
Aku membuka mataku, menoleh ke samping Pak Arka sudah tidak ada di sana. Dengan cepat aku turun dari tempat tidur, padahal semalam dia demam tinggi.
Ckckck orang ini!
"Mas!" panggilku
Aku mengikat rambutku sambil berjalan keluar kamar, aku melihatnya di dapur. Dengan cepat aku mendekatinya untuk melihat apa dia sudah baik baik saja, dengan kaget saat tanganku tiba tiba menyentuh.
Hangat!
Aku menghela nafas lega, untungnya semalam dia langsung minum obat. Aku mengambil gelas dari tangannya, sepertinya dia akan minum kopi.
"Mas duduk, biar aku yang buatin!" aku membalikkan badannya dan mendorong punggungnya "Orang sakit ngak usah banyak gerak!"
Dia terlihat enggan, tapi mau tidak mau dia tetap setuju. Dengan cepat aku berbalik untuk menunggu air yang belum mendidih, Mas Arka sudah memasak air di dalam cerek tadi. Sambil menunggu air yang mendidih, aku mengerjakan yang lain, mencari bahan untuk sarapan Mas Arka.
Hanya untuk Mas Arka seorang, aku tidak sarapan.
"Mas ngak sholat subuh?"
"Sedikit lagi."
Aku menganggukkan kepalaku, memang sih mesjid belum adzan. Apa karena sakit ya, jadinya hari ini dia akan sholat di rumah saja? Di luar juga mendung sekali, terlebih sekarang dingin sekali suasana hari ini.
Air mendidih bersamaan dengan hujan turun, aku dengan cepat menyeduh kopi Mas Arka meletakkan di depannya. Setelahnya baru membuat sarapannya, aku hanya membuat pancake untuknya karena tidak ada nasi mengingat semalam aku tidak masak.
Setelah meletakkan beberapa pancake yang jadi, aku mematikan komporku karena Mas Arka memanggilku untuk sholat subuh.
Hehehe... Ini pertama kalinya kami sholat bareng, Mas selalu sholat di masjid soalnya. Ya wajar sih, soalnya laki lakikan memang harus jama'ah di masjid sedangkan perempuan akan lebih baik kalau di rumah saja.
Selepas subuhan barulah Mas Arka memakan sarapannya, aku duduk di depannya dengan menyeret selimut.
Dingin banget wei
"Mas hari ini mau ke kampus? Ngak usah ya! Mas kan lagi sakit, jadi izin saja dulu."
Dia diam
"Mass!"
"Iya"
Aku tersenyum lebar, hehehe.. Tinggal sendirian di rumah itu tidak enak tahu, mendingan cari teman saja dan kebetulan Mas punya alasan untuk tidak ke kampus. Aku menatap keluar, melalui jendela yang ada di dekat tempat masak, kami bisa melihat dengan jelas hujan yang lebat dan sesekali ada guntur.
Enaknya mah tidur lagi ini.
"Mie instan enak juga ini!" tapi ini masih sangat pagi, jadi tentu saja aku tidak akan makan.
Aku melirik Mas Arka, dia masih tampak serius dengan kopi dan pancakenya, terlihat tidak terganggu dengan hujan di luar.
Ah... Suasana hujan mengingatkanku saat masih anak anak, aku dan beberapa anak dalam camp akan keluar rumah dan berahkhir kena marah orang tua kami. Kenangan yang menyenangkan dan dirindukan, untuk melakukannya saat ini.... mending pikir pikir dulu deh
takut masuk angin!
Aku kembali ke kamar, pada akhirnya aku memilih untuk kembali tidur. Adapun Mas Arka, dia sedang membaca buku di sampingku.
Sangat rajin bukan?
Aku menarik selimutku untuk menutupi tubuhku, rasanya dingin sekali dan nanti sepertinya aku tidak perlu mandi lagi deh.
Aku yang hampir tidur tersentak, Mas Arka menarik kakiku. Aku yang kesal melotot padanya, ganggu orang saja.
"Jangan tidur lagi."
Aku kembali menutup kaki dengan selimut "Dingin, Mas, ini mah memang waktu tidur paling enak."
Dia memicingkan matanya, dia menarik tanganku duduk tidak peduli denganku yang protes. Darimana tenaga orang sakit ini?
"Mas, aku ngantuk! Di luar hujan juga kan!" aku masih bersih keras ingin berbaring, tapi lagi lagi tanganku di tahan agar tetap duduk.
"Sudah pagi!"
