
Aku masuk ke kamar, meletakkan semua barang yang sempat kubeli. Buku dan beberapa camilan yang sempat aku beli di jalanan, ya masih di traktir Mas Arka tentunya. Hehehe... Mumpung dapat suami murah hati ngasih duit, ya aku gunain sebaik mungkin dong.
Aku yang akan turun kembali turun mengurungkan niatku, kembali ke kamar aku menuju tas yang aku bawa semalam. Kalau saja tante Nunu gak ada aku tidak akan melakukan ini, aku mengambil sisir dan merapikan rambut.
Tidak perlu dandan karena aku sudah cantik, cukup tampil rapi dan wangi saja.
Aku menatap diriku di cermin, "Oke, sudah ngak kucel lagi."
Aku terkejut saat membuka pintu dan Mas Arka sudah di depan pintu, dia mengangkat sebelah alisnya menatapku. Tapi melihat wajahnya mengingatkanku dengan dia melihat Nila tadi, perasaan gondok yang kupikir sudah hilang kembali datang.
Aku memalingkan wajahku darinya, melewatinya begitu saja dengan wajah cemberut. Pokoknya aku ngambek sekarang! Siapa suruh istri sendiri jarang di liatin kayak dia liatin Mbak Nila.
Biarin! Aku ngambek pokoknya mah.
"Eh Mbak Nila," kagetku karena kami bertemu di anak tangga. "Mbak ada apa?"
"Ah itu," dia menyampirkan rambutnya ke belakang telinga "Tante manggil kamu dan Kak Arka turun."
Kak?
Matanya melirik ke belakangku seperti mencar sesuatu, aku melihat ke belakang juga.
"Kenapa Mbak?".
Dia menggelengkan kepalanya masih sambil tersenyum, "Kak Arka mana? Kenapa tidak sama kamu."
"Ada urusan di kamar." ucapku, kenapa harus nyariin suami aku sih. "Ayo Mbak kita turun duluan."
Dia menganggukkan kepalanya, belum aku turun di tangga suara mas Arka terdengar. Aku menoleh dan melihatnya menjulurkan kepalanya di ambang pintu, kenapa lagi sih nih orang, cari perhatian banget.
"Mb-" menoleh ke Mbak Nila, dia melihat Mas Arka tanpa berkedip.
Apa aku kurang besar sampai tidak terlihat? Harusnya ngak terang terangan begitu kan? Aku masih di sampingnya loh ini.
Aku dengan cepat melangkah ke Mas Arka, meninggalkan Mbak Nila yang ada di tangga. Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum "Maaf ya mbak, aku harus mengurus suami dulu." aku dengan sengaja menekankan kata suami.
Dia tersenyum dan mengangguk, kemudian turun lebih dulu. Senyumku langsung hilang, penilaian ku saat pertama bertemu aku akan menariknya. Dia memang cantik, tapi kalau melirik suami ku tidak akan ku kasih muka.
Aku masuk ke kamar menyusul Mas Arka yang kembali masuk setelah memanggilku, aku menarik pintu dan menutupnya.
"Kenapa? Kita sudah di panggil Ibu ke bawah." tanyaku ketus. "Apa?" aku kembali bertanya saat dia hanya melihatku
"Kamu marah?"
Hah? Ngak lihat apa? Iya aku marah!
"Ngak, kenapa juga gue mesti marah?" aku melihat ke samping "Kenapa manggil kemari?"
"Kenapa marah?" tanyanya lagi.
Ngak sadar diri ya? Aku tuh marah karena Mas liat liat mbak Nila.
"Dibilangin, gue ngak marah."
Dia makin mengkerutkan keningnya, dengan pelan dia melangkah mendekat tapi aku buru buru berjalan mundur. Aku masih marah oke!
Aku terkejut, suer deh!
Aku tidak menyangka Mas Arka melakukan ini, dia menarik pinggangku agar mendekat padanya. Dia menumpukan keningnya ke keningku, menatap ke arah ku.
Dia kenapa tiba tiba agresif begini? Dia tidak kerasukan penunggu di toko buku tadi kan?
"M-Mas?" Tanganku yang tertumpu di atas dadanya berusaha mendorong, tangannya yang dipinggangku cukup kokoh untuk aku dorong.
"Kenapa marah?" tanyanya dengan suara serak, aku merasa merinding mendengarnya. Meski terkesan berbisik, tetap saja aku bisa terdengar jelas karena jarak kami yang sangat dekat.
