My Idiot Wife

My Idiot Wife
19: Love?



***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^  ***


SELAMAT MEMBACA^^


Lolita POV


“Ayo pak jalan,” kataku pada Pak Jani seraya menatap gedung-gedung yang menjelang ke atas.


Apa benar aku begitu tidak cocok untuk Axel. Akhir-akhir ini pun setiap aku datang ke kantor rasanya aku terus merenungi kehadiranku di dalam hidup Axel. Pembicaraan semua orang tentangku dan Axel membuatku sedikit sedih, tapi aku tidak bisa melakukan apapun selain hanya mendengarkannya saja dan menyimpannya di dalam hati.


Meski sejujurnya hatiku perih untuk sekedar berpura-pura kalau aku baik-baik saja. Bagaimana pun, sebodoh apapun, aku juga punya hati. Ada saatnya di mana aku merasa sangat sedih dan ingin menangis sekeras mungkin untuk sekedar meluapkannya.


“Non, kenapa melamun?” tanya Pak Jani.


Aku menolehkan kepalaku ke arah Pak Jani yang sedang menyetir mobil.


“Tadi orang-orang di kantor membicarakan Loli dan Axel. Mereka bilang Loli tidak pantas untuk Axel.”


“Non, tidak perlu mendengarkannya. Setiap orang sudah punya jalannya masing-masing, Non. Jadi jangan pedulikan orang-orang yang iri dengan Non.”


Aku pun menganggukkan kepalaku. Entah kenapa perasaanku jadi mellow seperti ini. Memikirkannya saja sudah membuatku sedih.


“Yang harus Non pikirkan itu bagaimana caranya agar Den Axel bisa sangat jatuh cinta pada Non.”


“Memangnya bagaimana, Pak? Loli gak tahu tuh caranya,” kataku.


“Hemmm coba Non tanya ke Den Axel suka wanita yang seperti apa. Mungkin nanti Bi Tikah juga bisa bantu.”


Aku mengangguk pelan. Biar nanti aku tanya Bi Tikah saja karena aku tidak begitu mengerti apa yang Pak Jani maksud.


…………………………


Setelah aku mendapatkan tempat kursus memasak. Aku pun segera berlari menuju dapur untuk menemui Bi Tikah dan aku lihat Bi Tikah sedang membuat cemilan.


“Non sudah pulang? Cobain pisang goreng keju buatan Bibi nih,” Bi Tikah menyodorkan garpu ke arahku dan aku pun segera duduk di atas kursi meja makan.


“Bibi ambil minum dulu ya,” kata Bi Tikah.


Aku pun segera mencicipinya dan merasakan betapa nikmatnya pisang keju buatan Bi Tikah.


“Gimana Non?” tanya Bi Tikah seraya membawakan minuman untukku.


Aku pun mengacungkan ibu jariku ke Bi Tikah hingga sebuah senyuman pun terbit di bibirnya.


“Tempat kursusnya sudah ketemu Non?”


“Sudah dong, tempatnya enak deh Bi.”


“Oh ya? Terus Non sekalian daftar?”


“Iya, besok sudah bisa langsung dimulai.”


Bi Tikah pun mengangguk-angguk dan ikut bergabung denganku di atas kursi ikut menyantap cemilan buatannya. Kami memang sudah sangat dekat seperti seorang ibu dengan anaknya. Aku pun sangat senang karena Bi Tikah ikut denganku. Meski Mas Aldi terlihat galak denganku, tapi aku yakin kalau hatinya sangat baik. Buktinya dia menyertakan Bi Tikah di kehidupanku sekarang sehingga aku tidak merasa sedih.


“Wahhh coba aja Bibi bisa ikut, pasti seru ya Non.”


“Bibi mau ikut kursus juga? Gak apa-apa nanti Loli ngomong sama Axel.”


Bi Tikah melambaikan tangannya di depan wajahku. “Jangan Non, nanti rumah siapa yang nungguin, hayo!”


Aku pun menyengir kuda, benar juga. “Oh ya Bi, Loli mau cerita,” kataku.


“Apa? Cerita Den Axel ya pasti.”


“Emangnya Non Loli mau cerita siapa lagi kalau bukan Den Axel. Cerita tentang Pak Jani?”


Aku menggaruk kepalaku tak mengerti. “Emang cerita Pak Jani tentang apa? Loli gak punya cerita tentang Pak Jani.”


