My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
13. Adrian



Aku berjalan ke arah kasur di mana Mas Arka tengah membaca buku, mungkin karena merasakan aku mendekat dia mengangkat wajahnya sehingga tatapan kami bertemu. Aku langsung naik ke atas kasur, dia menoleh ke arahku dengan kening mengkerut.


Ya mungkin dia merasa sedikit aneh denganku, biasanya aku sama sekali tidak berani mendekatinya. Tapi, kali ini berbeda, aku harus bertanya padanya.


"Mas!" dia hanya menatapku menunggu aku mengatakan apa yang aku inginkan, "Mas dekat sini, ada kosan untuk putri?"


Dia mengkerutkan keningnya, tangannya menutup buku yang dia baca.


Gila!


Aku baru memperhatikan mata Mas Arka, warnanya sedikit hitam dan tajam, pantas saja mengerikan kalau melihat orang lain. Tapi Mas Arka pakak kacamata, terlihat berwibawa dan ganteng.


"Kamu mau pindah?" tanyanya


hah?


Aku langsung menggelengkan kepalaku, mana mungkin aku berani pindah tanpa izinnya.


"Bu-bukan aku, Mas. Laura mau ngekos, tapi nyuruh aku bantuin nyari." Aku menjelaskan, dia mengangguk sepertinya mengerti "Tapi aku tidak terlalu tempat di sekitar sini, makanya aku tanya ke Mas."


"Oh." dia membuka kembali bukunya untuk dibaca.


Melihat itu membuatku kesal, dengan memberanikan diri aku menggoyangkan tangannya yang memegang buku, gila tangannya keras banget. Tidak heran sih, kata Ibu mertuaku, Mas Arka itu dulu sempat belajar di kemiliteran.


"Mas... Bantuin! Laura ngak mau pulang ke rumah, sekarang malah dia di rumah Mama."


Mas Arka menutup bukunya lagi, dia menatapku "Kenapa?"


"Apa?"


"Kenapa dia mau keluar dari rumahnya?" tanya Mas Arka dengan suara pelan, tapi terdengar tegas.


"Karena dia tidak bisa tinggal dengan Ayah sambungnya," dia mengkerutkan keningnya. Aku menggigit bibirku, haruskah aku menceritakannya? "Ya itu... Dia tidak cocok dengan Ayah sambungnya. Ayah kandungnya juga jauh, pokoknya gitu deh, Mas."


Dia masih diam..


"Mas, Mas ada tau ngak?" aku kembali bertanya "Mas?"


Eh?


Mas Arka tiba tiba menarik tanganku, mendorongku untuk berbaring. Dia menarik selimut dan menutupiku, eh? Kenapa?


"Tidur!"


Aku membuka selimut hanya untuk mengintipnya, "Mas?"


"Tidur!"


"Tap-MAS!" aku berseru saat dia tiba tiba menutup mataku dengan tangannya yang besar, meski tujuannya hanya wajahku tapi tangannya yang besar bisa menutupi satu wajah.


"Besok aku carikan!" Mas Arka menjawab dengan nada suara yang pelan "Tidur!"


Karena tidak mau membuatnya kesal, lebih baik menurutinya saja. Lagian aku juga sudah sangat mengantuk, terlebih besok ada yang ingin aku lakukan.


****


PLAK!


Suara tamparan terdengar dengan jelas di kelas, aku bisa melihat dengan jelas Adrian terkejut. Sekarang apa peduliku? Dia menyakiti temanku dan aku melakukan apa yang harusnya aku lakukan, jangan remehkan kemampuan tanganku! Begini begini aku pernah menang lempar lembing saat SMA.


"Na, lo ap-"


"Lo yang apa apaan?" Aku memotong ucapannya "Apa maksud sifat breng*ek lo hah?"


Adrian diam sebentar sambil menatapku, tak lama dia menghela nafas dan duduk di bangku "Lau-Lau sudah cerita ya sama lo?"


Aku tidak menjawab, dia menatapku intens dengan raut terluka. Apa apaan itu? Dia pikir aku akan kasihan padanya? TIDAK AKAN!


Aku bisa mendengar suara berisik dari samping, tapi aku tidak peduli. Urusanku dengan cowok yang menundukkan kepalanya di depanku ini, meski kejadiannya sudah lama sih


Tapikan? Tapi... Laura masih sakit hati sampai sekarang! Dan aku mau maunya membuat mereka dekat lagi, aku yang paling tidak berguna sebenarnya.


"Jangan minta maaf sama gue," aku juga duduk di kursi "Lo kok tega banget sih, Ian? Ini Laura."


Dia mengangkat kepalanya menatapku "Dia nolak maafin gue."


Syukurin... Ingin sekali ku teriakkan di depan mukanya.


