
"Bagaimana? Mas, sudah dapat belum kosannya?" Aku berjalan ke arah Mas Arka yang baru saja hendak naik ke atas kasur.
Dia menatapku sedikit terkejut, orang ini kenapa sih? Dia seperti anak perawan yang takut sentuhan, padahal yang perawan itu kan aku. Hehehe...
Lupakan soal itu!
Aku kembali mendekatinya "Gimana Mas?"
Dia menghindar berjalan ke arah rak buku, Mas Arka memang tipe cowok di drama, suka baca buku sebelum tidur. Aku mengikutinya juga, aku naik ke kasur menarik selimut agar menutupi kakiku.
"Mas! Bag-" Mas Arka menahan wajahku dengan tangannya.
"Tiga blok dari sini, ada kosan putri," dia menarik tangannya "Kamu bisa melihatnya besok."
"Oke, Makasih, Mas. Muach..." Aku menempelkan tiga jariku di bibir dan meniup ke arahnya, alias memberinya kiss bye.
Dia mengernyit, sepertinya dia risih dengan kelakuanku? Tapi apa aku peduli? Tidak sayang... Hahahaha...
Iya sifatku emang rada rada.
"Mas, tugas yang Mas kasih kenapa susah banget? Capek tau."
"Biar kalian ada kemajuan." jawabnya seriua ke buku, aku mengangkat satu kakiku
"Ya elah, kalau mau maju tiban melangkah aja kali," dia langsung menatapku membuatku spontan mundur, mengangkat dua jariku "Hehe.. Bercanda, Mas. Peace!"
Karena bosan, aku turun dari ranjang ke arah meja yang ada di kamar itu, membuka tas dan mengambil laptop. Aku mau nonton suamiku tersayang, Tom Felton.
Meski Film Harry Potter sudah ku nonton sampai puluhan kali, aku tetap tidak bosan. Why? Karena yang kucari hanya Draco Malfoy seorang, meski sering oleng ke Cedric Diggory yang di perankan Robert pattinson, gilaaa... dia cakep di peran itu. Apa mungkin karena di Harry potter para aktornya baru tumbuh ya...
Aku akui, aku memang pecinta daun muda. Tapi heran saja, kenapa malah dapat pasangan yang jarak usianya sampai delapan tahun dariku. Padahal aku selalu bangun pagi eh sebelum subuh malah, ya meski setelah subuh tidur lagi sih.
Aku kembali naik ke kasur, membuka dan menyalakan laptopku. Aku memeriksa baterainya, aman... Baterainya masih banyak, kan bisa berabe kalau ditengah keseruan laptop langsung mati.
"Mas, mau ikutan nonton?" tawarku pada Mas Arka yang melihat ke arahku yang sudah siap menonton.
Dia melirik ke laptopku "Sudah nonton."
"Nonton lagi saja." ucapku acuh.
Aku tidak menyangka Mas Arka malah menutup bukunya, dia menggeser duduknya ke arahku. Eh... Padahal tadi aku hanya pura pura menawarkan, siapa yang menduga dia benar benar ingin ikut menonton.
"Mas, tolong matikan lampu dong, biar nontonnya enak." pintaku
"Nanti matamu rusak," ucapnya tapi berdiri juga dari kasur.
Mas Arka melangkah ke depan lemari, dia mengambil meja lipat yang sering kupakai saat mengerjakan tugas.
"Pakai ini." dia meletakkan meja di tengah kasur, memindahkan laptop dari pangkuanku.
"Lampunya!" Aku memperingatkan agar dia tidak lupa.
Mas Arka menyalakan lampu tidur lebih dulu, kemudian mematikan lampu kamar. Aku sedikit menggeser posisiku saat dia naik, aku tidak mungkin mengambil semua tempat.
Berbeda denganku yang duduk tegak sambil memangku bantal, Mas Arka malah bersandar di kepala ranjang memegang boneka kelinci milikku.
Ngomong ngomong tentang boneka itu, aku tidak bisa tidur tanpanya. Konon katanya, boneka itu mainan pertama yang dia belikan untukku, aku juga tidak ingat.
