My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
3. Dia punya pacar



Saat para orang tua sibuk membahas pernikahan mendadak itu, aku pamit sebentar karena ada yang harus aku beli untuk tugas.


Btw aku mahasiswa jurusan tehnik semester akhir, hebatkan gue? hahahaha.... Gue nyesel ngambil jurusan ini.


"Kamu di temani nak Arka" ucap Mama


"ya ilah Ma, fotocopy cuman di depan doang kok, Emang adek anak TK di temani?"


Aku tahu tujuan Mama ingin membiarkan kami berduaan, tapi gimana ya? Tempat fotocopy memang dekat dari rumah.


Meski aku terus menolak pada akhirnya aku di temani pak Arka juga. Rasanya mau teriak kesal tapi takut jadi malin kundang! Mamaku memang sulit untuk di tolak.


Laura : Nyesel lo gak ikut, makanan di resto ini enak bener lo Tii..


Aku mendengus membaca pesan yang baru dikirim Laura.


Me : Tidak setia kawan lo!


Laura : lo yang tidak mau Tutiii.... Lagian ngapain sih lo disuruh pulang cepat.


Aku mengangkat sebelah keningku dan menulis dengan cepat di papan ketik


Me : Mau di kawinin!


Laura : Halu lo!


Sudah kuduga dia tidak percaya, dia orang yang paling tahu bagaimana Mama protektif padaku, dia selalu menatap penuh permusuhan sama cowok seperti aku akan di culik.


Laura : Memang sama siapa?


Me : Pak Arka!


Laura : Sana tidur lo kayaknya lo ngantuk banget sampai melantur kemana mana.


Aku terbahak membaca balasan Laura, tapi aku langsung berhenti saat pak Arka menarikku ke samping, aku mendongak menatapnya


"Motor!" jawabnya singkat, aku memang mendengar suara motor tadi


"Terimah kasih"


Aku menunduk saat mendapat pesan lagi dari Laura. Dia mengirim foto.


Laura : Hahaha... Nih biar lo gak kepedean, pak Arka itu sudah ada pawang.


Foto yang dikirim Laura memang foto pak Arka dan dosen perempuan yang menjadi incaran teman cowok di kampusnya.


Di foto itu Arka terlihat membuka pintu untuk dosen itu.


Laura juga mengirim beberapa foto yang memperlihatkan keakraban kedua dosen itu.


Cih, sudah punya pawang tapi mau mauan di jodohin, cemen!


Eh, tapi gue juga sama sih mau mauan. Tapi aku kan tidak punya pacar.


"Dimana fotocopynya?" Suara Pak Arka menyadarkanku, aku melihat sekeliling dan sepertinya...  tempat fotocopynya terlewat.


Dasar gue!


"Lewat Pak" Aku hanya bisa menyengir, mau bagaimana lagi tadi aku kepikiran dengan foto yang dikirim Laura.


Pak Arka hanya bisa menghela dan memintaku berjalan dengan benar tanpa melihat ponsel. Aku menurut saja, bukan karena takut tapi Aku merasa tidak enak.


Begitu begitu dia tetap Dosenku, Dosen pembimbing lagi. Mana tau kalau Aku baik baikin skripsiku bisa cepat di ACC. Aku mau sombong ke Adrian kalau memang Aku lebih cepat.


Hahahahaha...


"Mas Danuuuu" Aku menyengir ke kakak yang memang pemilik fotocopy, Mas Danu hanya bisa menyengir karena tau kelakuanku memang seperti ini.


"Eh Neng Cantik." Aku tersenyum ke Mamanya Mas Danu yang selalu senantiasa mengobrol denganku. "Pacarnya ganteng!"


Aku menoleh ke belakang, lah ini Dosen masih mengekor? Aku mengibaskan tanganku "Bukan Mbok, Beliau Dosennya Raana"


"Lah ngak apa apa toh. Jodoh siapa yang tahu neng?" Aku hanya bisa senyum mesem mesem. Nih ibu ibu memang insting atau memang apa ya?


"Mau ngeprint Mas, mesin printer di rumah rusak" Aku mengeluarkan flasdisk dari saku.


Ya Biasanya kalau ke sini aku cuman buat fotocopy atau beli kebutuhan saja, tapi berhubung printku rusak jadi apa boleh buat? Salahkan Dosen yang ada di belakangnya, karena dia terus meminta revisi jadi harus terus ngeprint.