"Iya tau, tapi kan hujan" aku menunjuk keluar jendela "Noh masih gelap juga. Aku mau baring saja, ngak tidur! Suer deh!"
Dia menggelengkan kepalanya, dosen batu. Karena kesal aku langsung duduk tegak, mendekat padanya untuk mengganggunya, biarkan saja. Siapa suruh mengganggu orang yang mau tidur.
"M...mas?" cicitku
"Hn"
"Tangannya di kondisikan!" aku menepuk tangannya yang melingkar di pinggangku, aku berusaha melepaskan diri tapi berhenti saat mendengar apa yang dia katakan.
"Jangan bergerak, ini pagi!"
"Memang kalau pagi kenapa?" aku masih berusaha melepaskan diri darinya
Puk
Aku kaget saat mendengar buku yang ditutup cukup keras, aku melihat ke arahnya yang sudah melihatku dengan serius. Apa salahku? Aku hanya berusaha melepaskan diri darinya yang memerangkapku di lengannya.
"A..apa?"
Dia menunduk mengetukkan keningnya ke keningku, rasanya lumayan sakit, gila apa ini olaf! Aku mengelus keningku sedangkan dia kembali membuka bukunya.
Olaf kutu buku.
Pada akhirnya aku menyerah, dari pada keningku disentil nantinya, lebih baik aku ikut melihat apa yang dia baca. Tapi baru sekilas membacanya aku sudah mual, semuanya tulisan bahasa jerman yang satu kata pun tidak aku mengerti.
"Itu Mas ngerti semua?" tanyaku
Dia membalikkan lembaran buku "Iya."
Aku mendengus, tak lama aku menunjuk satu kata yang bertuliskan 'frieden' "Ini artinya apa?"
"Perdamaian"
Aku memutar badanku menatapnya "Kok Mas bisa tahu?
"Belajar!"
Menyesal aku bertanya, semua orang juga tahu itu.
"Mas," dia menatapku "Jawab aku dengan jujur! Mas ini katanya tinggal dengan kakek Mas di kamp kan?"
"Iya"
Aku duduk menyila, menyipitkan mata menatap lurus ke arahnya "Mas sekolah di sekolah yang di bangun khusus anak anak prajurit juga?"
Dia diam sebentar sebelum mengangguk, pembohong! Aku tidak pernah melihatnya. Karena lokasi yang tidak memadai, jadinya SD, SMP dan SMA berada di lahan yang sama dan dengan siswa yang tidak seberapa. Saat itu pembelajaran bahasa asing yang ada hanya bahasa inggris, pun dengan SMA, aku tahu karena punya tetangga rumah yang SMA dan aku adalah anak yang rasa ingin tahunya tinggi.
"Mas belajar bahasa asing apa saja?"
"Inggris, jerman, rusia, jepang dan china."
Banyak banget! Aku menyipitkan mata ke arahnya
"Mas bisa semua?"
dia diam sebelum mengangguk, ukh... Tidak bisakah otaknya di pindahkan kepadaku?
"Bisa banyak bahasa tapi malas ngomong, percuma!" cibirku, aku menarik selimutku yang sempat terlepas "Ngantuk banget hujan hujan begini."
"Jangan tidur!" Dia menahanku lagi, ukh... Pak tua ini!
Aku melihat ke bantalku, dia seperti sedang melambai lambai cantik ke arahku, menggodaku untuk tidur lagi. Ohh... Maafkan aku bantal, aku juga ingin memelukmu tapi apalah daya diriku yang harus mematuhi perintah pak Misua.
Tau begini aku akan membiarkan dia ke kampus, mengganggu tidur orang lain saja.
"Mas ngantuk ini!"
Dia meletakkan bukunya di meja, menarikku ke arahnya lebih dekat. Orang ini benar benar tidak bisa di tebak, Mama kenapa menjodohkanku dengan orang aneh sih? Begini kan anak mu jadi kepayahan sendiri, hiks.... Meski aneh dia ganteng juga.
Tau aja Mama aku lemah sama orang modelan Mas Arka, ganteng, badan bagus yang lebih penting tajir. Tapi manusia tidak ada yang sempurna, MAS ARKA PELIT SUARA!
Bisanya bikin anak perempuan deg degan, kayak sekarang ini. Siapa coba yang bisa tenang dipandangi orang ganteng? Padahal dia tau besar jantung hanya lebih sedikit dari kepalan tangan, kalau copot gimana?
"Kamu kenapa besarnya jadi begini?"
Hah? Apa maksudnya sih? Kasih paham wei jangan setengah tengah ngomongnya!