My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
25. Ups!



Aku keluar dari dapur menuju orang orang yang duduk di sofa, mendudukkan diriku di tangan sofa single yang di duduki Mas Arka. Mungkin karena merasakan kehadiranku, Mas Arka mendongak menatapku.


Aku terkejut saat tangannya melingkar di pinggangku, hari ini Mas Arka kelewat aktif, dia tidak kasihan apa dengan jantung mungilku ini? Dan lagi dia tidak punya malu ya? Masih banyak orang loh ini.


"Hahaha... pengantin baru memang paling suka lengket." ucap Tante Mira, aku hanya bisa tersenyum kecil.


"Namanya juga masih baru!" kata Tante Nunu melirikku dengan sinis "Ntar kalau sudah lama juga malas saling lihat."


Astagfirullah... Nih Tante tante ada masalah apa sih? Dari tadi nyinyir mulu, kurang kerjaan banger jadi orang.


"Tante kayak ngak pernah saja." balasku, dia diam.


Eh?


Aku bisa merasakan tangan Mas Arka mencolek pinggangku, kenapa? Apa aku salah bicara?


"Tante Nunu belum menikah" bisik Mas Arka hanya aku bisa mendengarnya.


Hah?


Aku mengatupkan kedua mulutku, aku benar benar tidak tahu soal ini. Aku berdehem dan langsung berdiri


"Kayaknya yang aku masak sudah mendidih!"


Dengan cepat aku berlari masuk ke dalam, lebih baik melarikan diri dari pada tinggal di ruangan yang penuh kecanggungan itu. Ya meski aku pelakunya, aku tidak tau cara mencairkan suasana.


Aku menoleh ke belakang karena ada yang mengikutiku, ternyata Mas Arka yang berjalan di belakangku dengan ekspresi menahan tawa.


"Kalian kenapa?" Arga yang masih makan di dapur menoleh menatapku dan Mas Arka yang sudah berdiri di sampingku.


Mas Arka menunjukku "Dia membuat masalah."


Aku langsung menatapnya sewot "Ya mana aku tahu, siapa suruh dia julid banget jadi orang." aku merapatkan mulutku, "Tapi... Beneran belum menikah?"


Mas Arka menganggukkan kepalanya.


"Pantas saja sensi banget liat orang dua duaan, julid sih makanya belum dapat jod-" Mas Arka langsung menutup mulutku, memberi isyarat untuk tidak berisik.


Puah


Aku melepaskan dekapan Mas Arka dan menatapnya tidak terima "Memang Mas tidak kesal apa? Tiap kali melihatku mukanya sinis, padahal aku ngak ada hutang sama dia."


Mas Arka tidak mengatakan apa apa lagi, dia hanya menghampiri Arga yang makan seperti tidak ada orang di sekitarnya. Melihat tidak ada respon aku juga menghampiri mbak mbak yang masak, siapa tahu masih ada yang bisa aku bantu.


"Sudah hampir selesai, Non duduk saja." usir mereka saat aku menawarkan diri.


Sambil cemberut aku menghampiri dua bersaudara yang sedang makan, duduk di samping mas Arka dan mencomot kerupuk di tangannya.


"Banyak noh!" tunjuk Arga pada tempat kerupuk, sepertinya dia protes karena aku merampas kerupuk kakaknya.


"Sewot bae lo." aku menepuk lengan Mas Arka "Jam berapa pulang?"


"Kalian mau pulang?" aku mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Arga, dia menatap kakaknya "Kenapa tidak menginap semalam lagi?"


Mas Arka tidak menjawab, tapi wajahnya menunjukkan kalau dia kurang senang sekarang. Seperti mengerti, Arga hanya bisa ber-oh saja.


Memang ya, sesama orang aneh, mereka bisa memahami satu sama lain.


"Jam berapa pulangnya?" tanyaku lagi


" Jam sembilan"


"Tengah malam banget dong sampai di kosnya," protesku "Ngak bisa lepas Isya saja? Dingin banget loh Mas di jalan."


