My Idiot Wife

My Idiot Wife
EXTRA PART [Damar-Irene]



Extra part ini bersifat random ya, tidak ikut dengan part2 sebelum epilog. Jadi memang acak saja alurnya.


Damar POV


Bi Rina menaruh gelas serta piring Irene yang menghabiskan susu dan makananannya. Hampir tiga hari ini dia tidak keluar dari kamarnya. Aku sungguh khawatir, tapi Bi Rina bilang biarkan Irene sendiri dulu. Ketika Ayahnya meninggal pun Irene seperti itu, tapi setelahnya dia baik-baik saja. Irene pernah bilang kalau terkadang dia butuh sendiri. Jadi aku harus menahan diri bertemu dengannya.


“Bagaimana kabarnya Bi?”


“Lebih baik dari kemarin Den. Mungkin sebentar lagi keluar dari kamarnya. Aden baru pulang kerja? Bibi udah menyiapkan makan malam untuk Aden.”


“Iya Bi, tadi udah nyicipin dikit kok. Saya mau mandi dulu sebentar dan…,”


“Bi Rina,” suara seseorang yang sangat kurindukan. Irene terlihat terkejut melihatku sampai akhirnya aku melihat perlahan matanya yang mulai berkaca-kaca. Hanya saja dia berusaha senormal mungkin tidak mengeluarkan air matanya.


“Hemmm,” dia berdehem sejenak? “Bi tolong gantikan sprei kasurku,” ucapnya dan Bi Rina mengangguk cepat lalu meninggalkan kami berdua di dapur.


“Heii,” sapaku agak kaku dan dia terlihat tak peduli. Dia membalikkan badannya dan aku segera menarik tangannya cepat.


“Tunggu, ada yang ingin aku bicarakan,” kataku tapi Irene nampak tak tertarik dan kembali membalikkan tubuhnya. Dia hanya diam tak menjawab perkataanku.


Aku pun menghela nafasku panjang. Lalu perlahan memeluk tubuhnya dari belakang. Ya Tuhan, rasanya lega sekali bisa memeluk wanita ini. Meski awalnya aku tak mencintainya, meskipun semuanya dari kesalahan yang kami buat, tapi dia adalah kesalahanku yang terindah.


Irene nampak tak bergerak. Dia membiarkan aku menyusup ke dalam lekuk lehernya. Menjadikan rasa rindu itu semakin dalam…, dalam…, dan hanyut bersama.


“Kenapa kau di sini? Kau bilang, kau-“


“Aku tak pernah meninggalkanmu. Aku selalu di sini. Menunggumu hingga tenang,” lirihku dan perlahan aku bisa rasakan getaran tubuhnya yang menangis.


Aku pun membalikkan tubuhnya dan Irene segera memukuli tubuhku. “Kau jahat! Kau meninggalkanku! Kau bersenang-senang dengan yang lain sedangkan aku di sini sendiri. Meratapi nasibku yang rasanya tak bernyawa.”


“Sutt, sut maafkan aku sayang. Aku janji, semua itu tak akan pernah terjadi lagi. Aku janji, Sayang,” ucapku seraya mencium keningnya. Sementara Irene langsung memeluk tubuhku erat sekali. Dia menumpahkan segala kesedihannya di pelukanku dan aku mencium kepalanya berulang kali.


Rasanya LEGA.


………………………


Aku selesai membersihkan diri dan makan malam. Lalu menyusul Irene di kamarnya. Kamar yang penuh wewangian khas istriku. Bau harum sprei yang baru Bi Rina ganti pun semakin menghanyutkan kami dalam diam. Irene tak lagi menangis, dia berbaring di sisiku juga dalam diamnya. Kini menatap wajahku dalam-dalam dan menyentuh segala bagian wajahku.


“Semuanya milikmu.” Ucapku dan Irene menatap mataku diam. Dia mendekatkan wajahnya dan kami saling meleburkan rasa rindu kami dalam sebuah ciuman.


Hanya beberapa menit kami bertahan dan Irene yang memutuskannya untuk berhenti dan kembali memelukku. “Jangan pernah meninggalkanku meski aku yang memintanya.” ucapnya.


“Tidak akan, buktinya aku di sini, Sayang. Aku tak pernah meninggalkanmu. Aku selalu di sini memperhatikanmu dalam diam karena aku sangat mencintaimu dan anak kita,” kataku.


