My Lecture, My Husband

My Lecture, My Husband
2. Manusia Kutub



"TUTIIIII"


Suara cempreng terdengar dari belakang itu suara sahabatku Laura, aku tetap tidak berbalik dan terus berjalan


Bukan apa, Laura itu seenak jidat ganti nama ku yang indah pemberian orang tua ku, dia malah seenak udel ganti ganti mana tidak pake syukuran tumpeng lagi.


Nama ku itu Raana Saveena plus nama belakang Ayah Aldebaran, ngak ada tuh Tuti tutinya kan kesal jadinya.


"dih tukang ngambek jodohnya jauh" teriak Laura yang berhasil menyusulku. "eh Ti, Ti. Jalan yuk! Depan mall ada tempat makan baru"


Wih... Seru tuh, aku melirik jam tangan sudah mau jam delapan, aku hanya bisa menghela nafas panjang


"sorry gue gak bisa, nyokap nyuruh pulang cepat"


"ya..." dia cemberut


"makanya jangan jomblo" dia langsung mendelik ke arahku membuaku tertawa "udah oke, gue mau balik dulu"


aku langsung menuju parkiran dimana motor kesayanganku bersemayan saat di kampus.


"langsung pulang Na?" aku menoleh dan melihat Adrian cowok paling populer di kampus juga mendekati motornya yang kebetulan bersebelahan dengan kesayanganku


Adrian itu teman SMAku , jadi saat melihatnya aku biasa saja. Aku akuin dia memang ganteng pake banget tapi entah kenapa aku tidak tertarik.


"iya nih, nyokap udah wanti wanti dari kemarin" aku mengambil helm "lo tumben masih di kampus jam segini"


"oh itu, gue nemuin dosbin gue." dia menghela nafas panjang mukanya juga kusut


"revisi lagi?" aku menebak, Dosbin kami sama jadi aku tau betul bagaimana perfectionisnya tuh dosen.  Sampai sekarang pun skripsiku belum di acc padahal sidang tidak lama lagi.


"lo tau sendiri pak Arka gimana Na, puyeng gue" Adrian mengacak rambutnya dan aku hanya bisa tertawa karena aku juga bernasib sama.


"hahaha... Santai saja kali"


Dia melihatku dengan mata sengaja disipitkan "what? Santai?" aku mengangguk tanpa dosa, ya karena aku begitu "iri tuh gue sama lo, dari dulu lo selalu santai"


Aku hanya mengedikkan bahuku sebelum menaiki motorku, aku hanya tidak mau membuat kepalaku penuh beban.


"gue percaya dengan the power of kepepet" ucapku asal Adrian langsung tertawa dia juga menaiki motornya


"mau barengan gak?" Tawarnya, Aku mengangguk. Kami memang searah dan hitung hitung ada pengawalkan.


"boleh"


"ya udah lo jalan duluan, gue nyusul belakang lo"


Aku mengangguk kemudian menyalakan si cantik meluncur lebih dulu.


Sebenarnya Aku jarang bicara dengan Adrian di kampus, bukan apa apa Fans Adrian banyak aku takut kena bully sama mereka Jadi aku lebih memilih menghindar dan bicara sama dia kalau kebetulan papasan doang, padahal jaman SMA kita selalu nongki rame rame di warung depan sekolah bareng Laura juga.


FYI.. Adrian mantan Laura, mereka putus pas kelulusan ngak tau kenapa, aku juga malas nanya nanya karena Laura juga enggan buat cerita.


Sekarang mereka malah seperti musuh, setiap ketemu Laura pasti memilih menghindar atau tidak dia akan diam padahal Adrian biasa saja.


***


Aku memarkirkan motorku di depan rumah, dimana mobil asing sudah terpakir di sana juga.


Aku menarik nafas panjang sebelum melangkah masuk ke rumah, dari luar suara tawa ibu ibu yang aku yakini di Mama biangnya sudah terdengar.


Gugup?


Iyalah, siapa yang tidak gugup kalau berada di posisiku? Mau bertemu calon yang rupanya tidak diketahui.


"Assalamu'alaikum" Aku mengucapkan salam begitu masuk ke dalam rumah dan serempak suara mereka menjawab salamku.


Mama bangkit dari duduknya, menatapku dari atas ke bawah aku mengulurkan tangan ke arahnya


"apa?" aku memutar mata jengah, kayaknya Mama makin tua "mau apa?"


"salim atuh Ma." ucapku sedikit kesal dan Mama hanya terkekeh.


Aku menoleh ke arah tamu, sepasang pria dan wanita yang sepertinya lebih tua dari ayah menatap ke arahku juga jadi aku hanya bisa menganggukkan kepalaku. Mama memukul lenganku


"apasih Ma?" aku mengelus lenganku yang sepertinya samsak favorit Mama.


"sana naik ke atas, mandi! Kamu bau"  


Aku melirik Mama, kalau saja tidak ada tamu sudah ku jahili Mamaku tercinta ini, hehehe....


Aku sengaja berlama lama di kamar, bukan untuk mempercantik diri tapi aku hanya ingin mengulur waktu.


Aku di kamar mungkin hampir satu jam, saat turun Mama sudah melihatku dengan mata memicing, aku pura pura tidak melihatnya.


