My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
22. Tante Nunu



Mas Arka memarkirkan motornya di samping rumah, aku bisa melihat dari jauh kalau rumah sudah ramai. Aku dengan cepat turun dari motor, masih dengan mata tetap terfokus ke dalam rumah.


"Kayaknya tamunya Ibu sudah datang," beritahuku saat Mas Arka berdiri di sampingku, aku mendongak menatap Mas Arka "Tante Mas itu orangnya bagaimana?"


Dia mengedikkan bahunya "Aku jarang bertemu."


Aku mangguk mangguk, aku sudah mendengar kalau Mas Arka memang tidak tinggal bersama keluarganya sejak kecil. Aku menatap Mas Arka yang lagi lagi meraih tanganku, menggenggamnya sambil berjalan menuju rumah


Suamiku tidak kesurupan kan?


"Assalamu'alaikum!" salamku begitu masuk melewati pintu


Semua yang ada di ruang tamu langsung melihat kami, karena merasa kurang nyaman, aku mendekat ke arah Mas Arka. Beberapa orang asing melihat kami, terlebih tante tante gendut yang duduk di samping Ibu, tatapannya yang sinis ke arahku membuatku kurang nyaman.


"Wa'alaikum salam." jawab mereka


"Sini sayang!" Ibu mertuaku melambai ke arahku, memintaku untuk mendekat "Nah, ini istri Arka."


Aku tersenyum ke arah mereka semua.


Ibu mertuaku memperkenalkanku pada mereka, pun sebaliknya Ibu mengenalkan mereka padaku. Tante gendut yang ku maksud tadi itu tante Nunu, tantenya Mas Arka. Sedangkan tante yang baju kuning itu namanya tante Mira, sedangkan cewek yang duduk di sofa single itu namanya Nila, katanya dia anak tante Mira.


Tante Mira itu sahabatnya tante Nunu, menurut apa yang di katakan ibu mertuaku dia kemari untuk jalan jalan. Beliau juga teman sekelas dari Ibu, mereka juga sempat tetanggaan dulu. Tapi entah ini insting perempuan atau apa, aku merasa mereka punya tujuan lain selain hanya untuk berkunjung.


"Kecil ya!" cetuk Tante Nunu setelah melihatku atas bawah.


Apa maksudnya kecil coba? Aku menunduk menatap diriku, masa iya dadaku? Meski badanku kecil tapi aku cukup bangga dengan dadaku, ukurannya tidak kecil kecil amat. Laura malah iri melihatnya, tapi kalau urusan badan... Ya aku memang agak kecil tapi aku tidak pendek.


Bapakku kan pasukan Militer, menurut Nenek aku mewarisi gen Papi. Jadi aku kecil dari mananya?


"Berapa umur kamu?"


" Dua puluh dua tahun, Tante. Mau dua puluh tiga." jawabku, mempertahankan senyum manisku.


Dia mendengus, meski sangat kecil tapi aku bisa mendengarnya.


"Muda ya," aku tersenyum, ingin sekali aku membalasnya tapi sudahlah "Jauh banget dong sama Kakak!"


"Hanya delapan tahun, Tante. Ngak jauh sama sekali." ucapku


Ibu mertuaku mengusap punggungku tanpa di ketahui siapapun, sepertinya dia tau kalau aku kurang nyaman dengan pertanyaan dan pernyataan sepupunya itu.


"Delapan tahun? Itu jauh, padahal kamu masih kecil begini." dia meraih teh dan menyesapnya, dia melihat ke arah Nila "Sayang jangan malu malu gitu, itu Arka, kamu tidak lupa kan? Dulu kalian selalu bermain bersama."


HAH! Apaan maksudnya itu coba?


Aku melirik Mas Arka yang memang selalu diam, dia hanya duduk tapi melihat ke arah Nila saat tante Nunu bicara banyak hal. Apaan itu? Begitu dia menoleh ke arahku, aku langsung membuang muka ke arah lain.


Entah kenapa perasaanku tidak suka, padahal baru saja dia mengajakku jalan. Ya bukan mengajak juga sih karena aku yang merengek mau ikut, tapi tetap saja... Kenapa coba dia liat liatin cewek lain.


