My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
10. Pindah



Setelah hari pernikahan, Aku dan Mas Arka menginap di rumah orang tuaku selama seminggu. Tujuannya adalah membantu membereskan hal hal berantakan setelah pernikahan, aku juga harus mengepak barang barangku karena ikut suami.


HAHAHAHA.... SUAMI! Entah kenapa aku geli menyebutkannya.


Kami juga menginap di rumah orang tua Mas Arka selama seminggu, ya biar adil! Selama di rumah Mas Arka, aku yang malas bangun pagi mau tidak mau bangun harus bangun pagi.


Selain takut adegan menantu-mertua di sinetron akan terjadi, Mas Arka juga membangunkanku untuk subuhan. Hilangkan pikiran adegan sholat subuh bersama yang harmonis, nyatanya Mas Arka selalu sholat di masjid yang tidak jauh dari rumah orang tuanya.


Ingat kawan, laki laki wajib sholat jamaah di masjid.


Jadi kalau Mas Arka ke masjid, ya aku tidur lagi lah. Jangan di contoh kawan, karena sepulang Mas Arka dari masjid aku kembali dibangunkan dan tetap akan sholat.


"Hanya ini?" Mas Arka bertanya sambil melirik dua koper besar, dua kardus, satu ransel dan tas kecil milikku.


Apanya yang 'Hanya ini?', itu sudah sangat banyak dan menguras tenaga membereskannya.


"Kurang banyak apa lagi itu?" sumpah itu bukan aku yang ngomong!


Itu Arga adik iparku, dia membantu Mas Arka memasukkan barang ke dalam mobilnya. Hehehe... Hari ini kami akan pindah, kata Mas Arka ke kosan yang tidak terlalu jauh dari kampus.


"Semoga betah lo sama Mas gue," bisik Arga saat melihat Masnya berbicara dengan orang tuanya "Heran, gen darimana sih dia?"


Aku mengangguk setuju, bukan gimana gimana ya, kedua mertuaku itu gak diem kayak Mas Arka. Ciailahh... Mertua gak tuh? Hahaha... Tapi kalau soal wajah, siapapun bisa menebak dia anak orang tuanya, lebih tepatnya mirip Bapaknya.


"Murid bokap gue kali," timpalku asal, soalnya Papi dan Mas Arka itu diamnya sebelas dua belas "Kakak seperguruan adek gue."


Tiba tiba tawa Arga meledak, dia menatapku kasihan. Tanpa bertanya pun Aku tahu kenapa, dia pasti kasihan karena hidupku dikelilingi manusia kutub.


Dia menepuk pundakku dan berkata meledek "Untung lo ngak beku!"


Kan kurang ajar!


Oke diriku, sabar sabar... Suatu hari nanti akan ku balas! Karena aku masih tergolong keluarga baru, jadi aku akan manis manis dulu, tunggu saja tiga bulan nanti!


Ceh, tidak tahu saja, waktu kecil aku Bos kang rusuh di sekolah dasarku. Aku tidak akan terima kalau sekolah kami di ledek, sebagai bos aku memimpin mereka untuk membalasnya.


Meski pada akhirnya kena marah Mama, tapi aku tidak pernah kapok. Hahaha... Nakal banget ya aku dulu, tapi tenang... Sekarang aku sudah jadi anak baik, soleha, cantik, imut nan mengesankan.


*


Kami tiba di kosan Mas Arka setelah satu jam, tidak heran kenapa dia memilih ngekos dari pada pulang balik rumah. Aku menatap kosan di depanku, kalau saja rumahku agak jauhan lagi mungkin aku juga akan mengekos disini.


Kosan Mas Arka adalah kos kosan petak sederhana, tidak mewah tidak juga kumuh. Sangat cocok untuk yang tinggal sendiri ataupun berdua, tapi sepertinya agak kurang nyaman karena sepertinya para tetangga adalah anak kuliahan yang berisik.


"Pak, sudah balik pak!" salah satu tetangga menyapa, Pak Arka hanya berkata iya sambil terus berjalan menyeret satu koperku.


"Siapa nih, Pak? Pacarnya?" salah satu dari mereka berseru, tak lama hampir semua pintu kosan itu terbuka dan menampakkan banyak orang.


Tunggu! Ini kosan putra? Bercanda kan? Terus kenapa pertanyaannya seperti itu? Apa disini membawa pacar sudah biasa? Tapi yang lebih penting dari itu.... APA TEMPAT INI TIDAK KEDAP SUARA?


Aku kaget begitu Mas Arka menarik tanganku, "Dia Istriku!"


Eh? Dia bilang apa? ISTRIKU?


Akh... Kenapa juga mukaku panas?


