
Sepeti yang ibu katakan, selesai sarapan aku dan Mas Arka langsung pulang. Mas memiliki kelas sedangkan aku untuk mengurus ini dan itu, aku juga sudah harus memikirkan pekerjaan apa yang harus aku lakukan sambil menunggu waktu wisuda nanti.
Sebenarnya awalnya aku memiliki niat untuk bekerja di perusahaan, tapi karena sudah menikah aku harus menanyakan pendapat Mas Arka dulu. Hiks... Ini lah salah satu kekurangan menikah sebelum lulus, karena apa apa harus izin suami padahal yang nyekolahin emak bapak.
Mau nganggur tapi tidak enak juga, serasa gimana gitu... kan salah satu tujuan kuliah adalah pekerjaan yang bagus, tapi kalau menikah begini aku juga harus mendengar pendapat suami, menempatkan posisi sebagai istri orang.
"Mas, semalam Mas itu kerja apa sih? Sampai malam banget pulangnya." aku menoleh ke Mas Arka yang fokus menyetir, dia diam tidak menjawab, sok misterius sekali. "Rahasia banget sampai aku tidak boleh tau?"
Dia melihatku sebentar dan fokus lagi ke jalan, ku tempeleng juga nih om om!
Begitu sampai di rumah kami sama sama buru buru ganti pakaian, untung tadi sudah mandi. Jujur semenjak menikah, aku yang malas banget mandi jadi rajin mandi.
Meski begitu pak su juga jarang ngelirik, cih!
Karena waktu yang mepet, aku yang biasanya mengendarai si cantik jadi harus nebeng Mas Arka. Sampai di kampus, tanpa mengatakan apa apa Mas Arka langsung berjalan pergi. Aku sudah pernah bilang atau belum sih? Mas Arka itu disiplin waktu banget, tidak ada toleran untuk mahasiswa yang terlambat masuk kelasnya.
Awal masuk kampus aku pernah terlambat, dan kalian tau apa yang terjadi? Aku tidak diizinkan masuk kelasnya, padahal saat itu dia mengadakan kuis untuk menambah nilai, aku hanya terlambat tiga menit waktu itu.
*
Aku menghela nafas panjang, rasanya mending belajar berjam jam di kelas ketimbang harus mengurus ini dan itu. Kakiku rasanya ingin patah, terlebih dari pagi tadi aku belum sarapan.
Karena Laura masih ada kelas dan Adrian hari ini banyak urusan lain, jadi satu satunya tempat yang bisa ku kunjungi adalah ruangan Mas Arka. Kebetulan ruangan Mas Arka fasilitasnya lumayan lengkap, aku bisa menumpang tidur sebentar.
Tok tok tok
"Masuk!"
Aku membuka pintu setelah mendengar suara dingin dari dalam, dia mengangkat wajahnya dan terkejut melihatnya. Mungkin dia sedikit terkejut, aku biasanya tidak datang ke ruangannya kecuali pas membahas skripsi beberapa saat lalu.
"Mas!"
Dia makin terkejut, salahku yang memanggilnya 'Mas' di kampus. Aku menunjuk sofa yang ada di sudut ruangan
"Aku boleh tidur di sana kan?"
Dia melihat sofa lalu melihatku "Urusan kamu sudah selesai?"
Aku menggelengkan kepalaku, "Belum, beberapa dosen tidak datang, Mas." aku meletakkan berkas di mejanya "Ini aku mau numpang tidur Mas, boleh ngak?"
Dia menganggukkan kepalanya, rencananya tadi kalau tidak diizinkan aku tetap akan memaksa hahaha! Ini juga salahnya, karena menunggunya lama sekali aku jadi begadang mana harus bangun pagi lagi, sudah bangun pagi pun masih di julitin.
"Mas, suhu ac nya nyalain dong, aku kegerahan."
Dia mengambil remot, menaikkan suhu AC sesuai permintaanku. Aku membaringkan diriku di sofa, ahhhh... Rasanya lega meluruskan punggung setelah keliling kampus mengurus banyak hal.
*
Aku terbangun karena mendengar suara orang yang bicara, rasanya aku hanya tidur lima menit. Aku meraba bawa kepalaku yang terasa mengganjal, saat menariknya itu jaket Mas Arka, kapan dia meletakkannya untuk aku jadikan bantal? Aku juga mendapati ada sarung menutupi bagian tubuh bawaku, sepertinya ini sarung yang dia pakai untuk sholat deh.
Saat aku menoleh ke suara suara tadi, aku mendapati beberapa mahasiswa, aku tebak mereka akan meminta Mas Arka menjadi dosen pembimbing mereka.
"Saya masih memiliki mahasiswa bimbingan."
Mendengar jawaban Mas Arka, wajah mereka terlihat putus asa. Ya meski tidak langsung, pernyataan pak Arka jelas jelas adalah penolakan.
