My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
Extra 1



"Ini surat yang di tinggalkan kakekmu untukmu."


Remaja enam belas tahun yang berkulit coklat, tubuhnya tegap diusinya yang masih muda itu. Dia berlahan menerima surat itu. Setelah menerimanya, orang yang memberinya surat menepuk lengannya dan berbalik meninggalkan remaja itu.


Arka Yudha Pratama—remaja yang baru saja menerima surat itu langsung duduk di bangku, membaca lamat lamat isi surat terakhir sang Kakek. Pria yang membesarkannya dengan keras selama ini, pria yang menyeretnya ke dalam misi sejak usia anak-anak.


Dia menunduk menutup wajahnya yang sekarang berusaha menahan air matanya, perasaannya campur aduk. Kakeknya meninggal karena gugur dalam misi, dia tidak selamat karena menyelamatkannya yang tertawan.


Arka memegang pundaknya yang masih sangat perih, luka yang masih basah karena luka baru.


Kalau saja dia lebih kuat, kalau saja dia tidak ceroboh dan kalau saja dia tidak tertangkap, dia tidak akan kehilangan kakeknya. Luka di pundaknya adalah tanda betapa lemahnya dia, juga pertanda kalau dia yang membuat salah satu prajurit terbaik gugur.


Dia meremas ujung suratnya, mengepalkan tangan di depan wajahnya. Dia akan melakukannya, melakukan permintaan terakhir sang Kakek.


"Arka."


Dia mendongak dan langsung berdiri memberi hormat saat melihat siapa yang menemuinya.


"Kapten," lirihnya.


Dewa mendekati remaja itu, remaja yang bergabung dalam timya sejak anak itu berusia enam tahun. Meski tidak langsung terjun dalam misi, tapi kecerdasan anak kecil itu sangat membantu.


Menatap anak kecil yang sekarang sudah menjadi remaja, Dewa sedikit merasa sakit untuknya. Anak yang harusnya bermain bebas diusianya yang harusnya memberontak, sekarang terlihat menyedihkan karena merasa bersalah atas gugurnya seorang prajurit dalam misi berbahaya yang mungkin bisa merenggut nyawanya juga.


"Ini bukan karenamu," ucap Dewa, Arka hanya menunduk "Kamu sudah menjalankan misi yang berbahaya beberapa kali, kehilangan nyawa adalah konsekuensi terbesarnya, kamu sudah tahu itu kan."


"Tetap saja, kalau saja aku le-"


Dewa memegang lengannya "Jangan membuat kakekmu merasa sia sia," dia menatap Arka "Aku juga punya putri, aku akan melakukan hal yang sama saat disituasi yang sama."


Arka makin menunduk dan benar benar menangis, Dewa memahaminya. Sekuat apapun Arka dalam misi dan lapangan, dia tidak lebih dari seorang remaja sekarang.


Setelah merasa puas menangis, Arka menyerahkan surat yang dia terima dari kakeknya. Biar bagaimana pun, kaptennya ada sangkut pautnya.


Arka memperhatikan wajah sang Kapten yang membaca suratnya, mereka sudah duduk berdampingan. Dia bisa melihat sang kapten menghela nafas panjang, tapi tidak ada ekspresi lain.


"Dia masih delapan tahun," Arka tersentak, dia tidak tahu itu. "Dan aku tidak bisa menyerahkannya sekarang."


Arka menatap surat yang dikembalikan padanya, surat yang berisi permintaan terakhir sang kakek. Permintaan agar dia menikahi, menyangi dan membuat bahagia cucu dari rekannya yang meninggal lebih dulu karena menyelematkan kakeknya.


Arka menyanggupi permintaan itu tapi siapa yang menyangka, cucu yang dimaksud masih anak anak yang usianya terpaut delapan tahun jauhnya.


*****


Beberapa hari kemudian, dia kembali ke kamp militer karena cutinya sudah habis. Saat tiba dia langsung di kelilingi rekan rekannya, memberinya ucapan bela sungkawa atas kematian sang kakek.


"Bagaimana lukanya?" AJuandra—salah satu rekannya yang juga masuk militer sejak dini bahkan lebih dulu darinya, dia mengedikkan dagu ke arah pundak Arka.


Arka memegang pundaknya, tersenyum miris "Tidak masalah."


