
Aku yang baru berganti pakaian menjadi piyama di kamar mandi, kaget begitu keluar wc kamar sudah gelap dan hanya lampu meja yang menyala. Ini baru jam berapa dan Mas Arka sudah mematikan lampu, aku yang belum ingin tidur menyalakan lampu kamar lagi.
Di atas kasur Mas Arka sudah berbaring, selimut menutupinya sampai leher. Aku dengan cepat mendekatinya, saat hendak memeriksa suhu tubuhnya takut kalau kalau dia sakit, tapi aku terkejut saat tanganku di tangkap olehnya.
"Mas?"
Tidakkah orang ini terlalu antisipasi?
"Uah!" Aku terkejut saat tanganku di tarik begitu saja, dia membaringkanku diatas kasur dengan posisi yang sangat dekat dengannya.
Aku benar benar tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan!
"Tidur!" ucapnya dengan nada berat dan serak.
Yang tadinya mau gugup malah tidak jadi, dengan cepat aku mengangkat tanganku menyentuh keningnya.
Panas!
Aku langsung bangun menarik selimut Mas Arka, dia sangat berkeringat badannya panas. Berlahan dia membuka matanya, benar saja memerah dan berkabut.
"Mas demam!" seruku
Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak pernah berurusan dengan orang sakit, biasanya aku yang selalu di urus orang lain. Sekarang melihat Mas Arka begini... Apa yang bisa aku lakukan.
Mama....
Aku tersentak saat tangan hangat menggenggam tanganku, aku menunduk menatap Mas Arka.
"Tidak apa!" ucapnya
Apa yang tidak apa apa? Badannya panad sekali.
"Ah Mas tunggu disini sebentar, jangan gerak."
Kayaknya aku membawa kotak obat, aku harus mengukur suhu Mas Arka dulu. Pasti ini karena kemarin malam dia keluarnya lama, terus pulang pulang dengan keadaan yang berantakan.
Hah.. Dasar laki laki!
"Termometer termometer, " aku membuka laci satu persatu "Ahh! Ketemu!"
Dengan cepat aku keluar untuk mensterilkannya lebih dulu, setelahnya baru lah aku kembali ke kamar. Beruntungnya Mas memakai piyama, jadi aku hanya perlu membuka kancing untuk menaruh termometer di keteknya.
"Mas?"
Dia menahan tanganku seolah mencegah menarik sedikit piayamanya, kepalanya menggeleng pelan.
"Kiri saja!"
Aku tidak tahu kenapa, Mas Arka itu seperti menyembunyikan sesuatu di bagian tubuh sebelah Kanannya. Dia sama sekali tidak pernah menunjukkan bagian tubuhnya, tapi mau sampai kapan dia menyembunyikannya?
"Ya sudah Mas make sendiri dulu," aku memberikannya ke Mas Arka
Sementara Mas Arka melakukannya sendiri, aku buru buru ke ke dapur untuk mengambil air hangat. Saat kembali aku memeriksa termometernya, 39°c?
Mengambil sapu tangan Mas Arka dari laci, lalu mengompresnya.
"Mas, kita ke rumah sakit ya?"
"Tidak usah."
"Tapi demam Mas tinggi loh ini, kita ke rumah sakit ya?"
Dia terbangun dan melepaskan kompresnya, menahan tanganku yang meraih hape di atas meja.
"Mas?"
"Telfon siapa?"
"Mama, aku mau tanya ke Mama soalnya mas ngak mau ke rumah sakit." aku berusaha melepaskan tangannya, soalnya tangan Mas Arka panas karena demam juga. Aku menyentuh bahunya memintanya kembali berbaring. "Mas istirahat saja, aku mau menelfon Mama dulu."
Dia memegang keningnya "Tidak usah."
"Mass!" aku baru tahu dia keras kepala juga, dia membuka laci samping kasur ada beberapa jenis obat disana.
"Ini bukan apa apa, sungguh!"
"Ya sudah, aku ambilkan air dulu." Dengan cepat aku berjalan ke dapur, mengambil air dan kembali ke kamar. .
Di ambang pintu aku melihat Mas Arka yang memegang bahu kanannya, wajahnya tampak meringis menahan sakit. Tapi karena mungkin merasakan aku sudah datang, dia merubah kembali ekspresinya menjadi baik baik saja.
Orang ini sebenarnya apa?
"Ini, minumnya pelan pelan saja."
Dia menerima gelas dariku lalu meminum obatnya, aku hanya bisa menatapnya menelisik wajahnya. Tatapanku berpindah ke bahu kanannya, tapi mungkin karena dia tau aku memperhatikan dia langsung menyentuh bahunya.
"Mas tidur lagi," suruhku "Tapi lampu jangan dimatiin dulu, bolehkan?"
Aku mengkerutkan keningku "Tidur? Tapi aku belum ngantuk, lagian sekarang masih jam berapa sekarang. Mas saja yang tidur duluan. Orang sakit itu ngak usah beg-akhh!"
Aku spontan menarik baju Mas Arka yang seenak udel menarikku untung berbaring, dia ini doyan sekali ya membanting orang?
Srek!
