
Aku masuk ke dalam rumah dengan tumpukan kertas di tanganku, aku baru saja dari memfotocopy skripsiku. Tebak, dimana aku fotocopy?
Yap, di tempat Mas Danu. Hehehe... Meski sedikit jauh dari rumah, tapi disana aku di kasih murah, aku juga bisa menengok Mama sambil nagih brownies.
Malas kalau mau bikin sendiri.
Aku meletakkan box kue itu di meja ruang tamu, kebetulan ada Mas Arka disana yang tampak serius dengan laptopnya.
Aku mendudukkan diriku di sampingnya, meletakkan kertas di meja karena tanganku sudah mulai sedikit kram. Mas Arka melihatku sebentar sebelum melihat laptop lagi, punya laki begini banget dah.
"Mas!" aku mencolek lengannya, dia hanya berdehem tanpa berbalik "Nanti liatin skripsiku ya! Kasih tahu yang mana harus aku ubah."
Dia mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangannya dari laptop ke skripiku yang belum ku sampul, rencananya besok setelah memastikannya dulu dari Mas Arka. Tak lama dia mengangguk kepalanya, itu bertanda dia setuju kan?
Biar bagaimana pun, aku harus menyelesaikan secepatnya karena minggu depan aku sudah harus sidang kedua. Saat ini pun, aku sudah sangat terlambat dan bersyukur karena kampus memberi sedikit kelonggaran waktu.
Ya... Terima kasih untuk dosen di sampingku ini, meski nanti dia tidak ikut dalam sidangku.
Aku sedikit memanjangkan leherku untuk melihat apa yang dia kerjakan, tapi belum sempat melihat dia sudah membalik arah laptopnya.
Cih, tidak seru!
"Rahasia kampus," ucapnya tiba tiba, aku hanya bisa mendengus
Aku mendogak "Kalau rahasia harusnya Mas juga gak boleh lihat dong, kan rahasia!" candaku
Tapi bukannya tertawa atau merasa aneh, ekpresinya masih saja datar memandangku. Apa yang aku harapkan? Padahal ini bukan pertama kalinya buatku, dia benar benar tidak punya selera humor.
Tau ah, mending aku masuk buat masak, makan terus tidur.
Aku berdiri mengambil skripsiku dengan sedikit kesal, berjalan ke kamar dengan sedikit menghentakkan kaki, biarin.
Padahal pernikahan kami sudah memasuki tiga minggu, tapi ya tidak ada perkembangan sama sekali. Kalau hanya aku yang berusaha untuk mencairkan suasan juga percumakan? Mas Arka sama sekali tidak ada pergerakan.
Aku tahu kalau pernikahan kami bahkan belum bisa terhitung, tapi posisinya disini kami sama sama di jodohkan, bukan aku yang memaksa juga bukan dia yang memaksa. Tapi tetap saja, masa hanya aku yang harus bergerak sedangkan disini aku perempuan dan aku juga jauh lebih muda dari Pak Arka.
Setelah menyimpan kertas skripsiku di meja belajarku (sebelumnya meja kerja mas Arka) asal, terus mengganti baju jadi daster yang sempat kupakai sebelum keluar rumah tadi. Meski gondok dan kesal, aku tetap harus memasak bukan?
Aku menatap diriku di depan cermin, lucu juga dasterku. Sebenarnya aku bukan cewek penyuka daster, tapi semenjak tinggal di sini aku jadi kebablasan sama daster, daerah di sini lumayan panas kalau memakai kaos bisa keringatan sepanjang hari. Kosan kami juga tidak punya AC hanya kipas angin, untuk saat malam udaranya sejuk.
"Raana," aku kaget mendengar suara Mas Arka yang menyebut namaku, sepertinya ini yang pertama kalinya. Aku membalik badan menghadapku
"Kenapa Mas?"
Ekhem, kenapa aku merasa gugup sekarang? Apa ini tanda aku bakalan di kasih duit?
Dia berjalan masuk ke dapur, terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. Aku mengikuti arah pandangannya, dia menatap kompor.
Kompor?
"Mas lapar?" dia menggelengkan kepalanya, terus? "Mas, Mas mau keluar?" tebakku.
"Iya."
