My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
4. Miss Jessica



"Nyesel lo gak ikut kemaren" Kalimat itu yang aku dengar begitu masuk ke kelas.


Laura memainkan gantungan kunci motornya. Aku hanya bisa mendengus saat melihat ekspresi menyebalkannya.


"Gue kan bilang, gue mau di kawinin sama emak gue" Aku menyimpan tas dan duduk di kursi dekat Laura.


"Siapa mau di kawinin?" Aku mendongak dan mendapati Adrian yang juga datang.


Mampus bisa ada perang ini


"Lo mau nikah, Na?"


"Ngapain sih nih orang ada di sini?" Laura berkata dengan sangat pelan. Tapi, aku yakin Adrian mendengarnya.


Aku melihat cowok itu tampak tidak peduli, apa Adrian bermuka tembok?


Sudahlah. Itu urusan mereka.


Tak lama dosen masuk, tebak siapa dia? Yap dia Pak Arka calon suamiku.


Rasanya melihat Pak Arka menghilangkan mood. Mana dia masuk dengan Bu Jessica, Dosen yang di gosipkan pacaran dengan Pak Arka.


"Panas ya?" Aku mendelik ke Laura yang menyikut pinggangku "Makanya bangun lo"


Aku menyeringai, enak saja.


"Siapa yang panas? Biasa aja tuh." Aku mendengus "Kalau tiba tiba lo dapat undanga, jangan kaget ya!"


"Mimpi!"


Aku baru saja akan membalas suara deheman dari depan langsung terdengar, itu ibu Jessica. 


Aku dan Laura langsung diam, apasih tuh bu Jessica ngak seru banget. Aku menopang dagu di atas meja, menutup mulutku agar tidak di tegur lagi.


Oh!


Aku menegakkan dudukku, ngapain pak Arka melihat ke arahku lalu memalingkan wajah begitu? Awas saja kalau sudah nikah beneran, kupites kepalanya.


Hahaha kalau aku berani sih.


"Kenapa sih lo?" Adrian bertanya ke arahku, aku kembali menopang daguku


"Jangan tanya tanya, gue tidak mau kena tegur."


Aryan yang di sampingku tertawa, dan dengan kurang ajarnya dia menarik pipi imutku. Tentu saja ku balas dengan tamparan dj tangan, cukup membuatku puas.


"Sakit, Na!" ringisnya


Ceh lebay banget, sekuat apa sih tenaga yang keluar dari tangan imut ini? Haruskah aku menggunakan tenaga full?


"Kalian di sana!"


Kan! Kena tegur lagi? Aku melotot ke arah Adrian dan kembali menghadap depan. Sejak kapan sih bu Jessica setegas ini? Biasanya juga biasa saja.


Dan lagi ngapain coba dia lama lama di sini? Ini kan bukan waktunya dia mengajar. Apa juga senyumnya itu? Biasanya juga dia cemberut mulu kalau masuk


Apa karena B A B nya lancar ya pagi ini?


Aku kembali menopang daguku, melihat bagaimana antusiasnya dosen wanita itu bercerita. Pak Arka hanya menjawabnya dengan ekspresi datar, dasar manusia kutub.


Aku tidak tahu apa yang pak Arka katakan padanya, tapi bu Jessica keluar dengan ekspresi yang terlihat kecewa. Apa manusia kutubu itu menolak ajakan kencannya? Lagian kalau iya, kenapa meski ngajaknya pada saat di kelas begini sih?


Kan merusak pemandangan!


****


"Ti, lo mau ke mana?" Laura bertanya dengan suara cemprengnya.


Aku tidak menoleh, aku masih lumayan kesal mendengar nama ku yang terus digantinya. Padahal aku sudah di panggil itu dari jaman SMA, tapi kenapa gue masih kesal saja.


"Raana!"


Aku menyengir, akhirnya nama gue di panggil juga. Kenapa tidak dari tadi kek?


"Kenapa?" Aku pura pura kesal.


Laura mendengus sebal, aku tahu itu "Lo mau kemana?"


Semoga saja tidak di suruh revisi lagi!


"Lo ngapain sih buru buru mau lulus, santai saja kali, Ti."


Enak banget dia ngomong begitu, tapi heran saja kenapa sahabat gue satu itu bisa santai soal skripsi? Aku hanya bisa mengedikkan bahu, aku hanya ingin cepat cepat menyelesaikannya.


Tahun ini harus lulus! HARUS!!!


Aku meninggalkan Laura yang masih misuh misuh tidak jelas, huh... Kenapa juga ruangan pak Arka jauh banget? Aku ini tidak suka berjalan jauh, seandainya gue punya sapu terbangnya Harry Potter, nimbus 2000 kan keren! Ngak perlu jalan lagi.


