My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
7. Mami!



Setelah dua minggu akhirnya persiapan sudah selesai, hari ini aku bisa santai. Karena setelahnya aku bakalan sibuk lagi, belum lamaran resmi, belum pengajian, siraman sama ***** bengek lainnya.


Siapa yang bilang Nikah itu enak? Capek yang ada.


Pernikahan tinggal di depan mata, tapi lihatlah tugasku yang juga kian menumpuk kayak dosa. Karena akan menikah, jadi aku harus mencari dosbin lain, syukur syukur Mas Arka mau bantuin cari.


Cia ilahh... Mas Arka! Hahaha... Karena dua minggu ini hampir setiap kali bertemu, aku jadi mengganti nama panggilanku padanya juga. Oke, ini awalnya karena Mama yang menegurku karena selalu manggil Mas Arka dengan embel 'Bapak dan Pak', katanya tidak enak dengarnya.


Padahal dia dosenku, wajar saja dong aku memanggilnya seperti itu. Tapi, ya sudahlah!


"Na, mau balik lu?" Adrian yang lagi lagi gak sengaja ketemu Aku temui di parkiran bertanya, aku hanya bisa mengangguk. "Gue dengar lo mau ganti Dosbin, kenapa? Ngak betah sama Pak Arka."


"Pak Arka yang suruh. butuh bantuan ngak?" Aku bertanya karena dia kelihatan kesulitan mengeluarkan motornya.


"Iya, tolong dong."


Aku yang memang berhati malaikat bergegas membantunya, aku menggeser motor motor yang menghalangi jalan keluarnya. Cukup melelahkan, tapi karena aku baik jadi tidak masalah.


Ngomong ngomong soal Adrian, aku tiba tiba teringat Laura hari itu. Malam itu dia memang benar benar menginap di rumahku, curhat banyak hal dan unek uneknya soal cowok depan ku ini, tapi tetap saja alasan mereka putus Laura tidak ceritakan.


Intinya Laura ogah buat balikan sama Adrian.


"Na!" panggil Adrian, aku yang tengah memasang helm setelah berhasil mengeluarkan motorku sendiri menoleh.


Adrian tengah berdiri sambil menunduk memandang helm mahalnya, helm yang seharga motor. Dia tampak kebingungan


"Kenapa?"


Dia menghela nafas panjang, menatap ke arahku "Laura cerita ngak ke lo?"


Laura? Ahhh...


"Soal lo minta balikan ke dia?" dia menganggukkan kepalnya "Iya dia cerita ke gue. Kenapa?"


"Dia nolak gue" Adrian menghela nafas lagi


"Gue tau, lagian lo sendiri tau dia sensi sama lo, segala diajak balikan. Ditolakkan jadinya."


Dia hanya terkekeh sambil menggaruk keningnya yang gatal.


Aku mengancingkan helm ku "Lagian lo pernah buat salah apa sih sama Laura? Dia kayak benci banget sama lo, padahal dulu kalian kek lem dan prangko."


Dia menatapku dengan tatapan kaget, kenapa sih? "Lau tidak cerita ke lo?" Aku menggelengkan kepala "Serius?"


"Menurut lo? Gue tidak sekepo itu untuk menanyakan kehidupan pribadi teman gue, tapi kalau mau cerita pasti gue dengarkan." Aku mengedikkan bahu.


Memang benar apa yang ku katakan, aku dan Laura sering banyak cerita tapi tidak pernah menanyakan hal pribadinya. Dan Laura paham itu karenanya dia juga tidak terlalu bertanya banyak hal padaku.


"Lo kayaknya buru buru banget, mau kemana emang?"


Aku yang memasang sarung tangan meliriknya "Mau pulang, capek banget gue."


"Ya sudah balik lo, lain kali gue cerita."


Aku menganggukkan kepala, melambai ke arahnya sebelum menancap gas meninggalkan kampus. Hari ini aku akan istirahat full, tanpa tugas, tanpa mengurus pernikahan dan yang paling utama tanpa manusia kutub Mas Arka.


Tidak butuh lama untuk sampai di rumah, karena jarak kampus tidak begitu jauh meski aku berharap agak jauhan sedikit. Mungkin jarak SMA ku lebih jauh ke timbang kampus, tapi aku lebih menikmati perjalanan ke kampus karena tidak diantar Papi lagi, heheheh....


Aku memelankan laju motorku saat hampir mencapai rumah, mataku tertuju ke mobil yang sangat aku kenal. Tidak tidak, bukan mobil Mas Arka ataupun keluarganya, tapi mobil milik seseorang yang hubungannya lebih dekat denganku.


Aku bingung mengatakannya, status kami sangat dekat tapi hubungannya tidak. Aku menggigit bibir bawahku, haruskah aku masuk?


Aku menghentikan motorku, mencari keberadaan motor papi tapi sayang tidak kutemukan. Jadi keputusannya aku harus masuk, aku tidak mau Mama menghadapinya sendiri.