Ajuandra melipat tangannya di belakang kepalanya, mereka sekarang berjalan keluar dari asrama. Dia melihat ke sekeliling arah, mereka berdua sebenarnya sudah hampir terlambat.


Arka bergumam sebelum berkata "Ya, kalau kamu masih hidup sampai umur segitu."


Ajuandra dengan kesal menendangnya, dia juga sadar akan hal itu. Sebagai orang yang selalu melakukan misi rahasia dan berbahaya, dia sadar kalau setiap misi pertaruhannya adalah nyawa mereka.


"Akhh... Padahal aku juga mau masuk SMA!!"


Arka menggelengkan kepalanya, mereka berdua memang tidak bisa seperti remaja lainnya. Melihat wajah dingin kapten mereka dari jauh, Arka tanpa perasaan menarik Ajuandra berlari cepat. Terlambat sedikit mereka bisa kena hukuman yang berat.


Selesai apel pagi, mereka semua menuju tempat latihan. Karena cederanya yang cukup parah, Arka hanya bisa melihat rekannya dari pinggir lapangan. Di tangannya terdapat senjata laras panjang, sebagai penembak jitu dalam tim, Arka yang pundaknya terluka merasa sedikit frustasi dengan situasinya saat ini.


Haruskah sekarang dia berlatih dengan tangan kiri? Kedengarannya bukan ide gila, tapi dia ingin mencobanya.


Dengan ide di kepalanya, dia beranjak dari duduknya menuju tempat dimana dia biasa latihan. Dia meliri ke lapangan, Ajuandra lagi lagi menumbangkan salah satu rekannya yang badan serta fisik yang lebih kuat dengannya.


Benar benar monster,


Arka sama sekali tidak bisa menandingi Ajuandra, setiap kali melakukan sparing pasti dia lah yang akan digulingkan di tanah. Tapi sebaliknya, Ajuandra tidak terlalu baik dalam menggunakan senjata api.


Tapi Ajuandra jago menggunakan pisau, ya mereka imbang untuk itu.


Arka meletakkan laras panjang yang dia pegang ke meja, menyentuh pistol yang belum dirakit. Arka mengambil komponen komponen itu, menyatukannya hanya dalam beberapa detik saja.


Klek


Semua komponen berhasil dia gabungkan, Arka menunduk mengambil peluru yang ada di meja. Setelah memasukkannya ke dalam senjatanya, tangannya terulur membidik papan bidikann yang jaraknya lumayan jauh.


Tapi sebelum benar benar menembakkannya, Arka menggunakan alat safety terlebih dahulu, meregangkan otot tangan kirinya. Sebenarnya ini bukan pertama kali dia menggunakan tangan kiri, hanya saja hasilnya tidak seakurat saat pakai tangan kanan. Karena dari itu, dia harus membuat tangan kirinya terbiasa.


Ptas


Bahunya terdorong saat satu tembakan di lepas, seperti yang dia duga hasilnya tidak begitu akurat. Sekali lagi dia menembakkan peluru ke papan, hasilnya sama saja.


Dia meletakkannya kembali, menatap tangannya yang sedikit kebas setelah banyak tembakan yang dia lakukan. Dia menatap papan sasarannya dengan pandangan acuh, dia belum puas dengan hasil yang dia dapat.


"Seperti yang diharapkan dari seorang snipper," Arka menoleh kaget, Ajuandra terkekeh melihatnya "Ckckck.... Tingkat kewaspadaanmu sangat rendah.


Arka menyipit kearahnya, bukan dia yang kurang waspada melainkan temannya itu memang tidak bisa dirasakan keberadaannya sebelum bersuara. Juandra yang dari tadi berjongkok di sampingnya berdiri, dia mengambil senjata lain dan membidik ke papan sasaran.


Ugh... Hasilnya bagus tapi tidak sempurna.


Dia menoleh ke Arka dan berkata "Istri kapten katanya resmi bergabung di kawasan sini, kamu tidak mau lihat?"


"Tidak!"


"Tidak penasaran?" Arka menggelengkan kepalanya dia mengambil meletakkan senjata yang ada di tangannya. "Kamu benar benar orang yang membosankan!"


Arka hanya meliriknya sebelum meninggalkan tempat latihan.