Irene menenggakkan kepalanya ke arahku. “Apa aku selama ini sangat egois? Kenapa kau tetap memilih di sisiku?”


“Karena kesalahan ini aku yang buat. Aku yang harus mempertanggungjawabkannya.”


“Bukan hanya kamu, tapi aku juga,” kata Irene.


“Iya, Sayang, kita berdua harus mempertanggungjawabkannya, tapi selama ini kau yang sudah bersusah payah menjaga anak kita sendiri. Aku-lah yang paling egois di sini. Karena itu, aku tidak akan pernah membuatmu sendiri lagi.”


Irene tersenyum lebar. “Aku juga tidak mau kau meninggalkanku. Tetaplah di sisiku sampai aku menua dan tak cantik lagi.”


Aku terkekeh mendengarnya. Aku mencubit pipinya hingga dia meringis.


“Kamu tidak pernah jelek, Sayang. Ketika kau menua pun kau tetap akan cantik dan seksi,” bisikku membuatnya tertawa dan mencubit dadaku.


“Kamu gombal! Aku jadi gak tahan,”


Aku menaikturunkan alisku ke arahnya. “Aku juga gak tahan loh, Sayang. Sejak nikah kan kita gak pernah…,” kata-kataku menggantung dengan wajah yang terasa memerah.


Sementara Irene tertawa geli sekali. “Maksud aku, aku gak tahan dengerin gombalan kamu. Bukan gak tahan itu, Sayang.” Ucapnya seraya mencubit pipiku.


Aku pun mencemberutkan bibir ke arahnya. “Kita kan belum melakukannya setelah menikah,” protesku.


Irene mengusap pelan wajahku. Lalu dia mengecup sekilas pipiku. “Tubuhku masih lemas, Damar. Kamu mau kan menunggu?”


Aku terdiam sejenak. Benar apa yang Irene katakan. Lagi-lagi memang aku yang terlalu egois. Terlalu kekanak-kanakan tanpa mengerti apa yang Irene rasakan.


Aku memeluknya erat kemudian mencium keningnya lama.


“I love you,” bisikku.


“Me too, more than you know,” bisik Irene membuat hatiku terasa tenang sekali.


“Tadi Bi Rina bilang, susu pagi yang selalu Bi Rina anter itu buatan kamu?”


Aku mengangguk pelan. “Iya, enak gak?”


“Enak kok, tapi kamu udah gak pernah ke club lagi kan?”


Aku menggeleng cepat. “Kemarin itu karena aku terpaksa saja karena teman aku ngajakin dan aku juga kebetulan lagi ada masalah sama kamu. Otakku terasa mau meledak dan hanya club jalan satu-satunya yang aku pikirin saat itu. Aku janji, aku gak akan kesana lagi meskipun kita dalam pertengkaran hebat.”


Irene menyemberutkan bibirnya. “Kamu mau berantem sama aku lagi?”


“Ya semua manusia kan mau semuanya baik-baik aja, Sayang. Tapi siapa yang tahu masalah itu akan datang.”


“Tapi kamu janji kan gak akan ninggalin aku untuk wanita lain atau karena aku egois.”


Aku tersenyum lebar. “Tidak, tidak akan pernah. Kita berdua selamanya. Kita pertahankan bersama keluarga kecil kita.”


Irene nampak mengangguk dan kini tanganku berpindah ke perut istriku yang mulai terlihat semakin membuncit.


“Kamu udah siapin namanya?” tanya Irene dengan tangannya yang juga berada di atas tanganku.


“Kita kan belum tahu ini cewek atau cowok, Sayang. Kapan ya kita periksa.”


“Kamu gak mau jadi surprise?”


“Hmmm,” aku berpikir sejenak lalu menatap Irene. “Memangnya kamu gak mau memeriksanya atau konsultasi ke Dokter tentang sesuatu yang kamu alamin selama hamil.”


Irene menggelengkan kepalanya. Nampak seperti ada yang dia pikirkan sendiri tapi tak dia ungkapkan padaku.


“Kenapa?” tanyaku seolah ingin tahu apa yang dia pikirkan.


“Tidak apa-apa, aku kan sehat-sehat aja. Aku juga gak ngerasain hal aneh-aneh kok.”


Aku mengernyitkan alisku. “Benar?”


Irene mengangguk lagi lalu menarik selimut sebatas dada. “Aku mulai mengantuk, ayo kita tidur,” katanya menempel di lenganku dan memeluknya erat.