Semua orang yang mendengarnya langsung bersorak, akhh... Aku yakin mukaku merah sekarang. Meski tidak suka sama orang itu, tapi kalau di sorakin pasti malu juga.


Mas Arka tidak mengatakan apa apa lagi, dia membuka pintu kosan dan mempersilahkan aku masuk. Saat aku memperhatikan isi kosan, Mas Arka keluar mengambil barang barangku yang masih ada di mobilnya.


kos ini dilihat dari luar memang agak kecil karena sempit, tapi saat masuk itu akan panjang ke belakang. Terdapat satu kamar dapur yang sekaligus ruang makan dan di depan kamar terdapat ruang kosong yang Mas Arka tempatkan sofa untuk menerima tamu.


"Mas!" aku menghampiri Mas Arka yang baru masuk sambil membawa kardus milikku "Ini kosan putra ya? Kok aku gak lihat ada perempuan?"


Sebenarnya aku sudah mulai mempertanyakan sesuat. Sebenarnya mas Arka itu pendiam atau pendengarannya bermasalah ngak sih? Bukan bagaimana mana nih, dia terkadang suka menjawab setelah diam beberapa saat.


Sangat mencurigakan!


Tapi kenapa pas lagi bicara dengan orang lain, responnya normal? Nyebelin emang!


"Mas!" dia menoleh ke arahku "Aku tidur dimana?"


Dia menatapku lalu menatap ke arah kamarnya, apa maksudnya? Kami tinggal sekamar gitu? Aku cemberut dan menatapnya kesal


"Sekamar?" dia menganggukkan kepalanya dan masuk kamar sambil menyeret koperku.


Memang sih selama dua minggu ini kami sekamar, tapikan.... Aku juga mau kayak di novel novel gitu, beda kamar karena di jodohin biar seru.


Aku menyeret kaki ku mengikutinya ke kamar, ya meski rada gondok karena harus sekamar. Melihat kamarnya yang rapi tidak membuatku heran, tadi di ruang tamu dan dapur juga sama rapinya, seperti yang di harapkan dari dosen yang sangat teliti.


"Rapikan pakaianmu." dia membuka lemarinya lalu menyimpan kunci di atas meja yang tidak jauh dari lemari, setelahnya dia mengambil jaket belakang pintu dan mengambil kunci motor yang digantung disana.


"Mau kemana?" Dia melihatku sebentar sebelum menjawab


"Cari makan," Aku tersenyum lebar, mengelap tanganku di baju dan berdiri "Kamu disini saja."


Sue, padahal aku mau ikut!


Aku terpaksa menuju ke arah koperku, membuka resnya dan mengeluarkan isinya. Aku membuka lebar lemari yang tadi di buka Mas Arka, pakaiannya sudah dia rapikan menyisakan ruang kosong untuk pakaian. Aku memasukkan pakaianku ke lemari, merapikannya agar bisa muat lebih banyak.


Mas Arka datang setelah aku merapikan setengah dari koperku, dia membuka jaketnya dan berjalan ke arahku. Mau apa orang ini?


Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet dari sana, aku mengangkat sebelah alisku saat dia menatapku.


"Kenapa?"


Dia tidak menjawabku dan rasanya aku ingin menjambaknya sekarang juga, dia menatapku dan menyerahkan dompetnya ke arahku.


Apa ini? Tidak bisakah dia bicara saja? Meski aku perempuan, tapi aku juga tidak terlalu paham bahasa kode.


"Kenapa? Mau aku simpankan? Kan tinggal taro laci saja bisa." Aku mengucapkannya dan berdiri untuk kembali memasukkan pakaianku.


Aku bisa mendengar dia menghela nafas panjang, aku memutar tubuhku ke arahnya. Dia menatapku juga.


"Kamu simpan isinya."


Hah? Aku tidak mengerti maksudnya.


"Mas!" dia menatapku "Mas kalau ada sesuatu itu ngomong, mas punya mulut kan?" oke aku akhirnya mengatakannya.


Matanya melirik ke samping sebelum menatapku lagi, dia membuka mulutnya tapi kembali di tutup. Dia ada masalah apa sih sama gue? Perasaan yang menyeramkan itu dia, tapi kenapa kesannya aku yang menyeramkan disini?


"Ya sudahlah," Aku kembali membalik badanku dan berjalan ke arah lemari lagi, lebih baik aku menyimpan pakaian saja.


Dia melangkah ke arahku, mengeluarkan isi dompetnya dan menyisakan dua ratus ribu saja. Dia menyodorkan uang ke arahku, kenapa?


"Kamu saja yang simpan."


"Kenapa?"


Dia menatapku "Karena kamu Istri disini?"


Hah?