
Hari ini tidak seperti hari biasanya, aku bangun pagi di hari libur kuliah. Biasanya kalau tidak ada mata kuliah, maka aku akan bermalas malasan, tapi karena sekarang aku di rumah Mertua jadi harus bangun pagi.
Takut di cap Menantu tidak tahu diri aku, begini begini aku pintar loh cari muka.
Kemarin saat pulang dari kampus, saat aku bersiap untuk kencan dengan Laura, Mas Arka datang dan memberitahu kalau Ibu Mertua mengundang ke rumahnya. Padahal posisinya itu, aku masih gondok dengan Mas Arka perihal saus sambal sebelumnya.
Saat aku bertanya kenapa kami berdua di panggil, Mas Arka hanya menggeleng tidak tahu. Dasar padahal dia bisa bertanya sebelumnya, tapi ya... Ini Mas Arka, manusia yang paling irit bicara. Jadi malam itu kami memutuskan untuk pulang, aku hanya bisa membatalkan janjiku dengan Laura karena urusan ini.
Aku meraih ikat rambutku di samping nakas, karena aku jarang datang jadi memutuskan membuat sarapan saja. Aku melirik ke samping di mana Mas Arka masih tidur, aku mengkerutkan kening karena tidak biasanya Mas Arka tidak terbangun saat ada pergerakan di sampingnya.
Biasanya jantungku hampir copot, saat aku bangun duluan dia juga pasti akan langsung duduk dan menatap penuh waspada. Aku tidak berani menepuknya saat seperti itu, takut dia marah. Pernah sekali dia tiba tiba menarik tanganku dan mendorongku sangat kasar ke arah kasur, padahal niat hati mau menyadarkannya.
Aku menunduk menatap pergelangan tanganku, mengingat kejadian itu tanganku refleks terasa sakit. Hiks... Setelah hari itu aku tidak berani lagi, takut Mas Arka yang kerasukan menyerangku yang tidak tahu apa apa ini.
Aku menyibakkan selimutku, mumpung belum subuh lebih baik aku mandi dulu. Hehehe... Jangan salah tangkap maksudku ya, Mas Arka dan aku tidak melakukan apa apa. Aku hanya merasa kurang nyaman karena keringat, jadi aku butuh mandi saat ini.
Dan lagi kalau menunggu Mas Arka mandi nanti... Tidak deh! Mas Arka kalau mandi sangaaaaaaat.....lama, aku saja kalah darinya, entah bacaan apa saja yang dia baca untuk air mandinya.
Selesai mandi aku kembali ke kamar, tentunya dengan pakaian yang sudah rapi. Mengeluarkan pengering rambut dari dalam tas, dingin banget ternyata keramas subuh subuh, tau begini aku bakal tunggu pagi.
"ASTAGFIRULLAH!"
Aku tersentak dan tanpa sadar mundur ke belakang, Mas Arka sudah berdiri di belakangku tanpa suara.
"Jangan berisik." ucapnya menatapku
Aku mengambil bantal dan melemparinya, enak banget dia bicara begitu, tidak tahu apa kalau jantungku hampir copot karena kaget.
"Kaget tau, makanya kalau bangun itu bersuara lah minimal!" omelku.
Dia tidak mengatakan apa apa, dia hanya mengambil handuk yang tadi kupakai tapi belum sempat ku jemur. Dia melarikan diri ke kamar mandi, sepertinya buru buru.
Kebelet e-ek mungkin!
Aku tidak perlu menunggu Mas Arka untuk keluar dari kamar mandi, aku langsung pergi ke dapur. Suasananya masih sangat sepi, sepertinya baru aku yang meninggalkan kamar tidur.
Ah, alasan kami di panggil ke tempat ini, katanya karena ada tante Mas Arka yang mau datang. Kata Ibu mertuaku, ciailah ibu mertua hehehe... Oke, kata ibu mertuaku aku mau dikenalin sanak saudaranya.
Saat pernikahan mereka tidak sempat hadir, entahlah apa alasannya aku tidak tahu. Saat aku bertanya ke Mas Arka, mas Arka hanya mengatakan tidak tahu juga.
"Loh Kak!"
Aku menoleh ke asal suara, di sana ada Arga yang menatapku dengan kening mengkerut.
"Pagi banget, Kak?" dia berjalan masuk dapur membuka lemari pendingin, dia mengambil minuman kaleng membukanya dan menyesap isinya. Arga menutup pintu kulkas dan menyandarinya "Lo cari muka ya, Kak?"
Aku menoleh ke arahnya kemudian mengacungkan jempol, dia melotot sebelum tertawa tapi aku memberi isyarat agar dia memelankan suaranya.
Masih banget coy!
