My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
21. Toko Buku



"Mas!" Aku berlari pelan ke arah Mas Arka yang sedang mengeluarkan motor, dia menoleh "Mau kemana?"


"Jalan."


"Ke mana?" dia tampak berfikir "Ke mana?"


"Toko buku!"


"Ikut! Ikut ya Mas... Pleasee..." bujukku


Bukan bagaimana mana nih ye, aku itu selama menikah dengan Mas Arka, belum pernah tuh aku di ajak jalan jalan sekitar rumahnya. Dia menatapku tapi tetap mengangguk, supaya Ibu mertua tidak pusing mencariku, aku dengan cepat berlari ke dalam untuk meminta izin.


Aku kembali keluar dengan topi dan tas kecil, siapa tahu nanti di jalan aku tergiur untuk membeli sesuatu. Mas Arka memberiku helm membuatku protes, padahal aku sudah pakai topi. Tapi, melihat wajah Mas Arka membuatku tidak bisa protes.


Aku memegang pundak Mas Arka, kemudian naik ke motor. Kami belum pernah naik motor berdua, karena posisi kami yang lumayan dekat mengingatkanku kejadian subuh tadi.


Puss... Kurasakan wajahku memanas, memikirkannya membuatku malu sendiri.


Tapi itu bukan hal yang memalukan kan? Kami sudah sah, suami-istri dimata tuhan dan negara, lantas kenapa aku mesti malu? Tapi... Tetap saja kan, masa cewek yang lebih agresif.


"Mas," aku menepuk pundaknya, dia menoleh sebentar melihatku dan kembali melihat jalan "Di sini ada jual camilan khas, yang enak buat oleh oleh? Lau-lau minta dibeliin oleh oleh."


Semalam karena terpaksa membatalkan janji, Laura meminta oleh oleh sebagai gantinya. Jadi sebagai teman yang baik, aku harus menuruti kemauan teman yang terkadang tidak tahu diri itu.


"Ada gak, Mas?" tanyaku lagi.


"Ada di samping lampu merah." jawab Mas Arka dia menunjuk satu toko di yang tidak jauh dari lampu merah, kamu baru akan melewatinya.


"Pulang nanti, singgah ya, Mas!" dia hanya menganggukkan kepala. "Kalau tempat makan bakso enak di mana?"


Ya aku memang suka makan makanan bulat yang terbuat daging sapi itu, terlebih kalau kuahnya pedas, behh... Rasanya tuh semua hutang langsung terlupakan, hahaha...


Memikirkannya saja sudah membuatku lapar.


"Di kampung sebelah ada."


Aku tersenyum "Jauh ngak?" dia menggelengkan kepalanya "Kalau ada waktu bawa aku kesana, ya ya ya!"


"Iya."


"Yes! Janji ya Mas! Awas saja kalau mas ngak nepatin." todongku, lagi dia hanya menganggukkan kepalanya. "Jawab dong, Mas! Jangan kayak mainan ayam ayaman yang cuman bisa mengangguk anggukkan kepala."


Dia menepuk betisku, "Berisik!"


Aku merapatkan betisku, aku tidak menyangka dia akan melakukan itu. Mas Arka itu tipekal pasrah pasrah saja, jadi saat dia menepuk betisku membuatku kaget.


"Makanya kalau orang nanya itu nyaut dong, Mas!"


"Iya" ucapnya pelan, aku terkikik geli. Sepertinya dia capek aku suruh bicara terus.


Tak lama Mas Arka menghentikan motornya di depan sebuah pusat perbelanjaan, dia membantuku turun sebelum turun juga. Aku dengan cekatan membuka kancing helm, memberinya ke Mas Arka.


"Aku di traktir kan, Mas?"


Dia menatapku kemudian mengangguk, tapi dengan cepat menjawab 'Iya', dia kayaknya tidak mau aku protes lagi. Aku terkekeh melihat wajah tertekannya, Mas Arka memang sepertinya tipe orang pendiam.


Kayaknya dia tipe orang yang 'Kalau bisa di lakukan dengan isyarat simple, kenapa harus bicara'


Hahahaha... Sayang sekali dia harus menikah dengan orang sepertiku, gadis yang tidak akan puas dengan tindakan saja. Aku adalah tipe orang yang suka mengobrol, makanya di rumah itu berisik karena Aku dan Mama adalah tipe yang sama.