Tapi sebelum benar benar masuk ke dalam rumah, aku menyempatkan menelfon Papi. Beruntungnya Papi mengangkatnya, beliau mengatakan akan segera pulang.


Aku dengan lambat melangkah masuk ke dalam rumah, baru saja selangkah aku masuk aku sudah suara tamu yang marah ke arah Mama.


"Aku tidak terima, bagaimana kamu menentukan pernikahan putriku tanpa persetujuanku?"


Wanita yang tidak lain ibu kandungku menunjuk ke arah Mamaku, sedangkan Mama hanya bisa diam.


Orang tuaku berpisah saat aku masih bayi, aku di ikut Ayah dan di rawat kakek nenekku karena Ayah terus bertugas keluar. Adapun Mama Arindi, dia baru menjadi ibu sambungku saat aku sudah berumur Delapan tahun, ya meski awalnya aku tidak menerimanya.


Salahkan dongeng disney, karena mereka aku jadi selalu prasangka buruk terhadap ibu tiri.


"Mami," Aku menginstrupsi mereka, Mami dan Mama melihat ke arahku "Kapan Mami datang?"


"Raana, kenapa tidak memberitahu Mami kalau ibu tirimu dan Papimu memaksamu menikah?"


Mami bertanya yang aku tidak bisa menjawabnya, aku bahkan lupa soal itu. Aku dan Mami tidak dekat lalu bagaimana aku memberitahunya?


"Raana kamu ikut Mami." Aku menunduk menatap tanganku yang di genggamnya, rasanya aneh sumpah "Mami bisa mengenalkan kamu dengan orang yang lebih baik. Ayahmu punya banyak kenalan."


Hah? Maksud?


Berlahan aku melepaskan tanganku dari Mami, melirik laki laki yang hanya duduk seolah tidak ada apa apa di sekitarnya. Dia malah asik dengan cangkir teh melihat Mami dan Mamaku berselisih, apa dia pikir ini pertunjukan.


"Maaf Mi, tapi Aku tidak bisa."


"Raana, Mami tahu kamu terpaksa. Kamu tidak perlu menuruti apa yang dikatakan wanita itu" Mami menatap Mama sinis "Dia tidak berhak memutuskan apapun tentang hidupmu, kamu ikut Mami sek-"


"Bukankah sebaliknya?" Suara dingin terdengar


Papi masuk ke dalam rumah dengan tenang, saat sampai di tempat kami, Papi menjauhkan aku dari Mami. Dia mendudukkan ku di samping Mama, beliau masih diam.


"Apa maksudmu? Tentu saja aku berhak atas Raana. Aku ibu kandungnya."


Ibu kandung! Mendengar itu kenapa hatiku malah sakit? Itu sungguh tabu untukku, terutama saat keluar langsung dari mulut Mami.


Kenapa baru sekarang?


"Kenapa baru sekarang?" Aku kaget mendengar pertanyaan Papi yang sama denganku.


Telapak tangan Papi menyelimuti tanganku yang saling bertaut, aku tidak suka situasi ini.


"Apa maksudmu? Aku selalu menjadi ibunya, bahkan jika dia menyangkalnya. Kenapa membahas hal tidak penting? Aku kesini ingin mengatakan kalau aku tidak setuju dengan pernikahan Raana."


"Tidak masalah, tidak dibutuhkan. Toh kamu juga bukan orang yang menikahkannya."


"Apa?" Aku melirik Mami "AKU IBU KANDUNGNYA! AKU YANG MELAHIRKANNYA, BAGAIMANA DIA BISA TIDAK MEMBUTUHKAN RESTUKU?"


"Terima kasih sudah melahirkannya," aku melirik Papi yang tampak sangat tulus mengucapkan itu "Aku tidak pernah mengatakan kamu bukan ibunya."


Benar, selama ini setiap kali bertanya, orang orang sekitarku tidak pernah menyembunyikannya. Karena itu aku selalu menunggu, menunggu kapan Mami pulang dan memelukku tapi itu semua tidak pernah terjadi.


"Bukannya kamu tidak ingin tahu apapun tentang Raana?"


Eh? Apa maksudnya ini?


"Itu aku..."


"Bahkan setelah aku berlutut untuk menemuinya, kenapa baru sekarang?"


Jleb


Rasanya seperti ada yang menembus dadaku, apa ini rasanya di buang?


Aku tidak ingin mendengar lebih dari ini, rasanya sakit banget. Apa setidak diinginkannya aku?


"Na, Raana!"


Tanpa sadar aku meninggalkan tempat itu, anggap saja aku alay, tapi mendengar lebih dari itu akan membuatku lebih sakit lagi.


"Ranaa!"


Mama terus memanggil tapi saat ini, aku tidak ingin mendengar siapapun.


Sakit banget!