“Aku tidur di sini?” tanyaku padanya dan dia memukul dadaku.


“Tentu saja! Memangnya kamu mau balik ke kamar kamu sendiri? Yaudah sana!”


“Ihh sayang, aku kan nanya doang. Aku mau sama kamu-lah. Ini kan malam pertama kita tidur bareng,” kataku seraya memeluknya erat dan Irene terkekeh.


“Makanya, di sini aja,” katanya dan aku pun mengecup ubun-ubunnya sekilas dengan pikiran melayang apakah ada sesuatu yang mengganjal pikirannya?  Jika ada, aku sungguh ingin tahu.


****


***Irene POV ***


Rasa takut itu. Rasa takut kehilangannya kini semakin besar. Entah apa yang aku rasakan, tapi aku tidak mungkin salah kan mencintai suamiku sendiri.


“Non, udah bangun?” suara Bi Rina yang muncul dari dapur.


“Iya Bi, mau bantu Bibi masak boleh?” tanyaku padanya. “Hari ini kan Damar masih masuk kerja. Iren pengen bisa masakin buat dia, Bi.” Kataku padanya dan jujur saja ini terasa memalukan setelah beberapa hari yang lalu kami bertengkar.


“Ohh boleh Non, tapi semalam Den Damar minta buatin roti tawar biasa isi coklat terus dikukus. Ini Bibi baru mau olesin coklatnya.”


“Ohh buat itu aja? Yaudah biar Iren aja Bi. Bibi tolong rapiin ruang kantor Iren ya. Entah kenapa dari kemarin ngerasain debu sedikit di hidung rasanya nempel banget Bi.”


“Oh yaudah, tapi Non gak apa-apa kan?” tanya Bi Rina dengan raut wajahnya yang selalu aku tahu bawa dia orang yang sangat peduli denganku. Bukan hanya Bi Rina tapi termasuk Pak Iwan dan Arya juga sudah seperti keluargaku sendiri.


“Gak apa-apa Bi. Iren juga udah nyiapin baju untuk Damar jadi Bibi tolong beresin kantor Iren aja ya,” kataku dan Bi RIna tersenyum lebar. Dia menarik tanganku dan menyentuhnya lembut.


“Bibi senang melihat Non yang seperti ini. Rasanya lega sekali seperti tidak ada lagi yang harus Bibi khawatirkan.”


Aku pun menepuk tangannya rasa berterima kasih. “Makasih Bibi udah jagain Iren.” Bi Rina pun ikut tersenyum.


“Yaudah, Bibi beresin kantor Non dulu ya.”


Aku mengangguk pelan dan segera ke dapur. Mengambil panci dan mengisinya air. Kemudian menyalakan kompor serta menaruh panci ini di atasnya.


“Sayang,” tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangku. Lalu wajahnya menyeruak ke dalam tengkukku.


“Kamu udah bangun?” tanyaku.


“Heem,” bisik Damar di telingaku dan aku merasakan geli karena dia mengusap-usap kumis halusnya di tengkukku.


“Hihihi, geli Damar,” kataku dan Damar membalikkan tubuhku hingga menghadapnya. Aku lihat dia belum mandi dan wajahnya yang khas bangun tidur entah kenapa sangat aku suka.


“Kok Damar sih,” katanya mencemberutkan bibirnya.


“Emangnya apa?”


“Sayang dong atau babe, honey, hubby, Kakanda,” ucapnya langsung membuatku tertawa.


“Kok kamu malah ketawa. Aku serius, Sayang,” katanya kembali menarikku ke dalam pelukannya. Meski kali ini perutku cukup mengganjel pelukan kami.


“Iya, iya, Sayang. Kamu kok belum mandi sih. Kamu kan mau berangkat kerja,” ucapku dan Damar semakin memanja.


“Mandiin dong,” bisiknya membuatku memukul punggung belakangnya.


“Ihh! Udah gede juga! Sana mandi sendiri! Aku mau nyiapin makanan buat kamu,” kataku dan tiba-tiba Damar melepas pelukanku dengan terkejut.


“Tidak, aku mau buat roti selai cokelat kukus sesuai permintaan kamu.”


Damar menghela nafasnya membuatku mengernyitkan alis. “Memangnya kenapa?” tanyaku padanya.


“Tidak apa-apa, hihi,” dia menyingir kuda lalu menggaruk tengkuknya.


