My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
26



Aku mondar mandir di dalam kamar, sesekali melihat jam di hapeku. Mas Arka sudah keluar dari lepas maghrib dan belum kembali sampai sekarang, padahal kami berencana akan pulang jam sembilan dan sekarang sudah hampir setengah sebelas.


Kemana perginya Olaf snowman ku?


Aku kembali ke luar kamar, selalu seperti ini. Sejak menikah dengan Mas Arka, asal dia belum pulang saat malam, pasti aku juga akan kesulitan untuk tidur. Biasanya kan yang seperti itu hanya untuk pasangan lovey-dovey atau memang saling suka, lah kenapa aku juga malah begitu padahal Mas Arka hanya snowman olaf.


"Belum tidur nak?" aku menggelengkan kepalaku saat ayah mertuaku bertanya "Nungguin Arka?"


"Iya Ayah, tidak biasanya Mas Arka pulang lama sekali." jawabku, aku serius cemas sekarang.


Ayah mertuaku hanya terkekeh dan terlihat sangat tenang, dia mengecilkan suara tv dan melihat ke arahku.


"Jangan khawatir, Arka tidak akan apa apa. Dia biasa seperti ini."


Aku hanya tersenyum kecil, kata kata penghiburan itu sama sekali tidak mengurangi rasa cemasku. Aku tidak tahu apa yang Mas Arka dan temannya lakukan di luar sana, tapi mengingat interaksi mereka sebelumnya itu membuatku lebih overthinking


Laki laki tampan sekarang tidak bisa terlalu di percaya, kalian paham kan maksudku?


"Kamu sebaiknya tidur saja, kalian bisa kembali besok subuh."


"Tapi Mas Arka ada kelas besok, Yah!"


"Tidak masalah, sepertinya saat dia kembali pun kalian tetap tidak akan bisa kembali juga, sudah tengah malam."


Aku mengangguk dan memilih kembali ke kamar, aku membaringkan diriku tapi tetap saja tidak bisa tidur, aku juga sudah menghubungi Mas Arka tapi nomornya tidak aktif. Aku tuh tidak bisa tidur tau, wajahnya harus kulihat dulu, melihatnya selamat dari luar barulah aku bisa tidur dengan tenang.


Ugh... Ini dirasakan oleh istri istri di luar sana juga, atau hanya aku? Kalau iya, ini perasaan yang sedikit menyusahkan karena sekarang aku sudah sangat mengantuk.


Merepotkan!


Saat pintu kamar terbuka, aku yang membaringkan diri mengangkat kepala dan melihat Mas Arka masuk. Dia terlihat terkejut melihatku yang masih terjaga, aku langsung cemberut.


"Dari mana? Kenapa hp Mas ngak aktif?" tanyaku sedikit kesal, aku melihat jam di hp.


Jam dua belas malam! Yang benar saja? Pantas saja aku sangat mengantuk sekarang.


"Kenapa tidak tidur?" dia meletakkan ranselnya di samping pintu, dia masih melihatku tapi giliranku yang tidak menjawab.


Dia tidak bertanya lagi, sekarang dia membuka kaos tangan hitamnya sebelum melepas jaket yang juga berwarna hitam. Penampilan Mas Arka sekarang sangat keren, serba hitam seperti penjahat dalam drama, di tambah mata Mas Arka itu tajam jadi tambah tambah deh sangarnya.


Karena sekarang dia sudah di rumah dan terlihat baik baik saja, akhirnya aku bisa tidur kan? Aku kembali merebahkan kepalaku ke bantal, mataku tinggal beberapa watt saja dan sekarang tidak lama lagi akan tidak sadar.


Aku terbangun saat mendengar suara adzan maghrib, dengan cepat aku bangun untuk sholat. Mas Arka sudah menghilang dari sampingku, sepertinya dia sudah ke masjd, tapi kenapa aku tidak di bangunkan?


Selesai sholat subuh, aku turun ke bawah menghampiri orang orang rumah. Kami tidak jadi pulang semalam, mungkin pagi ini karena mas Arka akan ke kampus nanti. Dan aku? Aku juga masih harus ke kampus karena masih banyak yang harus aku urus, padahal ku pikir benar benar tinggal menunggu wisuda.


