
***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^ ***
SELAMAT MEMBACA^^
Axel POV
Tok, Tok,
“Masuk,” ucapku seraya melihat berkas pagi ini yang sudah sekretaris siapkan untukku. Beberapa pertemuan di hari ini cukup padat dan aku harus mempersiapkannya.
“Long time no see,” ucap seseorang membuatku langsung mengangkat wajahku begitu mendengar suaranya yang tak asing. “Holla My Brother, how are you?”
Aku terkejut begitu melihatnya dan berdiri dari kursiku. “Kaau?!” suaraku nyaring di dalam ruangan. Sementara pria itu terkekeh seraya duduk santai di atas sofa ruang kerjaku.
“Tidak perlu terkejut seperti itu,” katanya dan aku segera berhambur mendekat ke arahnya ingin memeluknya, tapi dia menahan tubuhku.
“Kau tidak lupa kan, Kak? Aku masih sangat membencimu hingga detik ini. Jadi, jangan berusaha bersikap baik padaku.” Katanya menepuk tangannya ketika berhasil menyingkirkan tangannya dari tubuhku yang tadi dia tahan.
Aku menggelengkan kepalaku seraya bertolak pinggan di hadapannya. “Lalu maksudmu apa? Datang ke kantorku jika bukan untuk melepas rindu dengan Kakakmu yang tampan ini,” kataku pada Reyes, Adikku satu-satunya yang baru pulang dari Los Angeles. Dia melanjutkan studinya setelah mendapatkan gelar sarjana hukum di Indonesia. Sebenarnya, dia meneruskan studinya itu jauh-jauh ke Los Angeles bukan hanya untuk belajar melainkan ada maksud lain yang membuat dia sangat membenciku hingga saat ini.
“Mama memaksaku untuk datang ke sini. Meskipun aku sudah mengatakan aku tidak mau! Dia juga menyuruhku untuk tinggal di rumahmu sementara karena Papa dan Mama akan tinggal lama di Surabaya mengurus Kakek.”
Aku mengangguk pelan. Mereka memang sedang ada di Surabaya, tapi aku sungguh tidak tahu kalau Reyes akan pulang ke Indonesia. Tidak ada siapapun yang memberitahuku tentang kepulangannya.
“Aku sedang liburan musim dingin. Jadi tidak akan lama di sini. Kau tidak keberatan kan?”
Aku mengangkat bahuku. “Kau bilang, aku tidak boleh bersikap baik padamu, tapi sekarang kau bilang ingin tinggal di rumahku. Kau memang tidak konsisten,” dengusku seraya kembali ke tempat dudukku dan pura-pura sibuk dengan beberapa kertas kerjaku.
“Memang begitu. Aku ke sini hanya ingin memberitahumu, mau kau izinkan atau tidak. Aku tetap akan tinggal di rumahmu. Ehhh bukan rumahmu, tapi rumah istrimu, iya kan? Itu rumah dari Kakaknya istrimu sebagai hadiah pernikahan. Maka dari itu, aku hanya akan izin padanya sekaligus menyapa Kakak Iparku.”
Aku pun terkekeh pelan. “Tahu kau akan izin padanya, kenapa juga harus ke sini untuk memberitahuku soal ini saja,” kataku dan Reyes tiba-tiba duduk di atas meja kerjaku membuat tatapan mataku terhadap kertas-kertas di tanganku beralih padanya.
“Aku dengar, dia cantik dan polos. Oh dia sangat tipeku bukan?” katanya dan aku segera berdiri dari kursiku.
“Jangan pernah berani mendekatinya. Jika kau masih membenciku. Silakan lakukan apapun padaku hingga kau merasa puas.”
“Ow, owww, oww kau sangat mencintainya, hem? Aku jadi semakin bersemangat.”
Aku menggelengkan kepalaku. “Apa maksudmu? Kau berlibur ke Indonesia karena tahu aku sudah menikah , hah?”
Reyes mengangkat bahunya dan tersenyum mengejek padaku. “Kau takut aku melakukan sesuatu padanya?