“Yaudah sana mandi,” kataku padanya.


Damar mengangguk tapi tiba-tiba “CUP” dia mencium bibirku sekilas kemudian lari. “Thank you for your morning kiss, Baby,” ucapnya membuatku menggelengkan kepala.


“Dasar!!”


……………………………


Setelah semuanya siap dengan roti buatanku. Aku pun menghidangkannya di atas piring.


“Aku udah siap,” suara Damar menyusulku di ruang makan.


Aku pun melihat suamiku yang sangat ganteng ini tersenyum lebar. Satu hal yang kusadari bahwa aku sangat beruntung bisa memilikinya. Aku hanya perlu bersyukur dan bersyukur. Di luar sana ada orang yang lebih jauh tak seberuntung aku, tapi di sini aku punya suami yang bertanggung jawab seperti Damar. Meski tak jarang masalah menghampiri kami, tapi aku harus lebih kuat lagi menghadapinya.


“Kok kamu diam aja? Kenapa?” tanyanya membuatku sadar dari lamunanku dan langsung mendekat ke arahnya. Memastikan dasi yang dia pakai benar.


“Kamu ganteng banget. Aku sampai terpesona.”


Damar nampak menahan senyumnya lalu mencium kening lembut. “Aku ganteng, kamu cantik, anak kita kira-kira akan mirip siapa ya?”


“Aku-lah,” kataku cepat dan Damar memelototkan matanya padaku.


“Aku enggak nih?” tanyanya dan aku terkekeh pelan memukul lembut dadanya.


“Iya, Sayang. Kamu juga,” kataku dan dia ikut tertawa. Aku berbohong pada Damar tentang memeriksa kandunganku. Aku tidak ingin memberikan Damar kejutan kalau anak kami bayi kembar berjenis kelamin laki-laki.


“Yaudah kamu duduk di sini ya,” ucap Damar menarik sebuah bangku untukku dan menekan bahuku supaya duduk.


“Aku belum nyiapin susu.” Protesku dan Damar mengangguk mengerti.


“Iya, aku tahu. Makanya biar aku aja yang nyiapin. Kamu duduk di sini aja. Liatin tubuh aku dari belakang. Kamu pasti suka,” katanya dan aku melakukan apa yang dia suruh.


Entah kenapa apa yang Damar katakan benar. Aku menyukai setiap gerakan yang dia ciptakan. Mulai dari mengambil gelas bahkan dia menuangkan susu bubuk dengan sendok. Aku menyukai semuanya. Tak lupa pahatan punggung belakangnya yang tertutup dengan kemea tetap sangat indah ditatap. Ya, dia benar. Aku mulai sangat menyukainya.


“Kamu belum mengidam apapun, Sayang?” tanyanya.


Aku pun menggelengkan kepala meski dia tak melihat. “Sepertinya bayi kita sangat mengerti keadaan. Aku rasa, aku tidak mengidam apapun,” kataku padanya.


“Benarkah? Lalu bagaimana rasanya? Mualkah? Pusing?”


“Awalnya sih iya, tapi sekarang sudah sangat mendingan. Aku tidak merasakannya lagi.”


“Syukurlah,” ucap Damar seraya membawa nampan yang berisikan susu milik kami berdua, tapi tentu saja masing-masing dari ini berbeda.


“Kau tahu kan tugasku sebenarnya harus lebih sering ke luar kota, tapi Axel sangat baik memberikan keringanan untukku karena aku bilang padanya, aku sungguh ingin menjagamu,” jelas Damar seraya memberikan susu itu padaku dan aku meminumnya perlahan seraya mengangguk.


“Dia memang sangat baik. Aku sangat bersalah dengan Lolita. Seharusnya aku meminta maaf padanya.”


“Iya, Sayang kamu benar. Kamu mau menemuinya?”


Aku mengangguk pelan. “Aku ingin minta maaf padanya. Mungkin ini juga salah satu balasan Tuhan untukku karena sudah pernah menyakitinya.”


Damar menggelengkan kepalanya dan menarik tanganku. “Setiap orang pasti melakukan kesalahan sayang. Bukan hanya orang jahat saja yang melakukan kesalahan, orang baik pun terkadang melakukan kesalahan,” dan aku akui perkataan Damar pagi ini benar.