“Ihh dasar si Non. Yasudah cerita tentang Den Axel saja. Ada apa dengan Den Axel?”


Aku menundukkan kepala dan meremas jariku kuat-kuat. Aku kembali mengingat kejadian tadi. “Tadi semua orang di kantor ngomongin Loli sama Axel. Kata Pak Jani, Loli gak perlu mikirin.”


“Wahh benar banget Pak Jani. Non emang gak seharusnya mikirin tentang itu. Apapun yang orang katakan tentang Non dan Den Axel, Non gak perlu mikirin. Ingat Non, mereka tidak memberikan apapun pada Non. Jadi untuk apa didengerin.”


Aku mengangguk pelan. “Tapi, mereka bilang Loli gak cocok sama Axel. Memangnya yang cocok dengan Axel seperti apa sih, Bi?”


“Ya seperti Non. Non tuh cantik, baik dan menurut pada Den Axel. Den Axel pernah bilang kaya gitu kok sama Bibi. Katanya, walaupun kadang Non agak manja dan kekanak-kanakan, tapi Den Axel suka karena Non jarang marah dan ngambek. Kalaupun sekalinya marah, Non tidak akan mungkin lama.”


Aku yang mendengarnya pun tersipu malu. “Masa sih, Axel bilang kaya gitu,” kataku meremas ujung bajuku jadi ingin segera bertemu dengan Axel lagi.


“Iya Non, Bibi gak bohong.”


“Tapi Bi, Axel suka wanita gimana sih? Axel udah jatuh cinta sama Loli belum ya?”


“Kalau kata Bibi sih udah, Non.”


“Apa?” aku terkejut mendengarnya sehingga aku berdiri dari dudukku dan menjatuhkan kursi yang aku duduki karena terdorong kakiku.


“Ihh Non bikin Bibi kaget aja,” kata Bi Tikah membenarkan kursi yang aku jatuhkan dan aku kembali duduk dengan tatapan tak percaya ke Bi Tikah.


Aku pun menarik bangku yang kududuki hingga dekat dengan BI Tikah. “Emang Axel bilang ya sama Bibi kalau Axel cinta sama Loli? Ihhh Loli jadi pengen dengar sendiri,” kataku membayangkan kalau Axel benar-benar mengatakannya padaku. Mungkin aku sudah terjun payung dari lantai atas.


“Enggak bilang sih Non,” ucap Bi Tika seketika menghancurkan kesenanganku.


“Ahhh Bibi bohong!!” kataku melipat ke dua tanganku di depan dada dan Bi Tikah terkekeh.


“Hahaha tapi Den Axel udah nyuruh Bibi untuk Non nganterin makan siang ke kantor. Bukannya itu tanda kalau Den Axel pengen liat wajah Non terus?”


“Ohh gitu ya, Bi. Yahhh tadi Loli pulang cepat. Axel pasti lagi rindu sama Loli deh sekarang. Apa Loli video call aja ya Bi?” kataku seraya mengeluarkan HP-ku dari saku celanaku.


Tapi Bi Tikah menutup layar HP-ku dengan tangannya. “Ehh jangan Non, nanti Non dikiranya ganggu kerja lagi. Nanti malam juga pulang kan, Den Axel.”


Aku pun mengangguk kaku menurut seraya menarik HP-ku kembali.


“Makan malam hari ini apa Bi? Axel kan suka ayam crispy.”


“Iyah Den Axel suka ayam crispy, tapi tadi sih pesan banyakin makanan sayur dulu untuk malam ini. Den Axel bilang gak ke Non mau nge-gym dulu.”


“Apa tuh Bi?”


“Itu loh Non yang angkat-angkat besi kaya kuli. Nanti jadi berotot gitu kaya Chris John.”


“Ihhh apa sihh berotot. Kaya gorila gitu, Bi?” Mendengar kata-kataku tadi, Bi Tikah tertawa geli sekali.


“Non kalau Den Axel dengar nanti bisa marah loh sama Non,” kata Bi Tikah membuatku langsung menutup bibirku cepat.


“Emang kenapa? Gorila kan berotot, Bi.”


“Tapi kan Den Axel bukan Gorila. Den Axel tuh malaikat ganteng.” Ucap Bi Tikah membuatku melotot.


“Ihhhhh Bibi! Axel suami Loli!!”


Aku tidak suka orang lain mengatakan Axel ganteng. Pokoknya cuma aku saja yang boleh mengatakan Axel ganteng. Titik.


*****