My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
11. Dosbing Baru



Baru juga sampai, aku sudah melihat perdebatan kedua temanku yang dulu pernah menjalin kasih itu. Sekarang malah memperdebatkan bangku, padahal masih banyak bangku yang kosong.


Memang hanya mau berdebatkan?


Aku mendekati mereka, memisahkan mereka yang masih berdebat. Aku menyimpan tasku di meja bangku itu, mereka langsung melongo.


"TUTII!!!"


"Raana.."


Aku melihat mereka bergantian dan menyeringai "Biar adilkan?Heran, perihal bangku saja kalian perdebatkan."


Adrian tidak mengatakan apa ala lagi, dia memilih duduk di bangku sebelah kiriku dan Laura duduk di sebalah kananku. Aku melirik mereka berdua bergantian, kan enak melihat mereka tenang begini.


"Na," Aku menoleh ke arah Adrian yang memanggil namakuu "Dosbing baru lo siapa?"


"Pak Franz, Pak Arka yang sarankan."


Dia memiringkan kepalanya dengan kening mengkerut, "Kenapa lo mesti ganti dosbing? Kan, gue ngak ada teman di sinisin Pak Arka."


Aku terbahak mendengarnya, memang benar seperti itu. Entah kenapa Adrian adalah mahasiswa yang selalu di sinisin Pak Arka, bahkan dari awal kami melakukan bimbingan padanya.


"Gue juga dulu suka disinisin Ma eh Pak Arka," Hampir saja aku menyebutnya Mas di kampus.


"Tapi sekarang enggak kan? Sudah jadi bini."


Aku hanya mengedikkan bahu dengan pertanyaan Laura, aku memang tidak tahu apa masih akan disinisin atau bagaimana. Aku hanya berharap, dosbing baruku kali ini tidak akan sering menyuruhku revisi.


"Tiii..." kalian tau siapa kan yang manggil, aku menoleh ke arah Laura yang lemas


"Kenapa lo?"


Dia menopang tangannya, memutar pulpen di tangannya "Lo masih bisa ngak sih, gue ajak jalan?"


Apa maksudnya? Apa dia berfikir aku menikah berarti aku terkekang? Hei yang benar saja, selama aku izin aku yakin Mas Arka mengizinkanku.


Mungkin...


Entah kenapa aku mulai ragu dengan diriku, bagaimana jika aku benar tidak diizinkan? Aku pusing tiba tiba, aku takut.


"Memang lo mau jalan ke mana?"


Dia menghela nafas "Pusat perbelanjaan, bajuku habis."


Hahaha... Ada ada saja nih anak, baju bukanlah makanan yang bisa habis begitu saja. Tapi biasanya saat seperti ini, anak ini dalam permasalahan.


Aku menoleh ke arah berlawanan saat ada benda jatuh, Adrian menunduk mengambil dompet dan menyerahkan ke cewek yang sepertinya tidak sengaja menjatuhkannya.


Atau mungkin sengaja? Entahlah tidak ada yang tahu, Adrian cukup terkenal jadi itu mungkin bukan apa apa. Aku mendongak dan tanpa sengaja tatapanku dan tatapannya, tapi dia tiba tiba membuang muka dan menatap sinis


Bloody hell kata Ron sih!


"Buset, sinis amat," itu Laura yang bilang bukan aku, Laura mendengus ke arah cewek tadi, aku tidak berniat menegur Laura untuk bersikap sopan


Toh cewek tadi juga tidak.


Begitu mata kuliah selesai, aku mengumpulkan barang barangku, mengambil tasku dan berjalan keluar. Aku sudah pamit pada dua manusia paling akrab denganku itu, aku akan menemui dosbing baruku setelah sekian hari.


"Ti, lo bisakan nemanin gue?" Laura bertanya saat aku sudah di ambang pintu.


"Kalau gue diizinin, gue bakal kabarin lo kok!" kataku sambil melambai ke arahnya.


Dengan sedikit tergesa, aku menuju ruang dosen. Aku ingin memastikan jadwal pak Franz, ya biar memudahkanku untuk konsultasi skripsi padanya.


Tapi di depan ruang dosen aku melihat orang yang kucari sedang berbicara, dia berbicara dengan Ma- eh Pak Arka juga bu Jessica.


"Siang Pak, Bu!" sapaku pada mereka.


"Siang, kamu sudah datang." pak Franz berucap, aku hanya bisa tersenyum canggung.


Aku melirik pak Arka yang hanya berdiam diri sambil memasukkan tangan ke saku celana, sok ganteng banget sih. Hehe tapi memang ganteng, sayangnya dia es balok.


