
Aku berjalan berdampingan Mas Arka memasuki restourant tempat dia dan temannya membuat janji, kenapa berjalan berdampingan? Ya karena kalau aku di belakang takutnya di sangka babunya, kalau aku di depan ntar disangka bukan siapa siapanya dia.
Begini begini gue wajib di akuin loh.
Restourant yang Mas Arka pilih cukup besar dan mewah, kalau pakai duit sendiri aku bakal pikir dua atau tiga kali deh. Karena biasanya restourant mahal porsinya seemprit, beda lagi kalau makan pinggir jalan, sampai begah perutnya.
Tapi sekali kali datang ke tempat seperti ini tidaklah merugikan, setidaknya aku bisa foto foto terus pamer ke Laura. Hahahaha....
Ekhem... Aku merapatkan bibirku yang hampir tersenyum norak, karena kami di restouran aku harus sedikit clasy. Tidak boleh terlalu menunjukkan sisi kampunganku, hiks... Maklum sejak usia delapan sampai lulus SMP aku besarnya di kawasan militer, dimana saat itu tempatnya sangat jauh dari kota karena Papi di tugaskan di sana.
Makanya sifatku sekarang sedikit aneh dan bar-bar, tidak juga terlalu wow dengan laki laki berseragam loreng, mataku sudah sangat merasa cukup melihatnya, Papi juga tidak pernah mengatakan kalau aku harus dengan laki laki berseragam.
"Arka!"
Aku menoleh ke asal suara, di sudut ruangan pria tinggi (lebih dari Arka) tegap melambai ke arah kami. Sepertinya dia temannya Mas Arka.
Ugh... Kenapa rasanya dia lebih ganteng dari Mas Arka? Apa ini yang orang sebut 'rumput tetangga lebih hijau'. Hati bertahanlah, ingat kamu istri orang gak usah aneh aneh.
Ingat Draco, diriku!
Kami berjalan ke arah pria yang melambai itu, saat tiba di sana mereka berpelukan ala pria, seandainya aku seorang fujo mungkin akan histeris di tempat, postur mereka keren woi!
Eh!
Aku menatap Mas Arka lekat lekat, Mas Arka tampak berbinar bertemu temannya yang katanya sudah lama tidak bertemu. Aku menelan ludahku menghilangkan pikiran jelek di kepalaku, tampik melihat mereka membuatku sedikit ragu.
Selama ini Mas Arka terlihat tidak tergoyah saat di dekatku, apa karena dia tidak tertarik dengan perempuan?
Aku kembali menatap mereka bergantian, tapi tersentak saat orang itu melihat ke arahku dan malah tersenyum. Jangan bilang aku diajak kesini karena mereka ingin mengaku... Aku sama sekali tidak bisa mengindahkan pikiran jelek di kepalaku.
Tanpa sadar aku menggenggam kain kemeja Mas Arka, aku harus punya pegangan agar tidak jatuh lemas saat mereka mengaku padaku.
"Ku kira gigimu tidak akan tumbuh lagi"
Heh? Apa? Gigi? Kenapa tiba-tiba?
Dia tidak mengatakan apa apa selain mempersilahkan kami duduk, ini tidak akan ada perkenalan? Tidak lama dia memanggil waitress untuk memesan makanan, aku juga tidak mengatakan apa apa dan memilih melihat menu.
Aku sudah sangat lapar.
Karena menu yang banyak membuatku pusing untuk memilih, aku juga mengintip harganya yang selangit membuatku mencari menu yang murah saja.
Baru saja akan memilih, suara Mas Arka sudah lebih dulu memesan. Dia memesan lobster dan tanpa sadar aku melihat harganya, aku hanya bisa menelan ludah karena harganya yang mahal.
Aku menariknya ke arahku "Mas, aku ngak usah deh. Nanti saja di rumah." bisikku
Aku bisa melihat keningnya mengkerut bingung, "Kenapa?"
"Mahal."
Aku terkejut saat Mas Arka menegakkan duduknya, dia kembali berbicara pada Waitres dan meminta pesanannya menjadi dua porsi. Aku hanya bisa mencubit pinggangnya, astaga... kena apa kepalanya?
Aku menoleh saat mendengar suara kekehan di depanku, teman Mas Arka sedang tertawa sendiri sambil melihat kami.
Seperti orang gila saja.