“Tidak ada yang salah dengan apa yang Tuhan takdirkan. Kita sekarang di sini bersama, pasti untuk memperbaiki segalanya dan aku tidak pernah menyesal menikahimu.”


Aku menatap mata Damar. Tidak ada kebohongan di dalamnya. Yang ada, aku hanya melihat diriku berada di pantulan matanya yang indah. Aku tahu kalau Damar mulai berusaha mencintaiku dan begitu pun aku, aku pun tidak mau menyesali apapun yang sudah kami lalui. Ini memang sudah jalan kami dari Tuhan.


“Apa kau mencintaiku?” tanyaku dengan bodohnya masih bertanya dan Damar tersenyum lebar.


***


***Damar POV ***


Aku menyentuh wajahnya dan Irene seakan menunggu jawaban dari pertanyaannya.


“Sangat..., sangat mencintaimu.” Kataku dan berusaha mendekatkan wajahku ke arahnya...,


BRUG!! Awwww!!! Tiba-tiba aku jatuh dari kursi. Momen yang seharusnya romantis ini hancur lebur.


“Dasar mesum!!” dengus istriku lalu meneruskan sarapan paginya.


Aku pun berusaha bangun dari lantai seraya memegang bokongku. Ternyata jiwa-jiwa jahatnya terkadang masih sangat menyeramkan. Bisa-bisanya Irene mendorong suaminya sendiri hingga jatuh.


“Sayang, kamu kok gitu sih! Itu kan harusnya jadi momen romantis.”


“Momen romantis apa?! Kamunya aja yang nyari kesempatan di dalam kesempitan,” ucapnya dan aku pun mencemberutkan bibir ke arahnya seraya kembali ke kursiku.


Lalu sejenak aku dengar kekehan dari samping. Irene menertawakanku, membuatku semakin jengkel saja padanya.


“Terus saja tertawa!” dengusku seraya menyantap makananku dengan kesal. Namun tiba-tiba Irene menarik wajahku ke arahnya. Dia mengecup bibirku membuatku sangat terkejut. Wanita ini memang sungguh tidak bisa ditebak.


“Sudah?” tanyanya dengan kerlingan matanya. Aku pun mengedipkan mataku beberapa kali mencoba menyadarkan diri lalu menggelengkan kepala.


“Masih kurang. Itu hanya kecupan biasa,” kataku protes mencemberutkan bibir ke arahnya dan Irene memukul dadaku dengan tersipu malu.


“Kalau begitu kau tidak boleh terlalu larut malam pulang kerja. Aku akan menunggumu dan jika aku tertidur, kau tidak akan mendapatkannya.” Entah itu sebuah ancaman atau berita baik untukku, tapi yang pasti aku akan pulang lebih cepat sesuai dengan permintaannya. Aku rasa, ini akan jadi malam terindah untuk kami setelah menikah.


“Baiklah, kalau begitu aku akan berangkat.” Kataku segera beranjak dari bangku dengan semangat dan kembali mencuri kecupan di bibir istriku. Irene sempat terkejut tapi kemudian tersenyum.


“Damar!! Tapi makan kamu belum selesai!” katanya.


“Tidak apa-apa bateraiku sudah terisi penuh karenamu,” ucapku dan Irene kembali tersipu membuatku tidak sabar dengan nanti malam.


Axel! Aku tidak mau tahu! Kau harus membebaskanku pulang cepat!!


.............................


Tapi kemudian kenyataan tidak sesuai espektasi.


“Baiklah kalau begitu, kau kupecat!” kata Axel membuatku geram.


“Kau pelit sekali! Plis Axel!! Hanya hari ini saja!! Tiga hari tiga malam, aku janji, aku akan lembur jika kau mau.”


Axel terlihat menghela nafas beratnya lalu melempar berkas yang dia sedang baca ke atas meja kebesarannya.


“Kau bilang aku pelit? Sebelum-sebelumnya pun kau sering izin. Kau beralasan Irene sakit lah! Irene depresi-lah! Sekarang apa kau bilang?! Kau akan dapat surprise malam pertama yang belum kau dapatkan setelah menikah?!” ucapnya panjang lebar lalu menertawakanku.


“Hebat!! Kau kira, ini perusahaanmu hah?!”


“Axel plis!!! Baiklah, aku akui kerjaanku akhir-akhir ini tidak beres, tapi aku janji. Aku sungguh janji setelah Irene melahirkan. Aku siap kau lempar ke kota mana saja untuk dinas. Aku janji!! Sungguh!!”