"Berapa lama kalian mengenal sebelum menikah?" tanya Tante Nunu, keliatan sekali maksud pertanyaannya.


Aku tersenyum "Mas Arka dosen di kampus ku, Tante. Kita kenal di kampus." Dia hanya ber'oh saja.


"Dari Raana umur delapan tahun."


Aku menoleh ke Mas Arka yang tiba tiba menyaut, apa maksudnya coba?


Apa kami pernah ketemu sebelumnya? Aku usia delapan tahun? Hah? Kapan itu? Saat usia delapan tahun aku kan sudah tinggal di perumahan militer tempat di mana Papi bertugas, perumahan kawasan kamp militer.


KENAPA AKU TIDAK INGAT??


"Jadi kamu sudah kenal Raana dari kamu remaja, Arka?" Mas Arka menganggukkan kepalanya, Beneran?


Tapi melihat ekspresi Mas Arka yang lempeng seperti biasa, aku yakin dia mengatakan itu hanya untuk membelaku. Iya pasti hanya karena itu, biar bagaimana pun daerah tempatku tinggal tidak bisa ada yang sembarangan masuk.


Dulu aku tinggal tidak jauh dari daerah berkonflik, siapapun yang masuk harus melewati pemeriksaan yang ketat. Bahkan kami yang anak anak pun tidak diizinkan untuk bersekolah di luar area militer, adapun pendidikan kami, mereka membangun sekolah khusus anak anak pasukan yang gurunya di rekrut langsung dari kamp militer itu. Katanya sangat berbahaya kalau kami sekolah di luar, terlebih kalau identitas kami ketahuan.


Karena itu... Aku tidak terlalu yakin dengan apa yang dikatakan Mas Arka, kecuali kalau dia memang bagian dari militer itu sendiri. Tapi apa mungkin? Saat aku umur delapan tahun, Mas Arka baru enam belas tahun dan itu belum bisa masuk pasukan. Dan saat itu Siswa yang masih pendidikan, tidak diizinkan bertpartisipasi dalam tim.


Kenapa aku tahu banyak? Karena saat itu papi sudah menjadi kapten di timnya, aku beberapa kali bertemu dengan anggota Papi dan tidak ada yang usia enam bel-


Eh!


Aku melihat Mas Arka, memperhatikannya baik baik. Dia tidak mungkin orang itu kan? Prajurit yang di rumorkan itu kan? Mustahil. Ada dua prajurit dalam rumor, tapi tidak mungkin Mas Arka kan?


Tau ah!


"Tidak selama kamu kenal Nila kan?" apasih nih tante tante, ngotot banget.


"Ekhem, Mbak Nunu, Mbak Mira pasti capekkan? Aku sudah siapin kamar, kalian bisa istirahat." Ibu memberi isyarat untukku berdiri "Kebetulan kami sudah menyiapkan makan, kalian pasti lapar. Nak Nila ayo makan terus istirahat dulu."


Nila tersenyum "Iya tante." jawabnya dengan suara lembut.


Syiit... Seperinya dia tipe yang sangat jauh beda denganku, aku tipe bar bar dan agak tomboy dari kecil.


Insecure boleh ngak sih?


Dari cara jalan terlihat sangat anggun dan berpendidikan, dari senyum tipisnya, aduh... Aku saja yang perempuan mleyot melihatnya.


"Sayang, kamu simpan dulu barang bawaanmu ke kamar." bisik Ibu mertuaku "Biar Ibu yang ngurusin tante Nunu, kamu pasti kurang nyaman kan?"


Aku hanya bisa tersenyum kecut, kalau tante Nunu bukan orang tua, sudah aku balas dia. Tapi aku tidak mau mempermalukan ibu mertuaku, terlebih kalau aku bersikap kurang ajar orang tua ku lah yang bakal jadi sorotan. Mereka akan dikatakan tidak becus mendidik anak, padahal mereka sudah mendidikku dengan sangat baik.


"Iya, Ma. Terima kasih."


Aku mengambil tasku dan berjalan ke arah kamar, tapi mataku masih melirik ke dapur sebelum benar benar naik ke atas.