My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
5. Persiapan (1)



"Adek bangun! Sudah siang nanti rejeki mu kepatuk Ayam!"


Akh! Ini masih pagi sekali, kenapa nyonya rumah ini sudah sangat berisik? Padahal ini hari libur, aku tidak harus berangkat kuliah pagi. Tapi kenapa mesti bangun pagi lagi?


Tok tok tok


Rasanya aku ingin menyumbat telingaku, tapi aku pada akhirnya tidak akan melakukannya. Mama tidak akan berhenti sampai aku muncul di depannya, aku sudah berpengalaman.


Untung rumah tetangga masih berjarak dari rumah, karena kalau tidak mereka akan mendengar suara Mama.


"Adek! Adek! Adek! Ad-"


"Iya... Ini sudah bangun!" meski sangat mengantuk, aku tetap bergegas ke pintu "Nih sudah bangun!"


Jujur tadi hampir jatuh karena tersandung kaki sendiri.


"Gitu dong, anak gadis harus bangun pagi pagi." ucap Mamaku sambil tersenyum, di tangannya ada spatula, sepertinya dia menggedor pintuku dengan itu! "Kamu buruan mandi!"


"Tapi hari ini aku libur." aku menempelkan diri ku di pintu yang setengah terbuka "Aku masih ngantuk, Ma."


"Ngak, Ngak ada libur libur," dia membuka pintu kamarku lebar lebar sampai aku juga ikut terdorong "Kamu buruan mandi, biar segar!"


Aku hendak menolak tapi diurungkan, mata Mama sudah melotot kearahku yang artinya apa yang dia katakan adalah perintah mutlak!


Tuhan... Sebenarnya leluhurku punya dosa apa sampai punyak emak kayak emak gue?


Sebelum Mama mengoceh panjang lebar, aku dengan cepat mengambil handuk dan menghilang di kamar mandi, ini tempat persembunyian teraman saat ini.


Tidak butuh waktu lama untuk gue mandi, kenapa? Karena gue malas hahahaha... Ngak deh, bercanda! Kemarin gue mandi sambil treatmen luluran dan sebagainya jadi hari ini cukup pake sabun saja.


Kalau tiap hari gue treatmen, takutnya gue makin cantik!


Karena hari ini kegiatan hanya akan di rumah, baring, makan dan ngedrakor, jadi kita pakai baju wajib malas saja. Kaos longgar dan celana jins pendek. Rambut biarkan tergerai cantik, kemarin gue sudah sampoan jadi tidak akan bau. Gak perlu berdandan karena hanya di rumah juga, ngak bedakan aku sudah cantik.


Aku dengan ogah ogahan turun ke bawah, kalau tidak lapar biar siangan dikit baru bangun, nyokap mah asal aku bangun aja sih. Rumah tampak sepi dan itu bukan hal tabu, karena yang berisik cuman Mama dan Aku.


Apalagi bokap sekarang pasti sudah berangkat kerja, di rumah juga dia jarang bersuara. Btw, Papi itu tentara dan jabatannya sudah lumayan tinggi, wajar sih karena dia sudah bergabung di militer sebelum aku lahir hingga saat ini aku umur dua puluh tiga tahun.


Tapi jangan berfikir Papi itu gendut dan berperut buncit, Papi itu masih sangat tampan dan badannya masih sangat bagus, tiap pagi dia akan berlari dan berolahraga untuk menjaga dirinya tetap fit. Karena itu Mama juga rajin perawatan dan sebagainya, takut bokap kepincut pelakor!


Ngak tahu saja anaknya yang bakal jadi orang ketiga, sue!


Tapi Aku termaksud orang ketiga gak sih? Aku kan bakal dinikahi, punya surat surat dan resmi. Tapi bu Jessica kan pacarnya dan sudah sama sama lebih dulu? Akhh... Tau ah!


"Mama..." Aku berteriak sambil turun dari tangga, "Maaa...."


Kemana Mama? Biasanya juga dia bakal langsung nyemprot mendengar aku teriak teriak.


"Ma..." Aku berjalan cepat ke dapur, tapi sampai di sana Mama gak ada.


Kemana dia? Tega banget ninggalin anak gadisnya di rumah sendirian, ngak takut apa anaknya di culik voldemort? Iya, kalo masih Tom Riddle gak apa masih ganteng, lah gimana kalau sudah jadi kakek kakek botak tidak berhidung?


"Mama... Oh Mama!"


"Mama kamu ke pasar."


"Astagfirullah!"


Tanpa sadar aku melompat belakang, beneran ada voldemort.