Sekarang aku memutar film ke enam Harry potter, dimana Draco terpaksa mengambil tanda death eater. Yap ini 'Harry potter and the half-blood prince', my poor Draco.
Kalau ada yang bertanya kenapa aku malah menyukai Draco? Bukankah dia licik dan jahat? Kenapa bukan Harry yang pemeran utamanya?
Itu karena karakter Draco selaim tampan, dia sangat menyedihkan. Kalau Harry adalah anak yang terpilih, maka Draco adalah anak yang tidak bisa memilih. Dia hidup sesuai apa yang diinginkan keluarganya, tidak memiliki teman sedekat Ron dan Hermione. Karena itu aku suka Draco.
Aku menoleh ke Mas Arka yang seriua ke laptopku "Mas cantik mana, Hermione atau Ginny?"
"Tidak tahu."
Dia tidak menjawab
"Mas..."
Dia melihatku dan menghela nafas "Hermione."
"Kenapa?"
"Tidak tahu yang mana Ginny."
Aku menganga, astaga suami siapa sih ini?
Aku kembali menonton, tapi tak lama aku kembali melihatnya. Dia menegakkan duduknya masih dengan kelinci di pangkuannya, dia sepertinya sadar aku menatapnya karena itu dia menatapku juga.
"Aku kangen, Mama." ucapku
"Mau pulang?"
Aku menggelengkan kepalaku, meski jarak Mama dan tempat kami tidak jauh, tapi aku harus belajar tanpa Mama. Toh setiap hari menelfon ke rumah, aku hanya ingin mengatakan perasaanku saja.
Dia mengankat tangannya dan menepuk kepalaku, ini pertama kali dia berinisiatif menyentuhku lebih dulu. Biasanya sebisa mungkin dia menghindariku, rasanya aneh.
"Mas punya pacar ya?" entah apa yang merasukiku, aku hanya merasa penasaran saja.
Dia mengernyit "Kenapa menanyakan itu?"
Aku mengedikkan bahuku "Karena Mas kayaknya tidak mau dekatku, Mas selalu saja diam."
Dan sekarang dia diam lagi!
"Kalau memang Mas punya, boleh Mas putuskan? Biar bagaimana pun, Mas dan saya dalam status pernikahan." Aku mengatakan apa yang aku pikirkan "Aku tidak mau ada kejadian seperti yang banyak terjadi di sosial media, meski Mas dan Aku menikah karena perjodohah, tetap saja akan menyakitkan kalau ada yang berkhianat."
"Kamu dan Adrian pacaran?"
Eh? Kenapa tiba tiba Adrian?
"Kalian terlihat dekat."
Ah...
Aku langsung menggelengkan kepalaku kencang, "Kami sahabat dari jaman SMP, dia juga mantan Laura." dia masih menatapku "Serius, kami hanya sahabat tidak lebih, Adrian tidak pernah melihatku layaknya perempuan, aku juga punya pendapat yang sama soal itu. Aku juga tidak terlalu suka cowok kayak Adrian."
Meski dia sahabatku, aku serius dengan apa yang kukatakan. Adrian bukan tipeku, aku menyukai orang lain, tapi aku tidak akan mengatakan ini. Aku normal dan tentu pernah suka sama orang lain, bahkan pernah pacaran tapi ini tidak perlu dikoarkan bukan?
"Mas belum jawab pertanyaanku," aku menarik selimut karena tiba tiba dingin "Mas punya pacar?"
Dia menghela nafas panjang, sepertinya memang ada.
"Tidak ada"
EHHH?
Masa sih? Tidak mungkin, dia ganteng begitu.
Aku semakin mendekat padanya "Kalau orang yang Mas suka, pasti adakan?"
Dia menatapku sebentar, kemudian melihat ke arah Laptop "Nonton!"
akhhhh... Aku penasaran, tapi melihat dia menghindar, sepertinya dia memang punya orang yang dia suka.
Kok aku sakit hati ya?
Aku kembali menatapnya, baru kali ini ada yang bisa mengalihkan pandanganku dari Draco Malfoy. Aku kembali melihat Laptop, tapi karena masih penasaran aku kembali menoleh, sayangnya kepalaku langsung di tahan untuk tetap menatap apa yang kami tonton.
"Nonton saja!"