
Axel POV
Aku lihat aplikasi Whatssapp berulang kali. 12 telepon masuk dari Reyes tidak kuangkat karena HP-ku sebelumnya tertinggal di meja resepsionis ketika ingin check-in. Kini aku mengiriminya pesan tapi ceklis satu itu tak juga berubah menjadi dua sejak tadi. Aku menghubungi nomer istriku berulang kali, tapi tidak aktif. Begitu juga menelepon nomor rumah dan juga nomor Reyes berkali-kali tapi nihil. Aku tidak tahu mereka semua kemana. Namun yang jelas aku sangat khawatir. Di saat-saat jauh seperti ini. Kepalaku terasa ingin meledak karena sangat takut ada sesuatu yang terjadi di rumah.
“Kau tidak fokus Axel,” omel Irene padaku. Dia menarik HP-ku dan menaruhnya di atas meja dengan kesal.
“Sebentar lagi client kita akan datang. Tolong jangan menghancurkan pertemuan pertama kita ini.”
“Dia tidak akan menghancurkannya. Lagipula, Axel sudah sangat kenal dengan Rangga. Rangga bukan orang lain untuk Axel dan begitu sebaliknya,” bela Damar pada Irene. Irene pun nampak kesal dibuatnya.
Aku pun menghela napas beratku. Lalu merapikan jasku dengan rapi.
“Aku tidak bicara denganmu. Aku bicara dengan Axel,” Irene memutar bola matanya dan kini dia menatapku serius. Seolah berbicara kalau dia memang sedang berbicara denganku.
“Baiklah, tapi jangan bahas tentang anggaran dana lagi. Kita akan membicarakannya bersama nanti. Kita akan membujuknya sampai dananya bisa lebih kecil,” kataku pada Irene.
“Bukan aku, tapi kau. Kau akan membujuknya karena sesuai dengan apa yang temanmu bilang kalau dia bukan orang lain untukmu. Bukankah begitu?”
Aku mengangguk pasrah. Kalau dia tahu, aku yang akan membujuknya. Kenapa dia harus mengajariku panjang lebar tentang anggaran dana. Dia kira, aku bodoh tentang bisnis.
“Irene, kau tahu? Semakin tua, kau terlihat seperti Ibuku yang mudah marah,” ledek Damar pada Irene.
Wajah Irene terlihat kesal. “Aku tidak tua!” sergah Irene membuatku ingin tertawa, tapi aku menahannya. Tidak seperti Damar yang tertawa kencang sekali seolah dirinya puas sudah membuat Irene marah padanya.
……………………………………………………………………
Usai meeting dengan Rangga. Ya Rangga teman bisnisku dengan Irene ini mengajak kami makan malam ke rumahnya.
“Axel, Irene, ini istriku, Nadya.” Ucap Rangga pada aku dan Irene. Aku dan Irene pun bergantian mengucapkan nama seraya bersalaman dengannya.
“Bukankah ada satu lagi? Kau bilang ada tiga orang temanmu, Sayang.” Ucap Nadya pada Rangga.
“Ohh Damar dia sedang bersenang-senang dulu di luar. Hahaha biasa lah single. Dia masih cari kebebasan sebelum menenggelamkan dirinya bersama orang yang dia cintai,” kata Rangga dan Nadya hanya terkekeh pelan seraya memukul dada suaminya.
“Kalau begitu ayo ke meja makan. Aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian,” ungkap Nadya dan kami pun mengikuti istri Rangga ini menuju ruang makan.
Nadya tidak bohong kalau dia sudah menyiapkan makanan. Bahkan yang dia siapkan cukup banyak untuk kami makan sampai perut membesar.
Seorang wanita paruh baya pun membantu kami membuka piring dan menyiapkan makanan.
“Terima kasih,” kudengar kata Irene. Dia tersenyum manis pada pembantu itu menutupi wajah menyeramkan yang ada di dalam dirinya.