Axel tetap dengan pertahanannya. Dia menggelengkan kepalanya dan duduk di atas bangku kerjanya. “Sekarang juga kau keluar! Selesaikan semua pekerjaanmu dan tidak ada pulang cepat jika pekerjaanmu belum selesai!!” marah Axel dan aku hanya mampu menghela nafas panjang setelah merajuknya, tapi tidak berhasil.


Aku pun keluar dari ruangan Axel dengan langkah gontai.


“Pak Damar kenapa?” seseorang bertanya dan aku lihat Yeni staf HRD bertanya padaku begitu keluar dari ruangan Axel.


“Jangan masuk! Harimau di dalam sepertinya belum dikasih jatah sama pemiliknya!” kataku dan Yeni tertawa mendengar kata-kataku. Sementara aku pun berjalan menuju ruanganku.


Sesampainya di ruangan, aku melihat tumpukan pekerjaan yang menungguku. Sepertinya, malam ini pun akan gagal juga. Akhirnya aku memang tidak ditakdirkan untuk melakukannya sampai nanti Irene melahirkan anak kami.


Tahu sendiri, Irene punya mood yang jelek jika sesuatu tidak sesuai dengan keinginannya. Kalaupun malam ini tidak berhasil, aku tidak mungkin bisa memintanya lagi sampai mood Irene sendiri yang memintanya. Sialnya, kenapa aku jadi suami-suami takut istri, huft!!


.........................


Aku mengirimkan pesan singkat pada istriku sekitar 7 jam yang lalu. Aku katakan padanya kalau sepertinya aku tidak bisa pulang cepat. Sejak kemarin, aku terlalu sering meminta izin pulang cepat pada Axel. Jadi kali ini Axel tidak mengizinkannya.


Aku lihat Irene telah membaca pesannya dan terakhir dia aktif empat jam yang lalu. Yahh, ibu hamil pasti cepat lelah. Pasti saat ini Irene sudah tidur. Aku maklumi karena beberapa bulan lagi penantian kami pun datang. Anak pertama kami akan segera lahir ke dunia ini. Meski sebenarnya...,


“Damar kau sudah pulang?” suara seseorang membuatku terkejut.


Wanita itu menggunakan baju tidur satinnya bewarna merah membuatku menutup bibirku tak percaya. “Kau? Kau belum tidur?” tanyaku dan dia memelukku erat.


“Mana mungkin aku bisa tidur. Aku menunggumu pulang.” Katanya membuat hatiku tiba-tiba berbunga-bunga. Aku sangat senang mendengarnya. Aku kira, dia akan tidur.


“Hemm kamu bau!” kata Irene melepas pelukannya dan menutup hidungnya. Aku pun mencium diriku sendiri menyengir kuda.


“Maaf, Sayang. Hari ini kerjaanku numpuk banget.”


“Yahh berarti kamu pasti lelah ya?” kata Irene seraya memainkan dasiku seolah sedang merajuk. Aku benar-benar tidak menyangka bisa melihat sisi Irene yang seperti ini.


Aku pun menangkap tangannya yang sedang memainkan dasiku. Irene menatap mataku dan aku tersenyum lebar ke arahnya. Ku singkirkan rambutnya ke belakang telinganya seraya mengecup pipinya sekilas.


“Lelahku hilang melihatmu dan anak kita,” lalu bisikku di telinganya.


“Ishh dasar gombal,” Irene seperti biasa mendorong dadaku. “Yaudah sana mandi! Aku siapin coklat panas untuk kamu.” Katanya, tapi aku menahan tangannya.


“Tidak perlu, aku ingin kamu menungguku di atas ranjang sampai aku selesai mandi,” kataku dan lagi-lagi Irene terlihat tersipu. Pipinya terihat memerah dan aku mengacak rambutnya.


“Kau sangat menggemaskan,” ucapku meninggalkannya masuk ke kamar mandi.


Lihat saja! Aku tidak akan memberinya ampun karena telah membuatku kehilangan kesabaranku.


 


***Serius ini panjang banget hahaha\, sampe 3.000 kata. ***Btw, aku mau kasih bocoran buat ceritaku selanjutnya heehehe. Ada yang bisa menebak? Elena-Max atau Damar-Irene? Aku akan kasih tahu di akhir extra part!! See u^^


Lanjut ke Loli dan Axel ya. Ditunggu~