Entah ada denganku, tapi sepertinya aku terlalu sensi dengan orang di depanku ini. Dia menatap Mas Arka membuatku was was, tapi terkejut saat melihat dia menunjuk ke arahku.
"Dia masih saja galak!"
Eh?
Aku menatap mereka berdua bergantian, apa maksud ucapannya tadi? Apa kami pernah bertemu sebelumnya? Di mana? Kenapa aku tidak ingat sama sekali?
"Apa saya pernah bertemu anda?"
"Kapan?"
"Saat kam-"
"Minum!" Mas Arka memotong ucapan temannya dengan menyuguhi ku air putih.
Ada apa dengan Mas Arka? Kenapa dia seperti menyembunyikan sesuatu? Bikin penasaran saja. Mas Arka menatap pandangannya ke arah temannya, seolah untuk memintanya untuk diam dan orang itu langsung menutup mulutnya.
Aku akan kembali bertanya tapi pesanan kami sudah datang, mataku berbinar melihat lobster di depanku dan tanpa sadar menelan ludah sendiri. Lobster sebesar ini... Pantas saja harganya mahal sekali, aku menarik kembali kata kataku yang ingin makan di pinggir jalan.
Aku merogoh tasku untuk mengambil hape, sebelum makan harus di abadikan dulu dan nanti pamer ke Laura. Hahahaha! Dia pikir hanya dia yang bisa pamer? Aku juga bisa kali...
Laura : S*alan lo! Awas saja nanti!
Jawaban dari Laura langsung datang begitu aku mengiriminya satu foto lobster yang ada di depanku, aku langsung tersenyum puas.
Tapi baru akan menjawab, ponsel di tanganku sudah diambil lebih dulu. Aku langsung melihat Mas Arka karena dia pelakunya, dia memberiku garpu
"Makan!" ucapnya sambil memasukkan hapeku ke saku celananya.
"Tapi Lau lau?"
"Makan"
Ugh... Dasar manusia es batu, aku tidak peduli lagi dan memilih makan saja, mereka berdua mulai membahas sesuatu yang tidak ku pahami.
"Bagaimana SMA?" Mas Arka bertanya pada temannya.
Ah iya, kata Mas Arka nama temannya itu adalah Ajuandra, guru sekolah menengah atas.
"Tidak buruk, aku cukup bersenang senang dengan mereka," Mas Arka hanya bergumam sebagai tanggapan "Mereka cukup menarik."
Aku mendongak melihat Ajuandra yang bercerita, suaranya tampak sangat ceria. Benar saja, ada senyum di wajahnya sampai lesung di pipinya terlihat.
"Setelah dari lingkungan yang keras, lalu bertemu anak anak dengan berbagai karakter, aku cukup terhibur." dia meletakkan alat makannya kemudian melihat Mas Arka, "Bagaimana menjadi dosen?"
Aku juga mengalihkan pandanganku ke Mas Arka, seperti biasa dia diam cukup lama sebelum menjawab
"Membosankan."
Apa?
Dia menatap ke arah lain sambil meminum air di gelasnya, setelah meletakkan gelasnya pandangannya kembali lurus. Aku juga bisa melihat wajah serius Ajuandra yang tiba tiba, mereka saling menatap
"Kamu ingin kembali?"
Kembali? Kembali kemana? Sebenarnya mereka membahas apa?
Aku masih melihat mas Arka yang masih diam, tidak ada yang dia tahu apa yang di pikirkan. Dia mengangkat tangan kirinya ke pundak kanannya, matanya entah menyiratkan apa.
"Apa kamu akan kembali?" dia malah balik bertanya. Ajuandra menghela nafas kemudian menggelengkan kepalanya. "Kenapa?"
"Anggap saja aku jatuh cinta dengan matematika," ucapnya sambil terkekeh, dasar sinting! Jatuh cinta kok sama matematika. "Dan lagi, aku disana jauh lebih dulu darimu. Dari usia lima tahun, dan baru keluar lima tahun lalu."
"Aku tidak akan kembali," Mas Arka berkata, dia melihatku sebentar kemudian melihat Ajuandra
Apa apaan itu?
"Bagus lah."
Akhh... Rasanya mau pulang saja, atau tidak aku bisa ke kosan Laura dan bergosip. Berada di tengah tengah mereka membuatku bosan, tidak ada yang mengajakku bicara.