
Menurut kalian masih jaman gak sih perjodohan itu?
Tentu saja masih, buktinya banyak novelis yang mengangkat tema perjodohan untuk karya mereka kan?
Juga di lingkungan sekitar masih banyak orang tua yang memilih jalur perjodohan untuk memilih pasangan terbaik untuk anaknya meski semua tidak berakhir bahagia. Mereka menjodohkan anak mereka dengan berbagai alasan
ya... Salah satu pelaku yang menjodohkan anaknya adalah bokap nyokap gue!
Aku yang sore itu seperti biasa saat tidak kuliah akan makan cilok dengan santai buatan mamang yang setiap sore lewat depan rumah ku. Aku yang lagi asyik makan tersedak karena pernyataan orang tua ku yang tiba tiba mengatakan kalau aku dijodohkan dengan cucu sahabat kakek, yang notabenya kakek ku itu sudah meninggal sejak aku masih di bangku SD, untung saja di samping ku tersedia air minum karena kalau tidak aku bisa bisa menyusul kakek yang sudah meninggal, karena tersedak
kan tidak lucu!
Kaget? IYALAH! Siapa yang tidak kaget mendengar berita dadakan seperti itu, tapi sehubung aku bukan anak drama, jadi aku tidak histeris menjerit tidak jelas.
"Ganteng gak Ma? Tajir gak? Kalau gak adek tidak mau"
Itu pernyataan yang pertama kali aku tanyakan dan kalian tahu bagaimana reaksi nyokap Aku?
Syok
"Dek, Mama gak pernah ngajarin kamu jadi perempuan yang mandang fisik dan isi dompet loh"
Ya... Aku mah realistis saja ya, Aku gak mau rugi!
Kalau Aku dijodohkan sama yang kurang berduit dan kurang tampan kan berabe, mana Aku harus terpaksa nikah. Kan Aku yang cantik nan imut seantero indonesia ini bisa rugi.
Hahahaha.... Iye tau, Aku memang punya penyakit over percaya diri, kenapa? Tidak suka? ya udah bodoh amat.
Aku bukannya tidak suka dua jenis laki laki seperti itu, dulu Aku pernah pacaran sama laki laki kurang tampan dan kurang berduit, tapi apa yang terjadi? Aku di selingkuhi.
Di SELINGKUHI, catet!
Makanya sekarang Aku gak mau jadi orang bego lagi yang sangat mengandalkan cinta, setidaknya kalau Aku pacaran sama yang ganteng dan diselingkuhi gue gak bakal dengar kata 'cowok modelan orangan begitu lo pacarin, makanya jangan mau mau-an jadi cewek' mending Aku di cap cewek yang mandang fisik ketimbang cewek mau mau-an, berasa gimana banget gitu... Aku juga gak mau pacar yang mesti Aku yang belanjain... intinya sekarang Aku gak mau rugi.
Apalagi perjodohan kan bertujuan ke pernikahan, ke jenjang yang lebih suci.
"dek, gak boleh gitu ah!"
Aku mengedikkan bahu melanjutkan makan, ah... Tiba tiba rasa cilokku yang tadi enak buanget sekarang terasa hambar. Aku meletakkan piring di meja samping ku kemudian melihat nyokap
"Ma, ini bukan soal mandang fisik dan matre, adek hanya realistis" Aku melipat kaki duduk bersila menghadap Mama "Gini ya Ma, disini kan adek dijodohin, kalau misalnya dia kurang tampan kurang tajir.. Mama mau lihat anak mama yang cantik, imut, menggemaskan dan penuh pesona ini kelaparan? Kan orang tua harus memilihkan yang terbaik untuk anaknya" cerocos ku yang langsung di geplakan cantik dari Mama "aw... Kok mukul sih, Ma?"
Aku mengelus lengan ku yang kena pukul Mama, suer pukulan emak ku sakit banget padahal tangan beliau kecil tapi saat mengenai lengan rasanya berat banget kayak beban hidup anak pertama.
