My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
28. Mantan



Seperti keinginanku, malam ini kami makan di luar, lebih tepatnya aku yang menyeret Mas Arka. Kami berdua pergi ke tempat kerja Laura, kali aja dapat gratisan.


Hahaha... Bercanda, Laura hanya pekerja paruh waktu, aku juga tidak mau gajinya di potong untuk membayar makananku. Biar bagaimana pun saat ini dia menghidupi dirinya sendiri, beda denganku ada Mas Arka yang bisa nyariin duit.


"Wih cakep juga!"


Ini pertama kali aku datang ketempat kerja Laura, kesan pertamaku adalah tempat ini instagramable. Oh ya, yang membantu Laura mencari pekerjaan adalah Mas Arka, dia merekomendasikan tempat ini.


"Mas sering ke sini?"


"Iya."


Aku mangguk-mangguk paham.


Apa yang kami bicarakan siang tadi, entah sadar atau tidak, kami tidak membahasnya lagi. Sepulang dari kampus, aku beberes, mencuci terutama pakaian yang Mas Arka pakai semalam, dia seperti dari kubangan sapi saja sangking kotornya bajunya. Malamnya kami Mas Arka membawaku ke restouran, setelahnya baru ke tempat ini.


Jadi tidak ada yang membahasnya.


"Dari mana Mas tau tempat ini?" aku menopang dagu di meja.


"Punya teman!" oh pantas!


Aku memicingkan mataku "Perempuan atau laki laki?"


Dia yang hendak meninggalkan tempat duduknya menoleh dan menjawab "Laki-laki!"


"Mas!" dia melihatku lagi, aku menyengir "Aku mau cappucino, Lau-lau tau seleraku kok!"


Mas Arka dan meninggalkan mejaku, dia menuju tempat Laura.


Sambil menunggu Mas Arka, aku mengedarkan pandanganku untuk menikmati nuansa kafe ini. Untuk orang orang yang sangat suka memposting foto ke sosmed, tempat ini sangat rekomendasi banget.


Aku terus mengitari kafe dengan pandanganku, sampai akhirnya berhenti ke objek yang aku kenal. Di salah satu kursi yang tidak jauh dari tempat aku duduk, ada sepasang pria dan wanita tengah berbicara mereka tanpak bertengkar.


Aku menopang dagu ku masih melihat ke mereka, tanpa sadar aku mencibir. Ckckck... Bagaimana bisa mereka bertengkar di tempat umum begini? Sama sekali tidak tau tempat.


"Liat apa lo? Serius banget!"


Laura muncul di sampingku, dia meletakkan pesanan di depanku. Aku spontan melihat ke belakang Laura, tapi Mas Arka sudah tidak ada.


"Kalau lo nyari pak Arka, beliau bicara dengan manager gue di ruangannya."


Kok tidak bilang sih?


"Ngapain lo disini? Tidak kerja?" tanyaku saat Laura malah duduk di depanku, menghalang pemandangan saja.


"Suami lo meminta gue nemenin lo, manager gue juga sudah ngizinin," dia menopang dagunya "Lo liatin apa sih?"


Aku memberi kode dengan lirikan mata, menyuruhnya melihat ke arah jam satu tanpa harus bersuara. Tanpa mencolok Laura melihat ke tempat yang aku maksud, tapi dia cepat cepat melihat ke arahku tak lama kami terkekeh bersama.


"Mantan bang*at lo!" ucapnya padaku


Aku memutar bola mata jengah, menyesap minuman yang tadi disajikan.


"....LO PASTI MASIH KONTAKAN SAMA RAANA! GUE KURANG APA SIH DARI RAANA!"


pufft...


Akhh... Panas!


Aku mengambil tisu yang di sodorkan padaku, aku baru saja tanpa saja menyembur saat mendengar namaku. Wahh.... Sinting kali ya, bagaimana bisa mereka malah membawa bawa namaku segala?


"Lo masih kontakan, Ti?" tanya Laura berbisik, aku mendelik "Gue nanya doang Tutiii..."


"Gila kali gue kalau masih mau kontakan sama yang ono!" aku bergidik, "Kenapa juga mesti kontakan sama orang begitu, lagian ada manusia tampan di rumahku."


"Lo benar!" ucap Laura setuju dengan ucapanku.


Ringgo—dia mantan ku, terlihat sedang membujuk pacarnya yang dulu adalah selingkuhannya. Wajahnya merah, aku yakin dia sedang menahan marah atau malu kami tidak tahu.


Tapi sepertinya mereka menyadari sesuatu, mereka berdua melihat ke meja kami dan


plak!