Ya Allah, padahal tinggal bilang kan? Sabar Raana, lo anak baik, sabar, cantik dan imut.
"Mau kemana?"
"Ketemu teman," Aku mangguk mangguk seperti mainan ayam ayam kuning yang dulu dibelikan Papi. "Kamu ikut."
"Ok-HAH?"
"Kamu ikut." ucapnya sebelum keluar.
Aku masih berdiri di tempatku, apa ini? Aku dengan cepat mengejarnya ke kamar, untung aku belum menyalakan kompor.
"Mas!"
Aku mendorong pintu kamar keras, tapi setelah itu aku membeku di tempat. Mas Arka yang hendak membuka bajunya langsung menariknya turun lagi, sepertinya dia kaget.
Syiit! Gagal lihat otot perutnya kan.
Aku berdehem dan berjalan pelan masuk ke kamar, masih melihat ke arah badannya siapa tahu ada celah, hehehe....
Dia mengangkat sebelah alisnya saat tatapan kami bertemu, aku hanya bisa menyengir. Langkahku berhenti saat di depan kasur dan langsung duduk, menatap Mas Arka yang masih melihatku.
"Dia dosen juga?" Mas Arka menatapku "Temannya Mas itu dosen juga?" tanyaku lagi.
"Guru SMA."
Aku mengangguk mengerti "Cewek apa cowok?" Aku menaikan kakiku di kasur "Aku ngak usah masak dong?"
Dia menganggukkan kepalanya "Laki laki!" ucapnya, sepertinya itu jawaban atas pertanyaanku yang pertama.
"Jam berapa? Apa aku perlu dandan? Pertemuan resmi kah? Apa reuni sekolah?" cerocosku.
Mas Arka menghela nafas pelan, sepertinya lelah dengan suara berisikku tapi seperti biasa, aku tidak peduli. Rumah kami ini hanya ada kami berdua, kalau aku diam juga bisa bisa kosan kami dikira tidak berpenghuni.
"Selesai Isya." jawabnya
"Resmi atau tidak?"
Dia mengambil handuk yang baru karena handuknya yang lain ada di keranjang kotor, "Tidak!"
Setelah menjawab dia masuk ke kamar mandi, sudah ada baju ganti dan handuk bersamanya. Akhh... Gagal kan melihat otot perutnya!
Tidak tahu kenapa, aku sama sekali belum pernah melihat Pak Arka telanjang dada. Bahkan setelah mandi, dia akan keluar dengan pakaian lengkap. Aku bukannya mesum ya... Tapi Mas Arka itu kayak nyembunyiin sesuatu di tubuhnya, tapi apa?
"Apa Tato gambar ceweknya ya?"
Aku menggelengkan kepalaku, Mas Arka itu kan rajin sholat mana mungkin pakai tatto, dia bahkan tidak merokok.
Tapi Tatto bisa saja kan?
"Tau ah!" aku berjalan ke lemari mencari baju yang akan ku pakai nanti, aku akan mandi setelah Mas Arka.
Selesai sholat maghrib, aku menyeret Mas Arka untuk melihat skripsiku. Kami akan keluar dan tidak tahu jam berapa pulangnya, aku hanya ingin Mas Arka memeriksa skripsiku dulu.
Mas Arka duduk di sofa sedangkan aku lesehan di samping meja, aku menatap Mas Arka yang sekarang fokus memeriksa skripsiku.
"Gimana Mas? Apa ada yang harus aku rubah?"
Dia menutup skripsi yang baru di bacanya, menatapku lekat lekat membuatku gugup. Tangannya terangkat menepuk kepala ku
Apa maksudnya coba?
"Mas, Gimana?" aku pindah dan duduk di sampingnya, Mas Arka hanya tersenyum kecil
Ganteng!
Akhh... Bukan itu! Aku masih terus mendesaknya meminta jawaban darinya.
"Tidak ada yang perlu di revisi lagi."
"Benar?" dia menganggukkan kepalanya.
AKHIRNYAAAAAA....
Hahahaha..... Setelah hampir dua bulan, ternyata ada harinya aku tidak harus revisi lagi. Aku berharap pak Franz juga berfikiran sama, biar bagaimana pun Mas Arka bukan lagi dosbingku.