
Hahahahahahaha....
AKHIRNYAAAA....
Setelah merevisi puluhan kali, akhirnya... Akhirnya aku tidak revisi lagi! Rasanya sangat plong, satu bebanku berkurang.
tuk
Aku memegang kepalaku saat seseorang menjitaknya, aku menoleh ke belakang ingin menyumpah serapahinya, tapi dengan cepat aku mengatupkan mulutku rapat rapat.
Ngak berani woi, itu Mas Arka. Dosen sekaligus suamiku jadi tidak berani.
Aku yang merasakan seperti ada kupu kupu dalam perutku tidak bisa menahan diri, aku tersenyum lebar ke arahnya sambil mengangkat skripsiku ke depannya. Menggoyangkannya dengan semangat
"Lolos dong! Hehehe..." dia hanya balas tersenyum ke arahku, Ya Allah suamiku kenapa ganteng banget. Coba saja tiap hari kek gitu, bisa sejuk hatiku setiap hari "Pokoknya Mas harus traktir, ya!"
Biarin, wong dia yang paling banyak menyuruhku revisi. Akan kuporoti dia hari ini, baikkan aku! Hahaha...
Intinya hari ini aku sangat SANGAT BAHAGIA!!!
"Pokoknya Mas harus traktir, kalau ngak aku bakal lapor ke mertuaku kalau Mas pelit!"
"Iya" jawabnya dengan sangat pelan.
"Wih lo bahagia banget, Na! Kenapa? Dapat lotre lo?" tanya Adrian yang muncul entah dari mana, dia menatapp Mas Arka, "Pak, saya mau bimbingan."
Aku langsung berdiri di depan Mas Arka "Ngak ada ngak ada, hari ini Mas Arka tidak bisa." Enak saja, hari ini aku mau palakin Mas Arka, tidak akan kubiarkan orang menghalangi misiku.
"Apa sih, Na. Sana lo bimbingan juga."
"Jajajang!" aku menggoyangkan skripsiku yang sudah diberi cap oleh dosbingku. Adrian hanya bisa mengatupkan bibirnya, sepertinya dia ingin mengumpat tapi tidak jadi karena ada Mas Arka di belakang "Karena itu, Pak Arka tidak bisa ngasih bimbingan hari ini."
"Ngak ada ngak ada, lo minta temani Lau-lau sana, biasanya kalian kemana mana berdua kayak kembar siam, aku juga mau cepat cepat kelar ini."
"NGAK BOLEH!" aku memeluk lengan Mas Arka, besok aja deh lo ya ya ya..."
Adrian menghela nafas "Gue sidang minggu depan Na, barengan elo! Gue ngak bisa nunda lagi."
"Ke ruangan saya." Mas Arka yang diam akhirnya bersuara, sepertinya dia ingin menghentikan kebisingan di sekitarnya.
"Mas!" Aku menatapnya protes, padahal dia sudah bilang 'iya' tadi. Mas Arka hanya menatapku sebentar tapi mampu membuatku menurut, teduh banget kawan.
Aku menghentakkan kakiku meninggalkan mereka, aku akan menemui Laura mengajaknya kencan berdua. Biarin!
"Bye bye Raana!" Adrian melambai ke arahku dengan nada mengejek, ingin rasanya membuka sepatuku dan melempar ke wajahnya, kebetulan tadi aku tidak sengaja menginjak kotoran cicak.
Meski rada kesal karena Mas Arka lebih memilih Adrian, aku memang harus mengalah. Mas Arka seorang dosen juga pembibing mahasiswanya, aku tidak bisa menunda pekerjaannya dengan keegoisan ku kan?
Tapi kan... Aku mau makan gratis.
"Lau la-" Aku yang berlari ke arah Laura yang terlihat di ujung koridor, memelankan langkahku saat melihat kalau dia tidak sendirian.
Dia seperti di dorong seseorang, aku yang melihat itu mendengus dan berjalan ke arah mereka. Gadis yang mendorong Laura tidak lain tidak bukan adalah cewek yang pernah menjatuhkan pulpennya di samping Adrian.
"Woi apa nih!" aku menarik tangannya yang hendak mendorong Laura, lalu menghempasnya begitu saja "Jangan main fisik dong!"
Dia menatapku tajam "Jangan ikut campur lo, ini bukan urusan lo!"