Adapun sikap ku dan pak Arka, entah sadar atau tidak kami bersikap layaknya sebelum menikah. Saat kami berpapasan aku hanya menyapa sopan dan dia akan menganggukkan kepala, setelahnya kami tidak berinteraksi kalaupun iya, itu pasti urusan mata kuliah dan urusan kuliah lainnya.


"Mana skripsi kamu?" Pak Franz mengadahkan tangannya ke arahku, aku dengan cepat menyerahkannya karena kebetulan memegangnya.


Pak Franz membuka buka skripsiku, wajahnya tidak berubah membuatku sangat gugup. Itu adalah skripsi yang sudah ku revisi puluhan kali, ya berkat Pak Arka sebagai dosbingku sebelumnya.


Deg deg deg


Jantungku berdebar kencang, Pak Franz mengangkat sebelah alisnya, apa ada masalah? Apa aku harus revisi lagi? Mas Danu yang notabenya orang yang selalu mengfotokopy skripsiku, menghafal isinya dan bahkan membantuku merevisinya sebelum di mintai dosbing.


"Bagaimana Pak?" Aku bertanya saat pak Franz mengembalikannya padaku, dia melihat Pak Arka, ada apa ini?


"Sepertinya Pak Arka sudah memintamu revisi habis habisan sebelumnya,"


"Karena isinya sangat berantakan." Pak Arka berkata, Aku hanya bisa meringis mendegarnya, pak Franz tidak tahu saja berapa lama aku harus merevisi judul saja.


Pak Franz tertawa dia melihatku lagi "Skripsimu hanya butuh perbaikan sedikit lagi, aku akan memberitahumu di pertemuan lainnya."


"Terima kasih pak!"


Perasaanku rasanya sangat plong, tidak semuanya karena masih ada perbaikan tapi ini tidak lah apa apa. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih, kemudian pamit setelahnya karena aku sudah sangat lapar sekali.


Semalam aku tidak makan karena sibuk dengan tugasku, pak Arka yang notabenya dosen sama sekali tidak membantu. Semalam dia malah tidak di rumah, dia mengatakan ada urusan di luar entah urusan apa, aku sama sekali tidak bertanya.


Jam lima sore aku sudah di kosan, pak Arka belum pulang karena memang ada rapat sesama dosen sejak jam empat tadi. Karena aku tidak membawa si cantik bersamaku, jadi mau tidak mau aku harus naik ojek untuk pulang, untungnya dekat.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalam," aku menjawab pak Arka dari dapur, aku memang sedang memasak makan malam.


Pak Arka masuk sampai ke dapur, dia menatapku yang memegang spatula karena kebetulan akun menggoreng sosis.


Ya tidak heran sih dia bingung, semenjak tinggal berdua aku memang jarang memasak. Pak Arka yang seorang dosen lumayan sibuk, aku juga sibuk dengan tugas jadi kami seringnya pesan makanan saja.


"Mas mau sesuatu?" Aku bertanya karena dia melangkah masuk.


Dia hanya menarik tangan kemejanya ke bawah siku, mengambil gelas dan berjalan ke dispenser. Padahal tinggal bilang mau minum, sabar Na... Orang sabar di sayang tuhan.


Aku menyiapkan makan malam sementara dia mandi, dia akan bersiap untuk sholat di masjid yang jaraknya tidak jauh dari kosan, seperti biasa kami akan makan setelah sholat maghrib.


"Mas mau yang mana?" Aku mengambil piring nasi dan bertanya padanya, dia baru saja pulang dari masjid.


Dia mengatakan apa yang dia inginkan, aku dengan telaten memberinya. Setelah memberi Mas Arka aku mengambil untuk diriku sendiri.


"Mas!" dia menoleh ke arahku "Itu... Aku dan Laura akan keluar malam ini, apa boleh?"


Dia meletakkan sendok dan mengambil gelas, aku dengan cepat menuangkan air minum ke gelasnya.


"Berdua?" Aku mengangguk "Kemana?"


"Hanya ke kafe tidak jauh dari taman kota, apa boleh?"


Mas Arka tidak menjawab dan kembali makan, kenapa dia tidak mengatakan sesuatu?


"Kalau tidak bisa, aku akan memberitahu Laura untuk membatalkannya."


Mas Arka tidak mengatakan apa apa, sudahlah. Apa yang kuharapkan dari orang sepertinya? Aku akan mengabari Laura setelah makan nanti.


Mas Arka pergi dari dapur, tapi tak lama dia keluar lagi dengan baju santai. Dia mendekat ke arahku, meletakkan beberapa lembar uang ratusan.


"Mas?"


"Tidak lewat sampai jam sepuluh malam."