"Naik mobil juga kan, manja banget!" ucap Arga, aku mendelik


"Terima kasih!" dia mengumpulkan piring dan membawanya ke wastafel.


"Heh enak banget lo mau ninggalin piring, cuci!" Enak saja, wastafel sudah aku bersihin dari piring kotor soalnya.


"Iya iya bawel banget sih lo," dia berdecak lidah "Semoga gue ngak dapat istri bawel kek lo kak!"


Aku mencibir ke arahnya "Biasanya ya Ga, bisa lebih parah lo dari apa yang lo ngak suka." aku terbahak melihat dia melirik jengkel.


Mas Arka menarik tanganku dan mendudukkanku di tempat Arga tadi, dia meletakkan piring di depanku. Aku menggelengkan kepala karena tidak mau makan, tidak enak dengan yang lain kalau aku makan lebih dulu dari orang lain.


"Ibu bilang kamu mau keluar?" Mas Arka bertanya pada adiknya, Arga menganggukkan kepala karena sedang mencuci piring "Kemana?"


"Ke lokasi bencana longsor kemarin." ucapnya, tak lama dia menoleh ke arah kami "Aku ketemu dengan kak Juandra, dia bilang kalian akan ada kerja bareng ya kak?"


Juandra? Ah... Temannya waktu itu, Ajuandra.


"Ya," dia menyendokkan nasi ke piringnya "Nanti malam."


Aku membalikkan badanku menghadapnya, sebelumnya dia tidak mengatakan apa apa padaku.


"Ke mana?"


"Kerja."


Aku cemberut "Aku tau, tapi kerjanya di mana? Berapa lama?"


"Dekat, ngak lama." ku tabok juga nih orang!


Tau ah, yang penting mah dia pulang dan tidak main perempuan di luar sana. Karena capek juga kalau di tanyain, jawabannya pasti singkat, padat dan tidak jelas. Menyebalkan.


"Berdua saja?" Arga kembali bertanya


"Berlima!"


"S?" Mas Arka melirikku, tapi aku membuang muka darinya.


"D"


Mereka membahas apa sih? S D, sekolah dasar emang! Ingin sekali meninggalkan mereka berdua di sini, tapi kalau aku keluar pasti ketemu sama tante julid. Males banget aku di julitin mulu sama dia.


Aku mengambil sendok dari tangan Mas Arka, entah kenapa makanannya kelihatan enak, hehehe.... Mungkin karena tidak mau menggangguku, Mas Arka mengambil sendok lain.


Jadinya kami makan sepiring berdua, romantiskan hahahaha.... Iri kan lo pada? Jomblo sihh...


Saat aku melihat ke sekeliling, dapur sudah bersih dan tidak ada siapapun di sana kecuali aku dan Mas Arka, kapan mereka perginya?


"Kapan mereka pergi?" Mas Arka hanya melihatku tanpa menjawab, mulai lagi kan jadi bisu "Mas?"


"Baru."


Aku berdiri karena sudah kenyang, mengambil gelas untuk diisi air. Setelah aku meminum air sampai tandas, aku menuangkan juga untuk Mas Arka yang masih saja makan. Aku akui sebagai orang yang tinggal dengannya belakangan ini, porsi makan Mas Arka lumayan banyak.


Aku meletakkan gelas di depannya sebelum duduk di sampingnya, menopang daguku dan melihatnya makan. Dia hanya melirikku sebentar, kemudian tangannya yang tidak memegang sendok mengalihkan kepalaku untuk lurus ke depan.


Aku kembali menolehkan kepala ke arahnya "Mas, memang kerjaan mas apaansih nanti? Urusan kampus?" dia menggelengkan kepalanya "Terus apa? Aku ngak boleh tahu?"


Dia balas menatapku tanpa mengatakan apa apa, benar benar ya ini orang, butuh seribu persen kesabaran untuk ngadepinnya.


"Pulang nanti ke kosan, Mas tidur saja di depan tv. Ngak usah tidur sama Raana." ucapku meninggalkan dapur, malas berurusan dengan orang yang ngak bisa bicara.


Toh aku bukan penerjemah untuk orang tunawicara.