
Apa yang bisa di harapkan saat jalan dengan manusia es? Perjalanan yang harusnya singkat terasa sangat jauh, suasananya sangat sunyi, mau bicara juga gak enak, takut di abaikan.
Benarkah orang yang akan menikah denganku?
Aku hanpir saja melompat mendengar dering ponselku sendiri, sangking sepinya dalam mobil sampai sampai deringan ponsel saja terdengar sangat keras.
Aku mengambil ponsel dalam tasku, untuk menghentikan suara bising yang memekakkan telinga ini. Aku dengan cepat mengangkatnya, karena yang menelfon si Laura.
"Lo dimana?"
Ye.. Anak ini bukannya salam dulu, eh malah nge-gas "Gue di luar, kenapa?"
"Si Adrian ngajak balikan."
Aku mengangkat alisku, terus kenapa? Kenapa dia malah nge-gas ke gue "Ya terus?"
"Ti, gitu banget sih lu jadi teman! Ngak kasian lu sama gue? Kenapa respon lo gitu doang?"
"Memang gue kudu ngapain coba?"
Aku mendengar dia mendengus "Lu di luar ngapain?"
Aku menunduk menatap berkas di pangkuan ku "Mau mengurus surat surat pernikahan."
"Puah, masih aja ngehalu lo."
Ngak percayaan amat sih nih anak, "Ngak usah kaget lo kalau nanti gue kasih undangan, jangan nangis lo gue tinggal nikah."
"Ngak bakal, gimana lo bisa nikah, di dekati cowok aja lo alergi."
Aku mencibir "Siapa bilang, noh Adrian dekat dekat sama gue, gue ngak bentolan tuh."
"Adrian kan bukan cowok!" terdengar suara sensi Laura "Lo serius di luar? Gue mau curhat."
Aku menghela nafas, kasian juga temanku satu ini. Tapi hari ini aku benar benar akan sibuk, banyak perintil pernikahan yang harus aku lakukan.
"Ya sudah, nanti malam lo ke rumah gue. Curhat deh lo sepuasnya." putusku, semoga saja cepat pulangnya "Lo nginep deh, mumpung gue masih single!"
Tawa sarkas terdengar dari seberang, aku juga terbahak di sini. Bodoh amat sama Pak Arka akan terganngu, siapa suruh ngak punya mulut tapi suka di kunci.
"Oke, gue bakal nginap di rumah lo, sekalian liatin bapak lo yang hot!"
"Si kamp*et!" Aku tanpa sadar mengumpat ke arahnya.
Sejak pertama kali Laura melihat Papi, dia langsung menetapkan tipe idealnya padahal saat itu kami masih SMP. Tapi entah kenapa dia malah pacaran sama Adrian, ya meski ujung ujungnya pelit.
Aku memutuskan pembicaraan kami lebih cepat, karena kalau keinginan kami yang dituruti, kami bisa bercerita sampai berjam jam. Padahal ya kami hampir bertemu setiap hari, tapi tetap saja topik pembicaraan tidak ada habisnya.
Mobil yang kami kendarai berhenti di depan kantor urusan agama, aku langsung turun dari mobil. Pak Arka juga turun, dia mengambil berkas pribadinya di jok tengah.
Aku berjalan mengikutinya masuk ke dalam kantor. Seseorang bertanya tujuan kami, setelah menjawab dia membawa kami ke sebuah ruangan yang mengurus pernikaha. Untung saat urusan begini pak Arka tidak diam saja, malah aku yang jadi patung dan terus mengekor saja.
Sebenarnya kami ke sini tidak langsung menyerahkan berkas, kami kesini untuk bertanya tanya dulu. Setelahnya kami keluar untuk mengurus berkas persyaratan lain, lebih awal kami pergi ke kantor desa tempat ku setelahnya baru ke pak Arka.
"Siang Pak!" Sapaku pada Kades yang sedang bercerita di depan ruangannya.
"Eh Neng," Aku dan beliau memang cukup kena, dulu kami sempat bertetangga. "Ada neng?"
Aku tersenyum malu "Ini Pak, saya mau buat surat pengantar dari desa." ucapku
Pak Desa menatapku sejenak "Pengantar apa neng? Neng sudah mau KKN atau mau kerja?"
Mampus! Aku harus menjawab apa?