Ngomong ngomong tentang Harry Potter, aku tiba tiba pengen nonton lagi. Orang yang paling ingin kulihat adalah Draco Malfoy, gila! Orang itu kenapa ganteng banget sih?


Kalau saja dia tidak licik dan penakut, mungkin dia akan jadi cowok idamanku! Hahahaha... Tapi mukanya sumpah idaman banget, pak Arka mah jauuuuuuhhhhh...


Aku menormalkan ekspresiku saat tiba di depan ruangan pak Arka, soalnya kalau senyum senyum seperti tadi, nanti aku di katakan ganjen lagi. Aku mengangkat tanganku untuk mengetuk pintu, sampai terdengar suara dari dalam yang mempersilahkan masuk.


"Masuk!"


Gila, bicara saja dia dingin banget!


Aku berlahan membuka pintu, memastikan kalau yang bicara tadi manusia bukan setan. Pemandangan yang pertama kali kulihat saat pertama masuk itu, pak Arka yang membaca buku sambil berdiri tapi masih bersandar di tepi meja.


Sok ganteng banget, eh tapi memang ganteng sih. Suee... Kenapa juga aku harus terpesona? Na....ingat lo sudah ada Draco Malfoy.


Dia melihat ke arahku, mukanya sedatar triplek "Kenapa?"


"Mau membahas skripsi, Pak!" Aku menjawab melirik kertas dalam pelukanku, "Bapak ada waktu?"


Dia melihat jam di tangannya, "Hanya dua puluh tiga menit." dia memberi isyarat untukku duduk, dia meminta kertas di tanganku. "Duduk!"


Perasaan Olaf yang jelas jelas manusia salju ngak begini deh, kenapa dia yang masih manusia yang berdarah panas, bisa sedingin ini?


Dia mulai membahas skripsiku, bertanya dari A sampai Z. Oh ya dia hanya cerewet soal mata kuliahnya saja, selebihnya... Sudahlah jangan di katakan lagi.


Untung saja aku sudah sangat mempelajari materiku, kalau tidak bisa dipastikan aku akan membeku dengan tatapannya yang dingin. Tidak bisa di bayangkan seandainya semua dosen seperti Pak Arka, betapa menderitanya para Mahasiswanya.


"Waktu habis, kamu keluar!"


What? Tunggu... Dia bilang apa tadi? Keluar? Apa dia mengusirku?


Aku menatap dosen ini tidak percaya, sedingin itu kah dia?


Karena kesal aku menutup catatanku, sepertinya harapan Mama aku menikah dengan orang ini terlalu berlebihan. Aku tidak mungkin bahagia dengan orang sepertinya.


Dia melihatku aku tahu itu, tapi apa peduliku? Aku mengambil tasku memakainya dan bersiap pergi, tapi sebelum melangkah dia mencegatku dengan menahan tanganku


"Saya ada rapat!" ucapnya, Aku mengkerutkan keningnya


"Lalu?" kenapa dia harus memberitahuku, aku menarik tanganku darinya


Kesal sumpah!


Aku memutar kenop pintu dan mendorongnya, sial kenapa tidak mau terbuka? Aku makin mendorongnya tapi tetap saja sama, kudobrak juga lama lama ini pintu! Kenapa menyebalkannya sama dengan yang punya ruangan.


Aku terkejut saat merasakan pak Arka mendekat, terutama saat telapak tangannya yang panas dan besar menutup tanganku yang memegang gagang pintu. Mustahil untuk mundur karena dia di depanku, salah salah kami akan terjerembab ke belakang dan suasana makin canggung.


Aku meliriknya dan tidak ada perubahan di wajahnya, sangat berbanding terbalik denganku yang sudah memerah. Sue! Aku tidak suka perasaan malu begini.


Pak Arka memutar handle pintu dan menariknya, dia melepaskan tangannya dan mundur begitu saja seperti tidak ada yang terjadi. Apa dia menganggapku wanita ngak sih?


Tapi tunggu... Pintu ini tadi di tarik kan? DITARIK!!!


Rasanya aku ingin menenggelamkan diriku ke lautan terdalam, bagaimana bisa aku bertindak seperti orang bodoh? Pintu itu di tarik tapi aku mendorongnya, ahhh... Bodohnya aku!!


Aku bersiap belari tapi suara datarnya kembali terdengar "Besok aku jemput!"


Hah?


Tunggu apa tadi yang dia katakan?


"Pak ap-akh.... Sial kemana dia?" tadi dia masih di sini? Sekarang ke mana manusia kutub itu pergi?


"Pak Arka!!"


Aku memutar kepalaku ke asal suara, bu Jessica berlari kecil ke arah Arka. Eh?? Sejak kapan dosen es batu sudah ada di sana?