa maksud pernyataannya, aku tidak bakal berakhir begini. Aku harusnya mendengar peringatannya yang memintaku diam, tapi aku malah terus berulah.


Mas Akhirnya menarikku ke sampingnya, dan bodohnya aku mau saja. Akhh.... Betapa tidak tahu malunya aku, ini kan ini kan.... Ugh


Tapi... Tapi... Kenapa aku harus malu? Kami sah di mata Agama dan negara, apa yang kami lakukan bukan dosa, kami pasangan suami-istri yang cepat atau lambat akan melakukannya juga.


Benar, ngapain harus malu. Tapi... Aaaaaaaa.... Au ah.


Tapi dari pada memikirkan rasa malu ku, ada banyak hal yang harus aku lakukan. Pertama tama tidak lain tidak bukan... Aku harus mengganti seprai. Setelahnya mandi meski dingin dan melanggar undang undang permandian...aku tetap harus mandi.


Aku mengambil daster dan memakainya, membuka seprai dan mengambil selimut yang terpakai. Untungnya aku punya beberapa seprai dan selimut, tidak perlu terlalu buru buru mencuci terlebih saat hujan begini. Aku memasang seprai baru sebelum membawa seprai dan selimut yang ku lempar asal itu ke tempat keranjang kotor.


Begitu keluar dari kamar mandi, Mas Arka sudah ada di kamar melihat ponselnya. Dia menatap ke arahku lalu melihat ke meja lipat tempat aku nonton beberapa hari yang lalu, di sana sudah ada makanan yang dia beli.


Meski masih malu untuk bertatapan langsung, aku tetap melangkah mendekat, selama itu urusan perut bahkan dosen killer pun akan aku lewati. oh iya meja itu tidak di atas kasur, tapi di atas ambal yang sengaja aku gelar di samping tempat tidur, biasanya aku doyan nongkrong menyelesaikan tugas disana.


Suasana saat ini jauh lebih akward di bandingkan sebelumnya, aku masih belum berani membuka mulut untuk bersuara.


"Kamu marah?" dia meletakkan piringnya yang kotor di meja, aku menatapnya tapi kembali menunduk.


Mas Arka pindah ke depan ku untuk duduk, baru pertama kali aku tidak berani menatapnya.


"Kamu marah?"


Aku makin menunduk dan menggelengkan kepala, aku tidak tahu kenapa dia berfikir begitu. Aku ini perempuan, aku juga bisa malu tahu.


"Lihat aku!"


Aku menggigit bibir bawahku, tapi tak ayal mengangkat kepalaku menatapnya. Aku bisa melihat dia meneliti wajahku, sekarang aku malu karena dia. Tidak tahan terus di tatap, aku kembali menundukkan kepalaku.


Aku kembali mengangkat kepalaku saat mendengar kekehan dari Mas Arka, aku merasa ditertawai olehnya. Dia mengangkat sebelah alisnya saat aku menatapnya, tau ah!


Dengan perasaan kesal bercampur malu, aku naik kembali ke kasur yang baru aku rapikan itu. Membuka selimut yang baru aku lipat, kemudian menutup kepalaku dengan selimut. Aku merasakan kasur bergerak tanda seseorang ikut naik, Mas Arka duduk di kasur entah melakukan apa.


Tersentak saat tangan besar mengubah posisi ku jadi telentang, menarik pelan selimut yang menutupi wajahku. "Kamu bisa kehabisan nafas bersembunyi di bawah selimut."


Aku memberenggut ke arahnya


"Habisnya Mas nyebelin, aku itu lagi malu tahu malah di tertawai." aku kembali menarik selimut menutupi wajahku.


Apa yang baru kau katakan Raana bodoh? Bagaimana bisa aku mengaku begitu saja? Akhh... Bodohnya diriku ini!


Dia kembali membuka selimutku agar bisa bernafas, Mas Arka menatapku lekat lekat sebelum berkata


"Aku pikir kamu menyesal."


hah? Si bodoh ini.


Dari mana dia mendapat pemikiran konyolnya itu? Dengan kesadaran penuh, aku tanpa sungkan memukul tangannya yang bertumpu di kasir, di samping kanan badanku.


"Bodoh!" ucapku, aku dengan cepat bangun, Mas Arka membantuku "Kenapa Mas pikir aku akan menyesal? Semenjak awal akan menikah aku sudah sadar hak dan kewajibanku saat menikah nantinya. Kalau Mas berfikir demikian berarti Mas tidak percaya dengan pernikahan kita."


Aku menyondongkan wajahku ke arahnya dengan alis mengkerut "Atau Mas yang sebenarnya menyesal!"


"Tidak!" meski lirih tapi nadanya tegas.


Aku menyipit ke arahnya tapi sepertinya apa yang dia katakan benar, aku kembali tengkurap di kasur. Hiks.... Badanku masih sakit semua, pelakunya terlihat baik baik saja


Dimana letak keadilan ini?


"Kamu tidak makan?"


Ah iya lupa!


Aku dengan malas malas kembali bangun, setelah melihat makanan tadi entah kenapa aku rasa sudah kenyang ya? Padahal tadi aku merasa sangat sangat lapar.


Tak lama aku melihat Mas Arka, tiba tiba sebuah ide muncul membuatku tersenyum lebar ke arahnya.


"Kenapa?"


"Suapin!"


UGH.... KEMANA RASA MALU MU TADI RAANA!