Tapi aku harus melengkapi semua persyaratan untuk yudisium, kalau tidak aku tidak akan bisa wisuda.


"Pagi!" sapaku pada orang orang di ruang makan.


Ah... Btw tamu-tamu Ibu mertuaku masih ada.


"Kamu bangun pagi sekali ya." ucap Tante Nunu yang malah seperti menyindir, aku hanya tersenyum meski tidak dari hati.


"Semalam Arka pulang jam berapa nak?"


"Dua belas, bu." aku menuangkan air ke gelas "padahal hari ini Mas ada jam pagi."


"Kalian bisa pulang cepat nanti, Mas mu sudah bicara tadi dengan ibu." dia meletakkan piring di meja "Kamu kapan wisuda nak?"


"Sekitar dua bulanan lagi, do'ain ya Bu, yudisium nanti Raana lulus."


Ibu mertuaku menepuk pipiku pelan "Selalu, kamu sarapan dulu."


"Aku tunggu Mas, bu." ucapku, sebenarnya aku hanya tidak biasa sarapan sepagi ini, kemarin aku sempat terkena sakit perut karena sarapan kepagian.


Aku pamit untuk mengambil sesuatu di luar, begitu aku kembali ke dapur, aku menghentikan langkahku setelah beberapa langkah lagi sampai. Aku memilih memutar badan dan bersembunyi di balik dinding


"Kamu itu kelihatan sekali memanjakan menantumu." Aku menggigit bibir bawahku mendengar perkataan Tante Nunu, dasar julit!


"Masa sih? Tapi Raana imut." itu ibu mertuaku.


"Alah percuma imut kalau bangun pagi saja tidak bisa. Masa iya yang bangun duluan suami, tidak kompeten sekali jadi istri." aku mendengus, tapi emang iya sih "kamu juga harus tegas, kalau tidak kamu bisa diinjak injak sama menantu mu. Hadeuhhh... Lagian dari mana kamu dapat menantu yang babat bebet bobotnya tidak jelas! Mending juga Nila, kamu sudah tahu asal usulnya."


"Mbak, babat bebet bobot Raana sangat bagus kalau itu yang mbak khawatirkan. Ayah dan kakeknya adalah pahlawan negara, pekerjaan mereka mulia. Ibunya pun bukan dari keluarga biasa biasa saja, begitupun orang tua sambungnya." Aku mengintip melihat begitu mendengar ucapan Ibu "Dan kalau soal bangun pagi, seharusnya memang suami kan yang harus bangun lebih awal? Suami adalah kepala keluarga, dia yang memang seharusnya membangun kan istri untuk ibadah. Aku tidak tahu sejak kapan prepepsi istri yang harus bangun lebih dulu itu, tapi yang aku tahu suami memang harus bangun lebih awal."


Ughh... Ibu mertuaku memang de bes!


Dan di keluargaku sendiri melakukan apa yang di katakan ibu. Tiap hari Papi akan bangun lebih awal dan membangunkan Mama, setelahnya Mama akan membangunkan ku sementara ayah akan menyiapkan alat sholat karena masjid yang lumayan jauh dari rumah, setiap subuh papi lah yang jadi imam kami.


Jadi teringat saat kecil, saat aku belum dekat dengan Mama, aku selalu kesulitan bangun pagi dan papi akan menggendongku yang tertidur mencuci wajahku sehingga aku bangun karena dingin. Awal menikah, aku memang tidur dengan mereka karena aku takut papi di rebut dan membuatku tidak disayang seperti di dongeng dongeng yang dibacakan nenek sebelum tidur.


Seperti tidak mendengarkan apa apa, aku masuk dengan senyum di wajahku memberikan apa yang tadi aku di suruh ambil di luar ke Ibu. Menempeli ibu mertuaku hanya untuk membuat tante julit itu panas, Hahahaha... Memang gue pikirin kalau dia emosi? ENGGAK!