My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
19



Aku dan Laura hanya bisa saling melirik satu sama lain, kemudian menatap dua orang di depan kami yang makan dengan santainya. Padahal hari ini rencananya aku hanya mau kencan dengan Laura, merayakan skripsiku yang sudah selesai.


Adrian mendongakkan kepalanya menatap kami, menunjuk mangkok kami yang belum tersentuh "Itu kalian tidak mau makan? Buat gue saja deh kalau begitu."


Spontan aku dan Laura melindungi mangkuk bakso kami, berseru bersamaan "Enak saja!".


"Kalian ngapain sih di sini?"


Bukan bagaimana ya, kami ini di kantin dan Adrian juga pak Arka tiba tiba datang dan bergabung. Padahal Laura baru saja di labrak sama fans Adrian, mereka di sini membuat meja kami jadi pusat perhatian.


Ya aku juga kalau jadi mereka bakal melihat ke arah sini, gimana ya, Adrian cowok tajir nan tampan yang populer plus pak Arka dosen ganteng dan incaran kampus, pastilah mata tertuju ke mereka.


Ugh, tapi aku tidak suka jadi pusat perhatin. Ya aku kan orangnya rendah hati nan baik juga cantik, jadi merasa kurang nyaman jadi gitu... Hahaha... Keren banget gak sih gue?


"Ya makanlah, Na. Ngak lihat nih mangkok gue isinya dah mau habis gue telenin satu satu." dia menunjukkan mangkoknya yang memang kurang dari setengah.


"Maksud gue, kenapa harus di tempat kami?" ucapku kesal "Pak Arka juga ngapain di sini sih."


"Ye.. si Oneng!" tanpa sadar aku melempar Adrian dengan tisu yang ku pegang, dia tertawa "Lah elo nanya aneh aneh, Na. Gue di sini karena lo berdua teman gue, nah Pak Arka, masa lo masih nanya."


aku cemberut, memang benar sih tapi kan... Aku menghela nafas.


"Bukan itu, ini gara gara lo biang masalah." aku menunjuk Adrian, dia mengkerutkan keningnya kebingungan, dasar tidak sadar diri!


"Gue kenapa lagi sih, Na? Perasaan gue mulu."


"Emang lo mulu!" aku tersulut, mengingat kejadian tadi memang suka darti alias darah tinggi. "Karena lo dekat dekat kita berdua" Aku mengarahkan jariku ke Laura "Laura di labrak sama fans lo?"


"Hah?" dia meletakkan sendoknya dan melihat Laura


"Ha ho ha ho!" aku mencibir, aku baru akan kembali berkata tapi berhenti karena pak Arka menatapku, menatap dengan seksama


kenapa lagi nih pak Tua!


"Siapa?" suara Adrian mengalihkan perhatianku ke arah mereka lagi. "Lo diapain?"


"Apa sih? Ngak usah dibahas." ini nih kadang menjengkelkan dari Laura, dia gampang melupakan saat dia sakitin orang lain. "Gue gak mikir itu lagi."


"Orang yang kapan hari itu jatohin pulpen depan lo," aku meringis karena cubitan Laura yang memang bocor, kesal saja aku tuh. Yang boleh bully dia hanya aku saja. "Gue gak tau dia diapain sebelum gue datang, tapi yang pasti dia didorong dorong saat gue pertama lihat, makanya kan gue bilang, gak usah dekat dekat kita berdua!"


Adrian hanya diam, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Tak lama dia menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan makannya.


"Pokoknya lo jauh jauh dari kita berdua," aku melihat pak Arka yang sudah tidak lagi makan "Kami tidak mau disebut PHO, alias perusak hubungan orang." aku mencibir di akhir kalimatku.


"Lo berdua sudah sahabatan sama gue dari SMA, mana bisa gue jauh jauh dari lo berdua!"


Aku mendengus mendengarnya "alahh... Kemaren kemaren juga lo kan jauh jauh dari kami, ngak usah membuat alasan anda!"


"Itu kan lo yang nyuruh, Raana Saveena Aldebaran!"