Aku terdiam. Aku tidak tahu rencana apa yang Reyes ingin lakukan pada Lolita, tapi aku jadi mengingat ancamannya dulu. Dia bilang, suatu saat ketika aku bertemu dengan wanita yang sangat aku cintai. Maka dia akan muncul dan merebut miikku.
“Kau takut? Aku akan merebut milikmu seperti kau merebut milikku?”
Aku menggelengkan kepalaku. Semuanya telah terjadi dua tahun yang lalu. Aku sudah pernah bersumpah juga padanya kalau aku tidak pernah merebut kekasihnya, tapi Reyes tak pernah mempercayaiku.
“Heuh,” dia tersenyum meremehkanku. “Kau terlalu percaya diri, Bung. Aku dengar kau punya masalah dengan istrimu beberapa minggu yang lalu. Kita lihat, apakah dia sungguh mencintaimu seperti apa yang kau katakan.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu. Reyes pergi meninggalkan ruanganku menyisakan kegelisahan di hatiku. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, tapi kenapa aku sungguh resah.
Aku pun segera merapikan pekerjaanku untuk kubawa ke rumah. Jika seperti ini, aku tidak bisa tenang karena memikirkan Lolita.
……………………………………………………..
“Lolita,” panggilku begitu masuk ke dalam rumah.
“Lolita!!!” panggilku lagi seraya menaruh tas kerjaku di atas sofa.
“Lohh Aden kok sudah pulang?” tanya Bi Tikah padaku lalu menerima jas yang aku buka dengan kesal. “Lolita di mana?” tanyaku.
“Ohh Nona kan mulai hari ini belajar kursus memasak, Den. Bibi senang deh karena Nona mulai mau bergaul lagi dengan orang luar,” katanya membuatku bernafas lega.
“Bibi sudah bertemu dengan Adik saya?” tanyaku seraya duduk di atas sofa dan melonggarkan dasiku.
“Ohh Aden ganteng tadi. Iyahh Aden Reyes ya namanya. Tadi sudah bertemu dan memperkenalkan diri. Terus Bibi antar ke kamar tamu deh karena Den Reyes bilang mau tinggal di sini selama liburan.”
Aku mengangguk mengerti.
“Aden mau minum apa?” tanya Bi Tikah padaku.
“Apa saja yang segar. Tolong bawa ke kamar ya dan suruh Lolita langsung ke kamar jika sudah pulang,” suruhku kembali mengambil tas kerja untuk menuju kamar.
Aku pun naik ke lantai atas dan melihat pintu kamar Reyes terbuka. Perlahan aku mendekat ke pintunya ingin mengintip apa yang sedang dia lakukan.
“Haiii,” tiba-tiba Reyes muncul membuatku terkejut sekaligus salah tingkah karena ketahuan sedang berada di depan kamarnya.
“Kau terlihat seperti suami yang posesif ya. Hanya aku gertak sekali saja langsung pulang. Aku jadi semakin penasaran wanita seperti apakah Lolita itu.”
“Jangan ganggu dia! Jika kau ingin tinggal di sini. Tinggallah dengan tenang dan tidak membuat kekacauan,” perintahku, tapi Reyes melipat ke dua tangannya di depan dada.
“Melihatmu seperti ini. Di pasti wanita yang mudah digoda,” ucapnya seraya membalikkan tubuhnya masuk ke dalam kamarnya sebelum aku ingin protes.
“Heh tunggu dulu, apa kau bilang? Digoda?” teriakku dari luar kamarnya. “Reyes!! Buka pintunya!!” kataku menggedor-gedor pintu kamarnya. “Dia bukan wanita yang kau pikirkan. Dia berbeda. Dia tidak bisa digoda!! Dia hanya mencintaiku! Dia hanya tahu bahwa suaminyalah yang boleh dia cinta!” kataku menggedor terus pintu kamarnya, tapi semakin lama aku memukul pintunya, semakin lama juga aku merasa bodoh.
Ahh sial!! Kenapa aku jadi seperti ini! Reyes pasti tertawa di dalam kamarnya saat ini. Aku pun menendang pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamarku yang berada di sebelahnya.
Aku ingin mandi! Rasanya aku butuh mendinginkan kepalaku.