"Lo belum pernah tidur ya?"
Dia menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaanku.
"Game atau tugas?" tanyaku karena kebanyakan alasan cowok begadang adalah itu.
"Tugas dari suami lo, Kak! Heran sama adek sendiri ini, harusnya kan diringanin sedikit." dia bersungut, aku bisa memahami perasaannya "Mana banyak banget lagi."
Aku tertawa pelan tapi menahan air mataku, tanganku yang mengiris bawang kenapa mataku yang perih?
"Butuh bantuan?" Arga melempar kaleng ke keranjang sampah "Begini begini gue lumayan bisa memasak."
"Gue bakal ngebantuin, siniin pisau lo."
Aku meliriknya "Ngak usah, sana lo. Ganggu orang saja, balik sana ke kamar lo!"
"Kalau gue balik, nanti gue ketiduran. Subuhan gue nanti lewat." ucapnya
Aku melihat ke arah jam yang memang ada di dinding, memang sih waktu subuh tidak lama lagi. Suara di mesjid juga sudah terdengar, wajar saja sih karena letak rumah mertuaku dan masjid tidak terlalu jauh.
"Ini kalian ngapain di dapur pagi pagi begini."
Mertuaku masuk ke dapur, dia juga sudah sangat rapi dan bahkan sudah mengenakan mukenanya. Dia menatap kami bergantian, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Mau buat sarapan, Bu." aku melirik Arga "Tapi dia gangguin Raana."
"Gue kan bilang mau bantuin lo, kak!"
"Gue bisa sendiri, tadikan gue suda-"
"Sudah sudah!" Ibu mertuaku menghentikan kami, dia melihat adik iparku "Adek kamu siap siap gih mau ke masjid." kemudian melihatku "Raana juga, untuk sarapan itu bukan tanggung jawab kamu, ada pekerja di rumah. Kalaupun mau, buat si Kakak saja."
Aku cemberut, bukannya tidak senang hanya saja gimana ya.
Aku tersentak saat tangan dingin Ibu menyentuh lenganku, dia menatapku dengan tatapan ke ibuan. "Nak, bukan ibu tidak mau makan masakan kamu, hanya saja di rumah ada yang bantu masak. Itu tanggung jawab mereka, kalau kamu mengambil alih lalu mereka harus mengerjakan apa? Mereka akan lalai."
Aku hanya bisa mengangguk mengerti, seperti yang dikatakan Ibu mertua, aku menurut untuk kembali ke kamar. Aku menguap cukup lebar, rasanya aku sangat mengantuk sekarang. Hiks... Ini karena aku bangun terlalu kepagian.
Begitu masuk ke dalam kamar, aku mendapati Mas Arka sudah berpakaian rapi. Dia berjalan mundur saat aku berjalan mendekatinya, menyadari sesuatu aku menyeringai.
"Mas sudah wudhu?" dia menatapku dan menganggukkan kepala.
Aku makin melebarkan senyumku, ide jahil muncul di kepalaku yang sangat cerdas ini. Tapi sepertinya dia menyadari apa yang akan aku lakukan, Mas Arka sudah menjauhkan jaraknya dariku yang sudah mengulurkan tangan ke arahnya.
"Mas, aku mau dipeluk dong!" dia mengkerurkan keningnya, "Ayolah Mas, mas ngak pernah meluk Raana."
Ya Allah, jablay banget sih aku.
"Sudah wudhu." ucapnya
"Masa gitu Mas, istrinya loh yang minta ini!" aku berjalan ke arahnya dia langsung menghindar "Mass..."
Hahaha.... Sangat menyenangkan menjaili Mas Arka seperti ini, aku terus mendekatinya sampai kami mengelilingi kamarnya.
"Ma-akhh!"
Bruk
Aku terkejut karena tubuhku jatuh di atas kasur, Mas Arka tepat di atasku. Aku bisa merasakan jantungku berdetak dengan sangat cepat, kami tidak pernah sedekat ini sebelumnya.
Aku yakin wajahku sangat merah sekarang, terlebih Mas Arka menatapku dengan lekat dengan jarak yang sangat dekat. Aku hanya bisa menelan ludahku lamat lamat, suara serak Mas Arka membuatku gugup.
"Lain kali, tidak sekarang!"
Setelah itu dia menegakkan berdirinya, merapikan kembali pakaiannya. Dia melihatku sebentar sebelum kembali ke kamar mandi, sepertinya dia akan mengambil air wudhu lagi.
Aku mengatur nafasku yang tidak beraturan karena gugup, menatap luruk ke arah langit langit kamar. Hah.... Salahku yang menjailinya, tapi aku tidak menyangka dia menyerang balik dengan telak.
Oh, TENANGLAH JANTUNG!