Aku membulatkan mataku, pakaian Mas Arka robek! Berlahan aku mengangkat wajahku untuk melihatya, dia juga masih melihat bajunya.
"A...aku tidak sengaja, itu Mas yang menarikku duluan!" Aku berseru saat Matanya melihatku.
Ugh!
Ejekan temanku saat masih SD terngiang di kepalaku, masa iya aku bertenaga babon? Hahaha... Ngak lucu kan?
"Si siapa suruh narik Aku duluan," tentu saja aku tidak akan terima dengan pandangannya yang penuh dengan tuduhan.
Memang dia duluan kan yang mulai?
Aku dengan cepat menjauhkan diri, berdekatan dengan Mas Arka membuat jantungku berdegup cepat. Aku yakin mas Arka juga bisa merasakannya, terlebih lagi... Badannya panas coy! Enak saja mau dekat dekat.
"Ya Allah!"
Aku terkejut melihat sobekan baju Mas Arka, ah tidak.. Bukan sobekannya. Mataku terfokus pada pundak bahu Mas Arka yang selalu dia tutupi itu, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku yakin itu bukan kejadian yang mengenakkan.
Karena rasa penasaranku yang setinggu gunung himalaya, aku menyeret lututku mendekatinya. Tanganku terangkat hendak menyentuh pundak Mas, tapi dia menahannya dan menatapku dalam.
"Itu..."
"Tidak apa apa."
Dia dengan tubuh sempoyongan Mas Arka berdiri, dia melepas piyamanya dan melemparnya ketempat sampah. Ini pertama kalinya aku melihatnya toples, meski hanya melihatnya dari belakang, jelas sekali Mas Arka punya tubuh yang tegap dan bagus.
UKH.... KENAPA DIA HARUS MEMUNGGUNGI KU SIH? AKU KAN PENASARAN DENGAN ROTI SOBEKNYA!
Ekhemm... Raana, harus jadi perempuan mahal.
Tapi bukan hanya itu yang menjadi pusat perhatianku, tapi juga goresan panjang dipunggungnya. Luka gores yang dalam, dari bahu hingga ke pinggangnya bahkan ada sedikit luka bakar disana. Apa yang sebenarnya Mas Arka lakukan, itu bukan luka biasa, kapan dia mendapatkan luka separah itu? Pasti sangat menyakitkan.
Aku juga tidak ingih menanyakannya, meski sangat penasaran tapi pasti itu bukan kenangan yang menyenangkan.
Mas Arka membuka lemari, mengambil pakaian yang baru dan buru buru memasangnya. Dia kembali ke kasur dan membaringkan tubuhnya, aku menatapnya yang memunggungiku.
"Aku penasaran," dia tidak bergeming "Tapi aku tidak bisa bertanya kan?"
"Lain kali."
Aku menyandarkan diriku di kepala ranjang "Tapi... Apa itu masih sering sakit?"
"Ya."
"Sudah berapa lama?"
Dia menghela nafas dan membalikkan badannya menghadapku, spontan aku memundurkan diriku. Dia menepuk area kosong di sampingnya, memintaku untuk mendekat.
"Ke...Kenapa?"
Dia tidak mengatakan apa apa, matanya mengisyaratkan aku untuk mendekat. Sebagai istri yang baik hati, aku hanya menurut saja mendekat.
Eh?
Kepala Mas Arka tiba tiba terangkat ke pangkuanku, tuhan! Kenapa dengan Mas Arka? Apa ini efek sakit? Aku menyentuh keningnya, masih saja panas.
"Mas serius ngak mau ke rumah sakit?"
"Ngak."
"Kenapa?" aku menunduk menatapnya yang tidak menjawab, nafasnya sudah teratur
Hah? Sudah tidur? Cepat sekali!
Tubuhku menegang saat tangan kekar Mas Arka melinhkar di pinggangku, dia benar benar tidak tahu kalau sekarang jantungku sudah hampir copot! Dia mah enak sudah tertidur, lah aku? Gugup sendirian.
Aku melirik Mas Arka yang tengkurap, aku akan melunaskan rasa penasaranku. Berlahan aku menarik bajunya ke atas dan tak lama goresan panjang itu terlihat, benar benar luka yang parah.
Saat menyentuhnya membuatku merinding, memikirkan Mas Arka saat pertama kali mendapatkannya, pasti sangat sakit. Diperhatikan dengan seksama, luka ini mirip luka papi di bagian pinggang dan kata Mama itu adalah goresan pisau.
Menyusuri luka Mas Arka yang panjang dengan telunjukku, apakah luka ini juga karena goresan pisau? Kenapa juga Mas Arka terkesan menyembunyikannya? Apa dia merasa malu dengan lukanya sendiri?
"ASTAGFIRULLAH!"
Aku terkejut karena saat ingin melihat wajahnya yang tidur, mata Mas Arka sudah terbuka lebar menatapku. Tangannya terulur menarik tanganku, dia kembali menatapku dengan serius.
"Tidak bisakah tangan kecilmu ini diam?" aku menyengir "Raana, aku laki laki, tenanglah sedikit"
Aku tertegun menelan air ludahku dan berkata "Oke!"