Hahaha bercanda ding! Mesin printer di rumah memang sudah lama sekali, dari jaman dia masih SMP. Wajar kalau sekarang rusak, memang sudah tua.


Aku menoleh ke dosenku yang masih setia berdiri seperti patung "Pak, Mungkin akan ini lama. Kalau bapak mau tunggu silahkan duduk disana" Aku menunjuk bangku panjang yang memang khusus menunggu kalau datang disana. "Tapi kalau tidak, Pak Arka bisa pulang duluan" Aku tersenyum manis berharap dia memilih pulang.


Tapi harapanku sinar karena Dosen dari kutub utara itu malah berjalan ke arah bangku panjang. Syiit.


Sambil menunggu hasil printku aku dan Ibunya Mas Danu mengobrol alias bergosip, bergosip dengan ibu ibu itu seru loh... Apalagi bahas artis di tv.


"Masa sih Mbok?" Aku memperbaiki posisi dudukku mendengar cerita. "Kok begitu? Padahal anak kandungnya loh"


Mbok hanya bisa menepuk keras tangannya sangking gemasnya. Kami sedang bercerita tentang artis yang baru saja meninggal dan keluarganya yang gila harta, mirip sinetron.


Satu lagi yang bikin Aku senang mengobrol dengan mbok, mejanya ngak pernah kosong. Selalu ada toples berisi makanan.


Sambil bercerita aku sesekali melirik Pak Arka yang fokus ke hpnya, mungkin mengirim pesan ke pacarnya. Aku tidak peduli!


"Terus mbok? Belakangan aku tidak nonton gosip karena tugas kuliah" Aku menghela nafas.


Memang benar, belakangan tugasku menumpuk. Tugas lama yang belum ku kerjakan semuanya tidak lama lagi deadline dan tugas baru yang harus segera dikumpulkan, plus revisi revisi revisi yang tidak ada habisnya. Otakku lama lama meledak!


Aku sebenarnya ingin tinggal setelah Mas Danu selesai memprint tugasku, tapi aku membawa anak orang.


Lah emang dia anak orang kok alias manusia.


Aku pamit dengan penuh drama dengan mbok partner gosib terbaikku. Aku bahkan melihat Mas Danu memutar bola mata jengah, aku yakin di dalam hatinya ingin melemparku dengan sendal.


Aku memeluk erat tugasku, jalan dengan pak Arka sama saja dengan jalan sendiri. Dia sama sekali tidak bersuara.


Hah... Mama benar benar tega menjodohkanku dengan manusia kutub, hanya ada wujud tidak ada suara sama sekali.


"Kenapa bapak terimah dijodohin sama saya?" Aku membuka mulut, sunyi banget soalnya. Bikin merinding.


"Di suruh Ibu!" Rasanya aku ingin menempeleng kepalanya dengan jawaban santainya itu.


Ya tidak salah sih, mereka kan memang disuruh sama orang tua mereka.


"Bapakkan bisa nolak"


Aku mendongak hanya untuk melihat wajahnya. Pak Arka itu tinggi banget, mungkin 185-an nanti ada waktu baru aku tanya.


"Kenapa bukan kamu?" Dia menunduk melihatku, langsung aku membuang muka.


Pak Arka itu ganteng, aku tidak munafik!


"Ya... saya tidak berani Pak, Mama Saya titisan Harimau Sumatera!" Aku bergidik membayangkan amarah Mama "Nama saya bisa bisa dihapus dari kartu keluarga."


Aku bisa melihat ada kerutan di keningnya, baru kali ini dia berekspresi lain.


"Kamu nikah juga nama kamu tetap di hapus."


Mataku membulat, LAH IYA YA! Kok aku baru sadar?


"Ya tapikan beda, Pak! Nama saya memang dihapus dari KK Ayah, tapi kan saya masuk di KK Bapak!" Aku menyengir.


Kan nikah untuk buat keluarga sendiri, membangun keluarga baru yang artinya KKnya juga baru.


Pak Arka kembali diam jadi aku juga diam. Ini orang gak tahu cari topik apa? Apa dia tidak tahu kalau sekarang jadi akward.


Aku menghela nafas setelah melihat rumah sudah di depan mata, rasanya seperti oasis di tengah gurun sahara. Lama lama dekat pak Arka, aku yang awalnya cerewet bisa jadi pendiam.


Tidak boleh terjadi!


Kalau memang aku berjodoh dengan beliau, biar aku yang merubahnya. Akan aku buat dia jadi cerewet sepertiku.


Ya kalau bisa, kalau juga gak apa apa.