"Sudahlah, kita bicara nanti saja." aku sadar kami sekarang jadi tontonan teman teman yang lain.


Mudah mudahan saja, tidak ada gosip yang lain yang bermunculan tentangku. Soalnya semenjak aku dan Pak Arka menikah, banyak banget gosip bermunculan, terlebih banyak banget yang menuduhku pelakor dan Pho.


Selepas mata kuliah berakhir, aku menyeret Adrian ke tempat dimana sekiranya tidak banyak orang, tapi tidak tertutup juga agar tidak di salah pahami orang lain. Adapun Laura, dia tidak masuk kuliah, Mama sudah menelfon kalau semalam dia demam.


Fisik Laura memang sedikit lemah, tapi beban pikiran juga salah satu penyebabnya.


"Lo ngapain coba jadiin Laura bahan taruhan?" Aku bertanya dengan serius, Adrian tidak menatapku karena menatap ke atas langit.


Dia menautkan tangannya, terlihat kalau dia juga tertekan. "Lo tau sifat gue pas SMA, gue tidak suka ditantang!"


"Dan jadiin Laura mainan?"


Dia tersentak seolah yang aku katakan sangat kejam, padahal perlakuannya ke Laura yang sangat tidak benar.


"Gak gitu, Na!"


"Terus?" Dia diam "Ian, sahabat lo bukan cuman gue, tapi Laura juga. Tega lo lakuin itu ke Laura? Mentang mentang dia suka sama lo, terus lo mainin dia?"


"Gak gitu, Na!" dia berdiri menatapku, dia menggaruk kepalanya "Gue sayang sama Laura, sebagai perempuan bukan sahabat oke."


"Terus kenapa lo lakuin itu? Lo tau berapa lama dia nangisin lo saat kalian putus?" aku mengangkat ketiga jariku "TIGA MINGGUN IAN! Tega lo!"


Dia berjongkok dan menggaruk kepalanya "Gue tau, gue breng*ek, tapi waktu gak bisa di ulang!" dia mendongak menatapku "Gue sayang, Na, sama dia tapi cara gue salah, gue tau itu. Tapi saat itu, gue benar benar masih kemakan ego, mereka bilang gue tidak akan berani jadiin sahabat gue pacar, itu menyentil harga diri gue."


"Dan Laura yang lo sakitin?"


Dia mengangguk "Gue tidak bermaksud, saat gue mau jujur ke Laura dan ngajak dia pacaran dengan cara yang benar, gue ketahuan oleh Laura."


Aku menghela nafas panjang, ya dia mengenal karakter Adrian dengan baik. Dia memang tipe yang baik sama semua orang, tapi bukan tipe sabaran, dia tidak suka harga dirinya disentil.


Aku memilih duduk di bangku, Adrian masih saja berjongkok dengan ekpresi menyedihkan. Sebenarnya aku kasihan melihatnya, tapi mengingat bagaimana Laura menangis dan tidak bercerita membuatku marah.


"Tapi kenapa Laura? Teman cewek lo kan banyak!"


"Sahabat gue cuman lo dan Laura!" bener juga ya! "Gue ngak mungkin ngajak lo, gue ngak mau patah tulang," itu benar aku pasti memukulnya "Dan lagi, gue suka sama Laura."


Aku menarik tangannya untuk berdiri, sama seperti Laura, Adrian juga sahabatku. Aku tidak bisa melihatnya susah, ya begitulah.


"Lo harus minta maaf dengan benar sama Lau-Lau."


"Gue tahu," dia menghela nafas panjang, sebenarnya dari tadi matanya berkaca kaca makanya tidak tega memarahinya lama lama.


"Laura mau keluar dari rumahnya," Adrian kaget, dia juga tahu situasi keluarga Laura dan keluargaku. "Sekarang dia ada di rumah gue."


"Dia bakal pindah ke mana?" Aku mengedikkan bahu, "Kok lo gak tau?"


"Soalnya aku baru minta tolong sama Mas Arka buat nyariin dia kosan."


Dia diam sebentar "Memang dia berantem soal apa sama keluarganya."


Aku menceritakan apa yang Laura ceritakan padaku, di tengah aku bercerita aku bisa melihat perubahan ekspresi Adrian.


Bakh


Adrian menendang bangku di depannya setelah aku bercerita, Aku tahu dia kesal makanya aku biarkan dia. Dari dulu dari awal berteman, tidak ada diantara kami yang menyukai ayah sambung Laura.


"Memang lebih baik dia keluar dari rumah sampah itu." ucapnya, aku hanya bisa meringis saat mendengarnya.


Apanya yang rumah sampah? Rumah Laura sangat besar dan termaksud orang berada, tapi saat mau dibandingkan dengan Adrian... Wajar kalau dia mengatakan itu.