Tapi kayaknya karena pak Desa melihat gelagatku yang ragu ragu, Pak Desa memanggil kami ke ruangannya untuk bicara. Setelah sampai, aku pun memberitahu keperluan ku.
"Lho, Neng mau nikah?" Aku mengangguk, dia menatapku terkejut "Sama siapa neng? kok tiba tiba? Mama kamu ngak ngasih tau apa apa."
"Sama dosen saya, Pak" aku menunjuk pak Arka, Pak Arka langsung menjabat tangannya "Mama mungkin ngasih tau kalau semua sudah siap, kan kata orang kalau belum pasti ngak boleh ngumbar dulu."
Pak Desa itu tertawa, sepertinya beliau setuju dengan ucapanku. Beliau lalu memintaku menunggu, sedangkan beliau mulai mempersiapkan permintaan kami.
"Ya udah Neng, kalau eneng ada urusan lain, neng bisa datang ambil nanti." ucap Pak Desa, beliau sepertinya memperhatikan pak Arka yang melihat jam.
"Bener pak? Ya sudah makasih pak, nanti aku datang ambil."
Aku langsung pamit, Pak Arka tidak mengatakan apa apa dan hanya mengikut saja.
"Kita ke mana lagi?" tanyaku, aku sudah capek, perutku juga sudah keroncongan.
Aku baru ingat, sepertinya tadi aku tidak sempat sarapan. Ini semua karena orang yang mengemudi di sampingku.
Pak Arka tetap saja sama, dia terap menyetir tanpa bersuara, betah amat.
Aku memejamkan mataku, membiarkan dia terus menyetir. Bicara juga tidak di jawab, entah dia budek atau bisu aku tidak bisa membedakannya.
Aku membuka mataku saat merasakan mobil berhenti, saat melihat ke depan ke sebuah rumah makan.
"Ngapain kita ke sini?" tanyaku, tapi bukannya menjawab dia mengernyit dulu melihatku
"Makan!"
Aku langsung tersenyum lebar, tau aja nih manusia kutub kalau aku sedang kelaparan. Dengan cepat aku melepas safetybelt, pak Arka memaksaku memakainya dari awal naik ke mobilnya. Aku melompat keluar mobil dan berjalan ke arahnya, dia sepertinya menungguku karena hanya berdiri di depan warung sambil melihat ke arahku.
Seandainya saja orang ini lebih banyak bicara sedikit saja.
Selesai makan kami langsung menuju desanya, untuk mengambil juga. Setelahnya kami mengunjungi toko perhiasan mencari cincin pernikahan, kenapa sih tidak kayak di novel novel gitu? Hari ini dijodohkan besoknya nikah? Ini malah sibuk ngurus ini dan itu dulu, capek.
Itu pun besok masih harus cari butik dulu, untung urusan gedung sama WO akan di urus Mama sama Calon Ibu mertuaku. Kalau tidak bisa lebih capek lagi dari ini, mana setiap mengurusnya harus sama manusia jenis pak Arka.
"Jadi bapak mau ngundang dosen juga?" tanyaku, kami menunggu contoh lain cincin pernikahan.
"Iya."
"Bu Jessica juga?" pancingku, tanpa melihatku karena dia melihat brosur Pak Arka mengangguk "Tidak apa apa emang?"
Dia menoleh ke arahku "Memangnya kenapa?"
Eh? Apa maksudnya pak Arka kenapa? Wajarkan aku bertanya begini?
"Bu Jessica kan pacarnya bapak?"
Dia menyipitkan matanya, apa dia marah? Atau merasa sakit hati? Atau harusnya aku tidak mengungkit ini?
"Pacar?"
Aku menganggukkan kepala "Iya, satu kampus tahu kali pak. Bapak sama bu Jessica pacarankan?" tanyaku sedikit dengan nada sensi, kesal rasanya kalau harus membayangkan jadi orang ketiga di hubungan orang lain.
"Jessica bukan pacar saya."
Eh? BUKAN?
Aku menatap pak Arka untuk mencari tanda kebohongan di wajahnya, tapi nihil pak Arka tidak bisa di baca karena tidak ada ekspresi apa apa di wajahnya.
Kalau begitu.... TERIMA KASIH YA ALLAH! AKU BUKAN ORANG KE-TIGA.