"Gue?"
Aku merapatkan kedua mulutku, dasar bodoh! Harusnya aku bicara biasa saja kan? Kenapa juga harus ngomong 'gue' sih? Kebiasaanku saat marah memang begini, terlebih dengan orang yang baru seperti Mas Arka.
"Iya iya, Maaf!" Aku mendorongnya tapi dia sama sekali tidak tergeser "Mas!"
"Kenapa?" Haruskah aku menjawabnya? Bosan juga di tanya itu mulu. "Alasan kamu marah kenapa?"
"Ya ngak kenapa kenapa, kesal saja. Sudah ah!" aku masih berusaha melepaskan diri. Aku mendongak menatap Mas Arka "Mas tadi bilang ketemu aku dulu, kapan?"
Dia berdehem dan langsung melepaskanku dari rengkuhannya, akhirnyaa... Jantungku kamu tidak apa apakan sekarang? Dugaanku sebelumnya pasti benar, dia berkata seperti tadi hanya membantu ku kan?
"Terima kasih!" ucapku, dia melihatku "Mas tadi bilang begitu, supaya aku tidak terlalu di ganggu tante Nunu kan?"
"Tidak"
hah?
Dia berdiri tegap di depanku "Kita memang ketemu saat kamu delapan tahun."
"Kapan? Kenapa aku tidak ingat? Dan lagi aku sudah ikut Papi ke tempat dinasnya di umur delapan tahun. Dan tempatnya cukup ketat untuk masuk ke sana."
"Kakek atasan ka- Papi."
Aku menganggukkan kepalaku, sepertinya aku paham. Dia adalah anggota keluarga di sana, wajar kalau dia bisa masuk.
TAPI KENAPA AKU TIDAK INGAT??
Apa sekarang aku bisa meragukan ingatan yang selalu kubangga banggakan selama ini? Aku benar benar tidak mengingat kapan kami ketemu, akhh... Ingatlah otak!
"Kamu tidak usah mengingatnya" dia menepuk kepalaku, memangnya aku anak kecil "Jadi?"
"Kenapa kamu marah?" ugh.. Pertanyaan itu lagi, dia ini memang tipe seperti ini ya? Apa karena sifatnya seperti ini skripsiku tidak pernah dia loloskan.
Dosen gila!
"Apa masih harus dibahas?" aku melihatnya kesal, padahal kupikir dia akan lupa saat topiknya kuganti. "Aku mau turun, sudah dari tadi di tungguin."
Aku memutar badanku berjalan ke arah pintu, saat aku membuka pinta Mbak Nila ada di sana, di depan pintu kami. Tidakkah dia tau kalau itu perbuatan tidak sopan? Terlebih pemilik kamar itu suami-istri.
"Kenapa Mbak?" aku bertanya dengan nada datar, biar saja biar dia sadar kalau apa yang dia lakukan kurang benar.
"Ah itu," dia menggigit bibir bawahnya, matanya melirik ke dalam kamar. Melihat itu aku berpindah tempat, menutupi arah pandangnya. "Kalian tidak turun turun juga, jadi aku diminta memanggil kalian lagi."
"kami akan segera turun, iya kan Mas?" ucapku saat berjalan ke arahku, "Terima kasih Mbak, mbak Nila sudah mau repot mau memanggil kami."
Dia tersenyum "Bukan masalah, tapi apa yang kalian lakukan sampai sampai lama sekali?"
Spontan aku melihatnya setelah mendengar pertanyaanya, "Maaf mbak kalau apa yang akan aku katakan kurang sopan, tapi kupikir kita tidak cukup dekat untuk aku memberitahu mbak apa yang aku dan suamiku lakukan saat kami di kamar."
Dia terlihat tersentak, mungkin tidak percaya kalau aku berbicara seperti itu padanya.
Dia menggelengkan kepalanya, "Jangan salah paham, aku tidak benar benar bermaksud." dia menunjuk ke bawah "A-aku akan turun ke bawah duluan."
"Ah iya, maaf ya mbak kalau aku menyinggung."
Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya, aku langsung berhenti tersenyum begitu dia membalikkan badannya memunggungiku. Tanpa mengatakan dan tanpa menoleh, aku tahu kalau Mas Arka melihat ke arahku.
"Apa?" tanyaku galak padanya, Mas Arka mengangkat sebelah keningnya dan menggelengkan kepala.
Awas saja kalau dia memprotes.