Aku baru saja akan duduk saat seseorang memberi salam, otomatis aku mengangkat kepalaku.


Pak Arka?!


Untuk apa dosen pembimbing ku disini? Dia tidak akan melaporkan kelakuanku ke orang tuaku kan?


Jantungku berdetak kencang, beliau dosen yang tidak ingin ku temui tapi harus ku temui, karena kalau tidak aku tidak akan wisuda!


"Oh, sini masuk masuk" Mama adalah orang bersemangat menyambutnya, rasanya aku ingin menggali lubang dan bersembunyi


Kemarin aku sengaja melarikan diri demi menghindari bimbingan!


Aku menarik nafas tapi tetap manuk.


"Ini tante Caca dan Om Tirta, mereka calon mertua kamu" Mama menunjuk sopan ke pria dan wanita yang terlihat anggun di usia yang terbilang muda lagi, Aku menyalami mereka.


"Jangan tegang begitu" Tante Caca menahan tanganku.


Siapa yang bisa tenang disaat seperti ini? Hahaha... Gue curiga calon emak mertua gue ini pelawak!


Tapi gue hanya mengangguk masih dengan senyum yang tidak sampai di hati.


"Nah ini Arga anak bungsu tante Caca dia setahun lebih muda dari kamu"


Aku melihat ke arah cowok yang di tunjuk, dia tersenyum ke arahku yang aku balas canggung sebelum menoleh ke Mama.


Jangan bilang dia mau di calonkan denganku? Tatapanku seolah bertanya seperti itu. Dan seperti mengerti Mama tertawa!


Wah emak sinting!


"Bukan dia." Keningku mengkerut, kalau bukan dia lalu sia-


"Nah ini nak Arka, dia baru tunanganmu!"


Byurr


Seperti tersiram air dingin, aku langsung kaku.


Haha... Mamaku bercanda kan?


Aku melihat pak Arka yang juga melihatku datar, catat! DATAR!


"Adek?" Aku tersentak saat Mama menyentuh lenganku "Hei kamu kenapa dek?"


"Tapi Pak Arka Dosenku, Ma" seruku


Suasana langsung sunyi sebelum gelak tawa memenuhi ruangan itu, Apa yang lucu?


"Memang kenapa kalau Nak Arka dosenmu?"


Aku diam, memang tidak apa apa, tapi....


"Kan lebih enak, kalian bisa bareng ke kampus, kalau ada yang kamu tidak mengerti dia bisa kasih tahu."


Aku memalingkan mukaku, perasaanku tiba tiba dongkol! Apanya yang bisa membantu.


"cih apanya yang membantu? Judul Skripsi gue saja belum di acc"  Aku bergumam sendiri, Mama tidak tahu saja bagaimana pelitnya dosen itu.


"itu karena judul yang kamu ajukan terlalu bertele tele"


Aku membulatkan mataku mendengar suara tenang itu.


Aku kaget sumpah!


Aku melihatnya yang tetap tenang sama seperti di kampus. Dia mendengar ucapanku?.


"ya itu... Saya sudah kasih judul pendek bapak bilang pasaran, saya panjangin bapak bilang bertele tele, mau bapak apasih?"


Mumpung ada Mama disini, kalau aku sendirian mana berani bicara seperti itu ke dosen!


Iya.. Aku anak Mama banget! Kalian bisa tertawa!


"Judul yang jelas. Itu tidak sulit."


Tidak sulit kepala bapak lo! Ingin sekali aku meneriakkan itu di depan mukanya.


"Kenapa malah bahas judul sih?" Mama melotot ke arahku membuatku diam.


Calon ibu mertuaku tiba tiba tertawa dan kembali menuntunku ke sampingnya.


"Anak Mami memang kaku, kamu maklum ya" ucapnya, aku tidak menyaut.


Beliau mengelus punggung tanganku dengan lembut bahkan sedikit memijatnya.


"Mungkin ini terkesan memaksamu" Mata tuanya menatapku dengan sangat lembut "Tapi meski begitu Mami ingin mendengar pendapatmu"


Aku menunduk, aku tidak tahu harus berkata apa karena memang benar yang beliau katakan, ini dipaksakan.


"Kalau boleh jujur saya tidak suka tante, tapi mau bagaimana lagi? Kakek saya sudah menunjuk saya."


Beliau menatapku penuh penyesalan, ukhh... Aku tidak bisa mengatasi pandangan itu.


"Sebelum saya seratus persen setuju... Boleh saya bertanya?" beliau menganggukkan kepalanya. Aku langsung menoleh ke pak Arka "Pak Arka!"


Dia melihatku, astaga... Orang ini terlalu tenang!


"Gaji bapak berapa? Saya tidak mau mati kelapar-akh... Mama!" Aku melihat Mama yang menatapku kesal.


"Lumayan, Kamu tidak akan kelaparan" katanya tanpa menjawab pertanyaanku.


Aku mencibir "Lumayannya berapa?"


"Astagfirullah, Anak ini."


Pak Arka diam sebentar lalu menjawab nominalnya, aku menganggukkan kepalanya mengerti itu setelahnya aku diam dan membiarkan para orang tua membicarakan perintil perintil.