Suara tampar yang mengenai wajah Ringgo menggema di ruangan, aku yang mendengarnya saja bisa meringis bagaimana dengan orang yang mendapatkannya. Percayalah.... Perempuan yang sedang emosi dan kecewa itu tenaganya tidak main main, seperti semua emosi mengalir ke telapak tangan.


Aku mengangkat alisku saat Mira (bukan tante Mira teman Ibu mertuaku tapi nama mereka memang sama) menunjukku, otomatis orang orang yang ada di sana menatapku. Ck... Padahal aku cuman diam, memang susah jadi orang cantik


akhh... Lupakan itu, sekarang ini rasanya aku ingin menarik rambutnya, aku sama sekali tidak ada hubunganya! Rasa jengkel kali ini lebih besar dari pada saat aku tahu mereka berkhianat di belakangku.


Sue!


Mira menggeplak mejanya dan berjalan ke arah meja kami, dia pikir aku takut! Ngak mbak ya!


"PEREMPUAN APA LO HAH? LO SELINGKUH KAN SAMA COWOK GUE? JAL*NG GATAL, PELAKOR!"


Plak!


"LO!"


Dia menunjukku, ya aku yang menampar!


"Gue bukan cermin lo! Ngak sudi gue memungut barang yang sudah gue buang."


"MUNA LO, LO PASTI SELINGKUH SAMA RINGGO! PELAKOR! NGAK MUNGKIN LO KESINI KALAU BUKAN BUAT NGEJA-"


"RAANA SUDAH MENIKAH!"


Aku kaget sumpah deh, Laura tiba tiba berseru dari sampingku. Matanya menatap tajam Mira yang juga kaget, pasalnya anak ini tidak pernah begini.


"Lau?" aku terkejut melihatnya berdiri di depanku menatap langsung Mira


"Raana bukan lo yang suka merebut milik orang lain, jangan sama kan kelakuan murahan lo dengan Raana, lagian kenapa Raana ada disini apa dia harus laporan sama lo? Dia disini dengan suaminya, ngak penting juga ngintilin mantan yang selingkuh."


wow


Aku rasanya ingin bertepuk tangan mendengarnya, tapi aku mengurung niatku. Aku menoleh ke Ringgo yang hanya diam, lalu ke Mira


"Ngak usah bawa nama gue dalam hubungan lo berdua," aku kembali menatap Mira "Gue ngak minat sama cowok lo!"


"Raana!"


Aku berbalik begitu suara serak menyebut namaku, Mas Arka terlihat berjalan ke arahku dengan ekspresi datar. Kali ini aku merasakan perbedaan, entah kenapa aku merasa Mas Arka sedang marah.


Aku menelan ludahku tapi dengan cepat tersenyum, aku berlari pelan ke arahnya kemudian memeluk lengannya. Dia menatapku sebentar sebelum menatap lurus ke pasangan di depan kami, dia mengatupkan bibirnya erat erat.


"Mas?"


"Ada apa?" tanyanya dengan nada pelan. Aku cemberut dan menunjuk dua orang du depanku.


"Masa ya Mas, aku dituduh selingkuh sama dia?" aku melotot ke Ringgo dan Mira lalu melihat Mas Arka lagi "Mereka kira aku kesini karena ngintilin mereka, orang kita kemari mau minum sekalian tengokin Laura. Memang cuman mereka yang bisa ke tempat bagus ya?"


Aku mendengus masih kesal, Mas Arka yang dari tadi hanya menatapku saat berbicara mengangkat kepalanya. Dia menatap Ringgo dan Mira


"Sudah dengarkan?" tangannya meraih tanganku "Jangan sangkut pautkan masalah kalian dengan istri saya."


Aku mengulum bibirku, wajahku rasanya panas mendengarnya. Mas Arka baru saja mengatakan 'Istri saya' kan? Akhh... Kenapa aku bisa senang hanya karena itu.


"Gue ngak minat sama pacar orang," cibirku "Ringgo, gue cuman mau ngasih saran, kalau lo sudah jenuh sama pasangan lo, selesein dulu baru ngambil cewek lain. Dikhianati itu sakit tau!" aku meraih lengan Mas Arka "dan buat lo Mir, saat lo milih laki-laki yang saat itu masih sama orang lain, harusnya lo sudah mikirin kalau suatu hari nanti ada cewek lain juga."


Aku tidak peduli mereka mendengarkanku atau tidak, aku hanya ingin mengatakannya saja.


"Gue sama cowok lo ngak ada apa apa, gue sudah selesai dari hari lo berdua ketahuan sama gue, Lau dan Ian. Jadi kedepannya jangan bawa bawa nama gue lagi, lagian gue sudah menikah sekarang."