My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
12. Laura



Aku sampai di cafee tempat yang di janjikan, Laura sudah di sana duduk manis sambil memegang ponselnya. Melihatnya duduk melamun, dengan pelan aku mendekatinya.


Aku tidak tahu kenapa, tapi firasatku mengatakan kalau dia ada masalah. Ya.. Tidak heran sih, dia juga anak broken home sepertiku.


Yang membedakan, orang tua tiriku tidak jahat seperti di dongeng Cinderella. Sedangkan Laura... Ayah tirinya baik sih hanya saja ya begitulah.


Dia mengangkat kepalanya begitu aku duduk di depannya.


"Gue pikir lo ngak bakalan datang," Laura menyesap kopi di depannya "Gue dari tadi disini."


"Kalau gue bilang datang, ya gue bakal usahain datanglah." Aku mengambil gedget yang ada di meja, gedeget khusus untuk memesan makanan.


Tempat ini cukup praktis, meski lumayan mahal.


Setelah memesan, aku kembali menatap Laura yang terdiam dengan wajah lelah. Dia masih memakai pakaian yang tadi, berarti dia belum pulang ke rumahnya sama sekali.


Laura kembali menyesap kopinya, menatap ke arah lain dengan keadaan bingung.


Aku menopang daguku "Lo belum pernah pulang ke rumah ya?" aku menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah ku ketahui.


Dia mengangguk "Malas gue pulang ke rumah," dia menatapku "Gue nginap di kosan lo boleh ngak?"


Aku menggelengkan kepalaku, "Di rumah hanya ada satu kamar, lo ngak mungkin tidur di luar karena cuaca sangat dingin.


Aku tidak bermaksud pelit, tapi begitulah keadaanku saat ini. Karena masih baru, rumah kami tidak punya selimut lebih. Aku juga merasa tidak enak sama pak Arka.


"Lo serius ngak niat pulang?" Laura menganggukkan kepalanya "Nyokap lo?"


Laura menghela nafas."Lima hari gue ngak di rumah, belum tentu mereka akan sadar."


Aku hanya bisa bergumam, ya aku tahu soal itu. Inilah kenapa aku sangat bersyukur punya orang tua sambung seperti Mama, ya meski tidak terlalu ikut andil dalam hidupku, setidaknya Ayah tiriku sedikit perhatian saat aku berkunjung untuk menemui adik adikku.


Meski cuman di beliin jajan, tapi alhamdulillah ya...


"Lo mau nginap di rumah orang tua gue gak? Ntar gue kasih tau Mama." Laura menatapku dan menghela nafas panjang, dia terlihat sedikit tertarik.


"Bokap lo ada gak?"


"Tidak, Papi pergi keluar kota." ya tadi saat Mama menelfon, dia memberitahuku.


"Boleh deh," Laura menopang dagunya mengaduk kopinya "Gue pingin ngekos, tapi mau yang tidak jauh dari kampus, lo tau ngak?"


Aku menggelengkan kepala "Ntar gue tanyain sama Pak Arka, kali aja dia ada tau tempat"


"Tolong ya!"


Aku hanya menganggukkan kepala, lagian kalau dia dekat, aku ada tempat untuk pergi bergosip. Hehehe... Maklum, partner ngegibah gue lumayan jauh, lagian sumpek juga di kosan sendirian kalau pak Arka lagi keluar.


Ada juga dia sama seperti tidak ada.


"Gue beneran ngak betah di rumah itu," Laura bercerita dengan tatapan sendu menatap gelasnya, "Mau ke rumah bokap, nyokap tiri gue selalu sinis, padahal gue makan sepiring doang bukan sekarung setiap sekali makan."


Laura memang tidak bisa damai dengan ibu sambungnya, makanya dia sering kali bilang kalau dia iri padaku. Tidak tahu saja, kalau dulu aku yang selalu cari cari kesalahan Mama.


Tapi sih, memang ibu sambungnya kebangetan. Masa iya, Ayahnya tidak boleh ngasih Laura duit, notabenya Laura anak pertama Ayahnya, tanggung jawab Ayahnya sebelum dia masuk jadi keluarga Laura.