Aku mendongak menatap Arka yang menatapku, aku hanya bisa memberinya cengiran "Biar aku tidak nyasar." ucapku saat dia melihat ke arah lengannya yang aku rangkul.


"Oh!"


Aku cemberut tapi tetap mengikuti langkahnya "Mas, di dalam ngak ada mantannya Mas kan?"


"Tidak." ucapnya, dia melihat jam yang melingkar di tangannya, "Tante Nunu tidak lama lagi datang."


Tante Nunu itu sepupu dari Ibu mertuaku, katanya dia akan datang berkunjung bersama temannya. Aku tidak mengenalnya, tapi entah kenapa wajah Ibu saat mengatakannya sedikit kurang senang. Meski penasaran aku tidak berniat bertanya, ya aku bukan orang kepo yang harus mencari tau sampai ke akar akarnya.


Kami sampai di toko buku, Mas Arka sudah berjalan ke tempat di mana buku yang dia butuhkan. Aku yang sudah sangat lama tidak datang ke toko buku, melipir ke tempat novel dan komik.


Sue memang!


Untungnya pas kelas dua belas aku sudah dapat pacar, jadinya kami sering double date di toko buku. Kalau mau di pikir pikir, pacaran kami jaman SMA termaksud cupu karena kencannya di toko buku.


Pantas saja aku di selingkuhi.


"Hei hei..."


Aku menoleh ke asal suara, cewek SMA yang menghampiri segerombolan temannya dengan wajah berseri.


"Kenapa sih lo?"


Dia cekikikan, aku hanya menggelengkan kepala karena dulu tingkahku tidak jauh berbeda.


"Tadi, gue ada ngeliat cowok, ganteng banget."


Aku terkekeh karena dulu juga seperti itu, heboh saat ada pemandangan bening sedikit saja. Adrian sering kesal karena Laura sering aku seret untuk ikut mengintip cowok ganteng, hehehe... Padahal gak berani ajak kenalan.


"Di mana? Di mana?"


"Di sana, tempat buku buku mata pelajaran." aku mengikuti arah yang di tunjuknya.


Tunggu!


Bukannya itu tempat yang Mas Arka datangi?


"Dia tinggi, badannya tegap, putih, rambutnya cepak!"


Kan... Pasti mas Arka nih yang mereka maksud, ck apasih!


Aku mengambil acak novel, berjalan pelan ke tempat Mas Arka. Begitu melewati para anak SMA itu, aku hanya bisa melirik mereka kesal.


"Mas!"


Dia menoleh begitu aku memanggilnya, tangannya sedang memilah buku yang sepertinya akan dia beli. Aku berjalan ke arahnya sambil cemberut, melihat ke arah jarinya.


Masih ada! Anak anak itu tidak jelas apa? Jelas jelas Mas Arka memakai cincin di tangannya, yang berarti dia sudah terikat.


"Sudah?"


"Sebentar."


Aku mendengus tapi tetap berjalan ke sampingnya, mengintip buku apa yang dia beli. Buku buku taktik dan strategi? Bukannya ini tidak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah yang dia ajarkan, kenapa dia membelinya?


Mas Arka kan Dosen bukannya Tentara, apa ini hanya sekedar hobi?


Mas Arka mengambil buku buku dari tanganku, meraih tanganku dengan tangan yang kosong. Eh? Tidak biasanya.


Aku mendongak menatapnya, tapi Mas Arka hanya fokus dengan jalannya. Tapi setidaknya Mas Arka sudah mengambil inisiatif kan?


"Nanti langsung pulang ngak, Mas?"


Kami sudah di depan kasir, Mas Arka menyerahkan buku buku yang dia pegang.


"Mas?"


"Tidak."


"Kenapa?" dia melihatku, aku balas menatapnya.


"Di rumah berisik!"


Aku terkekeh pelan, memang benar di rumah pasti berisik karena ada tamunya Ibu. Mas Arka mengeluarkan dompetnya untuk membayar buku, hehehe... Sebenarnya aku punya duit banyak jatah dari Mas Arka, tapi senang saja kalau di traktir.


Toh sama suami sendiri, bukan suami orang apalagi bukan dikasih Om-om yang doyan cewek cantik.


"Jadi Mas, kapan kita pulang ke kosan?" kami sudah berjalan keluar dari pusat perbelanjaan "Aku belum nyuci, pada numpuk di keranjang kotor."


"Nanti malam," eh? "Besok Mas harus ngajar lagi."