“Aku dengar kalian baru menikah ya? Selamat!” ucap Nadya membuat Irene yang baru saja meminum minumannya tersedak.
UHUK!! UHUK!!
“Axel bukan menikah dengan Irene, Sayang.” Kata Rangga.
Nadya terlihat menutup bibirnya. “Ohh maaf, aku kira kalian pasangan. Kalian terlihat sangat cocok,” ucap Nadya dan aku hanya mampu memberikan senyuman ringanku.
“Istriku tidak kerja, tapi dia wanita yang pintar memasak sepertimu. Rangga bilang kau pintar memasak dan sepertinya benar…,” kataku sambil mencicipi makanannya. “Ini enak sekali,” kataku pada Nadya dan wanita itu tersenyum lebar.
“Lalu bagaimana? Istrimu sudah isi?” tanya Rangga.
“Mungkin segera. Kami sudah sangat menginginkan seorang anak. Apalagi dia terkadang terlihat kesepian. Aku akan merasa lega jika ada anggota baru di rumah kami.”
“Ya semoga. Nadya juga sedang isi. Sudah jalan 2 bulan.”
“Oh ya? Wahh tidak begitu kelihatan ya. Kau masih terlihat sangat cantik dan ramping,” kata Irene memuji Nadya. Irene memang benar. Nadya tidka terlihat seperti orang hamil.
“Hahaha baru dua bulan. Kalau nanti sudah masuk lima bulan pasti akan terlihat,” kata Nadya. “Ini kehamilanku yang kedua. Yang pertama, aku keguguran.”
Aku dan Irene pun nampak mengangguk pelan. “Semoga yang ke dua ini terus sehat ya,” ucap Irene. Aku tahu kata-katanya tulus.
……………………………………………………………
Damar terlihat sangat mabuk. Dia benar-benar menyusahkan tapi aku sudah janji padanya akan memberikannya apa saja yang dia ingin lakukan jika ikut denganku.
Aku melempar handukku ke atas sofa dan meraih HP-ku di atas nakas. Beberapa pesan masuk dari Reyes membuat dadaku bergemuruh. Apa yang terjadi dengan Lolita? Secepat kilat aku langsung menelepon Reyes.
“TUT, TUT, TUT”
“Halo,” suara di seberang sana.
“Ada apa? Kenapa Lolita bisa masuk ke rumah sakit?”
“Hemm aku tidak bisa menjelaskan padamu sekarang, tapi yang jelas saat ini dia sudah baik-baik saja.”
“Memangnya dia kenapa? Kenapa kau tidak bisa menjelaskannya padaku?”
“Ini berita baik dan buruk untukmu.”
“Apa berita baiknya dan apa berita buruknya?”
“Kan sudah aku bilang. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang!!” suara Reyes meninggi membuatku tak mengerti, tapi dengan suara Reyes yang meninggi malah membuatku semakin khawatir.
“Apa lebih baik aku pulang?” tanyaku padanya, tapi beberapa detik keheningan mengisi kekosongan pembicaraan kami.
“Kau pikirkan saja sendiri,” ucap Reyes terakhir kalinya dan dia menutup sambungannya. Aku pun menatap HP-ku, kosong.
Lalu duduk di atas ranjangku perlahan. Kakiku rasanya lemah sekali. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan Lolita dan sialnya Reyes tak memberitahuku sama sekali.
Tak kehabisan ide. Aku kembali menghubungi nomer rumah. Aku menunggunya dan mengulangnya berulang kali, tapi tidak ada yang menjawab. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Sayang. Aku sangat khawatir.
Baiklah, aku akan pulang malam ini juga. Pekerjaanku memang sangat penting, tapi Lolita segalanya bagiku. Aku harus segera pulang untuk melihat keadaan istriku. Lolita, tunggu aku, Sayang. Aku akan segera pulang.
................................................
As always, jagan lupa komen dan likenya ya^^