"tapi adek benarkan?"
"kamu bisa nilai kalau kamu ketemu nanti." setelah mengatakan itu Mama meninggalkan Aku dan masuk ke dalam rumah
Aku menatap bokap yang dari tadi hanya diam, yep.. Bokap gue pendiem banget.
Aku menggaruk samping leher ku yang tiba tiba gatal.
"Ma... Kapan dia mau datang?" Aku berteriak karena beliau sudah ada dalam rumah.
Tak lama nyokap menongolkan kepalanya di pintu membuatku kaget
"besok malam, Awas saja kamu kabur!" Ancam Mama dan Aku hanya bisa meringis, tatapan Mama lebih sadis dari tatapan Susana! "Dandan cantik, jangan malu maluin"
"Apa?" nyokap melotot ke arahku
"besok adek ada jam sore, jadi pulangnya pasti agak malaman"
Mama mengernyit "jam berapa pulangnya?"
"ya malam, tujuh delapanan lah. Kalau mama tidak percaya Mama bisa telfon dosen adek!"
Aku langsung menyodorkan hp yang dari tadi Aku anggurin ke arah Mama.
Aku pikir Mama tidak akan mengambil hp ku tapi Mama langsung merampasnya dan menanyakan kontak dosen ku yang mau tidak mau Aku kasih tau.
Setelah memastikan nyokap mengembalikan hp ke ku
"ngak percayaan amat" Aku bersungut.
"pokoknya besok selesai kuliah langsung pulang!" titahnya
Aku hanya menghela nafas dan mengiyakan saja, toh bakal dosa kalau Aku nentang perintah nyonya rumah yang bahkan bokap ku pun tidak berani.
''Ayah"
bokap melihat kearah ku dengan ekpresi bertanya, ya tuhan... Moga saja laki gue kagak kayak bokap ku yang seperti patung
"Ayah kenal tidak seperti apa orang yang mau dijodohin sama Adek?" bokap ku hanya menganggukkan kepalanya "terus? Cakep gak? Umurnya... umur?"
Bokap baru akan membuka mulutnya suara Mama sudah terdengar dari dalam
"Ayah jangan spoiler!" Ayah langsung mingkem lagi
Memangnya emak itu kek dukun atau hanya emak ku?
aku hanya bisa misuh misuh tidak jelas, aku penasaran su'er deh!
"Ayah..." aku menggoyangkan lengan Ayahku tapi beliau tetap diam "ih Ayah mah tidak asik, sama anak kok begitu banget"
"Mama kamu marah!"
Aku langsung cemberut, karena kesal Aku memilih masuk ke dalam rumah naik ke istana ku yang tidak lain adalah kamar tidur.
Baru saja kaki naik satu anak tangga suara Mama kembali terdengar dari dapur mau tidak mau gue nurut
Dosa kalau ngak nurut, bukannya cuman itu Mama kalau ngomel bisa berjam jam, kekuatan super emak emak memang.
"tolong dek, gorengin ikan Mama dulu" tunjuknya pada wajan "Mama kebelet"
"bi Sumi mana?" tanyaku, rumah ini punya asisten rumah tangga kan? Tapi entah kenapa Mama selalu masak sendiri dan lebih nyebelinnya kalau dia juga menyeretku
"Bi Sumi lagi sibuk dibelakang kamu kerjakan itu" Itu kalimat terakhir Mama sebelum hilang ke dalam WC.
Btw Aku sudah bisa masak dari SMP, thank to my mom, beliau selalu mengajak ku untuk belajar tapi saat Aku sudah bisa malah Mama jarang menyeret lagi dan bilang kalau Aku sudah mempelajarinya dengan baik jadi tidak bakal kagok ke dapur di masa depan.
Beliau selalu berusaha mengajarkan Aku hal hal yang bakal berguna untuk kebaikan ku, itulah salah satu alasan kenapa aku tidak bisa menolaknya meski dia sangat cerewet.