"Makanya sekarang gue nyuruh lo lagi." ucapku, dia menggelengkan kepalanya "Ian, kenapa sih lo?"


Aku meraih jeruk nipis, makan yang kecut kecut itu enak apalagi dengan bakso apalagi kalau pedas juga. Rasanya itu... Ah mantap!


"Gue punya kuping, wajarlah gue dengar." ucapku.


Baru akan menyendokkan bakso ke dalam mulutku, sendok di tanganku sudah di ambil alih. Aku menatap pak Arka yang juga menarik mangkuk milikku, orang ini kelaparan atau bagaimana sih?


"Mas, kalau masih mau kan bisa pesan lagi." ucapku protes, dia tidak kehabisan uang di dompetnya kan?


Dia hanya melihatku sebentar kemudian lanjut makan lagi, ada ada saja nih pak Tua. Aku melihat Laura yang juga menatap takjub padaku, ada tatapan meledek dari matanya.


Si kampr*t!


"Jangan bahas itu lagi," Laura meraih tisue sebelum melihatku "Ti, malam ini lo ada acara ngak? Bagaimana kalau lo datang tempat kerja gue?"


Aku melihatnya Laura yang tersenyum, semenjak memutuskan meninggalkan rumah dia mulai bekerja. Tentang pekerjaannya, Laura sekarang bekerja di sebuah kafee sebagai barista, aku belum pernah mencoba kopi racikannya.


Aku mengangguk "Oke, gue bakal datang, tapi lo harus mastiin lo yang layanin gue." dia mengangguk mengiyakan, aku kembali melihat ke Mas Arka "Mas, bakso aku balikin!"


Dia tidak mengatakan apa apa dan memanggil pelayan kantin, memesan kembali bakso. Aku hanya bisa mendengus kecil, bukan pada Pak Arka tapi pada pelayan yang sengaja dilama lamain bicara pada Arka.


Ngak ngelihat kali ya kalau ada istrinya di sini, padahal aku tidak kecil kecil amat.


Aduh!


Aku melihat tajam ke arah Laura yang menyikutku, bukannya merasa bersalah dia malah memasang tampang main main, alisnya sengaja ia naik turunkan, ingin sekali aku menamploknya dengan sendok di tanganku.


"Ini saja, Pak?" suara lembut perempuan itu membuatku kembali menoleh, ralat! Bukan suara lembut tapi sok dilembutkan.


"Itu saja, terima kasih." ucapku karena pak Arka melihatku seolah bertanya padaku, perempuan itu juga melihatku, matanya terlihat tidak senang mendengar aku yang menjawabnya.


Dih... Kalau mau laki-laki cari sendiri sono, ngak usah lihat lihat punya orang! Ingin sekali aku meneriakkan itu, tapi sudahlah aku kan anak cantik dan imut seimut Emma Watson saat masih kecil.


Saat pesananku datang lagi, aku dengan cepat mengambil kecap dan saudara saudaranya untuk ku masukkan ke dalam mangkuk. Tapi saat giliran saus sambal yang ku raih, Pak Arka mengambilnya lebih dulu.


Ada masalah apa sih ini orang?


Dia memasukkan sedikit sambal ke mangkukku dan menjauhkannya, MENJAUHKANNYA!!


Aku hanya bisa melongo melihat apa yang aku lihat, sedangkan Laura terkiki di sampingkan Adrian sudah tertawa terbahak. Punya dosa apa aku punya teman seperti mereka berdua?


Aku menunduk menatap baksoku lagi, betapa tidak enaknya makan bakso tanpa sambal! Aku berdiri ingin meraih sambal yang ada jauh di ujung meja, tapi Pak Arka lebih dulu mengambilnya.


"Mas!"


Dia tidak bergeming dia menghabiskan isi mangkoknyan dan minum, setelahnya dia berdiri dan beranjak pergi dengan membawa sambal. Aku makin melongo saat sambal itu dia letakkan di meja lain, haruskah aku berkata kasar sekarang?


KASAR!!!