My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
8. H-1



"Lo beneran nikah besok, Na?" Laura berbaring di kasurku yang sudah di hiasi dari beberapa hari yang lalu. "Kok bisa sih?"


"Ya bisalah!" jawabku sewot, dia berkata seperti seolah mengejekku tidak laku, Laura terbahak ke arahku yang kedinginan karena baru saja melangsungkan prosesi siraman.


Laura di suruh menemaniku sebentar.


Sebenarnya Laura belum percaya sampai pada malam pengajian semalam, dia datang dan saat melihatku dia hanya menganga. Hahaha... Aku masih bisa mengingat ekspresinya, dia lebih kaget dariku yang mau menikah.


Bukan hanya Laura sih, Adrian sama bengongnya, padahal aku sudah mengirimi mereka undangan. Tapi mereka mengira itu prank, tidak heran kenapa mereka dulu pacaran.


"Gue kan sudah kasih undangan, lo nya saja yang tidak percaya."


Laura melemparku bantal berhasil membuatku mengadu "Suruh siapa lo nikah tanggal satu juli? Lo tau sendiri itu hari prank."


Aku hanya tertawa, selama proses aku tidak pernah menyadari itu. "Ya soal itu tanya orang tua gue lah! Bukan gue yang nentuin tanggal."


"KAK RAANA!" Suara cempreng sudah terdengar bahkan sebelum sosoknya masuk, aku terkekeh mendengarnya "KAK! BISANYA LO NIKAH TANPA KASIH TAU GUE!"


Gadis berambut sebahu muncul di ambang pintu, dia bertolak pinggang ke arahku. Dia Tania, anak teman Mama. Katanya Mamanya Tania lah yang mengenalkan Papi ke Mama, Tania pun tiga tahun lebih muda dariku.


"Berisik lo!" ucap Laura.


"Oh! Lau-lau!" Tania berseru melihat Laura, mereka juga teman berkatku. Tapi lihat kalau mereka bertemu. Aku terlupakan. "Lo kapan nikah? Lo kan setua Kak Naana!"


Naana, itu nama panggilan yang dikhususkan Tania untukku dulu tapi terbawa sampai sekarang.


"Anak ini!" Laura mencubitnya karena gemas dengan pertanyaan menyebalkan Tania.


Tok tok


Kami bertiga menoleh, di ambang pintu berdiri gadis yang usianya setahun di bawahku. Dia terlihat sangat cantik dengan gaun merahnya, serta rambutnya yang di curly.


"Masuk sini," Aku mengulurkan tangan ku kearahnya, untung dia berjalan mendekat dan menyambutnya. "Kamu kesini sama siapa?"


Dia tampak menggigit bibir bawahnya, ah... Apa yang kuharapkan sih?


"Reno, Mami ada urusan Kak." jawabnya sedikit ragu, tidak perlu mengatakannya aku sudah tahu kok


Ah, ini Rianti. Adikku dari pihak ibuku yang lahir setahun setelahku. Dulu aku membencinya karena berfikir dia merampas Mami, tapi sekarang tidak lagi.


Kami akur layaknya saudara pada umumnya, aku juga tidak ingin terus menolaknya. Biar bagaimana pun aku dan dia adalah saudara, meski tak sedarah tapi kami serahim kan?


Bicara tentang beberapa hari yang lalu, saat Mami datang ke rumah, setelah aku meninggalkan mereka saat itu Aku tidak tahu apalagi yang terjadi, karena saat pulang, Papi hanya memelukku dan meminta maaf setelahnya tidak ada pembahasan lagi.


Mungkin mereka takut aku rapuh, ya soal itu memang benar.


"Terus, Reno mana?" tanyaku, ya Adikku yang laki laki itu sedikit pendiam, tapi masih bicara denganku.


"Dia di luar, bicara dengan Om Dewa."


Eh, Papi?


"Bisa ngobrol juga mereka?" Laura menanyakan apa yang ingin ku tanyakan, bukan apa apa, mereka sama sama pendiam.


Ya meski pertama kali aku melihat Papi banyak bicara adalah beberapa hari yang lalu, tapi kan ini Reno sama Papi?


"Kakak tidak tahu? Reno kan memang sering bicara sama Om Dewa."


"HAH?" jujur aku terkejut dan sepertinya bukan hanya aku.


Aku baru tau kalau Papi dekat dengan anak dari mantan istrinya, ya meski aku dan Mami tidak dekat, tapi adik adikku memang sering ke rumah, bisa dibilang Rianti juga dekat denan Mama.


Tapi, ini Papi ku loh, PAPI KU yang sebelas dua belas dengan Mas Arka.


"Itu... Mungkin karena Reno ingin gabung dengan militer juga." jawab Rianti.