"Gue iri, Ti. Sama lo. Kok lo bisa sedekat itu sama nyokap sambung lo."


"Mungkin karena ibu yang pertama gue kenal, ya nyokap sambung gue, bukan nyokap kandung gue"


Aku juga tidak bisa ngomong begitu, karena setiap orang beda.


"Gue capek Ti, bokap tiri gue belakangan ini rada aneh," dia bergedik "Takut gue."


Tunggu tunggu! Apa maksudnya ini?


"Dia... Kenapa?"


Laura menghela nafas panjang, bersandar di kursi. "Lo tau kan nyokap gue sering ngak di rumah karena pekerjaa?" Aku mengangguk, memang benar "Gue takut, Ti. Belakangan om Bram sering ngeliatin gue mulu, tatapannya itu bikin gue takut."


Kurang ajar!


"Tapi dia ngak ngapa ngapain lo kan?"


Laura mengangguk, tapi terlihat jelas kalau dia gelisah dan takut.


"Gue selalu usahain jauh jauh, gue selalu ngunci kamar gue." ucap Laura. "Karena itu, gue mau pindah, gue mau ngekos! Gue takut Ti, takut kayak anak tetangga gue."


Aku meraih tangan Laura yang panik, air matanya sudah berjatuhan. Memang beberapa waktu lalu, ada kasus pelecehan seksual di sekitar tempat tinggal Laura, dan pelakunya tidak lain adalah Ayah sambungnya sendiri. Sangat wajar kalau Laura sangat ketakutan.


"Gue bakal bantuin lo cari kosan, tapi lo harus cari alasan masuk akal." Biar bagaimana pun, aku tidak mau Laura di cap anak yang tidak tahu diri.


"Gue mau sambilan, Ti. Gue juga tidak bisa bergantung ke mereka. Lo kenal nyokap gue kan?" Aku mengangguk "Meski pun nanti gue ngak diizinin, gue tetap bakal keluar dari rumah itu."


Aku mengangguk, walaupun ini kayak kabur gue tetap setuju. Kalau Laura tetap di rumah itu bersama bokap tirinya, tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi.


"Hahh... Pengen nikah juga gue!" dia meletakkan kepalanya di atas meja "Cariin gue pacar dong!"


"Hahaha.... Gila lo! Nikah bukan jalan keluar untuk kabur, mikir mateng mateng deh."


Dia mengangkat kepalanya, menatapku kemudian mendengus "Yang nikah karena perjodohan, ssttt... Diem deh!"


Si kamp*et!


Tapi yang dia bilang memang bener sih, aku kan menikah hanya karena perjodohan. Apa itu juga melarikan diri ya? Tapi bodoh amatlah, meski perjodohan banyak berakhir perceraian, tapi tidak semua kan? Banyak kok yang berakhir bahagia dan langgeng, semoga pernikahanku juga begitu.


"Lagian ngapain lo mesti cari pacar? Noh Adrian kan minta balikan sama lo."


Dia berdecak, kenapa?


Laura menegakkan duduknya menatapku dengan serius, Aku kayaknya salah bicara


"Lo tau ngak sih kenapa gue putus sama itu anak," Aku menggeleng, lah dia tidak pernah cerita jadi mana aku tahu. "Gue cuman jadi bahan taruhannya!"


ADRIAN BAN*KE!


"Gue ngak sengaja dengar pas jemput dia di tempat latihan basket dulu," dia mendengus "Padahal gue suka banget sama dia."


Tanpa dia bilang pun aku tahu itu, saat mereka pacaran dulu Aku adalah obat nyamuk mereka. Tapi.... Awas saja si Adrjan kalau ketemu di kampus!


Kalau saja aku tahu, aku tidak akan sering meninggalkan mereka berdua. Ku pikir mereka hanya berantem biasa, pasti sakit banget setiap mereka bertemu.


Aku menghela nafas panjang, beneran aku tidak menyangka ada kejadian begini. Aku pikir ini karena Adrian baik sama semua cewek, ya siapapun pasti sakit hati kalau cowoknya baik sama semua orang. Tapi, siapa yang menyangka kalau seperti ini.


Minta di geplak memang tuh, Adrian.