Karena masih mengantuk, aku kembali memejamkan mataku. Tapi mendengar suara Mas Arka membuatku kembali membuka mata, dia sudah berdiri di sebelah sofa.
Sambil mengucek mataku, aku bertanya "Kenapa Mas?"
"Pulang"
Dengan lemas aku bangun dari baringanku, memindahkan sarung dari kakiku kemudian berdiri. Aku merapikan sofa yang aku tempati tidur tadi, menyerahkan kembali jaket Mas lalu melipat sarung.
Aku membaui sarung itu, sebaiknya aku membawanya pulang dan mencucinya nanti. Aku melangkah ke arah wastafel yang kebetulan ada di sana, sepertinya di pasang saat korona lagi panas panasnya.
Aku berjalan mendekatinya, karena hari ini aku sangat capek, saatnya untuk membujuk sugar daddy halalku dulu. Aku memeluk lengannya, FYI dia sudah tidak terkejut lagi seperti biasanya.
Aku mendongak untuk melihat ekspresinya, tapi dia berekspresi biasa saja. Mungkin karena merasakan tatapanku, dia menunduk menatapku yang masih melihatnya.
"Kenapa?"
"Mas ngak nafsu ya sama aku?" aku tidak tahu apa yang merasukiku, tapi Mas Arka itu lempeng banget. Mau aku apain dia masih saja datar, kayak aku itu bukan apa apa gitu loh.
Bukan maksud aku mesum atau kegatelan, hanya saja aku terkadang merasa tidak di pandang sebagai perempuan. Ngerti ngak sih? Kayak... Ah.. aku tidak bisa menjelaskan bagaimana tapi itu yang aku rasakan sekarang.
Aku tersentak dari lamunanku begitu tubuhku diangkat, mendudukkan ku di meja dengan gampangnya. Aku membulatkan mataku tidak percaya, aku lumayan berat tapi dia terlihat sangat enteng.
"M-Mas?"
Kaget serius! Terlebih jarak Mas sekarang dekat sekali, kedua tangannya bahkan berada di kedua sisi badanku. Aku tau dia menatapku tapi aku sama sekali tidak berani menatapnya, salahku yang bertanya aneh aneh padanya tadi.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Hah?" adu kembali mengalihkan pandanganku bertemu dengan matanya.
Mama tolong! Aku lupa kalau yang kuhadapi adalah pria dewasa berusia tiga puluh tahun.
"Itu... Bukan apa apa, tadi aku hanya asal tanya saja." Aku mendorongnya agar menjauh, aku ingin melarikan diri.
Untungnya dia tidak berkeras, aku dengan cepat turun dari meja mengumpulkan semua yang aku bawa tadi. Aku kembali menoleh ke arahnya, dia hanya bersedekap mungkin karena sadar kalau kami masih di kampus.
"Ayo pulang," aku dengan cepat berjalan ke arah pintu, "Mas, kita makan di luar ya! Aku malas masak."
Aku baru akan menarik pintu tapi Mas Arka tiba tiba menahannya, kenapa sih orang ini? Kalau dia tiba tiba begini aku jadi gugup, ngak kasihan apa sama jantung mungilku?
"Raana"
Aku sama sekali tidak berani menoleh, dia membuat jarak kami sangat dekat.
"Jangan berfikir aneh aneh, aku hanya mempunyai pengendalian diri yang bagus." ucapnya
Apa maksudnya?
Aku membalikkan badanku menghadapnya, mengangkat pandanganku menatap wajahnya. Ughh... Tidakkah ini curang? Kenapa dia harus ganteng sih? Kan hatiku bisa goyah!
"M-mas tidak pernah melihatku dengan benar," aku menggigit bibir bawahku, kata Mama rumah tangga itu komunikasi, ini termaksud komunikasi kan? "itu... Aku merasa tidak nyaman."
Dia diam tidak mengatakan apa apa, dia seperti masih ingin mendengar apa yang ingin aku katakan.
Menarik nafas panjang, kembali melihatnya "Meski... Meski Mas dan aku di jodohkan, aku.. Aku serius"
"Kamu pikir aku tidak serius?"
Aku mengepalkan tanganku "Bukan begitu! Aku hanya berfikir kalau Mas tidak menginginkanku. Mas jarang bicara bahkan setelah aku bicara panjang lebar."
"Haruskah?"
Ha?
Wajah Mas terlihat tampak bingung, dia mengkerutkan keningnya. Aku mendengus, dasar om om irit bicara.
"Mas, tindakan memang penting, tapi perempuan juga membutuhkan pernyataan dan tanggapan. Dengan begitu kami merasa kalau kami dihargai keberadaannya."
Aku dengan sengaja menendang kakinya, sebelum dia marah aku dengan cepat membuka pintu dan melarikan diri.
Aku menyeringai saat dia menatapku, "Makan di luar okey!" seruku sebelum kembali kabur.