Reno? Aku baru tahu, tapi..


Rianti mengedikkan bahunya "Reno belum mengatakan apa apa, ditambah ayah membimbingnya ke jalur bisnis."


Bukan apa apa ya, aku takutnya nanti malah papi yang dituduh mempengaruhi Reno. Bisa dibilang posisi Papi di militer gak bisa di anggap remeh pun dengan bokap tiri ku, bisa dia juga berpengaruh di bidangnya, kalau mereka berselisih akan sedikit merepotkan.


"Oke gadis gadis, kalian silahkan keluar!" Tante Tatiana berseru saat masuk, beliau ini Mama dari Tania. "Ayo keluar keluar, biarkan calon manten di dandani dulu."


"Kita keluar juga mau ngapain sih, Ma? Ngak ada kerjaan juga."


"Noh piring numpuk, kalian bisa cuciin. Buruan keluar. Kalau kalian mau di kamar aja, sana nikah juga."


Hahahaha...


Aku hanya bisa menertawai mereka yang cemberut sambil berjalan keluar, aku menarik nafas panjang setelahnya.


"Gugup ya?" tanya Tante Tatiana yang berjalan ke arahku.


Aku hanya bisa tersenyum kecil, siapapun di posisiku saat ini pasti gugup. Ditambah besok statusku akan berubah jadi istri orang, bisa dibilang saat ini aku dalam keadaan linglung.


"Gugup wajar kok," ucap tante Tatiana, Aku tidak menyaut. "Jangan kayak Mama kamu dulu."


"Mama?" Tante Tatiana mengangguk


"Mama kamu dulu bukannya gugup, tapi malah kepo." Tante terkekeh, sepertinya sedang mengenang masa lalu "Dia malah mau ke rumah Papi mu, mau lihat apa calon suaminya gugup? Untung ada Omah, kalau ngak tante juga gak tau apa yang terjadi."


Mendengarnya aku bisa membayangkan situasinya, Mama itu orangnya antusias banget jadi tidak heran.


Tante Tatiana mengelus kepalaku "Jangan khawatir, semua akan baik baik saja."


Aku hanya bisa mengangguk dan mengiyakan, dalam hati berdo'a semoga yang dikatakan Tante Tatiana benar.


Tidak lama ibu ibu lain memasuki kamarku, mereka membantu tante Tatiana melepas apa yang ada di badanku.


Setelah aku berganti pakaian, aku diiring keluar. Banyak ritual adat yang dilakukan, ritual yang bahkan aku sendiripun tidak tahu namanya apa.


Sorenya aku izin ke Mama untuk istirahat, biar bagaimana pun besok aku masih harus bangun pagi pagi sekali untuk dandan. Untung Mama mangizinkan dan meminta Laura, Tania dan Rianti menemaniku di kamar, takut anaknya kabur kali ya!


"Capek banget ya, Kak?" Tanya Rianti sambil memijit bahuku, aku menoleh ke arahnya


"Mau tukaran?" Dia langsung menggelengkan kepalanya cepat.


"Mending lo tidur deh, besok bakal lebih capek lagi" ucap Laura, dia menarik tubuhku untuk berbaring di kasur.


Tania langsung menempelkan mentimun yang sudah dia iris tipis, ah... Sejuknya wajahku.


"Gue belum bersihin muka!" keluhku, barulah mereka panik dan bergegas menuju meja riasku.


Setelah membersihkan wajahku dengan pembersih make-up, mereka langsung mendorongku ke kamar mandi untuk membilas wajahku lagi.


Setelah itu, mereka kembali membaringkan ku lagi. Hehehe... Pengen begini tiap hari, di manjain.


Tidak lama Reno muncul, dari tadi kedatangannya aku baru melihatnya sekarang. Dia menatapku lama sebelum menghela nafas, ada apa dengan anak ini?


Aku kembali duduk, menarik tangannya agar duduk di sampingku. Aku mengelus kepalanya "Kenapa?"


Dia menggelengkan kepalanya.


Aku menyipitkan mataku ke arahnya, "Jangan bilang kamu tidak rela kakak nikah?"


Dia menatapku dengan pandangan serius, aku tidak mengerti sama sekali maksudnya. Meski tidak sedekat Rianti, biar bagaimana pun dia tetaplah adik bungsuku, tentu ada perasaan istimewa untuknya.


Aku memeluknya dan mengatakan tidak apa apa, dia masih boleh mengunjungiku dan aku tetap akan mengunjungi di sekolahnya.


Ya, aku pasti merasa kurang nyaman untuk berukung ke rumahnya, apalagi setelah kejadian itu. Aku masih sangat merasa sedih setelah tahu penolakan Mami terhadapku, masih sakit rasanya.