Aku menengakkan berdiriku, menatapa pak Arka yang duduk manis di sofa ruang tamu. Sejak kapan manusia kutub ini di sini? Ngapain juga disini?


Bukannya harusnya dia ketemuan sama bu Jessica? Kenapa malah kesini? Merusak hari libur saja.


"Ba.. Bapak ngapain di rumah saya?"


Dia hanya menatapku, kenapa? Apa aku melakukan kesalahan? Kalau iya, kenapa coba dia diam saja?


"Pak?"


Dia menghela nafas panjang, kenapa sih? Aku melangkah mundur tanpa sadar saat dia menatapku, dia tidak akan memukulku kan? Mama kenapa ninggalin aku sih? Nangis juga nih lama lama...


"Hah?" kemana? Kenapa sih nih orang suka tiba tiba? Mana ekspresinya serius lagi, aku ngak beneran bakal di culik kan?


Ya Allah, tadi aku hanya bercanda, aku tidak mau di culik beneran.


"Kamu kemarin tidak mendengarkan saya?"


Hah? Kemarin? Kapan? Memang dia bilang apa kemarin?


"Nak Arka, Anak Mama sudah bangun belum?"


Aku langsung menoleh, penolongku datang... Kenapa sih lama banget?


Mama berjalan masuk dengan kresek berisi bahan makanan di kedua tangannya, tidak biasanya dia belanjanya banyak begitu.


"Lho dek, kenapa kamu pakai baju begitu?" tanya Mama


Aku menunduk, memangnya kenapa? Biasanya juga begini kan kalau lagi liburan?


"Kan aku cuma di rumah, kenapa harus pakai baju bagus segala."


Mama menggelengkan kepalanya, Pak Arka juga langsung melihat ke arahku. Kenapa sih?


"Kamu kan mau keluar sama nak Arka, kamu ini bagaimana sih?"


"Keluar? Kemana?" serius aku bingung.


"Kaliankan mau mempersiapkan berkas berkas buat pernikahan, kamu ini masa begitu saja tidak tahu?"


WHAT?


Aku melihat Pak Arka, terus kenapa dia tidak bilang. Aku melotot ke arahnya, menyalahkannya.


"Kemarin saya sudah bilang akan jemput." ucapnya


Wh- ah! Iya kemarin dia bilang begitu, tapi kan..


"Bapak hanya bilang akan jemput, bapak ngak bilang apa apa lagi setelahnya." Aku menggerutu ke arahnya, sekarang bodo amat dia itu dosen pembimbingku.


Aku kesal titik.


Dengan menghentakkan kakiku berjalan ke kamar, sial... Hari liburku yang ku nanti nanti harus dihabiskan untuk mengurus persiapan pernikahan, pernikahan yang tidak kuinginkan!


Ck, kenapa harus pak Arka sih? Ngak cukup apa Papi yang jarang bicara yang ada di hidupku, kenapa harus di tambah satu lagi manusia kutub? Lama lama beku aku!


Oh hari liburku yang berharga!


Karena kesal aku sengaja lama lamain untuk dandan, Biarin!


Siapa yang suruh, di kasih mulut tapi ngak digunakan dengan benar untuk bicara.


Karena ini untuk mengurus persiapan surat surat pernikahan, aku berdandan dengan rapi dan tentunya cantik. Meski ini pernikahan karena di jodohkan, mana mau aku malu maluin diri sendiri dengan tampilan burik.


Biar bagaimana pun, aku hanya mau menikah sekali saja dalam hidupku. Ditambah tadi Pak Arka tampilannya ganteng banget, Aku tidak mau kalah.


Aku baru turun dari kamar hampir sejam, tidak lupa dengan berkas berkas yang diperlukan. Aku sudah menyiapkan beberapa, sisanya biar diurus nanti.


"Lama banget sih dek!" protes Mama begitu aku turun.


"Kan biar cantik, Ma. Mama mau aku ke KUA pake baju tadi? Ngak sisiran? Kucel? Jel-"


"Kamu berisik sekali, sana sana pergi." Aku mencibir, sendirinya ngak lihat kaca apa?


Mama mendorongku ke arah Pak Arka, wah parah nih emak emak satu. Biasanya mah anak gadis di jauhkan dari cowok, eh ini malah aku di dorong biar dekat dekat.


Ini juga dosen satu, pasrah saja saat aku tidak sengaja menabraknya. Atau itu memang maunya dia? Hahaha... Ngak mungkin lah.


"Ayo pak!"


Aku menoleh kearah Mama, memperlihatkan wajah cemberutku. Tapi apa yang dia lakukan? Mama melambai cantik ke arah kami, seolah memberi restu.