
** ***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^ *****
SELAMAT MEMBACA^^
LOLITA POV
“Hari ini aku akan ada perjalanan bisnis ke luar kota. Kau mau ikut atau tidak?”
Ke luar kota? Benarkah? Sejak Ayah meninggal, aku sudah lama tidak jalan-jalan ke luar kota dan sekarang Axel mengajakku, tapi…, aku kan sedang marah padanya.
“Kau tidak mendengarku?” tanyanya dan aku menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku.
Semalam, aku kira, aku hanya bermimpi, tapi ternyata dia sungguh membawaku pulang, tapi semalam juga aku mendengar Mas Aldi memarahi seseorang. Apa mungkin Mas Aldi memarahi Axel.
Aku pun segera menarik selimutku dan…,
Deg! Deg! Kenapa jantungku berdebar seperti ini. Apa aku sakit jantung?
“Kau sungguh tidak mau ikut?” tanyanya kali ini di depan wajahku hingga wajahnya sangat dekat denganku.
“A-aku…,”
“Hanya jawab ya atau tidak.” Katanya seraya menyentuh mataku yang terasa membengkak ini da nada apa dengan jantungku? Apa aku sungguh-sungguh sakit jantung?
“Axel, aku sakit jantung,” kataku seraya menarik tangannya dan menaruhnya di atas dadaku.
Dia pun terdiam seraya menatap mataku tak mau lepas. Lalu dia terkekeh dan memberantakkan rambutku. Uhhh ada apa dengan Axel? Kenapa dia berbeda dari yang kemarin? Apa Axel sudah gila tersenyum seperti itu padaku?
“Kau ini,” katanya lagi mencubit pipiku seraya tersenyum. Aku pun tak terasa ikut tersenyum karena aku senang bisa melihat senyum Axel.
“Itu namanya jantungmu berdebar. Kau bukan sakit jantung, tapi kau terpesona dengan ketampananku.” Katanya duduk di pinggir ranjang, tepatnya di sampingku dan menggenggam tanganku.
Bagaimana ini, jantungku semakin ingin meledak. Aku pun berusah bangun dari baringanku dan Axel membantuku hingga kami berhadap-hadapan.
“Axel, terpesona itu apa?” tanyaku tak mengerti. Memangnya terpesona itu jenis penyakit baru?
“Terpesona itu artinya kau terpikat padaku. Mungkin kau menyukaiku atau jatuh cinta padaku.”
“Jatuh cinta?” aku langsung memegang dadaku seraya tersenyum malu-malu. Apa benar aku jatuh cinta pada Axel?
“Tapi Axel, apa aku boleh jatuh cinta padamu?” tanyaku lagi penasaran. Memangnya aku boleh ya jatuh cinta padanya.
Axel melepas genggamannya pada tanganku dan mengelus pelan kepalaku. Tak lama ku rasakan wajahnya yang mendekat ke arahku hingga dia mampu mencium keningku lama.
“Kau istriku, lakukan apapun yang kau mau asal jangan melakukan hal seperti kemarin. Aku tidak mau hal seperti itu kembali terjadi karena aku yakin kau wanita yang baik. Kau tidak pantas melakukan hal-hal jahat seperti itu hanya karena cemburu.”
Aku langsung terdiam dan menundukkan kepalaku. Aku meremas selimut dengan sedih karena Axel masih mengatakan hal itu seolah kemarin adalah kesalahan terbesarku dan apa benar aku cemburu?
“Kau memegang tangannya,” belaku pada diri sendiri, rasanya ingin menangis lagi, tapi air mataku seolah kering.
Aku pun menatap wajah Axel. Benarkah? Axel hanya membantunya?
“Maaf,” kataku semakin menundukkan kepalaku merasa bersalah.
“Tidak apa,” katanya menarik daguku lalu melepas genggaman tanganku dan memperdekat jarak kami.
“Aku juga minta maaf sudah memarahimu. Kamu benar, tidak seharusnya aku memarahimu. Aku sungguh suami yang jahat,” katanya seraya mengusap pelan mataku dengan jari-jarinya lalu perlahan turun ke pipiku dan tersenyum.
“Yasudah, sekarang kamu mandi dulu. Aku mau minta Bi Tikah siapin baju kita dan aku perlu merapikan berkasku sebelum pergi.”
Aku pun mengangguk cepat dan Axel mengacak rambutku. Aku suka ketika bibir Axel tersenyum padaku. Lalu, apakah Axel tidak akan marah lagi seperti sebelumnya?
Axel gak akan jadi orang jahat lagi kan?
..............................
Aku baru saja selesai mandi dan turun ke lantai bawah untuk mencaari Axel.
“Non Loli!!” sebuah suara yang sangat kukenal pun menghampiri dan menyentuh keningku lama.
Raut wajah Bi Tikah nampak khawatir. “Ada apa Bi?” tanyaku.
“Non sudah sembuh?”
Mendengar itu aku tak mengerti apa yang Bi Tikah maksud. “Memang Loli kenapa?”
“Semalam Non demam, tapi sepertinya Den Axel mengompresnya dengan baik dan semalam Bibi lihat Non tidur dipeluk sama Den Axel, loh!” ledeknya padaku sambil menoel-noel daguku membuatku tersipu malu.
Aku saja tidak merasa kalau semalam aku demam atau Axel peluk. Aku hanya tahu kalau hari ini kami akan pergi ke luar kota setelah Axel selesai bertemu dengan wanita bernama Irene itu karena kemarin pertemuan kerja sama mereka gagal karenaku.
“Ahhh Bibi bohong,” kataku menutup wajahku.
“Ihh, bener Non,Bibi gak bohong. Bibi kan terbangun dini hari karena ingat sama Non Loli. Pas Bibi meriksa Non Loli ke kamar. Bibi lihat Den Axel meluk Non Loli erattt banget. Oh iya tunggu, Bibi sampai memfotonya tahu,” kata Bi Tikah malah buat aku penasaran.
“Nihhh, nihh,” katanya lagi membuka isi galeri HP-nya yang tak kalah gaulnya sepertiku. Aku pun melihat fotoku di sana sedang bersama Axel yang memeluk tubuhku erat sekali semakin membuatku malu dengan Bi Tikah.
“Ihh Bibi, kenapa difoto sih!” sergahku sangat malu.
“Yakan jarang-jarang Non. Bibi bisa lihat adegan mesra kaya gini. Nanti Bibi kirim ke Non sama Den Aldi ya.”
Aku pun mengangguk dengan malu. Aku juga ingin memberitahu pada Axel dan bertanya apa dia sungguh memelukku semalam.
…………………………………
THX FOR READING ^^