Apaan?
"Dia teman gue, lo main fisik ke dia, rombongan pula." aku menatap mereka sambil mencibir "Lo berharap gue dimana hah?"
Aku bersedekap tidak memungkiri, dia menatapku dari atas ke bawah "Oh Pantas kalian berteman, sama sama Pho"
Pho?
Aku mengangkat sebelah alisku sambil menyeringai, mengangkat daguku angkuh.
"Ngak usah belagu lo" dia menunjukku, lancang sekali "Perusak hubungan kayak lo itu, selamanya tetap tidak akan bahagia. Modal selangk*ngan doang bangga!"
Apaan? Sembarangan banget dia ngomong! Dia pikir aku perempuan apaan.
"Kenapa? Pengen ya? Sana gih ngangkang juga!" aku mencibir "Kalau tidak tahu apa apa, mennding lo diem dari pada berkoar koar kayak orang tidak berotak!"
Dia mengatupkan bibirnya kemudian mengangkat tangannya, namun dengan cepat aku menangkapnya. Ck, begini begini aku anak dari seorang militer, Papi tentu saja mengajarkanku bela diri, tidak tahu saja aku ini preman gang saat SD.
"Kalau tidak bisa debat, ya jangan main fisik lah. Nyokap gue ngirim ke kampus bukan untuk di tampar perempuan tidak tahu malu kayak lo!"
"Ngak ada cermin ya mbaknya!" salah satu anteknya berucap, aku melihatnya "APA?"
"Rumah gue rumah kaca tuh, ngak perlu cermin!" aku menjulurkan lidah "Lau ini kenapa mereka ngelabrak lo?"
"Adrian." cicit Laura.
Akhh... Ini nih yang aku takutkan, makanya aku tidak mau Adrian terlalu dekat dengan kami. Di labrak kan Lauranya, ck. Mana Laura termaksud anaknya pasrahan, tipe bullyable banget.
"Fansnya Ian?" seruku sengaja menyebutkan panggilan akrab Adrian. "Jadi? Hubungan Adrian dengan siapa yang Laura rusak? Lo?" aku menatap gadis di depanku.
Aku mundur menatapnya dari bawah ke atas, biar dia tahu rasanya di pandangi seperti dia melihatku tadi. Aku menyilangkan tanganku di depan dada, tersenyum ramah
"Tapi sejak lulus SMA dia gak pernah punya pacar tuh," aku menarik Laura dan menepuk bahunya "Nah, kenalin! Dia Laura gebetan Adrian dari SMA kelas sepuluh."
"Percaya diri sekali," cibirnya
Aku merangkul Laura "Mau ku kasih cermin? Atau mau langsung menelfon Adrian?" aku menutup mulutku pura pura kaget, "Lupa, dia sekarang sedang ada bimbingan dengan suamiku!" Aku menghilangkan senyumku, aku dengan sengaja menekan kata 'suami' biar mereka makin panas
Aku suka kompor meleduk! Jahat ngak sih gue? Ngaklah! Hahahaha...
"Yuk Lau, gue haus." aku menarik Laura agar menjauh dari mereka, capek berdebat.
Cih! Merusak hari bahagia orang saja.
"Lo kok ngomong kayak tadi, Tuti..."
Aku meliriknya "Memang kenapa? Sekali kali Adrian jadi tumbal tidak apa apa kan?" aku menyampirkan rambutku ke belakang "Adrian juga tidak bakal marah, kalau iya biar gue patahin kakinya."
Laura menghela nafas panjang, "Terserah lo deh, Ti. Lo bosnya"
Tanpa sadar aku terbahak, tapi itu tidak lama karena aku langsung menunjukkan skripsiku yang sudah tercap
"Jajajang! Skripsiku sudah di Acc dong!"
Laura membulatkan matanya dan berseru bersama ku, jadinya kami tertawa tawa gila di koridor.
"Hahaha... Selamat, Ti!"
"Thank you, thank you! Mau gue traktir tidak," kami sudah berhenti heboh "Mas Arka ngasih gue duit lumayan kemaren!"
Dia mencibiriku tapi tetap saja merangkul lenganku ke arah kantin, hahahaha.... Akh tahu kami punya satu kesamaan. Sama sama pecinta makan gratis, karena itu kami bersahabat.